Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Rumah


Semua anak buah Roland hanya mampu terdiam. Mereka tidak berani bergerak sedikit pun, karena bagaimanapun mereka tahu bahwa sekarang amarah tuannya sedang memuncak.


Roland menghela napas, kemudian mengembuskannya. Dia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya guna menenangkan diri. Walau bagaimanapun, dia tidak bisa gegabah mengambil keputusan, apalagi ini berkaitan dengan Gabriel. Salah satu orang yang paling ditakuti di Rusia.


Roland mengutak-atik ponselnya kemudian menelepon orang yang selama ini ada di belakangnya, uang sering disebut bos besar.


"Halo Tuan, Tuan Gabriel ...." Roland pun menjelaskan semuanya tentang apa yang terjadi di markas, termasuk kepergian Aghnia dan juga data-data yang dibawa oleh wanita itu.


Roland menjauhkan ponselnya ketika orang di seberang sana berteriak. Sosok di belakangnya itu murka, karena satu data tersebar maka banyak sekali yang akan terbongkar, termasuk bisnis hitam yang selama ini dijalani.


Terlebih lagi, orang itu sangat mengenal Gabriel bahkan mungkin ada di lingkungan pria itu, hingga jika Gabriel mengetahuinya maka semuanya bisa hancur lebur.


Pada akhirnya telepon dimatikan membuat Roland langsung menoleh ke anak buahnya. "Bereskan kekacauan kalian, kita pikirkan cara untuk mengambil data-data di tempat Tuan Gabriel," titah Roland.


Semua anak buah Roland mengangguk, lalu setelah itu dia langsung pergi ke dalam. Pria itu mendudukkan diri di sofa kemudian menyandarkan tubuh ke belakang.


Jangan ditanyakan betapa emosi dan bingungnya Roland saat ini. Dia emosi karena Bianca menyuruhnya menjauh, dan bingung ketika semua data sudah diambil dari Gabriel, dia tidak mengerti kenapa pria itu bisa mengetahui markasnya.


***


Iringan-Iringan mobil terlihat di jalan raya, dengan mobil yang ditumpangin Gabriel memimpin di depan. Saat ini, dia dan anak buahnya baru saja merebut Aghnia dari markas Roland.


Ada banyak hal yang Gabriel dapatkan ketika wanita itu disekap di markas Roland. Informasi yang valid, karena ada kamera tersembunyi yang dipakaikan pada Aghnia, hingga sekarang Gabriel tinggal membongkar semuanya.


Selain karena Roland bersalah telah mencelakai Selo, dia juga berusaha untuk membebaskan praktek perdagangan ilegal, apalagi menyangkut organn dalam. Dia memang seorang mafia di masa lalu, tapi Gabriel tidak pernah sampai menghilangkan nyawa orang lain. Dia hanya bermain dengan senjata dan obat-obatan.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang ditumpangi Gabriel sampai di tempat. Dia harus merawat Aghnia terlebih dahulu sebelum diinterogasi, karena banyak sekali hal yang harus dia ulik dari wanita itu.


Gabriel turun dari mobil. Dia melihat ke arah belakang, di mana anak buahnya juga ikut turun dan tak lama Gabriel menghampiri sebuah mobil box yang terisi Aghnia yang dibaringkan di brangkar.


Gabriel meringis saat melihat kondisi Aghnia yang sangat berantakan. Namun, walaupun demikian dia sama sekali tidak iba pada wanita itu.


"Bawa ke dalam dan panggil dokter. Suruh obati dia untuk sementara, dan beberapa orang ikuti aku ke ruang bawah tanah," ucap Gabriel hingga mereka pun masuk ke dalam.


Setelah semua masuk, sebuah mobil berhenti di depan rumah yang tadi dimasuki Gabriel beserta anak buahnya, dan ternyata mobil itu adalah mobil Selo.


Awalnya Selo tidak tahu bahwa dia berpapasan dengan mobil sang ayah, tapi setelah diteliti, dia mengenali mobil yang melintas di depannya hingga dia mengikuti kendaraan tersebut.


Selo mengerutkan keningnya saat melihat rumah yang tadi ayahnya masuki. Namun sayang, dia tidak melihat Aghnia diturunkan hingga dia tidak tahu bahwa wanita itu ada di sini.


'Tunggu, apa Daddy mempunyai istri muda?' Selo membatin. Di pikiran lelaki itu sekarang bahwa Gabriel mempunyai keluarga lain, hingga emosi langsung mendera.


Selo bergegas masuk ke dalam dan ketika berada di dekat pintu, dia langsung membukanya dengan keras. Lalu ternyata, di sana ada anak buah Gabriel.


"Mana Daddyku?" tanya Selo pada anak buahnya.


"Ada, dia sedang ada di ruang rahasia, Tuan," jawab salah satu anak buah Gabriel, karena memang mereka sudah mengenal Selo.


"Apa Daddy mempunyai keluarga lain?" tanya Selo.


"Maksud Anda apa, Tuan?" tanya anak buah Gabriel.


"Apa di sini ada selingkuhan Daddyku?" tanya Selo lagi yang kekeh dengan pendapatnya.


"Oh, bukan. Maaf Tuan, ini markas yang biasa digunakan oleh Tuan Gabriel," jawab anak buah Gabriel.


Selo mengerutkan kening. Padahal setahunya, markas sang ayah bukan di sini, melainkan di tempat yang tak jauh dari mansion. Namun, kenapa sang ayah ada di sini?


"Bukankah markas Daddy ada di dekat mansion?" tanya Selo.


Semua orang terdiam. Tidak banyak yang tahu bahwa Gabriel memiliki beberapa markas, tergantung bagaimana caranya dia mengeksekusi lawan.


"Ah, tunggu saja Tuan Gabriel, beliau akan menjelaskannya pada Anda," ucap anak buah Gabriel.


***


Gabriel terus melihat layar di mana CCTV itu diputar, dan dalam satu layar lagi ada beberapa data yang ditampilkan saat melihat data-data dari hardisk Aghnia.


Ternyata, Aghnia lebih licik daripada yang dia kira. Bagaimana tidak, dia menggelapkan dana yang sangat-sangat besar, bahkan mungkin dana itu bisa membeli satu negara.


"Ternyata dia begitu pintar," ucap Gabriel. Tak lama, pintu terbuka. Muncul sosok anak buah Gabriel yang kini menghampiri lelaki itu.


"Tuan," panggil anak buah Gabriel. "Ada putra Anda di sini," ucapnya.


"Maksudmu Selo?" tanya Gabriel. Anak buah Gabriel mengangguk membuatnya menghela napas. Entah dari mana Selo tahu dia ada di sini.


Lelaki itu pun bangkit dari duduknya, kemudian dia mengisyaratkan anak buahnya untuk mematikan layar meski belum melihat semuanya.


Jika sang anak turun tangan, pekerjaannya tidak akan beres, karena Selo pasti akan ikut campur dengan apa yang dilakukan. Namun, belum Gabriel keluar dari ruangan, pintu terbuka.


Ternyata, sosok Selo masuk ke dalam. Pria itu terperangah dengan rumah ini karena rumah ini begitu canggih, hingga dia langsung berkeliling, dan akhirnya dia mengikuti langkah anak buah sang ayah.


"Wah!" Selo berdecak kagum saat melihat ruangan tersebut begitu mewah. Terisi dengan kaca yang merupakan sebuah layar.


"Selo, untuk apa kau kemari?" tanya Gabriel.


"Dad, kau mempunyai rumah sekeren ini, tapi kau tidak memberitahu padaku," ucap Selo. Dia malah membahas hal lain, membuat Gabriel menggeleng.


"Ayo kita keluar," ajak Gabriel.


Gabriel langsung berjalan ke arah putranya, kemudian membawanya pergi. Bisa bahaya jika Selo terus berada di ruangan ini.


"Bagaimana mungkin kau bisa merahasiakan rumah bagus dengan teknologi secanggih ini?" tanya Selo. Dia terus mengulangi pertanyaannya membuat Gabriel benar-benar bingung cara menjawab pertanyaan sang putra. Dia tidak mungkin menjelaskan bagaimana dia membangun rumah ini.


"Daddy tidak punya waktu untuk mengatakan sejarah rumah ini, jadi katakan kenapa kau mengikuti Daddy di sini?" tanya Gabriel.