Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Tidak ada pembelaan


Gabriel mondar-mandir di tempat, ia berusaha memutar otak untuk menjelaskan pada Maria dan pada Lyodra. Tidak mungkin ia akan berpangku tangan begitu saja atas kesalahan sang putra, walau bagaimanapun, ia juga harus minta maaf pada besannya yang juga saudaranya.


Dan inilah yang paling Gabriel takuti, bisa-bisa Maria mengamuk jika mengetahui yang sebenarnya, ia sudah mengenal Maria puluhan tahun, dan Maria tidak akan melepaskan putranya begitu saja.


Sebenarnya Gabriel tidak peduli dengan apapun yang dilakukan Maria pada putranya, karena ia tahu putranya sudah sangat keterlaluan. Tapi yang Gabriel pikirkan adalah hubungan baik yang selama ini terjaga, ia sungguh tidak ingin hubungan baiknya dan Maria serta Lyodra terpecah begitu saja.


Gabriel tersadar ketika seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya, hingga Gabriel menoleh. pintu terbuka, Gabriel tersenyum ketika melihat Amelia, ia bisa saja tersenyum pada istrinya tapi wajahnya tidak bisa dibohongi, bahwa dia sedang mengkhawatirkan sesuatu.


“Dad!” panggil Amelia, Gabriel menarik lembut tangan istrinya, kemudian membawa Amelia untuk duduk di sofa.


“Aku bingung,” ucap Gabriel, tiba-tiba Amelia mengelus punggung Gabriel.


“Aku juga bingung, bagaimana kita menghadapi Maria dan mengatakan apa yang terjadi pada Bianca,” ucap Amelia. Gabriel mengacak rambutnya frustasi, bagaimana mungkin ia kecolongan dengan tingkah sang putra selama 5 tahun ini.


“ Lalu apa yang akan kau lakukan pada Sello, Dad. hukuman apa yang akan kau berikan pada Sello?” tanya Amelia, Gabriel yang sedang menoleh ke depan langsung menolehkan kepalanya ke arah Amelia.


“Aku ingin menarik semuanya, aku ingin mengambil semua apa yang dia dapat!” balas Gabriel.


“Kau tidak keberatan kan?” tanyanya lagi pada Amelia. Amelia menggeleng.


“Tidak, aku rasa itu lebih baik. Dia harus di harus menerima konsekuensi atas apa yang dia lakukan,” jawab Amelia. Walaupun Sello putranya, tapi Amelia tidak akan menutup Mata begitu saja ia akan mendukung penuh keputusan sang suami.


••••


setelah Bianca pergi, Sello mendudukkan dirinya di sofa, ia menatap apartemen itu dengan seksama. Sekarang bagaimana jika ia diusir dari apartemen mewahnya ini. Sebenarnya Sello mempunyai bisnis lain yang tidak diketahui oleh siapapun.


Tapi tetap saja jika ia kehilangan jabatannya di perusahaan yang selama ini ia pimpin, hasil bisnisnya tidak akan memadai untuk kehidupannya kedepannya, apalagi jika ayahnya tahu ia mempunyai bisnis yang berbeda dengan bidangnya yang ia pegang saat ini, udah pasti ayahnya akan menjebal bisnisnya.


Sello mengucap wajah kasar, ia bener-bener bingung memikirkan ini semua. Ia pun langsung merogos sakunya, kemudian ia mengambil ponsel lalu menelepon Agnia. “Apakah kau baik-baik saja di sana? apa tidak ada yang terjadi padamu?” tanya Sello ketika Agnia mengangkat panggilannya.Sello takut, sang ayah akan mengejar Agnia dan melukai wanita yang ia cintai.


“Sello, Apa kau baik-baik saja di sana. Bagaimana kabarmu, apa semuanya sudah selesai?” tanya Agnia, ia bertanya seolah peduli pada Sello. Padahal nyatanya di sana dia sedang merayakan sukacitanya.


Awalnya ia khawatir tentang semua yang terbongkar, ia takut Sello akan di depak dari perusahaannya. Tapi ternyata lelaki yang bekerja sama dengannya meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan lelaki itu yang akan memberikan uang pada Aghnia. Hingga Aghnia masih bisa hidup dengan penuh kemewahan yang terpenting ia terharu terus bersandiwara di hadapan Sello, dan membuat Selo, agar Selo tidak menyesal telah mengkhianati Bianca.


“Sello. kapan kau akan kemari?” tanyain Agnia. “Kemarilah saja, kau tidak perlu memikirkan apapun,” sambung Aghnia suaranya begitu manis membuat Sello merasa bersyukur karena ada Aghnia di sampingnya. Padahal, Sello tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Agnia.


Tepat setelah Sello mematikan panggilan dari Agnia, ponsel Selo kembali berdering. Satu panggilan masuk terpampang nama Gabriel di sana. Tiba-tiba tubuh Sello diam mematung saat melihat nama sang ayah. Pada akhirnya, ia harus menghadapi Gabriel secara gentle.


Sello memghela nafas kemudian memghembusmya dan ia pun langsung mengangkat panggilannya. “Ia, Dad,” jawab Sello dengan takut.


“Datang ke mansion, kita harus berbicara.” Gabriel berucap dengan dingin, nadanya penuh peringatan. Hingga Sello tidak mampu menjawab ucapan ayahnya. Belum Sello menjawab, Gabriel sudah mematikan panggilannya.


Sello bangkit dari duduknya, kemudian ia pergi ke kamar untuk mengganti pakaian. Saat membuka pintu kamar, wangi Bianca masih tercium di Indra penciumannya, tiba-tiba wajah Bianca melintas di otaknya dan sekarang, di depannya ia melihat bayangan dirinya sendiri dan Bianca yang sedang mencengkrama seperti beberapa waktu lalu.


Selo menggelengkan kepalanya, hingga bayangan itu menghilang,.Ia pun langsung pergi ke walk in closed. Lalu setelah itu, ia langsung mengganti pakaiannya.


Sello menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga akhirnya mobil yang dikendarai Sello sampai di mansion kedua orang tuanya .


Selo keluar dari mobill, kemudian berjalan masuk dan tepat ketika ia masuk, ia berpapasan dengan Sayra, adik bungsunya yang juga kembaran Mayra.


Sayra menatap Sello dengan malas. “Aku tidak ada waktu untuk meladenimu, minggir sana!” kata Selo saat Sayra terlihat akan berbicara padanya.


Sayra berdecih. “Siapa juga yang mau berbicara denganmu!” kata Sayra, Selo berusaha untuk tidak emosi, bisa habis dia jika berdebat dengan adiknya. Ia pun langsung melangkahkan kakinya untuk naik.


Dan disinilah Sello berada di depan ruangan kerja ayahnya, ia langsung pergi ke ruang kerja ayahnya karena ia tidak ingin bertemu dengan sang Ibu, ia takut melihat kekecewaan di wajah ibunya.


“Dad!” panggil Sello, ia mengetuk pintu saat tidak ada sahutan dari dalam, Sello memberanikan diri membuka pintu hingga tatapannya langsung bersibobrok dengan Gabriel yang sedang duduk di sofa.


“Masuk!” titah kita Gabriel. Jantung Sello berdetak dua kali lebih cepat. Namun mau tak mau ia harus menghadapi sang ayah.


Sello mendudukan dirinya di seberang Gabriel. “Katakan pada Daddy, kenapa kau melakukan hal ini?” tanya Gabriel


Sello menunduk. “Aku tidak punya pembelaan. Ini memang salahku,” jawab Sello, Gabriel langsung melemparr flashdisk ke tubuh Sello, hingga flashdisk itu mengenai kepala Sang putra.


“Daddy sudah mempercayakan perusahaan yang selama ini Daddy bangun padamu dan kau mencurangi perusahaan yang selama ini kau pimpin!” teriak Gabriel. Rupanya, selain hubungannya dengan Aghnia yang terbongkar. Gabriel pun menemukan kecurangan sang putra di mana Sang putra mengkorupsi banyak dana dari perusahaan.


“Semua fasilitas akan Daddy cabut, tidak ada lagi yang boleh kau nikmati dari keluarga Josepin!” kata Gabriel. Sello memejamkan matanya, ia mencoba memutar otak.