
Tommy turun dari mobil. Rasanya dia begitu ragu untuk masuk ke dalam. Dia sudah menyiapkan kata-kata untuk berbicara pada ayah Celine. Dia sudah minta bantuan pada sang ayah untuk berbicara kepada ayah Celine, tapi dia tak mau membantu.
Tommy berdiri di depan pintu, rasanya dia ragu untuk memencet bel, tapi dia ingin secepatnya menyelesaikan semua. Setelah itu, Tommy pun langsung memencet bel dan tak lama, pintu terbuka, ternyata Celine yang keluar.
"Tommy," panggil Celine, menatap Tommy dengan tatapan tak percaya.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Celine. Dia sudah tahu apa maksud tujuan Tommy, itu sebabnya dia langsung menatap Tommy dengan wajah yang waspada.
"Aku ingin berbicara dengan ayahmu," balas Tommy.
"Ayahku sedang tidak ada," kata Celine, "ayo temani saja aku berbelanja."
Celine dengan cepat menarik tangan Tommy hingga Tommy pun mengangguk. Kali ini, dia ingin mengabulkan keinginan Celine sebelum dia pamit, toh dia bisa pamit pada Celine ataupun keluarga Celine saat nanti mengantar Celine pulang.
"Tommy, bagaimana jika kita pergi ke butik? Aku ingin menukar gaun pertunangan kita," kata Celine. Dia mengatakan itu karena agar Tommy tidak membatalkan pertunangan mereka.
"Tidak jangan ke butik, kita pergi ke toko cincin saja. Kita belum memilih cincin, bukan?" tanyanya lagi.
Helaan napas terlihat dari wajah Tommy. "Bagaimana jika kita makan saja di luar?" tanyanya.
"Aku rasa kita makan terlebih dahulu sebelum kita pergi ke butik dan juga membeli cincin," jawab Celine. Dia tidak ingin membatalkan pertunangan dengan Tommy, itu sebabnya dia mengatakan hal itu dan mengajak Tommy untuk pergi ke butik dan mencari cincin, walaupun dia tahu bahwa sebenarnya kedatangan Tommy ke rumah untuk membatalkan pertunangan mereka.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tommy sampai di sebuah restoran. Tommy pun turun dari mobil, begitu pun dengan Celine.
Saat turun dari mobil, Celine langsung menggandeng tangan Tommy hingga Tommy merasa risih dan sedetik kemudian, Tommy menghentikan langkahnya kemudian menatap ke arah Celine, lalu menarik tangannya dari tangan Celine.
"Maaf Celine, aku tidak nyaman," kata Tommy.
"Kenapa begitu?" jawab Celine, dengan cepat Celine pun langsung menggandeng kembali tangan lelaki itu, membuat Tommy menghela napas dan kali ini Tommy menarik tangannya dengan sedikit kencang lalu berjalan mendahului Celine.
Rasanya, Celine ingin menangis kencang-kencangnya. 'Tidak, Tommy milikku.' Celine membatin ketika melihat Tommy. Dia pun langsung bergegas menyusul lelaki itu.
Saat masuk, Celine dan Tommy langsung memilih meja yang sedikit jauh dari meja-meja lainnya, dan setelah duduk, mereka pun langsung memesan. Ketika sudah memesan, Celine mengotak-atik ponselnya, kemudian dia memperlihatkan ponselnya pada Tommy.
"Lihat ini, perhiasan ini bagus, bukan?" tanya Celine. Dia terus membahas tentang perhiasan yang akan mereka beli untuk pertunangan. Tentu saja Tommy hanya melihatnya sekilas.
"Kita makan dulu," jawab Tommy yang mengalihkan pembicaraan, tapi Celine tidak mau menyerah.
"Iya, lihat dulu sebentar. Kau pilih yang mana?" Celine langsung menunjukkan lagi ponselnya pada Tommy, menunjukkan gambar kedua.
"Celine." Kali ini, nada suara Tommy mulai tegas hingga Celine menghela napas kemudian wanita itu menjauhkan ponselnya, lalu menyimpannya ke bawah.
Setengah jam kemudian, makanan pesanan Celine dan Tommy pun datang. Tommy memakannyadengan cepat, begitu pun dengan Celine hingga akhirnya acara makan pun selesa.
"Setelah ini kita ke mana?" tanya Tommy.
Celine mengembangkan senyumnya ketika mendengarkan pertanyaan dari Tommy, setidaknya Tommy bertanya membuat Celine kembali mengembangkan senyumnya. Ternyata dugaannya salah, karena Tommy masih mau menemaninya memilih cincin pertunangan, padahal Tommy mengiyakan hanya untuk memberi kenangan terakhir untuk Celine.
Tommy dan Celine pun bangkit dari duduknya kemudian mereka pun keluar dari restoran, lalu setelah itu berjalan ke arah mobil, dan sekarang di sinilah mereka berada, di depan sebuah toko perhiasan.
Celine dan Tommy pun masuk, kemudian Celine langsung meminta pelayan untuk menunjukkan cincin. "Tommy, menurutmu yang mana?" tanya Celine yang menyerahkan beberapa cincin.
"Yang ini saja," ucap Tommy dengan asal.
"Ini, tolong bungkus," ucap Celine.
Ketika Celine sedang memilih yang lain, Tommy menghampiri kasir. "Tolong bungkus satu saja," ucap Tommy.
"Hah, maksud Anda, Tuan?" tanya pelayan tersebut yang bingung dengan permintaan Tommy, padahal jelas-jelas cincin itu adalah cincin couple.
"Aku akan bayar dua pasang, tapi tolong keluarkan itu satu," ucap Tommy lagi hingga pelayan itu pun mengangguk dengan ragu.
Celine kembali ketika Tommy membayar. Celine benar-benar mengembangkan senyumnya, wanita itu langsung menghampiri Tommy.
"Sudah selesai?" tanya Celine, Tommy mengangguk. “Ya sudah, ayo kita pergi ke butik," ajak Celine lagi. "Aku ingin mengganti gaun pengantinku," ajak Celine.
Tommy pun langsung berjalan diikuti Celine, dan mereka pun keluar dari toko perhiasan lalu setelah itu pergi ke butik.
***
"Tommy, bagaimana, apa ini lebih bagus dari gaun kemarin?" tanya Celine. Walaupun dia tidak menyukainya gaun yang dia pegang dan tapi karena dia ketakutan Tommy akan membatalkan pertunangan, dia kembali memilih gaun demi mendengar jawaban pria itu.
"Bagus," jawab Tommy.
"Tolong siapkan ini, dan tuxedo yang senada," kata Celine. Pelayan butik pun mengangguk.
Ketika Celine sedang melihat-lihat pakaian yang lain, seperti tadi, Tommy pun langsung menghampiri pelayan yang melayani mereka. "Tolong untuk tuxedo-nya jangan dimasukkan. Masukan gaun saja," pintanya.
Lagi-Lagi, pelayan itu dibuat bingung dengan permintaan Tommy. "Tapi, Nona tadi ...."
"Tidak masalah, aku akan membayarnya. Tidak usah masukkan tuxedo itu," kata Tommy lagi hingga pelayan itu mengangguk.
"Sudah selesai?" tanya Tommy ketika Celine melihat-lihat gaun di ruangan lain.
"Sudah," jawab Celine, melihat paper bag di tangan Tommy kemudian merebutnya.
"Ayo kita pergi, temani aku berbelanja," ajak Celine hingga Tommy mengangguk.
***
Beberapa jam kemudian, akhirnya acara keduanya pun selesai.
"Ayo kita pulang," ajak Tommy ketika mereka baru keluar dari pusat perbelanjaan.
"Tidak, jangan pulang. Kita main saja ke rumahmu. Aku juga ingin berbincang-bincang dengan Bibi Ayes," kata Celine. Walaupun Celine sudah yakin Tommy tidak akan membatalkan pertunangan dan pernikahan mereka karena mereka baru saja memilih cincin dan gaun pengantin, tapi tetap saja dia merasa was-was.
Mendengar jawaban Celine, Tommy tidak berbicara. Dia malah menyalakan dan menjalankan mobilnya membuat Celine menghela napas. Dia pikir Tommy setuju dengan ucapannya untuk pergi ke rumah lelaki itu.
Setelah mobil mulai melaju, Celine menyandarkan tubuhnya ke belakang. Wanita itu memainkan ponselnya sembari mendengarkan musik, membuat Tommy menghela napas karena Celine tidak memperhatikan jalan.
Sambil menyetir, Tommy melamun. Dia memutar otak untuk memberikan jawaban yang pas pada ayah Celine, walau bagaimanapun pasti setelah dia sampai di rumah Celine dan berbicara, akan ada kegaduhan di mana Celine tidak terima dengan keputusannya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tommy sampai di kediaman Celine, hingga Celine menoleh ke arah Tommy.
"Sudah sampai?" tanya Celine karena dari tempat mereka berbelanja ke rumah Tommy sangat jauh, dan Celine heran ketika mereka bisa sampai dengan sedikit cepat. Belum Tommy menjawab, mata Celine membulat saat melihat sekelilingnya, ini bukan rumah Tommy, melainkan rumahnya.
"Kenapa kau membawa aku ke sini?" tanya Celine.
"Ayo pulang, aku akan mengantarkanmu pada orang tuamu," katanya.
"Tommy tunggu," jawab Celine ketika Tommy akan membuka sabuk pengaman. Wanita itu langsung menarik tangan Tommy.
"Kau pulanglah, aku bisa masuk sendiri," jawab Celine.
Tommy tersenyum kemudian melepaskan tangan Celine dari tangannya. Tanpa mendengar ucapan Celine, Tommy turun dari mobil membuat Celine semakin was-was hingga dia pun menyusul lelaki itu.
"Tommy tunggu, kau tidak boleh masuk. Ayahku sedang berada di luar negeri," kata Celine lagi yang menarik tangan Tommy, berusaha mencegah Tommy untuk masuk ke dalam rumah, hingga Tommy menghentikan langkahnya.
"Celine, kumohon. Ini sudah keputusanku," kata Tommy.
"Ke-keputusan apa?" tanya Celine dengan terbata. Dia menatap Tommy dengan bingung.
"Aku rasa kau tidak perlu jawaban, karena kau sudah tahu alasannya," jawab Tommy.
"Apa maksudmu kau ingin membatalkan membatalkan pertunangan kita hanya karena dia?" tanya Celine dengan napas yang memburu. Dia menatap Tommy dengan wajah yang memucat.
"Tapi kita baru saja memilih gaun pengantin dan juga cincin," kata Celine yang memperlihatkan paper bag di tangannya.
"Coba buka paper bag itu," ucap Tommy.
Karena panik, Celine bukan membukanya melainkan mengeluarkan semua hingga semuanya jatuh di tanah dan ketika semuanya terjatuh, kotak cincin terbuka. Mata Celine membulat ketika melihat cincin itu hanya ada satu. Dia menekuk kakinya kemudian berlutut untuk memastikan.
"Kenapa cincin ini hanya satu? Tadi, 'kan, aku memilih dua?" Celine bertanya dengan napas yang tercekat.
"Itu hanya cincin untukmu," jawab Tommy. Seketika Celine melihat ke arah kotak yang berisi gaun pengantin, dan lagi-lagi Celine dibuat terkejut dengan kotak tersebut yang hanya ada gaun pengantin, tidak ada tuxedo.
"Tommy," panggil Celine.
"Aku rasa tidak ada yang harus aku jelaskan lagi, aku akan menemui ayahmu untuk pamit." Tidak ingin melihat Celine merajuk lagi, Tommy pun dengan segera berbalik kemudian dia bergegas untuk masuk ke dalam.
"Tommy," panggil Laras yang tak lain ibu Celine.
"Apa Paman Simon ada?" tanya Tommy membuat Laras mengerutkan keningnya.
"Tunben sekali kau ingin bertemu dengan Paman Simon," ucap Laras.
"Tidak ada! Sudah kubilang ayahku tidak ada!" Celine berteriak dari arah luar. Dia datang dengan napas yang terengah karena dia berlari disertai dengan panik, hingga Laras semakin bingung.
"Celine ada apa? Kalian kenapa?" tanya Laras.
"Daddy tidak ada, 'kan?" jawabnya. Dia langsung menggoyangkan tangan sang ibu, pertanda sang ibu harus mengikuti ucapannya.
"Ada apa ini?" Tiba-Tiba terdengar suara Simon dari arah belakang. Dia yang baru saja turun, mendengar keributan hingga langsung menghampiri sumber suara. Lalu ketika melihat anak, istri serta calon menantunya berkumpul, dia langsung menghampiri ketiganya.
Tommy tersenyum kala melihat Simon. Lelaki itu pun langsung berjalan ke arah calon mertuanya atau yang menjadi mantan calon mertuanya.
"Apa apa, Tommy?" tanya Simon.
"Paman, bisa kita bicara?" tanya Tommy.
"Apa ada yang penting?" tanya Simon lagi.
"Ya, sangat penting," jawabnya.
"Ya sudah, ayo kita bicara di ruangan Paman," ajak Simon.
Tommy mengangguk kemudian mereka pun langsung berjalan, sedangkan Celine langsung memutar otak. Dia tidak seberani itu mencegah ayahnya untuk berbicara dengan Tommy, sebab dia sendiri akan terkena getahnya.
Laras melihat ke arah Celine. Dia menatap Celine dengan bingung. "Sebenarnya ada apa dengan kalian? Kenapa kalian seperti ini? Bukankah tadi kalian baru saja keluar?" tanya Laras.
"Mom, ceritanya panjang. Ayo cepat hentikan Daddy berbicara dengan Tommy sebelum tunanganku batal," kata Celine.
"Apa maksudmu? Mommy tidak mengerti," ucap Laras.
"Pokoknya nanti aku akan menjelaskan, tapi sekarang cepat halangi Daddy berbicara dengan Tommy," rengeknya.
"Kau ini ada-ada saja." Pada akhirnya, Laras pun langsung menyusul suami dan calon menantunya.
***
"Silakan duduk. Ada apa?" tanya Simon pada Tommy, sehingga keduanya kini sudah duduk di sofa dengan posisi berseberangan.
"Paman, mungkin keputusan ini akan melukai Paman dan juga keluarga Paman, termasuk Celine, tap—"
"Jangan berbelit-belit. Sebenarnya, apa yang ingin kau katakan?" tanya Simon yang memotong ucapan Tommy, hingga Tommy yang sedang menundukkan pandangannya langsung menatap ke arah Simon. Jujur saja, jantung Tomi berdetak dua kali lebih cepat. Dia begitu takut melihat perubahan lelaki paruh baya yang ada di depannya ini.
"Paman, aku ingin membatalkan pernikahanku dengan Celine," kata Tommy.
Simon menatap Tommy dengan bingung. "Kau ingin membatalkan pertunangan dan pernikahan kalian?" tanyanya.
"Iya, Paman," jawab Tommy.
"Katakan pada Paman, kenapa kau ingin membatalkan pernikahan ini? Beri Paman alasan yang jelas," ucap Simon.
Tommy mencoba memutar otak, merangkai kata yang pas agar tidak menyakiti Simon dan keluarganya.
"Paman, karena aku mencintai wanita lain," kata Tommy, sedangkan Simon menghela napas. Dia tidak ingin egois, sebab jika pernikahan dipaksakan, akan ada yang menjadi korban. Bisa saja putrinya yang
menjadi korban karena Tommy tidak mencintainya.
"Baiklah, Paman setuju," katanya.
Mata Tommy membulat saat mendengar ucapan Simon. Dia pikirkan ada drama di mana Simon memarahinya atau memakinya, tapi ternyata tidak.
"Terima kasih, Paman. Terima kasih karena Paman sudah mengerti," ucap Tommy.
Simon mengangguk. "Jika pernikahan kalian dipaksakan, kemungkinan kalian tidak bahagia karena tidak akan ada cinta di pernikahan kalian, jadi lebih baik tidak menikah daripada kalian terjebak luka," ucapnya.
"Hanya karena kau mencintai wanita lain, kau ingin membatalkan pernikahan dengan Celine?" tanya Laras membuat Simon dan juga Tommy menoleh.
"Sudahlah, Sayang," kata Simon.
Laras berjalan ke arah sofa, lalu mendudukkan diri di sebelah Simon.
"Setega itu kau pada putri kami?" tanya Laras hingga Tommy mengangguk. Dia pikir masalah dengan Simon selesai, tapi ternyata dia malah harus menghadapi masalah lain.
"Maafkan aku Bibi," ucapnya.
"Maaf kau bilang setelah membuat putri kami terluka?" tanya Laras lagi. Dia berkata dengan kesal, wajahnya berkilat penuh amarah pada calon menantunya.
"Kau pulanglah," kata Simon yang tidak ingin memperpanjang perdebatan, membuat Tommy menghela napas.
"Apa-apaan, Dad? Tidak, pertunangan tidak boleh batal. Undangan sudah disebar," kata Laras.
"Sayang, dengar. Semua keputusan sudah bulat, pertunangan Celine dan Tommy akan batal," ucap Simon.
"Kalau begitu aku permisi, Paman, Bibi," ucapnya hingga Simon pun mengangguk, lalu Tommy keluar dari ruang kerja Simon.
"Tommy, tolong jangan batalkan pernikahan ini, aku mohon. Kau boleh kembali lagi pada wanita itu, tapi tolong jangan batalkan. Aku tidak apa-apa kau mencintai wanita lain," ucap Celine. Dia begitu putus asa hingga dia menyarankan hal gila pada Tommy.
Tommy tersenyum kemudian mengelus rambut wanita itu.
"Percayalah Celine, suatu saat kau akan berterima kasih karena aku mengambil keputusan ini. Kau wanita baik, kau wanita sempurna, kau berhak mendapatkan lelaki yang mencintaimu," ucap Tommy.
Tiba-Tiba, tangis Celine luruh saat Tommy mengatakan itu. "Tommy," panggil Celine.
Tommy maju ke arah Celine, kemudian wanita tersebut memeluknya. Setelah itu, dia melepaskan pelukannya lalu berbalik begitu saja, dan tepat ketika Tommy pergi, Celine ambruk ke lantai. Dia sudah mencintai Tommy sejak mereka awal kuliah dan ketika perasaannya sudah tidak terbendung, dia menyuruh sang ayah untuk menjodohkannya dengan Tommy hingga ayahnya berbicara dengan Glen. Akhirnya mereka akan bertunangan, tapi ternyata mereka harus berakhir seperti ini.
Tommy keluar dari rumah Celine dengan senyum yang mengembang. Akhirnya, sudah tidak ada penghalang lagi untuk dia mengejar Mayra, karena dia sudah tidak punya hubungan apapun lagi dengan Celine, dan tidak terikat janji apapun lagi.
***
Beberapa hari kemudian.
Mayra melihat koper di depannya kemudian dia mengelus perutnya. Hari ini adalah hari di mana Mayra akan meninggalkan Rusia, di mana Mayra akan melupakan semuanya. Kemarin, surat pengadilan sudah keluar, menyatakan bahwa Adrian dan Mayra bukan lagi suami-istri.
Saat melamun, tiba-tiba Mayra teringat dengan Alice. "Alice, maafkan Mommy yang tidak pamit padamu, tapi Mommy berjanji Mommy akan memberikanmu kabar," lirih Mayra yang memikirkan Alice. Tidak bisa dibayangkan betapa hancurnya Alice ketika tahu keputusan Mayra.
Mayra bukannya tidak ingin menghubungi Alice untuk pamit, tapi dia tidak ingin tekadnya goyah jika dia melihat Alice memohon. Dia tidak akan tega, hingga dia memutuskan untuk mengabari Alice nanti, ketika semuanya sudah tenang.
"Mayra, kau sudah selesai berkemas?" tanya Sayra.
Mayra yang sedang melamun, menoleh. "Aku sudah selesai," jawabnya.
"Ya sudah, ayo. Biarkan pelayan yang mengambil kopermu," kata Sayra hingga Mayra pun mengangguk. Dia pun bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah luar.
"Jaga dirimu," kata Amelia. Amelia memang tidak mengantarkan Mayra karena kesehatannya sedang menurun, dan yang mengatakan Mayra hanya Gabriel saja, itu pun akan langsung pulang.
Mayra memutuskan untuk tinggal di Polandia, negara yang pernah dia singgahi bersama keluarganya.
Setelah berpamitan dengan semua keluarga, Mayra pun langsung berjalan ke arah mobil diikuti Gabriel di belakangnya.
"Mayra, kau yakin tidak ingin pamit pada Alice?" tanya Gabriel ketika mobil sudah melaju.
"Tidak, nanti saja," jawab Mayra.
Akhirnya, mobil pun sampai di suatu tempat, karena memang Gabriel memakai pesawat pribadinya. Saat masuk, Mayra menghentikan langkahnya ketika melihat seseorang berdiri di depan pesawat. Tubuh Mayra diam mematung ketika menyadari siapa lelaki itu.
"Dad, kenapa dia ada di sini?" tanya Mayra.
Gabriel tersenyum saat melihat Tommy. Ya, karena faktanya Tommy-lah yang berdiri di depan pesawat. Dia berencana untuk menemani Mayra ke Polandia. Sebelumnya, tentu saja Tommy sudah berbicara dengan Gabriel bahwa dia akan ikut dengan Mayra, dan tentu saja Gabriel mengizinkan karena dia sudah berkomunikasi dengan Glen.
"Tommy akan menemanimu," ucap Gabriel.
"Apa?!" Mayra terpekik saat mendengar ucapan Gabriel.
"Bagaimana mungkin. Dia kan ...."
"Sudah, ayo. Jangan pikirkan macam-macam." Pada akhirnya, Gabriel memegang pundak Mayra kemudian mengajak putrinya untuk berjalan ke pesawat.
"Mayra," panggil Tommy ketika sudah berhadap-hadapan.