
Gas. komen 200 komen ya gengs
“Kau tidak percaya lagi padaku Selo?” tanya Agnia saat selalu mengatakan bahwa ingin menyiapkan obat seorang diri.
Sello menggeleng. “Tidak, aku hanya ingin saja mulai mengurus diriku sendiri, aku tidak ingin merepotkanmu.”
Helaan nafas terlihat dari wajah cantik Aghnia saat mendengar ucapan Selo setidaknya Selo tidak mencurigainya. Aghnia pun maju ke arah Brangkar, kemudian ia langsung duduk di kursi.
“Kau sudah tidak merasakan sakit lagi?” tanya Aghnia, dia kembali bertanya dan memastikan kondisi Sello.
“Sedikit,” jawabnya. ada yang aneh saat Sello memandang Aghnia, ia merasa ada yang berbeda. Perasaan itu muncul setelah barusan Bianca membahas tentang obat dan harus memakan obat sendiri.
“ Apa kau sudah kuat untuk pulang sekarang?” ucap Agnia. Padahal Selo masih harus dirawat tapi wanita itu ingin Selo pulang, karena Agnia enggan repot-repot mengurus Sello di rumah sakit.
Sello mengurutkan keningnya saat mendengar ucapan Aghnia, mana Mungkin ia hanya dirawat sehari sedangkan ia merasakan kondisinya cukup parah. “Aghnia tidak mungkin Aku dirawat sehari bahkan aku sekarang masih merasa lemas,” ucap Sello. “Jika dokter menyuruh aku pulang sekarang aku akan protes dan membayar biaya lebih. Jadi Tolong panggilkan perawat sekarang.”
Tiba-tiba-tiba Aghnia langsung tersentak saat mendengar ucapan Sello, biasanya Sello akan patuh dengan apapun yang dia katakan dan percaya apapun yang dia ucapkan. Tapi sekarang Selo malah menyuruhnya untuk memanggil suster tentu saja suster akan menjawab dengan berbeda dengan apa yang dia katakan.
“Sebentar biar aku yang protes pada suster.” Aghnia pun bangkit dari duduknya kemudian ia langsung keluar dari ruangan.
Setelah Aghnia keluar dari ruang rawatnya, Sello menatap ke depan tiba-tiba ia merasa aneh dengan perasaannya setelah ia mendengar tentang obat dari Bianca, ia tidak ingin mencurigai Aghnia. Tapi di sisi lain, Bianca idak mungkin mengatakan itu tanpa sebab.
Tiba-tiba, Hati Sello terasa nyeri saat mengingat keluarganya. Jujur saja dia begitu rindu dengan seluruh keluarganya, biasanya Jika dia sakit dia akan mendapat perhatian dari semua orang sekalipun dia sudah dewasa. Tapi sekarang dia melewati rasa sakit seorang diri.
“Mom!” lirih Sello, dia bergumam memanggil nama sang ibu.
Setelah Agnia keluar dari ruangannya, Bianca pun bangkit dari duduknya, karena ada Roland yang menunggunya di luar. Dia pun langsung keluar dari ruangannya dan mencari-cari Rolandu Namun Rolan tidak ada, bukankah tadi Rolan ada di sana.
Bianca melihat kesana kemari ia mencari keberadaan lelaki itu hingga tatapannya berhenti di lorong di mana Roland tanpa sedang menelepon seseorang. “Roland!" panggil Bianca. Dengan cepat Rolan mematikan panggilannya kemudian ia langsung berbalik lalu tersenyum pada Bianca.
“Kau sudah selesai?” tanya Bianca. Roland melihat jam di pergelangan tangannya.
“Bianca sepertinya aku harus pergi ke kantor ada pekerjaan kau tidak apa-apa kan makan sendiri?” tanyanya lagi.
Bianca mengangguk. “Terima kasih sudah mengantarkanku makanan," ucapnya Bianca. Setelah itu, Bianca pun berbalik dan saat Roland berbalik, Roland tidak langsung pergi, ia menatap punggung Roland.
Selama dua tahun ini walaupun hubungan mereka hanya sebatas teman. Tapi Roland selalu membuatnya nyaman. Pernah Roland dan Bianca membicarakan tentang keputusan hubungan yang akan mereka ambil ke depan, hanya saja keduanya terhalang agama di mana Rolan begitu patuh pada agamanya begitupun Bianca yang tidak mungkin meninggalkan keyakinannya Hingga pada akhirnya kedua orang itu lebih memilih untuk terus seperti ini.
Saat Roland sudah tidak terlihat, Bianca berbalik tiba-tiba Bianca melihat ke arah Agnia yang sedang memainkan ponselnya sambil tersenyum. Saat melihat Agnia seperti ini, Bianca seolah meyakini Apa yang sedang dia pikirkan tentang Aghnia. Namun tak lama Bianca menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh ikut campur dengan apapun yang terjadi dengan rumah tangga mantan suaminya. Bianca pun melanjutkan langkahnya. Lalu setelah itu, berjalan ke ruangannya.
Aghnia tersenyum senang saat melihat notifikasi ada uang yang masuk ke rekeningnya barusan, dia menelepon orang yang selama ini menyuruhnya untuk tetap bersama Selo, Aghnia mengadu bahwa Sello dirawat dan di rawat di rumah sakit, dan Aghnia malas menunggu Sello, hingga pada akhirnya lelaki itu pun mengirimkan uang pada Agnia agar Agnia tetap menenani Sello. Sejatinya lelaki itu hanya Aghnia terus bersama agar Selo tidak kembali lagi pada Bianca. Lelaki itu benar-benar misterius.
•••
Setelah masuk ke dalam ruangannya, Bianca langsung mendudukkan diri di kursi lalu menyimpan makanan yang ia bawa di meja, Ia membuka kotak makan tersebut lalu tersenyum melihat menu yang bervariasi.
Karena tau Bianca menyukai masakan Indonesia, Roland menambah menu aneka masakan Indonesia, karena Roland tau, Bianca menyukai it, dan ketika Bianca untuk memakan masakan Indonesia, Bianca tidak usah repot-repot Jika mencarinya.
Waktu menunjukkan pukul 05.00 sore jam praktek Bianca sudah selesai, Bianca pun bangkit dari duduknya saat dia akan melepaskan jubahnya dia melupakan sesuatu, dia belum mengecek kondisi Selo dan kondisi pasien lainnya.
Bianca pun keluar dari ruangannya. Lalu setelah itu ia langsung pergi ke arah ruangan Sello,.saat berada di depan ruangan Sello Bianca menghentikan langkahnya sejenak setelah itu ia mengangkat tangannya memegang gagang pintu untuk membuka ruangan dan ketika masuk hanya ada Selo di ruangan itu. Padahal harusnya ada pendamping Selo
.
Saat pintu terbuka, Sello menoleh dia pikir itu Agnia karena tadi Agnia mengatakan untuk mencari makanan namun sudah 1 jam Aghnia belum kembali.
“Bagaimana perasaanmu? apa kau sudah lebih baik?” tanya Bianca. Sello tidak berani menatap Bianca, Ia hanya menundukkan pandangannya kemudian mengangguk.
“Aku akan memeriksa kondisimu sebelum aku pulang.” Seperti biasa, pengecekan pun dimulai hingga akhirnya Bianca selesai memeriksa Sello.
“ Bianca !” panggil Sello ketika Bianca sudah mengalungkan stetoskop ke lehernya.
“Apa," jawab Bianca.
“Aku masih terpikirkan ucapanmu tadi tentang obat apa ....”
Bianca terdiam Sepertinya dia mengerti apa yang Sello ucapkan. “Kau seharusnya lebih peka dengan apa yang terjadi di sekitarmu,” jawab Bianca. “Kalau begitu aku permisi karena pemeriksaanmu sudah selesai nanti akan ada suster yang membawakan obat untukmu.”
Saat Bianca akan berbalik, Selo menarik tangan Bianca. Hingga Bianca refleks melepaskan tangannya
“Apa bolehkah aku minta tolong?”.
“Kau meminta tolong apa?’
“Bisakah kau panggil Mommykuke sini. Tolong katakan ... ”
“Maaf aku tidak bisa," jawab Bianca singkat.