Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Gabriel bertindak


Bianca menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sedari tadi keluar dari kafe sampai saat ini, jujur saja dia masih memikirkan Roland. Di satu sisi dia lega meminta pria itu untuk menjauh, tapi di sisi lain dia teringat wajah Roland yang menatapnya dengan kecewa.


Bianca menarik napas kemudian mengembuskannya. Namun dia sama sekali tidak menyesal untuk mengatakan ini, dan yang sekarang harus dia harus menyingkirkan


mantan suaminya.


Entah kenapa, Selo begitu bebal juga keras kepala. Seharusnya jika sudah ditolak, lelaki itu mengikuti keinginannya. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Selo seolah tidak peduli dengan ultimatum yang dia berikan.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Bianca kembali ke rumah sakit karena dia masih harus praktek dan akan pulang pukul lima sore nanti.


Ketika dia sampai ke rumah sakit, dia melihat Alice sedang seorang diri dan sepertinya gadis kecil itu tengah menunggu Dokter Adrian.


"Alice," panggil Bianca.


Alice menoleh, dia tersenyum sumringah saat melihat Bianca. "Halo Bibi Bianca," sapa Alice yang bergegas menghampiri Bianca, hingga wanita itu langsung menekuk kaki dan menangkap tubuh Alice lalu memeluknya.


Alice begitu manis membuat Bianca mudah menyayangi anak itu.


"Kau menunggu Daddymudi sini?" tanya Bianca.


"Iya, Daddy menyuruhku untuk menunggu di sini karena ada satu barang yang tertinggal," kata Alice, "ayo Bibi, kita duduk di sana," ajaknya, hingga kini Alice dan Bianca sudah duduk di kursi tunggu.


"Bibi," panggil Alice.


"hmm?" sahut Bianca.


"Bibi mau, 'kan, nanti menemaniku melukis? Aku ingin melukis Bibi," kata Alice.


"Hah? Melukis bibi?" tanya Bianca dengan terkejut.


"Aku tidak bisa melukis ibuku karena ibuku sudah di surga, jadi bolehkah aku melukis Bibi saja?" tanya Alice, Bianca terdiam saat mendengar ucapannya. Terlihat jelas ada raut kesedihan dalam wajah Alice.


"Hm, Bibi mau menemanimu," jawab Bianca.


"Tapi aku harus melukis di sekolah, apa Bibi tidak keberatan jika ikut denganku?" tanyanya.


"Tidak apa-apa, Bibi akan cuti untukmu, tapi lukis Bibi dengan wajah yang bagus, oke?" tanya Bianca.


Alice mengangguk dengan semangat, hingga refleks dia memeluk Bianca membuat wanita itu tertawa lalu mengelus rambutnya.


"Alice," panggil Adrian, ternyata lelaki itu sudah keluar dari rumah sakit.


"Halo, Dok," sapa Bianca. Dia bangkit, disusul Alice yang juga ikut bangkit.


"Hai Bianca, maaf jika permintaan Alice merepotkanmu," kata Adrian.


"Tidak apa-apa, aku akan datang," jawab Bianca dengan tersenyum membuat jantung Adrian berdetak dua kali lebih cepat.


"Jika kau tidak keberatan, kau bisa pergi saja denganku, kebetulan aku juga akan pergi ke sekolah Alice," ucap Adrian hingga Bianca kembali mengangguk.


"Baik, Dok," ucap Bianca, "Alice, Bibi harus masuk, kalau begitu sampai jumpa."


Setelah mengatakan itu, Bianca pun berbalik kemudian masuk ke dalam rumah sakit.


"Daddy tidak apa-apa, 'kan, aku meminta tolong pada Bibi Bianca?" tanya Alice.


"Tidak apa-apa selama dia tidak keberatan, Daddy tidak akan melarangmu minta tolong padanya," ucap Adrian, "Ayo kita pulang."


Adrian merangkul bahu putrinya, kemudian mereka pun memutuskan untuk pulang.


***


Roland membanting semua barang yang ada di ruangannya, hingga kini tempat itu bagai kapal pecah. Semua barang berserakan di lantai, tidak ada satu barang pun yang selamat dari tangannya.


Jangan ditanyakan betapa emosinya Roland saat ini, yang pasti dia benar-benar berada di titik emosi tertingginya.


Rolan berteriak dengan keras melampiaskan emosi yang menggebu. "Bianca!" teriak Roland dengan emosi.


Semalam dia sudah bahagia karena mengaggap Bianca akan seperti dulu, tapi nyatanya dia mendengar hal lain, di mana Bianca malah menyuruhnya menjauh. Roland tidak habis pikir kenapa wanita itu tidak ingin didekati olehnya.


Sekarang, Roland merasa semua perjuangannya sia-sia, padahal dia sudah mengorbankan banyak waktu untuk wanita itu. Sekalipun dia tidak menyukai apa yang Bianca lakukan, tapi selama ini terpaksa dia ikuti agar mendapat simpati dari Bianca.


Namun lihatlah, setelah dia berjuang semuanya sia-sia. Bianca malah menyuruhnya menjauh begitu saja.


Roland kembali berteriak seraya menendang meja. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu lolos, Bi! Kau harus membayar semuanya!" teriak Roland lagi.


Setelah cukup lama mengamuk, Roland akhirnya bisa menguasai diri. Dia melihat ke sekitar yang tampak kacau membuat dia mengusap wajah kasar.


Roland menghela napas saat melihat laptopnya pun sudah hancur, padahal di sana banyak sekali data, hingga akhirnya dia bangkit dan memutuskan untuk keluar dari ruangan.


"Tolong bereskan ruanganku," kata Roland pada sekertarisnya hingga sekertaris itu pun mengangguk.


***


Di sinilah Roland berada, di sebuah rumah tempat di mana dia menyiksa Aghnia. Dia juga tak sabar untuk segera memeriksa data-data yang dipegang oleh wanita itu, sebab dulu ada beberapa yang belum terbaca olehnya.


Saat masuk ke dalam, tiba-tiba Roland mengerutkan kening melihat rumah tampak sepi, biasanya selalu ada penjaga yang menunggu di depan. Perasaannya berubah aneh dan tak nyaman, hingga lelaki itu langsung berlari mencari setiap anak buahnya, tapi tidak ada.


"Marco! Robert!" teriak Roland memanggil anak buah kepercayaannya. Namun, kedua orang itu tidak ada di sana hingga Roland semakin dilanda kepanikan. Dia berlari ke sana kemari mencari semua anak buahnya.


Ada tiga puluh anak buahnya di rumah itu, dan mustahil tidak ada satupun di sana. Ke mana mereka?


Roland begitu panik, hingga dengan cepat dia mengutak-atik ponsel lalu setelah itu menelepon anak buahnya. Dia mempertajam pendengaran saat mendengar suara ponsel berdering, hingga dia pun mengikuti arah sumber suara.


Ternyata, sumber suara itu berasal dari gudang. Di sana pun terdengar suara orang yang sepertinya sedang disekap, hingga dengan cepat Roland membuka pintu.


Namun sayang, gudang itu terkunci dan pada akhirnya Roland kembali ke kamar pribadi yang selalu dia tempati lalu mengambil kunci cadangan gudang.


Setelah mendapatkannya, Roland kembali ke gudang itu untuk membuka pintu karena dia yakin anak buahnya ada di sana.


Setelah sampai di gudang, Roland langsung memasukkan kunci kemudian memutarnya dan mendorong pintu. Namun, pintu tidak kunjung terbuka membuat dia keheranan. Dia bingung kenapa pintu gudang tidak bisa dibuka.


"Kalian dengar aku?!" tanya Roland sembari berteriak dari arah luar.


Tidak ada satu orang pun yang menjawab hanya terdengar suara orang yang sulit berbicara, sepertinya mulut mereka sedang dilakban, hingga Roland langsung emosi. Dia bingung siapa yang melakukan ini.


Tiba-Tiba, Roland teringat Aghnia, hingga seketika itu juga dia berlari ke arah tempat di mana Aghnia disekap.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Roland lirih. Ternyata, ruangan itu sudah terbuka dan tidak ada Aghnia di sana.


Seketika itu, tubuh Roland melemah. "Mungkinkah Tuan Gabriel yang melakukannya?" monolog Roland.


Seketika Roland langsung lari ke arah kamar pribadinya, dia memutuskan untuk mengecek CCTV. Sementara dia melupakan anak buahnya yang sudah disekap.


Saat berada di kamar, Roland langsung pergi ke monitor, lelaki itu mengutak-atik keyboard yang ada di depannya dan mencari rekaman CCTV hari ini.


Di dalam tayangan itu, banyak sekali mobil-mobil yang datang ke rumah tersebut. Turun beberapa beberapa orang berpakaian hitam dengan tubuh sangat kekar layaknya seorang algojo, dan orang-orang itu menghajar semua anak buahnya.


Anak buah Roland ada di gudang yang sempit, dan sekarang dia mengerti kenapa pintu tidak bisa dibuka, sepertinya ruangan itu penuh dengan anak buahnya hingga menghalangi pintu.


"Sial!" Roland berteriak. Dia langsung menggebrak meja dan membanting komputer di depannya.


"Siapa yang melakukan ini?!" teriak Roland. Saat dia berusaha menetralkan napas, tiba-tiba wajah Gabriel langsung terlintas di otaknya.


Anarah yang dirasakan Roland hilang begitu saja, berganti dengan rasa takut. Bagaimana jika Gabriel yang membawa Aghnia?


Sial.


Secepat kilat, Roland kembali keluar dari kamarnya. Dia menuju gudang, dia akan membuka paksa ruangan tersebut untuk meminta keterangan dari anak buahnya.


Tiga puluh menit kemudian, akhirnya Roland berhasil membuka pintu dan benar dugaannya, karena anak buah Roland yang sangat banyak ditempatkan di gudang yang kecil, itu sebabnya pintu susah terbuka.


Lalu setelah bisa dibuka, Roland langsung mendorong pintu gudang hingga tak lama dia membulatkan mata ketika melihat anak buahnya dengan posisi tangan juga kaki diikat, dan mulut dilakban dengan keadaan tumpang tindih.


Secepat kilat Roland langsung melepaskan ikatan di tangan para anak buahnya, hingga mereka langsung membantu teman-teman mereka.


"Kenapa kalian bisa seperti ini?!" tanya Roland sembari berteriak ketika semua anak buahnya sudah terbebas dan sudah terlepas dari ikatan.


Semua anak buah Roland tampak lesu. Bagaimana tidak, mereka disekap berjam-jam di ruangan tanpa udara.


"Katakan, siapa yang melakukan ini?!" tanya Roland lagi, memaksa semuanya untuk menatap ke arah lelaki itu, hingga seseorang sedikit maju dan mengalihkan perhatian hingga Roland menatap pada orang itu.


"Maaf Tuan, tadi kami diserang," jawab salah satu dari mereka sambil menunduk.


"Siapa yang menyerang? Apa kalian tahu siapa orangnya?" tanya Roland.


Semua orang saling tatap.


"Orang-Otang adalah orang-orang Tuan Gabriel," jawabnya.


Mata Roland membulat bulat saat mendengar ucapan anak buahnya. "Maksudmu itu anak buah Tuan Gabriel? Dari mana kalian tahu?" tanya Roland.


"Karena tadi Tuan Gabriel pun ikut ke mari, hanya saja beliau menunggu di mobil," jawab anak buahnya.


Roland memegang pinggiran meja saat mengetahui bahwa Gabriel yang menculik Aghnia.


"Bagaimana data-data yang kalian ambil dari Aghnia? Apa kalian berhasil mengamankannya?" tanya Roland.


Seketika, semua anak buah menunduk. "Jangan bilang kalian gagal menyelamatkan data-data itu?!" teriak Roland hingga semuanya kompak menggangguk.


Emosi kembali mendera Roland. Lelaki itu langsung mengambil kursi kemudian membanting ke tubuh anak buahnya yang sedang berjajar.