
Alice menatap heran pada Selo. Dia bingung siapa lelaki yang sedang merangkul Bianca. Kenapa tiba-tiba dia datang.
Semetara Bianca, matanya membulat ketika melihat Selo di sampingnya. "Selo, kau gila?!" tanya Bianca. Dia langsung mendorong tubuh Selo. Rasanya, Bianca ingin berteriak pada lelaki ini, kenapa lelaki ini seperti Jailangkung yang selalu ada di mana-mana.
"Kenapa? Aku juga ingin dilukis. Ayo lukis kami," kata Selo, dia mencubit dagu Bianca, membuat Bianca menggeram kesal.
Tiba-Tiba, Alice teringat siapa lelaki di depannya ini, yaitu orang yang pernah makan bersama mereka di restoran. Matanya kini berkaca-kaca. Dia hanya ingin melukis Bianca, tidak dengan Selo
Bianca menghela napas lalu memohon Selo untuk pergi. "Pergilah, aku tidak ingin membuat Alice kecewa," ucap Bianca dia berbicara pelan agar Alice tidak mendengar ucapannya.
"Ada syaratnya," kata Selo, seperti biasa dia mengunakan kesempatan dalam kesempitan.
"Apa?" tanya Bianca, wajahnya menatap Sello dengan kesal.
"Setelah ini ayo kita makan bersama," jawab Selo.
"Tidak mau, tidak sudi makan dengan ...." Bianca menghentikan ucapannya ketika tak sengaja melirik wajah Alice yang tampak sendu, hingga pada akhirnya wanita itu pun mengangguk.
"Baiklah kita makan bersama, cepat pergi," omel Bianca hingga pada akhirnya, Selo pun menurut dan kini wajah Alice kembali ceria, melihat pria itu sudah pergi hingga dia bisa melukis Bianca.
Proses melukis berlangsung selama satu jam, hingga akhirnya Alice berhasil menyelesaikannya dan itu benar-benar mirip dengan Bianca.
"Bibi, coba lihat," kata Alice yang tak sabar memperlihatkan lukisannya pada Bianca.
Bianca langsung bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri Alice. "Wah, Alice ini indah sekali," ucap Bianca, dia tampak terpesona dengan lukisan wajahnya.
"Bibi mirip seperti ibuku di foto," kata Alice lagi membuat mata Bianca berkaca-kaca. Dia tidak tahu bagaimana kesepiannya anak ini, sampai dia disebut mirip padahal yang Bianca tahu bahwa dia sama sekali tidak mirip dengan mendiang ibu, Alice. Namun, dia hanya tersenyum kemudian mengelus rambut Alice.
"Sebentar," ucap Bianca. Dia merogoh tas kemudian mengambil ponsel, "ayo berfoto," ajaknya hingga Alice kembali mengembangkan senyum. Keduanya tersenyum sangat ceria.
Dari tadi, Bianca melihat ke arah mobil, berharap Selo tidak ada di sana dan sialnya pria itu berdiri di depan mobilnya. Dia tidak punya kesempatan untuk kabur. Jujur, dia pun malas meladeni lelaki itu.
"Dokter Bi, terima kasih sudah menemani Alice. Terima kasih sudah mau menjadi model lukisannya," ucap Adrian ketika Bianca dan Alice pergi ke sisi kelas.
Bianca tersenyum. Dia menjawab, "Sama-sama, Dok."
"Kau ada acara setelah ini?" tanya Adrian. Dia berniat untuk mengajak Bianca makan siang, sebab dia tidak melihat tadi Sello datang, hingga dia mengajak wanita itu.
"Ekhem, Bianca, 'kan, sudah ada janji denganku," ucap Selo yang lagi-lagi muncul seperti hantu. Lelaki itu langsung merangkul pundak Bianca membuat Bianca memejamkan matanya, dan langsung melepaskan tangan Selo dari pundaknya.
"Iya, 'kan, Bi, kau mau makan denganku?" tanya Selo memastikan.
Bianca yang tidak enak dilihat oleh Adrian jika terus berdebat pun mengiyakan ucapan Selo. "Maaf Dokter Adrian, aku ada janji dengannya," kata Bianca membuat Selo mengembangkan senyum.
Lalu setelah itu, Adrian mengangguk walau dengan hati yang berat, karena tadinya dia ingin menikmati waktu bersama Bianca. Terlebih lagi jika Alice sedang bersama Bianca, putrinya akan terlihat berseri-seri. Namun apa boleh dikata, dia tidak bisa memaksa Bianca untuk pergi dengannya.
"Oh baiklah," ucap Adrian.
Setelah itu, Selo kembali merangkul pundak Bianca dan mengajaknya pergi membuat wanita itu menggertakan gigi kemudian menghempaskan tangan pria ini dari bahunya. "Kau ini lancang sekali!" ucap Bianca.
"Aku, 'kan, saudaramu. Bukankah tidak ada batasan? Setahuku tidak. Kita, 'kan, bersaudara," ucap Selo dengan tanpa tahu malunya.
"Ya sudah pergi sana ke mobilmu, aku akan pergi memakai mobilku," kata Bianca lagi.
"No, no, no," jawab Selo sambil menjentikkan jari di depan Bianca, "tidak, sekarang aku tidak akan tertipu. Aku akan ikut dengan mobilmu, biarkan saja mobilku di sini."
"Cih, kau tidak tahu malu sekali menumpang dengan wanita," ucap Bianca.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku sedang malas menyetir, juga tidak ada yang tahu aku disetiri olehmu," kilah Selo.
"Oh Tuhan," ucap Bianca.
Tanpa ingin membalas lagi ocehan Selo, Bianca masuk ke dalam mobil dengan pria itu mengikuti di belakang, hingga pada akhirnya dia menjalankan mobil menuju restoran di tempat terdekat dengan lokasi mereka karena enggan berlama-lama dengan lelaki di sebelahnya ini.
"Kenapa kita ke sini? Ini, 'kan, tidak halal," kata Selo membuat Bianca tersadar. Dia menemukan bahwa restoran di depannya ini tidak halal, hingga tanpa menoleh ke arah Selo, dia bergegas kembali menyalakan dan menjalankan mobilnya.
***
Sampai di sinilah mobil Bianca terparkir, di sebuah restoran yang sering dia kunjungi yang juga sudah bersertifikasi halal. Dia turun dari mobil dan sengaja meninggalkan Selo.
Selo langsung mengikuti Bianca dan akhirnya, mereka pun sudah memilih meja. Saat Bianca akan duduk, pria itu menarik kursi untuknya.
Namun, bukannya duduk di kursi yang ditarik oleh Selo, Bianca malah duduk di kursi lain membuat pria itu menggeleng.
"Kau ingin pesan apa?" tanya Selo.
"Apa saja," jawab Bianca yang jujur saja, mood-nya langsung memburuk ketika makan dengan lelaki di depannya ini, hingga Selo pun memesankan makanan yang sama.
Setelah memesan makanan, Bianca lebih memilih untuk memainkan ponsel sedangkan Selo terus menatap wajahnya membuat wanita itu sedikit risih.
"Jangan menatapku seperti itu!" hardik Bianca. Terlihat terlihat jelas dia menatap Selo dengan sorot tak suka.
"Sebenarnya kenapa kau terus membayangiku seperti hantu? Aku rasa kau butuh waktu yang lebih untuk kerjaanmu," kata Bianca lagi.
"Tidak apa-apa, pekerjaanku bisa aku kerjakan nanti. Aku lebih senang mengikutimu," ucap Selo.
"Tolong, kau jangan gila," gerutu Bianca.
"Aku sudah gila, makanya berada di sini," ucap Selo.
"Sungguh, aku ingin mengamuk Selo," kata Bianca. Kali ini raut kesal berganti dengan wajah marah, membuat Sello semakin gemas. Dia langsung mencubit pipi Bianca yang menggembung membuat mata wanita itu membulat.
Seketika, Bianca memukul-mukul tangan Selo seperti anak kecil membuat pria itu tertawa, hingga akhirnya pesanan mereka sampai.
Bianca makan dengan cepat, sedangkan Selo makan dengan santai. Wanita itu ingin segera meninggalkan restoran. Dia bisa gila jika terus bersama lelaki di depannya ini.
"Aku ingin pergi ke toilet," kata Bianca yang berpura-pura.
"Oh, ya sudah ayo," ucap Selo saat Bianca akan bangkit, dia mendahuluinya membuat wanita itu menghentikan niat.
"Selo, apa kau gila? Kau ingin masuk ke toilet wanita?" tanya Bianca.
"Tidak apa-apa, aku akan menunggu di luar," jawab Selo, karena setelah ini dia akan mengajak Bianca untuk pergi kedai es krim kesukaan wanita itu.
Teringat dulu saat mereka berpacaran dan ketika dia sudah mengenal Aghnia, Bianca ingin ditemani ke sana, tapi dia selalu menolak. Tentu saja karena dia sibuk dengan Aghnia, dan sekarang dia ingin membawa wanita itu ke tempat-tempat yang dulu Bianca inginkan.
"Tunggu di sini, aku tidak akan pergi ke mana pun. Jika kau tidak percaya lihat tasku. Aku simpan di sini," kata Bianca.
Selo terdiam, dia meneliti wajah mantan istrinya untuk mencari kejujuran dalam mata Bianca, hingga pada akhirnya dia pun mengangguk.
Semetara Bianca, langsung pergi dari sana. Dia berencana meninggalkan tas itu dan keluar dari restoran, tapi tentu saja dia harus masuk dulu ke toilet karena tidak ingin membuat Selo curiga. Sungguh, ternyata berurusan dengan Selo lebih membingungkan daripada harus mengurus pasien, begitulah pikir Bianca.
***
Bianca mematut diri di cermin, memastikan tampilannya sudah rapi. Ini sudah lima menit berlalu sejak dia berada di toilet, dan setelah itu akhirnya dia pun memutuskan untuk keluar. Dia yakin Selo pasti sedang sibuk dengan makanannya.
Saat keluar, Bianca menolehkan kepalanya ke sana kemari. Dia memutuskan untuk meminta izin keluar lewat pintu yang selalu dilalui karyawan. Namun, baru saja akan berbelok, dia terperanjat ketika melihat Selo yang bersembunyi di balik tembok.
Selo menatap Bianca dengan wajah yang menggemaskan, membuat jantung Bianca berdetak dua kali lebih cepat karena terlalu terkejut dengan kehadiran lelaki ini. "Kau ini benar-benar seperti hantu!" omel Bianca.
Sello tak menjawab, lelaki itu langsung menarik lengan Bianca.
Bianca tidak banyak berkutik, sebab jika dia mengomel dia masih berada di depan umum, dan pasti akan menjadi pusat perhatian hingga dia pun memutuskan untuk mengikuti langkah mantan suaminya.
"Pergi sana, aku ingin istirahat. Aku lelah. Ini hari liburku, jadi jangan ganggu aku," kata Bianca ketika mereka sampai di depan mobil.
Bukannya menjawab, Selo malah merogoh saku blazer Bianca untuk mengambil kunci mobil membuat mata Bianca membulat. Mantan suaminya ini benar-benar di luar dugaan.
"Selo, apa yang kau lakukan?!" teriak Bianca.
Bukannya menjawab, Selo malah mendorong lembut tubuh Bianca dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil, sedangkan dia mengambil alih kursi kemudi.
Wanita itu memutuskan untuk tidak berbicara pada lelaki di sampingnya ini. Sementara Selo, dia tersenyum penuh kemenangan karena mantannya tersebut tidak protes lagi.
***
Di sinilah mobil Bianca terparkir, di depan kedai es krim. Selo menoleh ke arah Bianca yang ternyata sedang tidur.
Bianca terlalu lelah, hingga akhirnya dia lebih memilih memejamkan matanya hingga tanpa sadar dia terlelap.
"Bianca, Bianca," panggil Selo. Dia mengelus pipi Bianca hingga wanita itu membuka mata. Sejenak, otak Bianca kosong karena dia dibangunkan secara mendadak. Dia lalu melihat ke sekitarnya.
Bianca terdiam saat melihat tempat ini, tempat yang paling dia benci. Dulu, tempat ini memang favoritnya. Namun, setelah mengetahui perselingkuhan Selo dia membenci tempat-tempat yang dulu selalu ia datangi.
"Untuk apa kita ke sini?" tanya Bianca.
"Ayo kita menikmati es krim, sepertinya segar," jawab Selo.
"Kau saja, aku tidak mau. Jangan memaksaku," kata Bianca. Dia kembali menyadarkan tubuh ke belakang. Sepertinya Selo tidak bisa menggodanya, hingga dia pun memutuskan untuk mengantar wanita ini pulang.
***
Di sinilah mobil Bianca terparkir, di depan rumah. Selo tidak berani masuk karena dia belum siap berhadapan dengan Maria. Dia melepaskan seat beltnya.
"Ini sudah sampai," ucap Selo.
"Ya sudah kalau begitu, aku pergi," sambungnya lagi. Saat Selo akan mengelus rambut Bianca, dengan cepat wanita itu menepis lengan mantan suaminya hingga dia pun langsung keluar dari mobil. Sementara Bianca, dia segera berpindah ke samping untuk memasukkan mobilnya.
Setelah itu, Selo berbalik berniat mencari taksi. Namun tak lama, dia menghentikan niat ketika melihat ada mobil yang mencurigakan.