
Tristan saat mendengar uraian demi uraian kata yang diucapkan oleh Bella, lelaki tampan itu merasakan rasa sesak yang luar biasa ketika mendengar apa yang ucapkan istrinya. Setahun ini ternyata dia masih menorehkan luka untuk Bella dengan tidak menjelaskan semuanya secara rinci dengan tidak meyakinkan bela dengan sungguh-sungguh hingga bela selalu berpikir buruk padanya. Padahal dia dan flora benar-benar sudah selesai dia juga sudah tidak melihat flora selama 1 tahun ini atau lebih tepatnya flora juga tidak pernah menampakan dirinya di hadapannya lagi.
“Tristan, Awalnya aku tahu ini memang salahku yang menyia-nyiakanmu selama 3 tahun, bukan aku bermaksud membela diriku sendiri. Tapi apakah kau tahu betapa hancurnya aku saat itu, betapa menyesalnya aku saat itu? aku menyesal seandainya dari awal aku langsung berbicara padamu tentang ayahku tentu ayahku bisa diselamatkan lebih cepat, aku hancur ketika ayahku pergi tapi aku belum bisa memberikan yang terbaik untuknya, belum bisa melakukan semua hal yang aku rencanakan bersama-sama. Selama 8 tahun aku mengalami tekanan yang hebat dari Molly dan ibunya, dan ketika aku menemukan ayahku, bukankah wajar aku mempunyai banyak keinginan untuk melakukan semua bersama dan ketika ayahku pergi, aku merasakan duniaku menggelap penyesalan demi penyesalan menghantamku. Kau bisa bayangkan menjadi Aku? Aku berterima kasih karena kau telah sabar sebelum kau menyerah ....”
Bella menjeda sejenak ucapannya, dia pikir dia harus mengeluarkan uneg-unegnya sekarang juga. wanita canti itu menghirup oksigen sebanya-banyaknya, kemudian kembali meneruskan ucapannya. Mengatakan ini adalah hal yang berat, tapi dia tidak punya pilihan lain dia harus mengeluarkan unek-uneknya sekarang, agar semuanya clear karena dia juga lelah harus terus berprasangka buruk pada suaminya.
“Tristan, saat aku sudah menyesal dengan sikapku, aku sudah meminta maaf dan berusaha untuk tetap bersikap seperti biasa, aku berusaha menjadi Bella di mana saat dulu pertama kita bertemu. Tapi kau? kau sama sekali tidak pernah melihatku. Kau hanya sibuk memojokkanku kau memojokkanku karena kau tidak ingin dicap bersalah karena kau telah bermain di belakangku dengan flora. Aku seperti asing denganmu. Sekarang aku mengandung anakmu dan kau tahu bagaimana rasanya jadi aku? ini berat Tristan! aku belum bisa melupakan luka yang kau berikan tapi sekarang aku harus mengandung, menurutmu bagaimana rasanya menjadi. Apa menurutmu aku berlebihan?” tanya Bella, tapi Trsitan tidak berani menangkat kepalanya. Dia Terlalu takut menatap Bella dia juga terlalu malu untuk melihat mata istrinya.
“Selama setahun aku tidak pernah datang ke makam ayahku karena apa, Karena ucapanmu? apakah salahku datang ke makam ayahku m Aku tidak punya siapa-siapa, Tristan. Dengan arogannya kau mengatakan bahwa ayahku tidak akan hidup lagi hanya karena aku selalu datang ke makamnya. Memangnya aku datang untuk menyuruh ayahku hidup lagi? aku datang ke makamnya Karen q merindukannya apakah aku salah? Dan juga apa kau bisa bayangkan bagaimana menjadi aku melihat orang yang aku cintai, melihat suami sendiri digandeng oleh tangan wanita lain, masuk dalam apartemen. Kita sudah sama-sama dewasa Tristan. Tidak mungkin di apartemen tidak ada yang terjadi, lalu menurutmu bagaimana aku bisa menyembuhkan lukaku dalam waktu 1 tahun. Sekarang kau mengerti titik masalahnya di mana?” Bella berbicara dengan berapi-api, dia benar-benar melampiaskan emosi yang tertahan selama 1 tahun ini, semua yang dia pendam Akhirnya sudah bisa dia melampiaskan pada Tristan.
Setelah mengatakan semua uneg-unegnya, beban yang ditanggung Bella seakan hilang saat mengatakan itu pada Tristan, dan untuk pertama kalinya dia jujur tentang apa yang dia rasakan.
Tristan langsung mengangkat kepalanya. “Bell, Aku bersumpah. Demi apapun aku tidak melakukan apapun dengan flora di apartemen, kami hanya makan malam mengibrol dan ....” Bella tiba-tiba memotong ucapan Tristan, hingga Tristan langsung terdiam dan ketika mendengar itu dari Tristan tentu saja bila meradang hingga dia langsung memotong ucapan suaminya.
“Dan Kau pikir aku percaya? kau lelaki normal Tristan. Bahkan Floara jauh segalanya dibanding aku, dia cantik dia seksi mustahil kau tidak tergoda, kau ingin terus membodohiku?” tanya Bella, dia berbicara dengan berapi-api.
Tristan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, “Bella, Aku bersumpah Aku tidak pernah melakukan itu, bahkan jika kau ingin aku membawakan CCTV apartemen flora aku akan membawakannya Aku bersumpah Aku tidak pernah melakukan hal lain, aku mohon percayalah,” kata Tristan lagi dengan memohon agar Bella percaya.
“Baiklah bawakan rekaman CCTV itu sekarang!” dia ingin mengetes sampai mana Tristan jujur, Jika Tristan memang jujur, pasti Tristan akan benar-benar mengambil rekaman CCTV itu dari apartemen flora dan tidak akan mengelak.
“ Tunggu sebentar aku akan membawakannya.” Tristan pun dengan cepat bangkit dari duduknya, kemudian lelaki tampan itu langsung menyambar kunci mobil lalu berlari dari apartemen dan ketika Tristan pergi, Bella menyenderkan tubuhnya ke belakang. Dia merasakan rasa leha yang luar biasa setelah mengatakan semuanya. Setidaknya dia sudah yakin bahwa Tristan tidak membohonginya dan Tristan berkata benar. Walaupun dia sedikit marah karena Tristan pergi ke apartemen flora tapi jika tidak seperti ini dia tidak akan yakin pada suaminya.
Tapi jika pun Tristan memang terbukti tidak melakukan apapun di belakangnya, Bella tetap akan meminta berpisah untuk sementara waktu, dia hanya ingin memulihkan cintanya untuk Tristan karena jika dia terus berdua tanpa ada jarak diantara mereka, dia tidak tahu apa arti rindu. Jika mereka bersama dia hanya akan teringat Bagaimana dulu Tristan melukainya. Ini adalah jalan terbaik yang bela ambil, dia sudah memikirkan ini dengan matang, dia juga sudah berkonsultasi pada kedua mertuanya hingga kedua mertuanya mengizinkannya untuk pergi. beruntung Dia mempunyai mertua seperti Dareen dan Shelby yang mampu mengerti dirinya bahkan Ibu mertuanya selalu memberikan perhatian lebih padanya.
Tristan menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, rasanya lelaki itu sudah tidak sabar sampai di apartemen Flora, dia berharap Flora masih tinggal di sana. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tristan sampai di basment apartemen Flora. Lelaki itu pun langsung turun Lalu setelah itu dia langsung berjalan dengan kencang ke arah apartemen Flora.
Saat berada di apartemen flora,Tristan terus memencet bel, beberapa kali karena pintu tidak kunjung terbuka, hingga tak lama pintu terbuka muncul sosok Flora yang sepertinya baru saja bangun.
”Tristan!" Panggil Flora dengan antusias. Menatap Tristan dengan tatapan tak percaya Bahkan dia juga mengucap matanya karena benar-benar tidak menyangka Tristan ada di depannya.
“Flora bisa aku minta tolong?” tanya Tristan. Senyum yang tadi ditampakkan oleh flora berubah ketika melihat wajah Tristan yang dingin. Ini sudah 1 tahun dia tidak bertemu dengan Tristan, karena dia juga mendapat ancaman dari Dareen dan Tristan, hingga dia tidak pernah mendekati Tristan lagi.
Dan sekarang dia senang ketika Tristan datang, Awalnya dia pikir Tristan datang untuk mengajak seperti dulu. Tapi saat melihat wajah Tristan yang serius, harapan itu hilang begitu saja. Padahal sebelumnya dia berpikir Tristan akan kembali seperti dulu karena Dulu pun Tristan yang menghampirinya terlebih dahulu.
“Ada apa?” tanya flora boleh aku minta rekaman CCTV yang ada di apartemenmu?" Tanya Tristan tanpa basa-basi. Dia langsung berbicara pada intinya
“Untuk apa?” tanya Flora. Nadanya sedikit kesal karena dia merasa Tristan sudah melewati batasannya dengan meminta rekaman CCTV yang ada di unit apartemen miliknya.
“Aku ingin membuktikan pada Bella bahwa tidak pernah ada yang terjadi di apartemenmu, tolong bantu aku dan aku akan membantumu jika kamu butuh bantuan,” balas Tristan dengan tidak sabar dia merasa gemas karena Flora terlalu banyak bertanya
.
“Maaf aku tidak bisa.” baru saja Flora akan menutup pintu, Tristan langsung menahan pintu. Langsung mendorong pintu agar pintu kembali terbuka, hingga Flora berdecak kesal moodnya benar-benar memburuk ketika Tristan datang hanya ingin meminta CCTV darinya.
“Flora, apa kau ini ayahku yang turun tangan?" tanya Tristan. Atau kau ingin ayahku menghancurkan bisnis ayahmu?” tanyanya lagi yang langsung memberikan ancaman. Karena dia tahu hanya dengan ini flora bisa mengikuti keinginannya, sebab jika dia tidak mengancam flora pasti tidak akan memberikan rekaman CCTV padanya sedangkan dia sangat butuh rekaman itu.
Flora menghentakan kakinya, dia tahu walaupun hubungan Dareen dan cukup dekat tapi keluarga Dareen masih di atas keluarganya. Sekali saja dia salah melangkah, mungkin keluarganya juga akan dibombardir oleh keluarga Dareen, hingga flora pun langsung membuka pintu mau tak mau dia harus memberikan rekaman CCTV yang ada di apartemennya pada Tristan.
“Tunggu sebentar aku akan memberikan flashdisk-nya dan merangkum semuanya,” ucap Flora dia benar-benar menatap Tristan dengan kesal.
“Baiklah, aku akan menunggu di sini,” kata Tristan yang tidak mau masuk ke dalam.
Flora tidak menjawab lagi wanita itu langsung berbalik kemudian dia jalan ke arah kamarnya untuk merangkum semua data CCTV tahun sebelumnya.
2 jam kemudian akhirnya Flora kembali keluar, kemudian dia menghampiri Tristan. “Ini Yang Kau Minta,” kata Flora sambil menyerahkan flashdisk yang sudah berisi rekaman yang sudah dia di flash disk tersebut
“Kau tidak memasukkan hal aneh-aneh kan?" tanya Tristan memastikan, dia takut flora berbuat licik bisa saja flora memasukkan video-video yang akan membuat Bella salah paham walaupun sebenarnya tidak pernah ada yang terjadi di apartemen wanita itu.
”Tidak, aku bahkan meng-cut saat kau mengelus rambutku, kau puas!” kata Flora dia melakukan itu bukan karena kasihan pada Tristan, tapi dia hanya menghindari amukan dari Tristan karena jika Tristan meradang. Mungkin saja dia tidak akan selamat. Tentu saja dia takut Dareen turun tangan. Makan bahaya untuk kedepannya jika sampai benar Dareen turun tangan.
“Oke terima kasih." Setelah itu,Tristan pun langsung mengambil flashdisk itu, kemudian dia berlari ke arah basement rasanya Dia tidak sabar untuk langsung pulang.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tristan an Akhirnya sampai di basement apartemennya, dia pun bergegas turun kemudian berlari ke arah unit apartemen miliknya
Rasanya Dia tidak sabar untuk segera menemui Bella dan memberitahukan semuanya, memperlihatkan tayangan CCTV. Namun saat dia masuk ke dalam unit apartemen miliknya Bella tidak ada di manapun, hingga dia pun langsung berjalan ke arah kamar dan ternyata Bella sedang tertidur.
Perlahan Tristan membuka kaosnya, hingga kini dia bertelanjang dada. Lalu setelah itu dia langsung membaringkan tubuhnya di sebelah Bella, lalu memeluk Bella dari belakang. Dia ingin membangunkan Bella tapi rasanya Dia tidak tega hingga pada akhirnya dia ikut berbaring dan memeluk istrinya.
Bella yang sadar dengan kehadiran Tristan langsung menyingkirkan tangan Tristan, rupanya saat Tristan naik dia terbangun. “Aku sudah membawa rekaman cctv-nya, kau bisa melihatnya sekarang," ucap Tristan karena tau Bella sudah terbangun.
“Nanti saja, aku lelah. Aku ingin tidur," jawab Bella. Tristan tidak menyerah, dia terus memeluk istrinya dari belakang, hingga akhirnya Bella lelah untuk memindahkan tangan suaminya dan biarkan Tristan memeluknya. Nyaman satu kata itu yang dirasakan oleh Tristan dia begitu nyaman ketika memeluk bela.
Beberapa jam kemudian
Sekarang Bella berada di ruang kerja Tristan. Dia sedang menonton tayangan CCTV di apartemen Flora, sedangkan Tristan menunggu di luar. Tristan yang sedang berada di luar terus menanti dengan cemas, dia takut ada rekaman CCTV yang tidak sempat di Cut oleh Flora. Bella terus Menatap layar di depannya, hingga rasa sesak, rasa nyeri langsung menghantam wanita itu, ketika melihat akrabnya Tristan dan juga Flora. Rasanya saat ini dia ingin mengamuk membanting semua barang-barang yang ada di ruang kerja Tristan. Tapi tentu saja Bella tidak segela itu, hingga Dia hanya bisa mengepalkan tangannya menatap adegan demi adegan yang ditampilkan di CCTV tersebut dan rasanya Dia juga ingin mengamuk di hadapan Tristan memakai lelaki itu.
Ya, memang tidak ada yang terjadi di apartemen Flora, mereka hanya makan malam, menonton film dan mengobrol. Namun tentu saja mereka menonton film dengan posisi yang sangat menyakitkan untuk Bella, yaitu di mana Flora duduk di samping Tristan sambil bersandar pada bahu suaminya. Tapi, Tentu saja di mata Bella itu sangat menyakitkan
Beberapa jam berlalu
Bella sudah menonton semua tayangan yang ada di flashdisk tersebut, hingga dia keluar dari ruang kerja Tristan dan ternyata saat dia keluar Tristan sedang menunggu di depan pintu.n
" Bagaimana, apa kau sudah melihat semuanya tidak ada yang aneh bukan?” Tanya Tristan dengan ragu, dia sungguh takut dengan tanggapan. Sedangkan Bella melipat tangannya di dada, kemudian dia menatap Tristan dengan tetapan kesal dan marah.
“Kalian memang tidak melakukan apapun, tapi hubungan kalian begitu intim. Mana ada orang yang hanya berteman saling menyuapi, kalian sering menghabiskan waktu menonton bersama dengan dia yang selalu tidur di pahamu. Kau gila Tristan! menurutmu aku bisa memaafkan itu?” tanya Bella dia langsung melempar flash disk yang dipegang ke lantai. Bella benar-benar emosi ketika melihat Tristan hingga dia bersikap seperti itu. padahal biasanya bela tidak pernah seperti ini. bahkan bila tidak pernah menampilkan amarahnya tapi sekarang entahlah.
Sebagai seorang wanita, walapun itu sudah terjadi lama tentu saja dia cemburu. Walaupun awalnya dia selalu menganggap Tristan pernah macam-macam dengan Flora, dan ketika asumsinya tidak terbukti, tapi dia tetap merasa sesak kala melihat interaksi Flora dan juga suaminya. Dan mungkin jika bila mengingat itu dia akan terus membahasnya seumur hidup dengan Tristan.
Tristan menggaruk tengkuk yang tidak gatal, dia pun langsung menyusul Bella.. Namun, baru saja dia akan masuk, tiba-tiba Bella membanting pintu membuati Tristan semakin bingung,.bagaimana cara menjelaskan pada istrinya. Dia tahu rekaman itu pasti akan menampilkan hal seperti yang istrinya katakana. Tristan pikir Bella akan mengerti karena dia sudah menjelaskannya dan sudah mengatakan apa yang selalu mereka lakukan di apartemen, tapi ternyata ketika Bella melihat semuanya secara langsung istrinya malah meradang dan itu yang membuat Tristan bingung
Tristan tidak hilang akal, dia langsung mengambil kunci cadangan. Lalu setelah itu dia membuka pintu kamar, hingga akhirnya pintu kamar terbuka saat dia masuk, terdengar suara gaduh dari walk in closet, hingga Tristan langsung berlari ke arah sana, karena yakin bela sedang berada di walk in closet.
Mata Tristan membulat saat melihat Bella mengeluarkan jas-jasnya dan mengeluarkan semua pakaiannya dari lemari. “Sayang Apa yang kau lakukan?” tanya Tristan terkejut dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
”Kenapa, kau tidak rela pakaianmu aku hancurkan?" Tanya Bella ketika Tristan menyusulnya. Bella menatap galak pada Tristan hingga seketika nyali Tristan menciut.
”Bukan, bukan begitu maksudku, ta-tapi, Kenapa kau membuang pakaianku?” tanya Tristan, dia bahkan tidak berani menatap bela.
” Aku tidak mau ada jejak wanita itu di rumah ini. Sekarang buang semua, dari jam-jam dan lain-lain aku tidak mau melihat itu, kau harus mengosongkan lemarimu,” kata Bella dengan tegas dan Trsitan sama sekali tidak membantah. Dia sepertinya harus pasrah dengan apa yang diucapkan oleh istrinya.
“Ia-ia, Sayang. Kau boleh membuangnya," jawab Tristan, daripadaa Bella semakin mengamuk, dia lebih memilih untuk membiarkan Bella membuang pakaiannya.
“Kenapa aku yang harus membuangnya, kaulah Yang harus membuangnya!” omel Bella yang malah semakin kesal ketika melihat wajah Tristan yang tertunduk.
“Ia, ia. baik-baik aku akan membuangnya,” jawab Tristan dengan pasrah, hingga Bella langsung berjalan keluar, dia bahkan menabrak tubuh Kristen Lalu setelah itu membaringkan tubuhnya di ranjang.
“Bereskan itu, dan jangan pernah mendekat sebelum kau melenyapkan semuanya,” ucap Bella ketika Tristan terlihat akan menghampirinya, membuat Tristan mengangguk. Dengan cepat, dia pun langsung berjalan ke walk in closet, kemudian mengumpulkan semua pakaian barang-barangnya yang ada di sana.
3 jam kemudian.
Lemari Tristan sudah kosong, semua koleksi jam mahal jas jas dan lainnya juga sudah tidak di lemari milik Tristan. Tristan benar-benar membuang semuanya ke tempat sampah yang ada di basement bawah, dan saat ini Tristan baru saja masuk lagi ke dalam apartemennya, dia pun langsung berjalan ke arah kamar untuk berbicara pada Bella karena dia tahu Bella masih salah paham, dan ketika dia masuk ternyata Bella sudah meringkuk dan dia tahu istrinya sedang menangis karena terdengar isakan kecil dari istrinya.
Tristan maju kemudian dia langsung naik ke ranjang. Lalu setelah itu dia memeluk Bella dari belakang. “Sayang, aku sudah membuang semuanya,” kata Tristan. Tiba-tiba Bella langsung menyingkirkan tangan Tristan dari pinggangnya dan setelah itu Bella mengembalikan tubuhnya hingga kini menatap ke arah Tristan.
“Sayang harus dengan cara apalagi aku membuktikannya. Sungguh aku menyesal,” kata Tristan adanya seperti merengek karena dia benar-benar bingung bagaimana caranya untuk meyakinkan Bella.
“Aku ingin kita berpisah.” Bella langsung mengatakan hal itu membuat mata Trsitan membulat. Dia menatap Bella dengan tatapan tak percaya bagaimana mungkin istrinya mengatakan ingin berpisah lagi Shelby sedang hamil..
“Sayang, Bagaimana mungkin kau mengatakan hal semengerikan itu. Aku sudah bilang, aku menyesal Lalu kenapa kau masih belum bisa melupakannya. Tolong, Sayang. Berikan aku kesempatan. Kau boleh mengambil apapun dariku. Bahkan jika kau ingin aku bersama 24 jam denganmu aku akan melakukannya,” ucap Tristan bahkan lelaki itu hampir saja menangis saat mendengar ucapan Bella. Rasanya begitu menyakitkan ketika istrinya meminta untuk berpisah dan ketika mendengar itu Tristan langsung tak berdaya.
Bella Baru Sebatas mengatakan itu, tapi sudah sangat menyakitkan bagi Tristan, apalagi jika Bella benar-benar meninggalkannya. Di tengah rasa sakit dan sedih yang menderanya, hati Bella sedikit menghangat ketika melihat reaksi Tristan. Setidaknya bisa tahu bahwa Tristan benar-benar mencintainya.
“Dengarkan dulu,” kata Bella. “ Aku ingin kita berpisah sementara dan juga ....” Bella menghentikan ucapannya ketika kristal memotong perkataannya.
“Tidak, aku tidak mau.” potong Tristan. “Tolonglah, Sayang. Jangan pergi dariku.” kali ini Tristan langsung mendekatkan tubuhnya kemudian dia memeluk Bella dengan sangat erat, kemudian Bella merasa pakaiannya basah dan itu semua disebabkan karena tangis Tristan.
Tristan menangis sesegukan, seperti seorang anak yang tidak diberikan mainan. “Tristan, tolong jangan seperti ini,” ucap Bella. “Tidak, aku tidak mau melepaskanmu. Jika kau tidak menarik ucapanmu,” ucap Tristan begitu lucu di telinga Bella.
“Trjstan, aku benar-benar akan marah jika kau seperti ini," ucap Bella ketika Tristan terus memeluknya. Hingga Tristan refleks menjauhkan tubuhnya dari Bella. Dalam otak Tristan dia harus menurut pada istrinya daripada istrinya nekat pergi darinya.
Bella menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, walaupun masih kesal karena masalah CCTV tadi, tapi dia berusaha meredamnya dan sekarang dia harus berusaha berbicara dari hati ke hati bersama Tristan.
“Tristan, apa yang kita alami tidak mudah. Apa yang aku rasakan juga bukan hal yang sederhana. jadi aku rasa berpisah sementara adalah cara terbaik dan ....”
“Tapi, kau sedang hamil. Bagaimana mungkin kau aka. pergi dariku.” potong Tristan yang masih kekeh
melarang Bella untuk pergi.
“Beri waktu aku waktu selama beberapa bulan, aku akan pulang ketika aku akan melahirkan," balas Bella. Sebenarnya, Bella berat mengambil keputusan ini karena dia sudah terbiasa dengan Tristan, walaupun setahun ini dia melalui harinya dengan penuh luka karena teringat masa lalu.
“Sayang tolonglah, jangan seperti ini.” Tangis Tristan kembali berliang ketika mendengar itu. Membayangkan Bella pergi saja sangat menyakitkan apalagi jika bela benar-benar pergi.
Tidak, Tristan tidak akan sanggup jika harus kehilangan istrinya.
“Tristan, hanya ini yang bisa kau lakukan untuk menempuh kesalahanmu. Jika kita terus dipaksakan bersama. Aku bukannya memaafkamu aku malah semakin sesak, setidaknya dengan kita berjauhan aku bisa merasakan rindu padamu. Jadi aku mohon untuk mengizinkan aku pergi,” kata Bella namun dengan cepat Tristan menggeleng.
Dia malah kembali memeluk Bella, lalu menyimpan kakinya di paha istrinya, seolah sedang mengunci tubuh Bella, membuat Bella terus memukul tangan Tristan karena Tristan memeluknya dengan erat, hingga dia tidak bisa bernafas. Dia bahkan menggigit tangan.Tristan ketika Tristan terus memeluknya dan terus menangis hingga Tristan tersadar, kemudian dia melepaskan pelukannya pada Bella.
“Aku akan pergi dengan atau tanpa izinmu, jika kau memang tidak mengizinkan aku pergi, mungkin aku juga tidak akan kembali.” Ancam Bella dan itu semakin membuat mata Tristan membulat. Dia tidak percaya ucapan itu keluar dari mulut istrinya padahal istrinya tidak pernah mengancamnya. Tapi sekarang ...
“Ia, ia, baiklah," kata Tristan yang pada akhirnya pasrah mengizinkan bela untuk pergi daripada Bella tidak akan kembali dan jika dipikir mungkin inilah hal terbaik yang bisa mereka ambil, dan dia juga yakin bela sudah memikirkan ini dengan penuh perhitungan toh dia tidak merasakan sakitnya menjadi Bella hingga sekarang dia mengizinkan istrinya untuk pergi.
"aku akan mengijinkanmu pergi.”
“Selama aku pergi, kau tidak boleh datang, kau tidak boleh melihatku secara diam-diam tetap di sini. kau mengerti?” tanya Bella yang menekankan pada Tristan karena dia tidak ingin apa yang dilakukan sia-sia jika Tristan datang sama saja bohong
“Tidak, aku tidak mengerti. Aku akan terus mengunjungimu secara diam diam.” balas Tristan.
“Tristan, tolonglah kau benar-benar tidak ingin aku kembali?" omel Bella, wajah Tristan kia meredup dia menundukkan pandangannya, melihat waja Bella rasanya begitu menyakitkan apalagi ketika mengingat Bella akan pergii.
“Sayang, kenapa kau harus pergi?” tanya Tristan lagi. "bukanlah Kita bisa mulai Semuanya dari awal?” tanya Tristan Bella menggerakan tangannya untuk mengelus rambut Tristan, dia sadari tidak bisa berbicara dengan keras pada suaminya. Dia berusaha untuk membujuk Tristan agar Tristan mengizinkannya pergi.
”Bukankah sudah kubilang, apa yang kau lakukan tisangat menyakitkan dan aku butuh waktu untuk melupakan semuanya, kau mau hidup denganku tapi ragaku di tempat lain?” tanya Bella Tristan mengangkat kepalanya,.dia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"baiklah, kau boleh pergi,” jawab Tristan sambil menangis. Bukannya sedih Bella malah merasa terhibur dengan raut wajah Tristan yang seperti ini. Tristan terlihat sangat takut kehilangannya dan untuk pertama kalinya lagi setelah kejadian itu dia merasa Tristan kembali mencintainya.
“Rahasia,” jawab Bella sambil menahan tawa karena wajah Tristan benar-benar lucu dia tidak pernah melihat sisi Tristan yang seperti ini.
“Ah, kau ini!” Tristan kembali memeluk Bella.
”Aku saja yang menentukan tempatnya.”
“Tidak, itu rahasia. Aku benar-benar akan pulang ketika akan melahirkan.”
“Sayang tolong pikirkan lagi.” Tristan masih berusaha membujuk Bella. Dia berharap bila berubah pikiran di detik-detik terakhir
”Kau mau aku berubah pikiran dan benar-benr tidak kembali?” tanya Bella yang kembali yang malah kembali mengancam Tristan.
“Ia ... Ia, kau boleh menentukannya." Pada akhirnya Tristan pun setuju dengan apa yang diucapkan oleh Bella, hingga tiba-tiba Tristan pikirkan sesuatu.
“Tapi berikan aku bekal," ucap Tristan. Fantasi liar sudah melayang-layang di otaknya.
“Bekal?” ulang Bella, dan sedetik kemudian dia mengerti ketika tangan Tristan ada di bagian tubuhnya, hingga Bella langsung memukul tangan Tristan
“Nanti saja.” Bu Tristan langsung melemah ketika Bella menyingkirkan tangannya membuat Bella tidak kuasa menahan tawanya dan tak lama Tristan itu tersenyum sudah lama sekali dia tidak melihat tawa Bella yang seperti ini.
***
7 Tujuh bulan kemudian.
Theresia menggeleng ketika melihat Tristan terbaring di brankar. Beberapa kali dia menelepon Bella, tapi Bella tidak mengangkat panggilannya. Ini sudah tujuh bulan berlalu Bella pergi dari sisi Tristan, dan selama tujuh bulan ini pula Bella hanya mengaktifkan ponselnya beberapa kali, dan Tristan hanya bisa menelpon Bella saat ponsel Bella menyala, selebihnya Tristan tidak pernah lagi mendengar kabar istrinya.
Selama tujuh bulan ini, Tristan benar-benar tersiksa. Dia menderita, lelaki itu sekarang merasakan bagaimana arti kehilangan. Setiap malam Tristan merasakan sepi, lelaki itu benar-benar merasakan bagaimana ketika dia menjadi Bella saat dulu Bella berusaha meminta maaf, dan satu bulan ini Tristan benar-benar merasa depresi karena dia merindukan istrinya, dia ingin tahu keberadaan istrinya dan keadaan calon anak mereka, tapi yang terjadi di Tristan tidak bisa menghubungi istrinya.
Beeberapa kali mencari tahu keadaan Bella dari keluarganya, tapi keluarganya tidak tahu keberadaan Bella, dan pada akhirnya Tristan mengalami drop karena dia sering gelisah ketika memikirkan istrinya. Dia juga terkena penyakit maag karena dia melewatkan makan malamnya, dan sekarang Theresia hanya bisa berdecak ketika melihat kondisi kembarannya seperti ini. Di Mata Theresia sekarang Tristan benar-benar menjengkelkan, Jika dia tidak diperintah ibunya untuk menjaga Tristan dia sungguh malas untuk menjaga lelaki ini.
Sedari tadi dia tidak mau makan, padahal Theresia sudah ingin menyuapi Tristan, tapi tetap saja Tristan malah meracau. Dia akan makan ketika Bella yang menyuapinya. Padahal jelas-jelas beda bela tidak ada di sini.
"Tristan, kau yakin kau tidak ingin makan?" tanya Theresia dia bisa saja berbicara pelan namun nadanya menggeram karena sedari tadi dia menawari tristar makan tapi Tristan tetap kekeh dengan jawabannya ingin disuapi oleh Bella
"Tidak, aku tidak ingin makan," jawab Thresia.
"Ya sudah kalau begitu, aku pergi," kata Theresia pada emosinya memuncak karena Tristan Theresia lebih memilih untuk pergi dan menunggu di luar m
Tristan tidak menjawab, dia malah memejamkan matanya lagi. Perutnya perih dan juga lapar, tapi dia tidak ingin makan. Sedari tadi dia malah terus terbayang Bella, seandainya Bella ada di sini, tentu saja dia tidak akan seperti ini.
Theresia keluar dari ruangan rawat kembarannya, kemudian wanita cantik itu langsung menelepon Bella. Tentu saja Bella mempunyai nomor yang lain, dia biasa menggunakan nomor yang Tristan tidak ketahui untuk menanyakan kabar Tristan pada Theresia.
"Bella bisa pulang? Suamimu itu sangat menyusahkan," ucap Asia yang langsung mengeluh pada kakak iparnya menyuruh kakak iparnya untuk pulang agar Tristan tidak terus menyusahkannya.
"Apa kondisinya belum membaik?" tanya Bella, dia sudah tahu bahwa Tristan masuk ke dalam rumah sakit, tapi rasanya terlalu dini untuk dia pulang sekarang. Jiwanya memang meronta-ronta untuk pulang karena dia khawatir pada Tristan Tapi tentu saja dia harus tetap pada komitnya akan pulang ketika melahirkan.
Setelah berpisah berbulan-bulan dengan Tristan, Bella mulai merasakan bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Setidaknya dia sudah bisa menumbuhkan kembali cintanya untuk Tristan lewat rindu yang selalu terbingkai setiap malam, dan ketika mendengar Tristan masuk ke dalam rumah sakit, hati Bella meronta. Dia ingin segera datang tapi dia berencana untuk pulang dua bulan lagi.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan suamimu? Bahkan dia tidak mau makan. Kau tahu penyakit maag kronisnya sudah sangat parah," ucap Theresia yang berusaha untuk membujuk kakak iparnya agar bela benar-benar pulang dan agar kondi Tristan membaik.
Bella terdiam di seberang sana, dia menimbang-nimbang ucapan Theresia.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang." Pada akhirnya, Bella pun memutuskan untuk pulang dan sekarang di sinilah Bella berada, di rumah sakit.
Bella terlihat lebih berseri-seri, mungkin karena cintanya untuk Tristan sudah kembali, mungkin rasa marahnya sudah menghilang. Belum lagi aura Bella ketika sedang mengandung benar-benar terpancar.
Bella berjalan masuk ke dalam, wanita cantik itu langsung menuju ke arah atas, di mana ruang rawat suaminya berada.
Saat berada di depan kaca, Bella langsung mengintip, ternyata Tristan sedang tertidur. Tatapan mata Bella beralih ke atas nakas di mana makanan sepertinya belum tersentuh. Sebenarnya, Bella berada tidak jauh dari tempat Tristan, dia masih berada di lingkungan suaminya hanya saja Bella jarang keluar, dia selalu berada di apartemen.
Bella memutar gagang pintu kemudian wanita cantik itu langsung masuk ke dalam, lalu setelah itu dia berjalan dengan pelan ke arah ranjang. Saat melihat wajah Tristan, mata Bella berkaca-kaca. Wajah Tristan begitu tirus, tubuh suaminya juga begitu kurus dan tunggu, dia benar-benar merasa terharu ternyata cinta Tristan padanya sedalam ini.
Perlahan, Bella menggerakkan tangannya. Wanita cantik itu langsung mengelus kepala suaminya hingga Tristan mengerjap kemudian dia membuka mata, lalu melihat ke arah samping. Tristan membulat saat melihat Bella rasanya dia ingin langsung bangkit memastikan apakah yang di depannya adalah istrinya atau dia hanya bermimpi.
"Sa-Sayaang," panggil Tristan dengan terbata-bata, matanya membasah saat melihat Bella di depannya.
"Halo Tristan," jawab Bella dia tersenyum manis pada suaminya dan Tristan masih menyangka ini adalah.
"Oh tolong jangan bangunkan aku dari mimpi," kata Tristan, sepertinya Tristan menganggap kedatangan Bella adalah sebuah mimpi, hingga dia tidak percaya ketika Bella di depannya.
"Kau belum makan, bukan? Mau aku suapin?" tanya Bella
"Aku belum makan, aku mau kau suapi," jawab Tristan dengan cepat.
Bella mengambil piring kemudian mengaduk bubur yang ada di piring tersebut, dan sayangnya Tristan masih belum menyadari bahwa ternyata istrinya ada di depannya.
"Ayo makan," kata Bella sambil menyuapkan makanan dan mendekatkannya ke depan Tristan. Tiba-Tiba, tubuh Tristan menegang saat makanan melewati mulutnya, makanan ini terasa nyata, mustahil jika dia mimpi karena dia bisa merasakan makanan seperti ini.
"Sayang, kau nyata?" Tristan memberanikan diri bertanya. Walaupun dia takut bela menjawab hal lain bisa saja bela mengatakan bahwa ini benar-benar mimpi.
"Aku nyata, memangnya kamu menganggap aku sebagai khayalan?" tanya Bella dan kemudian Tristan sadar bahwa Bella benar-benar nyata, hingga Tristan berusaha bangkit untuk menggapai tubuh istrinya, tapi tentu saja dia tidak bisa, dia malah meringis karena merasakan perutnya terasa nyeri dan sulit.
Bella langsung membungkuk kemudian memeluk Tristan, dan setelah itu Tristan membalas pelukan Bella dan memeluk Bella disertai dengan tangis bahagia. Pada akhirnya, dia tidak harus menunggu lama lagi karena Bella ada di sampingnya. Istrinya sudah kembali padanya, dan sekarang dia benar-benar menyalurkan rasa rindunya dengan memeluk Bella begitu erat. Dia tidak peduli sakit di tangan karena infusan, yang terpenting dia bisa benar-benar melihat Bella.
Beberapa saat berlalu, Bella melepaskan pelukan kemudian dia menatap Tristan lalu menghapus air mata suaminya.
"Kau nyata, 'kan? Kau bukan khayalanku?" tanya Tristan yang lagi-lagi mengulang pertanyaannya dia memang benar-benar belum percaya bahwa Bella ada di depannya.
"Aku nyata, aku di sini, aku bersamamu." Tiba-Tiba, pandangan Tristan langsung teralih pada perut Bella yang buncit dan dengan refleks, dia pun kembali bangkit mencium perut istrinya. Bella yang mengerti, langsung mendekatkan perutnya hingga kini Tristan bisa memeluk pinggang istrinya dan juga bisa mencium perut Bella. Sedetik kemudian, Tristan menangis dengan kencang.
Mungkin bagi sebagian orang sikap Tristan berlebihan, tapi tidak bagi Tristan. Dia sudah merindukan Bella dan anak mereka sejak lama, dan ketika Bella juga anak mereka sudah berada di depannya, tentu saja dia bereaksi seperti ini.
Bella mengelus rambut Tristan, dia tidak bergerak, membiarkan Tristan terus mencium perutnya.
'Tuhan, terima kasih, kami mampu melewati cobaan darimu.' Bella membatin, akhirnya semua duka selesai, dia tidak ingin lagi melihat ke belakang. Dia matanya sekarang hanya ada Tristan dan keluarganya.
7 tahun kemudian
Tristan benar-benar membuktikan ucapannya akan menjadi yang terbaik untuk Bella dan anak mereka. Selama tujuh tahun ini pula, Tristan lebih senang menghabiskan waktunya dengan istri dan anaknya, dia hanya pergi ke kantor sssekali.
Sementara Bella, sekarang dia menjadi desainer mengejar cita-citanya. Tristan mendukung apapun yang Bella lakukan, hingga karir Bella begitu melesat dan ketika Bella memutuskan untuk terjun ke dunia model, Megumi tidak diasuh oleh siapapun. Dia tetap bersama Tristan. Tristan tidak memberikan anaknya pada pengasuh, hingga dia lebih memilih untuk mengasuh Megumi. Jika Bella tidak ada seperti saat ini, Tristan hanya bisa menggeleng ketika melihat tingkah putrinya yang sedang mengacak-acak ruangannya.
Saat ini, Tristan sedang berada di kantor, dia membawa Megumi untuk bekerja karena tadi Bella mengatakan akan ada pekerjaan. Apapun yang dilakukan Megumi, Tristan tidak pernah protes. Dia membiarkan anaknya bereaksi, termasuk seperti sekarang di mana Megumi sedang mencoret-coret tembok, padahal ruangannya baru renovasi dan di tata ulang.
"Apa aku boleh melukis di situ ?" tanya Megumi menunjuk sisi sebelah lemari.
"Melukis di situ?" Tristan malah balik bertanya ketika Megumi akan melukis di brankas miliknya. Brankas itu sudah dia desain secantik mungkin menggunakan inisialnya dan juga inisial nama Bella, tapi sekarang ingin melukis di sana.
"Boleh tidak?" tanya Megumi karena Tristan tidak kunjung menjawab
"Kau bisa melukis di dinding?" tanya Tristan hingga Megumi tampak berpikir, lalu setelah itu dia berjalan ke arah dinding lain membuat Megumi menghela napas.
Tak lama, ponsel Tristan berdering. Satu panggilan masuk dari Bella, dengan cepat dia mengangkatnya.
"Dad Kapan pulang?" tanya Bella ketika Tristan mengangkat panggilannya.
Selama tujuh tahun ini, benar-benar tidak ada yang berubah. Setiap Bella meneleponnya atau mengirimnya pesan, Tristan selalu bahagia walaupun setiap hari bertemu di rumah.
"Aku akan pulang sebenyat lagi, Mampir saja ke kantorku, Sayang. Aku masih banyak pekerjaan," jawab Tristan.
"Ya sudah kalau begitu." Bella menutup panggilannya, sedangkan Tristan masih terus menatap Megumi yang sibuk dengan dunianya.
Beberapa saat berlalu, pintu terbuka. Bella jelaskan matanya ketika melihat apa yang minggu dilakukan Padahal dia tahu ruangan Tristan baru saja direnovasi. Tapi, Megumi malah kembali mengotori dinding ruangan suaminya
"Megumi kau sedang apa?" /Pekik Bella.
“Aku sedang melukis," jawabnya dengan santai.
"Sayang, sudah tidak apa-apa," kata Tristan dia tidak ingin Bella mengomeli Megumi.
Bella langsung berjalan ke arah suaminya lalu setelah itu dia langsung mendudukkan diri di sebelah Tristan menyadarkan tubuhnya ke pundak suaminya.
"Kau lelah?" tanya Tristan yang menggenggam tangan Bella.
"Aku lelah, banyak sekali pekerjaan yang harus aku tekuni, apalagi sebentar lagi fashion show akan dilaksanakan," kata Bella.
"Ada kekurangan apa? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Tristan.
Bella terdiam, kemudian dia menoleh lalu setelah itu menatap Tristan.
"Apa aku bisa menggunakan koleksimu untuk mengundang model luar negeri? Aku rasa dia cocok untuk menjadi model di koleksi yang akan aku tampilkan," kata Bella hingga Tristan pun mengangguk.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam.
Tristan sudah sangat bergairah ketika melihat Bella sudah siap di ranjang dengan tangan dan kaki yang terikat. Posisi Bella sangat menggoda hingga rasanya Tristan ingin segera menghampiri istrinya.
Tapi tentu saja dia tidak bisa langsung ke menu utama, dia harus membuat pemanasan untuk Bella.
“Dad, bisa lebih cepat?” tanya Bella ketika Tristan menyentuh kakinya.
“Sebentar sayang. Aku masih ingin bermain-main,_ jawab Tristan dan tak lama lidah Tristan terus maju kemudian bermain di titik sensitif istrinya. membuat Bella melenguh. Inilah yang membuat rumah tangga mereka harmonis. Di mana mereka selalu mempunyai variasi ketika bercinta. Baru saja mereka akan melanjutkan lebih jauh tiba-tiba pintu diketuk.
Mata Tristan dan mata Bella membulat ketika mendengar ketukan di pintu, karena mereka tahu itu adalah Megumi.
"Sebentar!" teriak Bella ketika mendengar suara ketukan pintu, hingga dengan cepat Tristan langsung membuka ikatan yang mengikat kaki dan tangan istrinya. Namun, baru saja Tristan akan membuka ikatan kaki, tiba-tiba pintu sudah terbuka membuat Tristan dan Bella panik. Seketika, Tristan langsung menutupi tubuh Bella dengan selimut membuat Megumi yang baru saja masuk mengurutkan keningnya. Beruntung sebelum berniat melepaskan ikatan, Tristan sudah terlebih dahulu memakai celananya, beruntung tubuh polos Bella sudah ditutupi oleh selimut hingga Megumi tidak melihat semuanya.
Saat Megumi masuk, Tristan dengan cepat menghampiri putrinya. ”Megumi Kenapa kau ke kamar Mommy dan Daddy?" Tanya Tristan.
“Aku tidak bisa tidur. Aku ingin tidur di sini saja,” jawabnya Megumi membuat mata Tristan membulat
“Tidak tidak, Ayo kita tidur di kamarmu,” balas Tristan yang langsung menggendong tubuh Megumi dan keluar dari kamar. Mata Bella membulat saat suaminya keluar dari kamar, lalu sekarang siapa yang akan membuka ikatannya