
satu minggu kemudian
Ini sudah satu minggu berlalu semenjak ia memergoki Sello, dan sudah satu minggu ini pula Bianca tinggal di apartemen Roland. Selama seminggu ini, Bianca sedikit terhibur karena Roland dan Celine datang ke apartemen yang ia tempati, mereka bertiga kerap menghabiskan waktu bersama, untuk sekedar bermain kartu ataupun melakukan yang bisa membuat Bianca melupakan kisah sedihnya.
Ini sudah satu minggu berlalu, seperti tekadnya ia akan memberitahukan semuanya pada kedua orang tuanya, tentang apa yang ia alami selama ini, tentang apa yang Sello lakukan padanya, dan tentang pernikahannya.
Bianca mematut diri di cermin, di sampingnya sudah ada koper. Tak lama terdengar suara pintu diketuk, hingga Bianca pun langsung berjalan ke arah pintu, membuka pintu kamar.
“Kau sudah siap?” tanya Roland karena memang sedari tadi, Roland menunggu di apartemen.
“Kau sudah siap?” Bianca mengangguk.
“Bianca jika kau belum siap, kau bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Jika kau belum bisa beritahu orang tuamu yang terjadi ,Kau bisa menundanya. Asal kau jangan tertekan seperti in.” ucap Roland, begitu halus dan mendayu-dayu di telinga Bianca, hingga rasanya membuat hati Bianca begitu tentram.
“ Roland terima kasih!” alih-alih menjawab ucapan Roland, Bianca malah mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih untuk kau telah menghiburku di sini, memberikanku tumpangan. Jika tidak ada kau dan Celine. Entah aku akan bagaimana.”
Roland memegang kedua bahu Bianca. “Bianca dengar. Kau cantik, Kau istimewa, Kau adalah wanita terbaik. Jadi jangan bersedih hanya karena lelaki seperti dia.” Seperti biasa, Roland mengulangi kata-kata yang sama, kata-kata yang pernah Roland ucapkan 4 bulan lalu, di mana saat itu pikiran Bianca terbuka. Tapi ternyata ia malah tergoda pada godaan Sello, dan sekarang, Roland mengatakan hal yang sama.
“ Sebenarnya aku belum siap. Tapi jika aku terus menunda, aku akan semakin gelisah. Aku rasa kedua orang tuaku memang harus mengetahui secepatnya dan sekaranglah waktunya,” jawab Bianca. Roland mengangguk-nganggukkan kepalanya.
“Aku tidak bisa melarang apapun yang kau ingin lakukan. Tapi jika kamu membutuhkanku. aku akan selalu ada di Garda terdepan.” Tanpa sadar, Roland memajukan tubuhnya, kemudian memeluk Bianca lalu mengelus punggung Bianca, membuat Bianca diam terpaku.
“Ingat, Bi. Kau istimewa, jangan sia-siakan waktumu dengan bersedih, Masalah ini memang berat. Tapi jika kau sudah menerimanya pasti akan terasa lebih ringan, hidupmu akan jauh lebih bahagia karena kau telah berhasil mengalahkan rasa sakitmu.” Matanya Bianca membasah saat di pelukan Roland. Mungkin satu kali kedipan saja, tangis Bianca akan berlinang.
“Aku tunggu di luar," ucap Roland, Bianca mengangguk
Setelah dari kamar, Roland mendudukkan diri di sofa kemudian ia merogoh sakunya, karena satu pesan masuk kedalam ponselnya, dan Roland lansung tersenyum saat membaca pesan tersebut.
Saat Bianca sudah keluar dari kamar, Roland dengan segera menaruh menaruh ponselnya dan menormalkan ekpresinya.
•••
“Roland Terima kasih sudah mengantarkanku pulang, maaf jika merepotkanmu," ucap Bianca ketika mobil yang ditumpanginya sudah terparkir di mansion Maria dan Lyodra.
Roland tersenyum. “Tidak apa-apa, Bi. Kau sama sekali tidak merepotkan. Malah aku berharap kau akan lebih lama tinggal di apartemenku,” ucap Roland membuat Bianca langsung ikut tersenyum.
“Kau ingin aku temani masuk ke dalam?" tanya Roland ketika Bianca masih terdiam .
“Tidak Roland. Terima kasih, aku harus menyelesaikannya semua dengan orang tuaku!” Roland menggangguk kemudian Roland pun ikut turun dari mobil. Lalu setelah itu membuka bagasi dan mengeluarkan koper Bianca.
“jika ada apa-apa, hubungi aku. Aku akan selalu ada untukmu,” ucap Roland. Bianca mengangguk. Roland masuk ke dalam mobil
Bianca menghela nafas beberapa kali, kemudian menghembuskannya, ia berusaha untuk tetap tenang agar ia bisa menjelaskan semuanya dari awal.
Bianca memegang gagang pintu, Kemudian memutarnya hingga pintu terbuka, dan ia pun langsung masuk kedalam.
“Mom ... Dad!” panggil Bianca. Namun tidak ada sahutan dari ayah dan ibuny
“Bianca." Tiba-tiba terdengar suara Maria dari arah samping, membuat Bianca menoleh.
“Bianca Kenapa kau tidak bisa dihubungi, kena ...” Ucapan Maria terputus saat Bianca berlari dan memeluknya.
“Mommy!” Bianca menumpahkan tangisannya dipelukan sang Ibu. Sudah lama sekali ia ingin menangis di pelukan ibunya. Tapi ia tidak seberani itu..Tapi sekarang, ia akan mengatakan semuanya tentang yang terjadi antara dia dan Sello.
“Bianca Ada apa, kau Kenapa?” tanya Maria. Maria berusaha untuk melepaskan pelukan Bianca.
“Teenang, kau tenang Ceritakan ada apa, Kenapa kau menangis Lalu kenapa kau membawa koper?’” tanya Maria lagi.
“Ada apa ini?" Tiba-tiba terdengar suara Lyodra dari arah belakang. Rupanya, ia baru saja masuk ke dalam mansion. Lelaki itu langsung menghampiri anak dan istrinya.
Seolah belum cukup menangis di pelukan ibunya, Bianca memeluk sang ayah. Lalu ia menangis di pelukan ayahnya. Saat Maria akan bertanya, Liodra mengangkat tangannya, mengisyaratkan untuk Maria tidak bertanya, ia harus membiarkan Bianca tenang terlebih dahulu.
20 menit kemudian, akhirnya tangisan Bianca mulai mereda. Sedari tadi, Lyodra tidak berhenti mengelus punggung putrinya.
Bianca melepaskan pelukannya, hingga langsung menghapus air mata putrinya.
“Sekarang, Ayo kita duduk di sofa!” Lyodra mengajak Sang Putri untuk masuk ke dalam. hingga kini Bianca sudah duduk dan diapit oleh Maria dan Lyodra.
Maria menggenggam tangan Bianca. “Sekarang ceritakan apa yang terjadi?” tanya Maria
Bianca menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dan mengalirlah semuanya dari mulai awal pernikahan mereka, sampai hal kemarin. Tidak ada yang Bianca yang tutup-tutupi. Bianca menceritakan semuanya secara detail.bahwa pernikahannya selama 5 tahun dengan Sello tidak sebaik itu dan selama 4 bulan Sello pernah bersikap baik, tapi ternyata Sello punya rencana lain.
Nafas Lyodra memburu, untaian kata untaian kata yang diucapkan oleh Bianca membangkitkan titik terdalam emosi Lyodra. Mungkin jika dipikir, inilah pertama kalinya Lyodra adalah merasakan emosi yang luar biasa hebat.
“Di mana dia sekarang?” tanya Lyodra pada Bianca..
”Aku tidak tahu. Kami.sudah tidak bertemu selama satu minggu ini.” Tiba-tiba, Lyodra bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung menyambar kunci mobil lalu keluar tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Maria dan Bianca
Lyodra mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, ia menuju mansion Gabriel berharap Leo berada di sana. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil Lyodra masuk ke dalam pekarangan mansion Gabriel.
Lyodra turun dengan nafas yang membara. Setelah itu, ia di beri tahu oleh pelayan bahwa semua sedang ada di taman belakang.
Saat melihat punggung menantunya, Emosi Lyodra semakin menjadi-jadii. Dan Bug .... satu tendangan melayang di punggung Lyodra