
Rush terus tertawa saat melihat Darren sekarang sudah terikat di kursi. Setelah penantian lama, akhirnya dia bisa menyaksikan Daren seperti ini.
Rush lambat bergerak karena dia harus meyakinkan beberapa orang yang mau diajak kerja sama dengannya. Dia juga mendatangi beberapa teman kuliahnya yang dulu sempat dibully oleh Darren dan mengajak bekerja sama, dan pada akhirnya beberapa rekan bisnis Darren yang saat itu dicurangi oleh Darren, dan juga beberapa teman kuliah mereka sekarang sudah berkumpul untuk memberi pelajaran pada Darren.
Rush juga bekerja sama dengan orang kepercayaan Darren yang menyuruh Darren datang ke luar kota. Kepercayaan Darren mempunyai dendam pada Darren karena Darren selalu menyepelekannya, hingga sekarqng dia bekerja sama untuk membalas bosnya.
Beberapa waktu berlalu, Darren menggoyang-goyangkan kepalanya. Rupanya dia baru saja sadar. Seketika Dareen menyadari bahwa tubuhnya sedang diikat hingga dia pun terus bergerak dan Rush yang sedang duduk di sofa, langsung menghampiri Darren yang duduk di kursi lalu membuka penutup kepala.
"Rush," panggil Darren dengan terkejut.
"Halo, apa kabar?" tanya Rush dengan santainya.
"Lepaskan aku, Rush," ucap Dareen sambil berusaha meronta.
"Lepas kau bilang?" tanya Rush sambil memukul kepala Darren.
"Kau ingat penyiksaan yang dilakukan ayahmu padaku?!" teriak Rush, kali ini dia menendang kursi yang ditempati oleh Darren hingga terjungkal ke belakang dan seketika Darren meringis. Darah keluar dari kepalanya, dan tak lama pintu terbuka.
Semua orang bertepuk tangan hingga Darren berusaha menolehkan kepalanya. Mata Darren membulat saat melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam ruangan, dan Darren mengingat satu persatu hingga tatapannya berhenti di orang kepercayaannya yang memimpin perusahaannya. Sial, ternyata dia telah dikhianati.
Setelah itu, semua orang berbondong menghajar tubuh Darren yang sedang terikat di kursi hingga akhirnya Darren langsung tak sadarkan diri.
***
Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa, ini sudah lima tahun berlalu, selama lima tahun ini banyak sekali yang terjadi pada hidup Darren. Semenjak disekap oleh Rush, Darren dibawa ke luar negri dan di kurung di sebuah hutan.
Rush sudah merencanakan semua ini dengan sangat detail, karena dia tahu keluarga Darren bukan orang sembarangan, terlebih lagi Ayah Darren Juag pasti sangat detail. Itu sebabnya Rush membawa Darren ke sebuah hutan dan menyekap Darren di sana agar Darren tidak bisa kabur, apalagi di hutan itu hanya bisa dilewati oleh helikopter.
Selama lima tahun, Darren kerap diperlakukan buruk oleh Rush, tapi Rush enggan membiarkan Darren mati, begitu pun dengan Darren. Dia selalu ingat keluarganya, beberapa kali Darren mencoba kabur, tapi pada akhirnya dia kembali ditemukan jika Rush mencari Darren lewat pantauan udara.
Bukan hanya disiksa, Darren juga dipaksa bekerja karena membantu perusahaan Rush yang baru saja tumbuh. Jangan ditanyakan betapa berubahnya perubahan fisik Darren. Dareen yang gagah dan tampan, berubah. Kini tubuhnya begitu kurus, bahkan seperti orang yang tidak pernah diberi makan.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam.
Darren memeriksa ke sekitarnya. Pada akhirnya setelah lima tahun dan setelah mencoba kabur beberapa kali, dia mempunyai ide. Sebentar lagi, helikopter akan datang untuk mengantarkan Rush kemari karena Rush akan mengambil file yang baru saja Darren kerjakan dan sekarang adalah satu-satunya cara agar Darren bisa kabur. Beruntung dia baru saja mendapatkan peralatan untuk menghadapi Rush.
Selama ini, Dareen dikurung di kontainer, tidak ada senjata ataupun barang-barang berat, karena Rush tidak ingin Darren menyerangnya. Namun, kemarin Darren berhasil kabur lewat atap. Dengan sisa kekuatannya, Dareen bersusah payah menjebol atap dan ketika Dareen berhasil keluar dia langsung mencari beberapa kayu.
Karena tenaga Darren sudah berkurang, dia tidak bisa menghadapi Rush dengan tangan kosong hingga kemarin saat berhasil keluar dari tempatnya di kurung, Dareen mencari kayu dan senjata lainnya untuk menghajar Rush.
***
Theresia turun dari mobil, hari ini adalah hari pertama kuliah. Tubuh Theresia begitu lemah tidak bertenaga. Ini sudah lima tahun ayahnya menghilang, jangan ditanyakan betapa terpukulnya dia dan seluruh keluarganya karena kehilangan Darren.
Setelah Darren dinyatakan menghilang, Tommy langsung bergerak mencari putranya. Tommy sudah mencari Darren ke seluruh neglara, bahkan sampai detik ini pencarian Darren masih dikerahkan. Tommy juga bekerja sama dengan beberapa kepolisian di negrinya maupun di luar negri. Tapi sampai saat ini hasilnya nihil.
Rush benar-benar sudah merencanakan ini dengan apik, hingga orang sehebat Tommy pun tidak bisa menemukan keberadaan Darren. Mungkin jika masih ada Gabriel, Dareen akan cepat di temukan. Tapi sayangnya, Gabriel sudah meninggal.
Selama lima tahun ini, kehidupan Shelby berubah drastis. Shelby selalu melamun, bahkan dua tahun setelah Dareen pergi, Shelby sempat mengalami depresi karena dia kehilangan Daren, belum dia juga mengalami baby blues dan pada akhirnya setelah dua tahun Darren menghilang, Shelby perlahan mulai bangkit karena dia sadar masih ada ketiga anaknya yang memerlukan perhatiannya. Shelby bisa saja terlihat kuat di luar, tapi ketika dia sendiri, Shelby selalu menangis memeluk pakaian yang terakhir kali Darren pakai.
Setelah cukup lama berdiri, Theresia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dia selalu berharap sang ayah pulang agar bisa mengantarkannya ketika kuliah. "Theresia," panggil Tristan dari arah belakang yang datang memakai motor.
Selama Darren menghilang, Tristanlah yang paling bisa menguatkan adik dan ibunya. Dia selalu ingat pesan sebelum Darren pergi dan menghilang bahwa dia harus menjaga ibu dan adik-adiknya. Tristan tidak pernah menunjukkan kesedihan, tapi ketika sendiri diam-diam dia selalu menangisi sang ayah.
Theresia tersenyum ketika melihat Tristan.
"Mau aku temani ke kelasmu?" tanya Tristan.
"Tidak usah, aku akan pergi sendiri," jawab Theresia hingga Tristan pun mengangguk.
"Aku akan ke kelasmu nanti," kata Tristan dan lelaki itu pun langsung menyalakan kembali motornya untuk ke parkiran.
Theresia berjalan ke arah kelas. Dia berjalan dengan lesu. Seandainya ini bukan hari pertama kali dia kuliah, dia tidak akan masuk. Theresia menunda kuliahnya selama satu tahun karena dia masih merenungi kepergian sang ayah.
Theresia masuk ke dalam kelas, dia menghela nafas kalau kelas sangat ramai. Jujur, semenjak ayahnya pergi dia tidak menyukai keramaian.
Thresia berjalan ke arah ujung, dia mendudukkan dirinya di belakang, kemudian dia membuka laptopnya dan ketika dia membuka laptopnya mata therasia berkaca-kaca ketika yang pertama dia lihat adalah foto dia dan Dareen.
Sedetik kemudian, Theresia menyimpan kepalanya di meja menutupnya dengan tangan hingga semua orang menoleh karena Theresia menangis dengan sedikit kencang.
“Are you oke?” tanya seorang remaja di sebelah Theresia, hingga Teresia tersadar dia pun bergegas menegakkan tubuhnya, lalu melihat ke semua orang yang juga sedang melihat ke arahnya.
“Im, Oke. Maaf jika mengganggu kalian," ucap Theresia. Emily yang berada di sebelah Theresia langsung memberikan sapu tangan miliknya untuk menghapus air mata Thresia, hingga Thresia tersenyum.
“Terima kasih," kata Theresia. Setelah itu, Theresia kembali fokus ke depan dan tak lama dosen pun masuk ke dalam ruangan.
Satu jam kemudian
Tristan menunggu Theresia di depan kelas. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak, beruntungnya dia sudah selesai dengan jam pelajarannya hingga dia langsung menghampiri kelas adiknya, dan tak lama terdengar suara derap langkah dan sedetik kemudian pintu terbuka ternyata para mahasiswa dan mahasiswa keluar dari kelas dan seperti biasa, Tristan menjadi pusat perhatian karena Tristan menjadi salah satu remaja tertampan di kampus tersebut
“Theresia!” panggil Tristan ketika Theresia keluar dari kelas. Theresia yang sedang berjalan sambil melamun menoleh. “Kau masih ada kelas tambahan?” tanya Tristan. Theresia mengganggu Ayo kita makan,” ucap Tristan.
“Aku tidak lapar!”
“ Theresia!" Tristan menekankan suaranya.
“Ia ... ia,” kata Theresia yang akhirnya menyetujui peringan Tristan untuk makan. Tristan pun langsung menarik lengan adiknya, kemudian berjalan ke arah kantin.
***
Mayra masuk ke dalam kamar, ternyata benar dugaannya, menantunya sedang melamun.
"Shelby," panggil Mayra.
Shelby tersadar kemudian dia langsung menyimpan pakaian Darren yang sedang dia pegang.
"Iya, Mommy," balas Shelby
"Ayo makan, kau belum sarapan," kata Maira. Shelby pun bangkit dari duduknya kemudian dia menyusul mertuanya keluar dari kamar.
"Mommy, Aldan mana?" tanya Shelby yang menanyakan keberadaan anaknya.
"Aldan sedang bersama dengan Daddy. Jangan pikirkan apapun, ayo makan." Mayra juga hancur karena kepergian putranya, tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Seandainya Gabriel, sang ayah masih ada, Mayra yakin Gabriel akan menemukan anaknya dengan mudah. Namun sayangnya, Gabriel sudah meninggal.
Shelby mendudukkan diri di kursi, kemudian dia menatap makanan dengan tidak bersemangat. Tubuh Shelby benar-benar sangat kurus, karena Shelby arang sekali makan. Setiap dia melihat makanan, dia selalu berpikir apakah Dareen kelaparan atau Dareen kehausan, selalu itu yang berputar di otak Shelby.
“Ayo makan!” kata Mayra menyadarkan Shelby dari lamunannya, hingga selbi menggangguk Lalu setelah itu Shelby pun langsung menyendokkan makanan ke dalam mulutnya, dan tak lama terdengar suara derap langkah, rupanya Tommy yang datang bersama Alden.
“Daddy, terima kasih sudah menjaga Alden, maaf jika merepotkan,” kata Shelby, jujur walaupun sekarang dia tinggal di tempat mertuanya, tapi dia selalu merasa tidak enak.
“Siapa yang merasa direpotkan,” kata Tomi sambil mengelus kepala Shelby.
“Ya, sudah kau lanjutkan sarapanmu, Alden juga belum makan,” ucap Tommy hingga Shelby menggangguk. Lalu, dia pun langsung berjalan ke arah meja makan sambil menggendong Alden.
wanita itu mendudukkan putranya di kursi kemudian mulai menyuapi Alden, ketika menyuapi Alden mata Shelby berkaca-kaca. “Dareen, lihatlah anak bungsu kita sangat mirip denganmu.” Shelby membatin.
Mayra mengelus punggung menantunya karena tahu apa yang dirasakan oleh Shelby, hingga Shelby menoleh xan akhirnya acara makan pun selesai Alden dibawa oleh Mayra sedangkan Shelby kembali ke kamar.
Shelby mendudukkan diri di ranjang, kemudian dia mengangkat kakinya. Lalu setelah itu dia membaringkan tubuhnya, seperti biasa dia menggenggam kaos Dareen, wanita cantik itu meringkuk kemudian menangis tersedu-sedu.
***
Tristan masuk ke dalam kamar, remaja itu baru saja pulang berkuliah dan ketika sampai di rumah yang dia yang dia tuju adalah kamar ibunya.
Saat masuk Tristan berjalan dengan pelan, karena dia tahu ibunya sedang tertidur, dan setelah itu Tristan langsung mendudukkan diri di samping ibunya. Tristan menatap ibunya dengan lekat, matanya berkaca-kaca ketika melihat Shelby seperti ini, remaja itu mengadahkan kepalanya ke atas agar tangisnya tidak jatuh dan setelah itu Tristan langsung menarik selimut kemudian menyelimuti tubuh ibunya, dan setelah itu Tristan pun bangkit dari duduknya kemudian lelaki tampan itu keluar dari kamar. Lalu setelah itu dia berjalan untuk mencari Alden, adiknya bungsunya.
Dan tak lama terdengar suara cekikikan dari arah ruang tamu, ternyata Alden sedang bermain bersama pengasuhnya. “bibi!” panggil Tristan pada pengasuh Alden, hingga pengasuh Alden langsung menoleh.
“ Ya Tuan.”
“Biarkan Alden bersamaku. Bibi istirahat saja," ucap Tristan. Walaupun dia lelah karena baru saja pulang berkuliah, tapi setiap sampai di rumah Tristan tidak pernah langsung beristirahat, dia akan mengajak Alden main terlebih dahulu.
Tristan menekuk kakinya kemudian menyetarakan diri dengan Alden. “Mau bermain basket bersama Kaka?” tanya Tristan., bocah 4 tahun itu menggangguk.
“Tapi jangan di lapangan, main basket saja di kamar Kak Theresia,” ucapnya membuat Tristan terkekeh.
“Mana bisa bermain basket di kamar. Kau mau diomeli oleh dia,” jawab Tristan sambil tertawa kecil. Alden paling suka menjahili Theresia, karena Theresia jarang sekali mau didekati olehnya.
berbeda dengan Tristan yang hangat pada adiknya, Theresia cenderung lebih dingin, tentu saja karena Theresia yang masih sering bersedih dan selalu menghabiskan waktunya di kamar sambil merenung memikirkan ayahnya itu.
Dan karena sikap acuh Theresia, Alden selalu mencari gara-gara dengan Theresia. Tapi bukannya sedih di omeli, Alden malah senang jika sang kakak cerewet padanya karena tentu saja Theresia jarang berbicara pada Alden, hingga ocehan Theresia bagai suara yang merdu di telinga istrinya.
“Kita bermain saja di lapangan saja, oke,” ucap Tristan hingga Alden mengangguk. Alden langsung menarik lengan kakaknya untuk berjalan ke arah lapangan dan setelah di lapangan Tristan langsung membuka pakaiannya hingga kini dia hanya memakai celana pendek saja, karena setelah bermain basket dia akan mengajak Alden untuk berenang.
Sementara di sisi lain
Dareen mendekatkan telinganya ke pintu, memastikan bahwa ada suara helikopter di luar. Dareen dikurung di kontainer, tentu saja dia tidak bisa mendengar suara dengan jelas dan ketika yakin suara yang di dengarnya adalah benar, Dareen bergegas untuk berbalik, kemudian dia berjalan ke arah ranjang kecil yang selalu dia tempati untuk tidur. Lalu setelah itu dia langsung menyimpan kayu dan beberapa bambu runcing dan menutupinya dengan selimut agar Rush tidak curiga.
Dan tak lama terdengar suara gembok. Dareen langsung berpura-pura duduk dan beberapa saat berlalu, pintu terbuka muncul sosok Rush. Dia langsung berjalan ke arah Dareen
“Mana file yang aku minta,” kata Rush dengan ketus. Dareen langsung berjalan dengan pelan, Dareen berpura-pura berjalan lemas dan berpura-pura merasakan sakit di kakinya, karena dua hari lalu Rush baru saja memukuli kakinya dengan keras.
Setelah itu Dareen langsung mengeluarkan hardisk dari laptopnya menyerahkannya ke hadapan Rush. Di kontainer di sediakan satu laptop untuk bekerja. Namun tentu saja Dareen tidak bisa menggunakan itu untuk berkomunikasi, apalagi tidak ada jaringan internet karena dia ada di hutan, laptop itu hanya dipergunakan bekerja.
Setelah mengambil flashdisk dari tangan Dareen, Rush melihat ke arah lemari, stok makanan Dareen masih ada, setidaknya Rush masih berbaik hati memberikan makanan yang layak pada Dareen, tentu saja karena dia tidak ingin Dareen mati, apalagi dia masih butuh otak lelaki itu. Sebab ketika Dareen ikut campur dalam perusahaannya, perusahaannya bisa tumbuh lebih pesat dari waktu yang diperkirakan.
“Stok makananmu masih ada dan aku juga tidak membawa apapun!” kata Rush dengan ketus hingga Dareen menggangguk. Lalu setelah itu, Rush berbalik dan ketika Rush berbalik, tangan Dareen menyelinap ke bawah selimut, dia mengambil bambu runcing yang sudah dia siapkan dan dengan cepat Dareen berlari ke arah Rush.
Bug!
Satu pukulan mendarat di punggung Rush, dan setelah itu, Dareen langsung menendang tubuh Rush. Namun, karena tenaga Dareen tidak terlalu besar, tendangan Daren tidak berarti apa-apa untuk Rush.
Melihat apa yang di lakukan oleh Dareen, Rush menoleh. “Sial!” teriak Rush.
“Berani sekali kau!” Dengan cepat Rush menghampiri Dareen, kemudian lelaki itu menendang Dareen hingga Dareen terjatuh. Dan ketika emosi, tenaga Rush langsung berlipat.
Saat emosi Rush memuncak, Rush mengambil kayu yang tadi Dareen gunakan untuk memukulnya, dan seperti biasa, Dareen akan pasrah ketika di pukuli sebab tentu saja dia tidak mempunyai tenaga untuk melawan. Tubuh Dareen begitu lemah. Akibatvm tekanan yang tinggi hingga Dareen tidak mempunyai tenaga yang seperti dulu.
Dan sekarang Dareen hanya bisa meringkuk Ketika Rush memukuli tubuhnya. “Tuhan, tolong bantu aku keluar dari sini," ucap Dareen, dia sudah bersusah payah mencari kayu untuk memukul Rush. Tapi ternyata kali ini gagal lagi dan mungkin setelah ini jika dia tidak berhasil kabur, Rush akan menyiksanya lebih parah dari sebelumnya dan sekarang Dareen hanya bisa mengandalkan Tuhan.
Dan ketika dia meringkuk menikmati rasa sakit, tanpa sengaja Deren melihat pistol yang menyembul di saku jas Rush. Ketik Dareen melamun, Rush menekuk kakinya kemudian dia menyetarakan diri dengan Dareen. Lalu setelah itu dia menjambak rambut Dareen ke belakang.
“Berani sekali kau!” teriak Rush, dan ketika Rush menjambak rambutnya serta sedang fokus menatapnya, tangan deren menyelinap ke dalam saku jas Rush. Dan pada akhirnya, Dareen berhasil mengambil pistol itu
“Aaaa!” Rush berteriak ketika Dareen berhasil menarik pelatuk dan peluru itu mengenai lutut Rush. Ketika tangan Rush terlepas dari kepala Dareen. Dareen langsung bangkit dari duduknya, dia langsung berjalan ke arah pintu untuk keluar. Namun, saat akan sampai pintu, Daren kembali berbalik, Lalu setelah itu dia langsung menarik pelatuk dan menembak bahu kanan Rush.
Deren tidak menyia-nyiakan waktu lagi, lelaki itu langsung berlari keluar. “Angkat tanganmu!” ucap Dareen pada pilot yang mengendalikan helikopter, membuat mata Pilot membulat.
“Cepat bawa aku keluar dari sini, atau tidak Aku akan membunuhmu,” ucap Dareen lagi. Hingga dengan cepat, pilot itu langsung masuk ke dalam helikopter, begitupun dengan Dareen.
“Selamat tinggal tempat terkutuk.” Teriak Dareen. Tiba-tiba tangis Dareen meledak ketika dia berhasil kabur. Pada akhirnya, dia berhasil keluar dari zona yang menakutkan.
Selama hidup di hutan, Daren lebih dari sekedar tersiksa. Bagaimana tidak, rasa takut terus membayanginya karena dia hidup di hutan seorang diri. Tekanan demi tekanan terus dia dapatkan dari Rush, dan akhirnya semua rasa sakit itu selesai, dia bisa pulang pada keluarganya.
Setelah beberapa jam berlalu, Dareen meminta diturunkan di kantor kepolisian, sedari tadi helikopter mengudara Dareen terus menodongkan pistol ke kepala pilot, hingga pilot tidak bisa berbuat apa-apa
. Dareen yakin, dia bisa meminta bantuan kepolisian agar bisa mengembalikannya ke Rusia dan Selama perjalanan, Daren mengetahui alasan kenapa selama 5 tahun ini ayahnya tidak menemukannya, ternyata Dareen benar-benar disimpan di hutan yang sangat jauh dari mana-mana, bahkan bisa saja hutan itu tidak pernah terjamah satu kali pun oleh manusia.
Dan Sepertinya Rush benar-benar merencanakan ini dengan matang, hingga Rush bisa terpikirkan menyimpan kontainer di hutan untuk mengurungnya.
Setelah mendarat di lapangan kepolisian, beberapa polisi menatap heran pada helikopter karena tidak pernah ada helikopter yang mendarat di area tersebut dan tak lama Dareen turun dari helikopter m, dia melambaikan tangannya pada kepolisian hingga kepolisian menyadari bahwa ada yang salah dengan Dareen dan Setelah itu mereka pun langsung menghampiri Dareen.
“Tolong aku, aku korban penculikan," kata Dareen ketika polisi menghampirinya.
“Tunggu, bukankah ini yang tempo hari pernah dibahas komandan,” ucap salah satu polisi yang menghampiri Dareen. Rupanya, kepolisia sudah menerima perintah dari atasan untuk mencari Dareen, dan sekarang nyata tanpa disangka Dareen ada di depan mereka Dan ini menjadi hal baik untuk Dareen, akhirnya dia bisa pulang dengan bantuan polisi
***
Beberapa minggu kemudian
Theresia keluar dari kampus, gadis cantik itu baru saja selesai dengan kuliah dia berencana untuk pergi ke toko buku membeli sesuatu. Saat dia akan pergi ke arah parkiran, Theresia menghentikan langkahnya ketika melihat Dareen berdiri di depannya
Theresia tersenyum getir ketika melihat bayangan sang ayah. Ya, karena faktanya Theresia selalu melihat Dareen berdiri di depannya dalam bentuk bayangan dan setiap dia melewati ayahnya bayangan itu akan menghilang.
Theresia menghela nafas kemudian menghembuskannya, lalu dia melanjutkan langkahnya. Namun, saat dia akan melewati bayangan ayahnya, tiba-tiba Theresia terpekik ketika dia menubruk dada sang ayah.
Tubuh Theresia dia mematung, biasanya Jika dia melihat ayahnya dia bisa melewati bayangan Dareen, tapi sekarang
..
“Tunggu apa ini nyata!”