Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
hancur


Lima bulan lalu, Tristan mulai dekat dengan Flora, anak dari rekan kerja Darren. Awalnya, Flora menjadi pengacara di kantor Tristan, mereka sering berinteraksi. Tristan yang sedang kesepian, dipertemukan Flora yang ceria, tentu saja sedikitnya itu membangkitkan jiwa mudanya dan sejak saat itu, mereka kerap menghabiskan waktunya bersama-sama. Tristan merasakan bahwa dia kembali seperti dulu, hidupnya menjadi lebih bergairah.


Mungkin Tristan tidak tertarik pada Flora, dia hanya rindu dengan momen di mana dulu dia merasakan bahagia dengan Bella sebelum Bella berubah seperti ini, tapi walau begitu, apapun yang dilakukan Tristan tetaplah salah. Di tambah lagi, Tristan sudah ingin mempunyai anak. Tapi Bella tetap dengan kondisi seperti itu.


Selama lima bulan ini, dia sudah tidak mempedulikan Bella lagi karena dia pikir Bella akan tetap sama. Tristan sudah terjebak dengan dunianya. Dia akan pulang setelah makan malam malam bersama Bella. Lalu, dia akan pergi sebelum Bella terbangun. Mungkin, apa yang dia lakukan akan menjadi boomerang untuknya di kemudian hari.


Bukankah dalam sebuah pernikahan selalu ada badai yang menghadang? Memang Bella salah karena terlalu larut dalam lukanya, tapi di sisi lain manusiawi ketika Bella seperti itu, apalagi dulu dia mendapatkan tekanan dari Molly dan juga Feni. Banyak sekali hal yang Bella ingin capai bersama ayahnya. Setiap hari, Bella selalu berharap ayahnya akan pulih agar dia bisa menjalani harinya bersama-sama, tapi ternyata harapannya dipatahkan dengan Noel meninggalkannya.


Tristan tersadar ketika mendengar isakan dari Bella dan sepertinya, Bella belum berhenti menangis. Dan Tristan sungguh jengkel dengan keadaan seperti ini. Pada akhirnya, Tristan memutuskan untuk berjalan ke walk-in closet kemudian dia langsung mengganti pakaiannya dan beberapa saat berlalu, Tristan keluar dari walk-in closet. Dia juga keluar dari kamar untuk tidur di kamar lain, karena dia tidak ingin tidurnya terganggu.


Dalam satu bulan, mungkin Tristan hanya tidur dengan Bella selama dua kali, karena tidurnya sering terganggu akibat Bella menangis. Bella menoleh ketika pintu tertutup dengan keras. Sebenarnya dia tahu Tristan pergi, tapi tubuhnya seperti tidak bertenaga.


Satu bulan kemudian.


Bella menatap makanannya dengan tersenyum, untuk pertama kalinya lagi selama tiga tahun ini Bella menginjakkan kakinya ke dapur. Pada akhirnya, kemarin Bella menyadari sesuatu. Dia sudah terlalu larut dalam dukanya, dia ingin meminta maaf pada Tristan, dia ingin memperbaiki hubungannya dengan suaminya. Dia tahu selama beberapa bulan ini Tristan jengkel padanya dan dia juga mengakui bahwa ini adalah murni kesalahannya.


Mata Bella mulai terbuka saat dia melihat pakaian Tristan, dan itu menyadarkan Bella bahwa selama tiga tahun ke belakang, dia tidak mengurus Tristan dan malah larut dalam dukanya dan setelah menyadari semuanya, Bella berniat untuk berubah. Sekarang, dia sedang menyiapkan makan malam untuk Tristan. Bella menyiapkan makan malam dengan semangat. Rasanya, dia tidak sabar melihat reaksi Tristan ketika Tristan datang dan melihat dia sudah kembali seperti dulu.


Pada akhirnya, acara masak pun selesai. Bella mengutak-atik ponselnya kemudian menelepon Tristan, menanyakan jam berapa Bella pulang. Jika dipikir, setelah tiga tahun, mungkin inilah pertama kalinya lagi dia menelepon suaminya. Namun sayang, panggilan Bella tidak diangkat oleh Tristan dan tanpa Bella tahu, sebenarnya Tristan sudah menghapus nomornya.


Dulu ketika Tristan masih sabar, dia sering menghubungi Bella, tapi Bella tidak mengangkat panggilannya dan karena jengkel, Tristan memblokir nomor istrinya kemudian menghapus nomor Bella hingga sekarang Bella tidak bisa menghubungi Tristan.


Dua jam kemudian.


Ini sudah dua jam berlalu Bella menunggu suaminya, tapi Tristan tidak kunjung datang. Makanan yang dibuat oleh Bella pun sudah dingin. Rasa sedih langsung menghinggapinya, dia yakin pasti Tristan kecewa padanya dan ketika melamun, terdengar suara pintu terbuka hingga Bella langsung menegakkan tubuhnya kemudian dia berjalan ke arah pintu.


"Tristan," panggil Bella dengan antusias.


Tristan terdiam saat melihat Bella di depannya, dia mengedipkan pandangannya. Benarkah yang di depannya Bella? Biasanya jika dia pulang, Bella masih tetap sama terdiam di ranjang.


"Tristan," panggil Bella lagi, menyadarkan Tristan dari lamunannya. Namun, Tristan yang masih kesal pada istrinya menatap Bella dengan malas dan itu membuat Bella terpaku.


"Tristan," panggil Bella berharap Tristan berbicara padanya.


"Oh, kau sudah baikan?" Hanya itu yang Tristan katakan hingga Bella tersadar. Bahkan, tidak ada raut senang sedikitpun di wajah Tristan


"Tristan, aku ingin minta maaf," ucap Bella yang langsung berbicara karena wajah Trsitan tetap dingin.


"Sudah tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan," jawab Tristan dengan dingin dan datar. Setelah itu, Tristan masuk ke dalam melewati tubuh Bella begitu saja membuat hati Bella benar-benar nyeri. Namun, Bella tahu ini adalah karena apa yang dia lakukan. Dia pun langsung menyusul Tristan.


"Tristan, aku sudah memasak. Ayo kita makan bersama," ajak Bella yang masih tidak menyerah untuk mengajak Tristan, berharap Tristan mau makan malam dengannya.


Tristan menoleh sekilas. "Aku sudah makan, kau saja. Aku ingin langsung beristirahat." Tristan membalas singkat padat dan jelas.


Setelah itu, Tristan pun melanjutkan langkahnya meninggalkan Bella yang diam mematung.


'Tuhan, pasti aku sangat keterlaluan sampai membuat Tristan seperti ini,' batin Bella, 'tidak, aku tidak boleh menyerah. Aku harus meluluhkan Tristan lagi.'


Tiga bulan kemudian.


Tubuh Bella mematung saat melihat pemandangan di depannya. Dia melihat Tristan masuk ke dalam restoran. Ya ang membuat Bella terkejut adalah ada seorang wanita yang menggandeng tangan Tristan dan ketika mereka masuk ke dalam restoran, Bella bisa melihat bahwa wanita itu adalah Flora, wanita yang pernah dikenalkan Tristan sebagai anak dari teman ayah mertuanya.


Tubuh Bella limbung, dia merasa sendi-sendinya terlepas dari tubuhnya. Selama tiga bulan ini, Bella selalu melakukan hal yang sama, dia selalu berusaha menjadi seperti Bella yang dulu, yang selalu melakukan hal yang terbaik untuk Tristan, tapi selama tiga bulan ini pula sikap Tristan masih sama. Apapun yang dilakukan Bella seperti tidak terlihat dari mata lelaki itu.


JIika Bella ditolak, Bella merasakan hatinya hancur, tapi dia juga sadar ini adalah kesalahannya hingga Bella memutuskan untuk tidak menyerah menggapai hati Tristan dan menggapai maaf suaminya. Awalnya, bela pikir Tristan bersikap seperti itu karena terlalu kecewa padanya, tapi sekarang setelah melihat ini, Bella sadar bahwa Tristan telah mendapatkan penggantinya.


Namun lagi-lagi, di tengah rasa sakitnya, Bella tersadar bahwa Tristan seperti ini karena ulahnya. Barusan dia ingin pergi ke kantor Tristan sambil membawa makan siang, dia akan memberikan makanan kesukaan Tristan. Namun ketika di restoran, dia melihat hal yang menyakitkan hingga pada akhirnya Bella berbalik lalu wanita itu memutuskan untuk pulang.


Sekarang, di sinilah Bella berada, di sebuah gereja yang tidak jauh dari restoran yang tadi dia kunjungi. Bella mendudukkan diri di kursi kemudian dia mengepalkan tangannya lalu menyimpannya di bawah dagu kemudian berdoa.


"Tuhan, aku tahu ini semua salahku. Aku tidak meminta apapun. Jika memang Tristan nyaman dengan wanita lain, aku tidak apa-apa, aku tidak bisa memaksakan Tristan harus mencintaiku lagi. Tapi, tolong kuatkan hatiku karena aku tidak akan pergi jika Tristan tidak menyuruhku pergi." Bella berdoa dengan berlinang air mata. Rasa sakit menghinggapi. Dunia Bella kembali menggelap, ternyata keegoisan menghancurkan dirinya sendiri.


***


"Tristan kenapa harus pulang? Kenapa kau tidak menginap saja di sini?" tanya Flora ketika Tristan akan keluar dari apartemennya setelah makan malam, karena memang Tristan selalu makan malam di apartemen Flora.


"Aku ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Aku pulang dulu, oke?" tanya Tristan, dia pun langsung mengelus kepala Flora lalu setelah itu keluar dari apartemen Flora. Sampai saat ini, tidak ada hubungan antara Flora dan Tristan. Mereka menjalani semuanya seperti air.


Beberapa kali Tristan hampir saja khilaf dan hampir menyentuh Flora, tapi dia mampu mengendalikan hasratnya karena semarah-marahnya Tristan pada Bella. Cinta Tristan pada Bella tetap besar, hanya saja terhalang rasa kesal. Lalu ketika rasa kesal itu datang, datanglah Flora di dalam hidupnya yang sangat mirip dengan Bella saat Bella ceria.


Tristan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, tak lama Tristan menghentikan mobilnya. Ketika jalanan mulai padat, tanpa sengaja Tristan menoleh ke arah restoran. Ada perasaan aneh saat Tristan melihat restoran itu. Itu adalah restoran favorit istrinya dan tak lama, lamunan Tristan buyar ketika mobil di belakang menekan klakson hingga Tristan langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya kembali.


Akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai oleh Tristan sampai di basement apartemen. Dia pun langsung turun kemudian dia berjalan ke unit apartemen miliknya.


Saat dia masuk, seperti biasa Bella langsung menunggunya. "Tristan, kau sudah makan?" tanya Bella, dia bertanya dengan hati yang hancur. Padahal, Bella tahu mungkin saja Tristan sudah makan dengan Flora, karena dia melihat GPS mobil Tristan yang tadi menunjukkan sedang di apartemen lain dan Bella yakin itu adalah apartemen Flora.


Tristan terpaku saat melihat Bella karena wajah Bella seperti habis menangis dengan waktu yang lama.


"Kau baik-baik saja?" tanya Tristan. Walaupun bertanya seperti itu, nada Tristan tetap dingin. Ketika ditanya seperti itu oleh suaminya, rasanya Bella ingin menangis kencang-kencangnya. Namun, dia mencoba menahannya.


"Aku baik-baik saja, aku sudah memasakkan makanan untukmu. Kau ingin makan sekarang atau sudah makan di luar?" tanya Bella nada suaranya bergetar.


"Aku sudah makan," jawab Tristan, seperti biasa dia melewati tubuh Bella begitu saja.


Tepat ketika Tristan melewati tubuhnya, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Bella. Namun, dengan cepat dia menghapusnya. Seperti doanya tadi, dia akan pergi jika Tristan memang menyuruhnya pergi. Namun, jika Tristan tidak menyuruhnya pergi, mungkin Bella akan bertahan walaupun dengan hati yang nyeri karena dia tahu ini adalah kesalahannya.


Setelah Tristan masuk ke dalam kamar, Bella langsung berjalan ke arah meja makan, dia menarik kursi kemudian menatap makanan di depannya lalu tersenyum getir. Seperti biasa, makanan yang dia buat akan berakhir di tempat sampah.


Selama tiga bulan ini, walaupun tahu makanannya tidak akan dimakan oleh Tristan, tapi Bella tetap memasak untuk suaminya, termasuk tadi ketika dia sedang hancur-hancurnya. Namun, Bella tetap melakukan tugasnya walaupun dia yakin apapun yang dia lakukan tidak akan terlihat.


Perlahan, Bella menarik piring kemudian menuangkan makanan ke dalam piringnya lalu menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya dengan berlinang air mata.


Dua jam kemudian.


Setelah selesai berada di dapur dan membereskan semuanya, Bella langsung berjalan ke arah kamar di mana Tristan tidur di sana karena semenjak Bella berubah dan berusaha memperbaiki semuanya, sejak saat itu pula Tristan tidak pernah tidur di kamar mereka dan selalu tidur di kamar tamu. Perlahan, dia memutar gagang pintu, tapi seperti biasa pintunya selalu dikunci dari dalam dan pada akhirnya, Bella berbalik lalu setelah itu dia langsung berjalan ke arah kamarnya.


Saat masuk, Bella berjalan dengan gontai kemudian dia duduk di lantai, lalu setelah itu dia memeluk lututnya. Dunia Bella hari ini benar-benar hancur lebur, dia benar-benar tidak berdaya. Dia ingin marah pada Tristan, ingin mengamuk pada Tristan, tapi rasanya percuma karena ini semua berawal darinya.


Bella mengambil ponsel yang ada di atas ranjang, kemudian dia mengutak-atiknya lalu setelah itu dia melihat media sosial miliknya yang penuh dengan fotonya dan juga foto Tristan. Tanpa sadar, Bella terus menggulirkan jarinya melihat satu persatu foto yang terpampang di sana.


"Tristan, pasti sangat sulit menjadi dirimu menghadapi aku yang sangat merepotkan hingga kau seperti ini," lirih Bella ketika selesai melihat semua kenangan mereka. Dialah yang mengubah Tristan menjadi seperti ini, karena Tristan adalah benar-benar lelaki baik dan sekarang, Bella hanya bisa pasrah menunggu keputusan Tristan. Bertahan untuk Tristan dan menyerah jika Tristan menyuruhnya pergi.


Malam berganti pagi.


Bella menyiapkan sarapan, walaupun tahu sarapannya tidak akan dimakan oleh Tristan dan tak lama, Tristan keluar.


"Kau ingin sarapan?" tanya Bella, dan lagi-lagi Tristan terdiam ketika melihat wajah Bella yang lebih bengkak dari kemarin malam. Namun tak lama, Tristan teringat mungkin Bella mengingat ayahnya.


Melihat sarapan yang tersaji di meja makan, Tristan hanya mengambil roti. "Aku sarapan ini saja. Kalau begitu aku pergi," ucap Tristan hingga Bella mengangguk dan setelah Tristan pergi, Bella pun langsung mengambil kunci mobilnya. Dia ingin mengikuti Tristan, dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri interaksi Tristan dan Flora.


Sekarang, di sinilah mobil Bella terparkir, di basement apartemen yang Bella yakini adalah apartemen Flora dan tidak perlu dijelaskan lagi, Bella yakin Tristan sedang menjemput wanita itu.


Bella tidak turun, dia lebih memilih untuk menunggu di mobil, apalagi mobil Tristan terparkir di depan mobilnya hingga beberapa saat berlalu, Bella secara jelas melihat Tristan berjalan seperti kemarin, Flora menggandeng tangan suaminya.


Tangan Bella yang sedang memegang setir kemudi, gemetar. Wanita itu membekap mulutnya agar tangisnya tidak terdengar. Walaupun dia sudah tahu, tapi tetap saja ketika dia melihat lagi, ini begitu menyakitkan. Tadinya ingin mengikuti aktivitas Tristan dan Flora, tapi hatinya tidak sekuat itu hingga Bella memutuskan untuk pergi.


Sekarang, di sinilah Bella berada, di depan pemakaman ayahnya. Tidak ada tempat Bella untuk mengadu, dia tidak mempunyai siapa pun untuk bercerita hingga pada akhirnya dia datang kemari.


Bella berjalan ke arah makam Noel dengan pelan. Tempat ini adalah tempat yang menyakitkan, tapi hanya inilah tempat dia mengeluhkan semua yang dia rasakan.


Bella mendudukan diri di makam ayahnya kemudian dia menyandarkan kepalanya ke nisan sang ayah, lalu setelah itu Bella menangis dengan kencang. Beruntung, tidak ada orang di pemakaman tersebut hingga tidak ada yang mendengar tangisannya.


Beberapa saat berlalu, hari mulai gelap. Bella harus pulang karena dia harus menyiapkan makanan untuk Tristan, walaupun dia tahu makanannya hanya akan berakhir di tempat sampah.


Bella pun langsung bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan keluar, lalu setelah itu mengendarai mobilnya dan akhirnya suaminya pun sampai di apartemen. Saat Bella turun dari mobil, Bella terdiam ketika melihat mobil Tristan. Ternyata, Tristan sudah pulang. Dia pun dengan cepat langsung berjalan ke arah apartemennya dan ternyata benar, Tristan sedang menonton televisi.


Tristan menoleh. "Dari mana saja kau?" tanya Tristan, entah kenapa dia kesal ketika Bella pergi.


"Aku dari makam ayahku," jawab Bella, entah kenapa membuat Tristan berdecak kesal. Entah kenapa dia begitu kesal ketika mendengar Bella baru pergi dari makam ayahnya.


"Bella, sampai kapan kau seperti ini?" tanya Tristan membuat Bella langsung menatap Tristan dengan bingung.


"Maksudmu, Tristan?" tanya Bella.


"Ayahmu tidak akan hidup lagi, kau akan terus mengeluh?" tanya balik Tristan dengan sadisnya padahal selama tiga bulan ini, Bella sudah berubah. Namun, entah kenapa dalam pikiran Tristan, Bella terlalu mendramatisir keadaan.


"Cepat buatkan aku makanan, aku lapar." Tidak ingin mendengar keluhan Bella, Tristan langsung menyuruh Bella untuk membuat makanan, sedangkan Bella langsung pergi ke dapur agar Tristan tidak melihat tangisnya.


Hari ini benar-benar hari yang luar biasa sangat menyakitkan. Dia memergoki suaminya dengan wanita lain dan yang paling menyakitkan adalah Tristan yang menghardiknya hanya karena dia pergi ke makam ayahnya, tapi lagi-lagi Bella tidak bisa protes, jadi sekarang dia berusaha menghentikan tangisnya untuk Tristan.


Satu minggu kemudian.


Tristan turun dari mobil, lelaki itu hari ini pulang lebih cepat karena ada beberapa file yang tertinggal dan dia akan mengerjakan pekerjaannya di apartemen. Saat dia masuk, Tristan mengerutkan keningnya ketika tidak ada Bella.


"Apa dia pergi ke makam lagi?" gerutu Tristan yang menyangka bahwa Bella pergi ke makam ayah mertuanya. Dia berdecak kesal seraya menggeleng


Saat Tristan akan berjalan, pintu kembali terbuka hingga Tristan langsung menoleh. Bella langsung melepas mantelnya kemudian dia mengusap-usap tangannya karena merasakan rasa dingin yang luar biasa.


"Dari mana saja kau?" tanya Tristan dengan sedikit sinis.


Bella memegang jantungnya yang bergedup dua kali lebih cepat karena Tristan berbicara secara tiba-tiba.


"Ke makam ayahmu lagi?" tanya Tristan dengan cepat. Dia langsung berbicara ketika Bella akan membuka mulut..


“A-aku baru saja membeli obat.”


Bella menunjukkan obat di tangannya. Rupanya, Bella baru saja membeli obat karena dia merasakan suhu tubuhnya meningkat. Stok obat demam di apartemennya tidak ada. Beberapa kali dia meminta kurir mengantarkan obat, tapi tidak ada yang mengangkut pesanannya hingga Bella terpaksa pergi sendiri.


"Obat apa itu?" tanya Tristan.


"Aku merasa tidak enak badan. Mungkin aku demam," jawab Bella.


"Tristan, kau sudah makan siang?" tanya lagi.


"Belum, aku belum makan siang," jawab Tristan karena memang saat ini Flora sedang pergi ke luar kota, jadi dia tidak makan di luar.


"Ya sudah, aku akan membuatkannya," ucap Bella. Walaupun dengan tubuh lemas, tapi Bella masih mau memberikan makan untuk Tristan, padahal dulu Tristan akan terdepan ketika Bella merasa tidak enak pada tubuhnya, tapi sekarang amarah Tristan membutakan semuanya. Dia tidak melihat bagaimana perjuangan Bella dalam meraih hatinya.


Setengah jam kemudian.


Bella sudah selesai dengan acara memasaknya, dia pun langsung berjalan ke arah kamar yang ditempati oleh Tristan untuk mengantarkan makanan. Namun, baru saja dia akan mengetuk, terdengar suara Tristan yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang dan lagi-lagi membuat Bella nyeri, karena ternyata Tristan sedang menelepon dengan Flora.


Pada akhirnya, Bella berbalik kemudian dia langsung menyimpan makanan di meja, lalu setelah itu Bella kembali ke dapur untuk mengambil minum.


Beberapa hari kemudian.


Bella terus melihat ke arah jam di dinding. Dia tidak sabar untuk menunggu kurir obat yang akan mengantarkan pesanannya dan dia juga takut Tristan akan pulang, walaupun dia yakin Tristan akan pulang nanti malam seperti biasa. Namun, tetap saja dia was-was jika Tristan pulang lebih awal.


Saat ini, Bella sedang menunggu kurir yang mengantar obat anti depresan dan juga obat tidur, obat yang sudah Bella beli satu minggu lalu sudah habis.


Bella sudah berusaha untuk tidak menangis, berusaha untuk tetap menganggap semuanya baik-baik saja, tapi ternyata Bella tidak sekuat itu hingga pada akhirnya dia nekat meminum obat keras tanpa resep agar bisa tertidur ketika malam, agar bisa tenang ketika siang.


Tak lama, bel pintu berbunyi hingga Bella langsung bangkit dari duduknya kemudian langsung membuka pintu. Tubuh, Bella mematung ketika ternyata Tristan juga ada di depan pintu. Rupanya, kurir dan Tristan datang bersama-sama dan yang membuat Bella terkejut adalah Tristan menerima obat yang dia pesan. Bella langsung merebut itu dari tangan Tristan membuat Tristan terkejut.


"Terima kasih," ucap Bella pada kurir hingga kurir itu pun mengangguk dan setelah itu, Bella pun langsung berbalik. Dia tidak ingin Tristan menganggapnya berlebihan hanya karena meminum obat seperti ini.


"Apa itu?" tanya Tristan ketika Bella sudah berbalik dan sepertinya, wanita itu akan pergi ke kamar.


Bella menoleh. "Oh, ini hanya vitaminku saja. Vitaminku sudah habis," jawab Bella, tapi Tristan tahu Bella berbohong. Namun, Tristan tidak bertanya hingga dia pun langsung masuk ke dalam kamar, begitu pun Bella yang juga masuk ke dalam kamarnya.


Setelah masuk, Bella langsung membuka semua obat itu kemudian meminumnya tanpa aturan. Beberapa saat berlalu, kantuk mulai menyerang hingga Bella meraba-raba sekitarnya, memastikan obat itu sudah tersimpan di tempat yang rapi kemudian dia langsung membaringkan tubuhnya lalu tertidur.


Bella mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu tak lama dia membuka mata. Tubuh Bella terasa lemas, dia merasa kepalanya berputar-putar dan ketika berbalik, tanpa sengaja dia melihat ke arah jam.


Mata Bella membulat saat melihat jam sebelas siang. Dia langsung bangkit dari berbaringnya, memastikan jam yang dia lihat. Ternyata, benar saja ini jam sebelas siang. Rupanya, dia sudah tidur lebih dari dua belas jam.


Bella mengusap wajahnya kemudian wanita cantik itu pun langsung turun dari ranjang.


Bella tidur lama seperti ini tentu saja karena obat tidur yang dia minum dicampur dengan obat antidepresan. Setelah mengetahui bahwa Tristan dengan Flora, setiap malam Bella tidak bisa tertidur. Dia selalu menghabiskan waktunya dengan menangis dan Bella begitu lelah, hingga memutuskan meminum obat tidur dengan jumlah yang banyak. Selama seminggu ini, tidur Bella selalu nyenyak, tidak pernah memikirkan apapun lagi. Biasanya Bella bangun tepat waktu karena menyetel alarm yang keras di ponselnya, tapi sepertinya semalam dia lupa menyetel alarm hingga dia terbangun di waktu yang sangat siang.


Beberapa saat berlalu.


Bella keluar dari walk-in closet dengan wajah dan tubuh yang segar. Hari ini dia berencana untuk makan di restoran karena dia tidak sempat memasak.


Setelah memastikan tampilannya rapi, Bella pun langsung berjalan keluar dari kamarnya kemudian keluar dari apartemennya, dan juga langsung berjalan ke arah basement untuk memakai mobilnya.


Sskarang, di sinilah Bella berada, di restoran yang tidak jauh dari apartemennya. Wanita itu pun turun kemudian berjalan masuk ke arah dalam .


Saat akan masuk, tiba-tiba langkah Bella terhenti ketika melihat Tristan dan Flora yang akan keluar dari restoran, begitu pun dengan Tristan yang juga menghentikan langkahnya ketika melihat Bella. Dia tidak ingin Bella mengetahui apa yang dia lakukan di belakangnya, hingga dengan cepat Tristan langsung melepaskan tangan flora yang sedang menggandeng tangannya. Sementara Bella, dia juga tidak tahu akan bertemu di sini padahal dia hanya ingin berpura-pura tidak tahu.


"Kalian sudah makan di sini?" tanya Bella dengan santai. Namun, hatinya berdenyut nyeri


Tristan bingung saat melihat reaksi Bella. Bukankah seharusnya Bella tidak sesantai ini. apalagi tadi Bella sempat melihat Flora menggandeng tangannya..


“Hmm, kami baru selesai makan di sini," jawab Flora dengan gugup. “Kau juga ingin makan di sini?” tanyanya lagi


"Oh, aku akan membeli makan siang, kebetulan aku tidak memasak”


"Kami baru saja bertemu, Flora baru saja datang dari luar negeri jadi aku mengajaknya makan bersama," kata Tristan. Padahal Bella tidak bertanya.


Bella hanya bisa tersenyum saat mendengar ucapan Tristan. Tristan membohonginya, padahal jelas jelas Bella tau, Bella tau, Tristan selalu menghabiskan waktu bersama Floara setiap hari.


"Oh ya sudah kalau begitu. Silakan jika ingin kembali ke kantor, aku akan makan di sini," ucap Bella dan pada akhirnya dia melewati tubuh Tristan begitu saja, sedangkan Tristan masih terdiam. Dia merasa aneh dengan perasaannya, yang aneh bagi perasaannya adalah ketika Bella sama sekali tidak terlihat cemburu.


Bella duduk di pojok karena dia sudah tidak sanggup menahan tangisnya. Dia pikir Tristan akan mengejar walaupun dia tahu Tristan seperti itu, tapi sebagai wanita Bella tetap berharap. Namun ternyata tidak terjadi, hingga Bella merasa tidak diinginkan lagi oleh suaminya.


Seekarang, Bella benar-benar yakin, dia hanya tinggal menunggu Tristan mengusirnya.


***


Tristan menyandarkan tubuhnya ke belakang. Setelah bertemu dengan istrinya dia restoran, dia merasa hatinya tidak tenang. Tristan merasa ada yang aneh, dia rasa Bella tidak seperti biasanya.


Tristan melihat ke arah jam, ternyata waktu menunjukkan pukul tiga sore. Dia pun bangkit dari duduknya kemudian menyambar kunci mobil. Dia rasa dia harus menjelaskan pada Bella, dia tidak ingin disalahkan oleh istrinya. Inilah hal yang buruk dari seorang lelaki yang egois, dia tidak pernah mau disalahkan.


Sekarang di sinilah Tristan berada, di depan unit apartemennya. Dia pun langsung masuk dan terdengar suara gaduh dari ruang tamu, rupanya Bella sedang menonton drama sedih.


"Bella," panggil Tristan, hingga Bella menoleh.


Bella memegang jantungnya karena terkejut dengan panggilan Tristan. Dia dengan cepat menghapus air matanya. Tristan pikir Bella menangis karena tadi, tapi ternyata Tristan salah, rupanya Bella sedang menonton film sedih. Padahal, Bella lebih dulu menangis karena dirinya juga.


Tristan mendudukkan dirinya di seberang Bella hingga Bella langsung mematikan televisi.


"Tristan, kenapa kau sudah pulang? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Bella, dia menghindari


"Aku hanya ingin menjelaskan tentang tadi," kata Tristan. Bella menegarkan hatinya, berusaha untuk tetap mendengarkan Tristan.


"Penjelasan apa? Tentang aku yang bertemu dengannu di restoran?" tanya Bella.


Tristan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku ingin jujur sesuatu denganmu, Bella," ucapnya hingga jari-jari Bella saling bertaut ketika mendengar ucapan dari Tristan.


"Kau tahu kenapa selama ini aku tidak bersikap bijak padamu?" tanya Tristan, wajahnya menatap Bella dengan angkuh. Dia seperti tidak mengenal istrinya.


Bella mengangguk kemudian menundukkan kepalanya dan pada akhirnya, Tristan pun mengeluarkan semua emosinya. Dia menghardik istrinya dan menyalahkan Bella. Dia juga mengakui semuanya tentang hubungannya dengan Flora, dia berbicara dengan berapi-api, seolah Bella adalah orang yang paling bersalah, tentu saja Tristan melakukan itu agar Bella tidak protes dengan apa yang dia lakukan.


Lalu ketika akan berbicara lagi, Tristan menghentikan ucapannya ketika melihat bahu Bella bergetar dan dia baru menyadari bahwa Bella sama sekali tidak menjawab ucapannya.


"Apa kau mendengarkanku?" tanya Tristan yang semakin emosi, "kau tidak mendengarkan aku dari tadi?" Tristan dengan sedikit meninggikan suaranya.


Sungguh, Bella seperti tidak mengenal suaminya lagi. Bella menghapus air matanya kemudian mengangkat kepalanya lalu menatap Tristan.


"llKalu aku harus apa?" tanya Bella dengan suara pelan.


Seketika emosi Tristan luntur saat melihat Bella seperti ini. Dia juga sadar bahwa Bella terluka dengan ucapannya.


"Aku memang salah telah bermain bersama wanita lain, tapi aku tidak pernah mengkhianatimu dengan berbuat lebih," jawab Tristan dengan tidak tahu malunya membuat Bella mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tristan, aku sama sekali tidak menyalahkanmu atas apa yang kau lakukan karena aku tahu ini semua berasal dariku. Maafkan aku yang terlalu egois selama tiga tahun mengabaikanmu, dan aku juga sama sekali tidak akan protes dengan apapun yang kau lakukan." Bella mengakhiri ucapannya dengan tersenyum membuat jantung Tristan seperti tersayat. Dia pikir Bella akan menghardiknya tapi ternyata malah sebaliknya.


"Aku sebenarnya sudah tahu dari lama tentang kau dan juga Flora, tapi aku tidak mau menyalahkanmu karena aku juga tahu kau lelaki normal, kau membutuhkan hiburan di luar apalagi selama tiga tahun aku tidak pernah menjadi istri yang baik untukmu. Jadi, tidak ada alasan untukmu merasa tidak enak padaku. Apapun yang kau lakukan, aku tidak masalah," ucap Bella, "jika kau memang ingin serius dengan Flora, aku tidak apa-ap ...”


"Tutup mulutmu!" Hardik Tristan nadanya memang tidak setinggi tadi. Tapi, penuh dengan geraman.


Amarahnya sempat hilang, tapi amarahnya kembali datang ketika Bella malah mengatakan tentang perpisahan, hingga Bella hanya bisa menunduk karena tidak ingin Tristan emosi.


Tristan bangkit dari duduknya kemudian dia langsung berjalan ke kamarnya, hingga tak lama Bella langsung terperanjat ketika Tristan membanting pintu.


"Tuhan, kenapa serba salah sekali menjadi aku? Aku harus bagaimana?" Sekarang, Bella menunduk kemudian dia menutup wajahnya lalu menangis. Cobaan seolah tidak cukup. Dia sudah berusaha berubah menebus kesalahannya pada Tristan, tapi Tristan selalu menghardiknya. Dia berusaha untuk tetap bertahan walaupun Tristan mendua, tapi tetap saja dia yang disalahkan.


***


Flora begitu gugup ketika menghadapi Theresia yang ada di depannya, sedangkan Theresia menatap Flora dengan tetapan marah. Namun, dia berusaha mengatur napasnya. Rupanya, tadi teman Thresia melihat Flora berjalan sambil menggandeng tangan Tristan


Hingga, Thresia tidak menunda waktu lagi dan ketika pulang dari kuliah, dia langsung menelpon Flora. Tentu saja hubungan Flora dan Theresia juga baik karena mereka tumbuh bersama dan ketika melihat wajah Theresia, Flora yakin bahwa Theresia sudah tahu dengan apa yang terjadi padanya.


"Flora, apa kau tidak tahu malu? Kenapa kau bisa mendekati kakakku yang sudah beristri?" tanya Theresia. Nadanya menggeram penuh amarah.


Flora yang emosi, mendadak menghampiri Theresia ketika menghinanya. Hingga dia menggebrak meja. “Kau pikir ini semua salahku!” geram Flora


"Jika kau tidak meladeninya, dia tidak akan seperti ini! Apa dunia masih kekurangan pria lajang?" tanya Theresia yang juga malah semakin emosi


Beberapa orang yang sedang berada di kafe itu, melihat ke arah mereka hingga Flora langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Dia harus membuat Theresia tenang, sebab jika Theresia membocorkan ini pada Darren ataupun pada orang tuanya, pasti saja orang tuanya sangat murka.


"Theresia, tenang," pinta Flora. L


Pada akhirnya, Theresia menurut. Dia langsung mendudukkan dirinya lagi.


"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian?" tanya Theresia.


Flora pun langsung menjelaskan semuanya dari mulai awal pertama mereka dekat, sampai masalah rumah tangga Bella dan juga Tristan. Theresia benar-benar speechless dengan apa yang Flora ucapkan. Dia memang tahu bahwa Bella sedang terpuruk dan dia pikir kakaknya akan selalu ada untuk Bella, tapi ternyata tidak, kakaknya malah mencari pelarian di luar.


"Theresia, jangan beritahukan apapun kepada siapa pun," ucap Flora ketika Theresia bangkit.


"Kau pikir aku akan menurutimu? Tidak, semua akan mengetahui apa yang kalian lakukan." Setelah itu, Theresia pun langsung berbalik kemudian meninggalkan kafe. Waaupun Tristan kakaknya, tapi dia tidak membenarkan kelakuan Tristan.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Theresia sampai di pekarangan rumah. Dia pun langsung berlari untuk masuk ke dalam. Rasanya, dia tidak sabar untuk menyampaikan ini pada ayahnya.


"Theresia, ada apa?" tanya Darren, ketika melihat masuk dengan wajah yang memerah.


"Theresia, tenangkan dirimu." Darren langsung mengangkat tangannya, memanggil pelayan.


"Tolong bawakan minum," ucap Darren dan setelah itu, Darren langsung membawa Theresia ke sofa. Jika sudah seperti ini, dia yakin ada hal penting yang akan disampaikan oleh putrinya.


Setelah Theresia minum, Darren mengelus punggung Theresia agar Thresia tenang.


"Dad, Kau berjanji, kau harus menghukum Tristan setelah ini," ucap Theresia, membuat Dareen mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu?" tanya Darren.


"Kakak jangan mengadu yang aneh-aneh pada Daddy." Tiba-Tiba, terdengar suara Airin, adik bungsunya. Seperti biasa, dia adalah garda terdepan dari Tristan.


"Airin, pergi," pinta Dareen, hingga Airin kemudian meninggalkan ruang tamu, dia tidak putrinya bungsunya mendengar permasalahan orang dewasa.


"Kenapa? Ada apa dengan Tristan? Apa dia membuat ulah? Tidak mungkin Tristan membuat ulah," kata Darren karena Tristan benar-benar anak yang baik dan penurut.


Pada akhirnya, Theresia menjabarkan semuanya apa yang dia dengar dari Flora. Darren menatap tersisa dengan tatapan tak percaya.


"Theresia, kau berbohong pada Daddy?" tanya Darren.


Theresia langsung mengambil ponselnya, kemudian memperdengarkan rekaman yang barusan diambil karena ketika Flora berbicara, dia merekamnya sebab ayahnya bukan tipe orang yang percaya jika tidak ada bukti.


Rahang Darren mengeras, napasnya mendadak tidak beraturan saat mengetahui sang putra seperti itu. Bagaimana mungkin Tristan melakukan hal ini, padahal dia sudah mendidik semua anaknya dengan penuh kesetiaan? Namun sekarang, lihatlah Tristan membuatnya kecewa.


"Dad, kau mau kamu ke mana?" tanya Theresia ketika Darren bangkit dari duduknya.


"Daddy akan pergi ke kantor Tristan untuk memberikannya pelajaran," ucap Darren.


"Ya, berikan dia pelajaran." Seperti biasa, Theresia akan menjadi kompor untuk ayahnya dan kakaknya.


"Rasakan, Tristan," umpat Theresia.


"Kakak ini kenapa tega sekali mengadukan Kakak Tristan seperti itu?" Tiba-Tiba, terdengar suara Airin dari arah belakang. Rupanya sedari tadi dia menguping.


"Ah, anak kecil ini lagi ”


"Aku ini bukan anak kecil, aku ini sudah delapan tahun," ucap Airin membuat Theresia berdecak kesal.


"Kakak tidak ada waktu melayanimu, minggir sana," ucap Theresia, dan tiba-tiba Airin menarik lengan Theresia kemudian menggigitnya.


"Airin!" teriak Theresia, tapi Airin menjulurkan lidahnya kemudian berlari karena takut Theresia mengejarnya.


.


***


Darren menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Barusan dia baru saja menelepon Tristan, ternyata Tristan sedang berada di kantor. Rasanya dia ingin menghajar Tristan secara membabi buta. Walaupun Tristan putranya, tapi dia tidak akan memberikan ampun ketika Tristan sudah berbuat seperti ini. Jika dipikir, mungkin posisi Bella dan posisi istrinya sama.


Dulu, Darren juga melakukan hal yang sama dengan Tristan, yaitu menjadikan Mia sebagai pelarian dan itu sangat tidak bisa dibenarkan dan ternyata, putranya mengulangi jejaknya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Darren sampai di perusahaan dan dia pun langsung turun kemudian lelaki itu langsung masuk ke dalam. Saat dia membuka ruangan Tristan, ternyata ada beberapa orang staff yang sedang melakukan meeting.


Ketika Darren masuk, Tristan langsung menghentikan meeting kemudian Dareen menyuruh staf yang ada di ruangan Tristan untuk keluar dari ruangan. Lalu ketika stafnya keluar, dia langsung menghampiri Tristan dan seketika itu juga Tristan dilanda kebingungan. Kenapa ayahnya datang ke kantornya dengan wajah yang memerah? Mungkin, untuk yang pertama kalinya dia melihat Darren seperti ini.


"Dad, ada apa? Kenapa ka—" Tristan menghentikan ucapannya ketika tubuhnya ambruk di lantai. Rupanya, Darren memberikan pukulan di pipi Tristan dan juga mendorong tubuh putranya.


Tristan yang masih bingung dengan apa yang terjadi dengan ayahnya, langsung bangkit dari duduknya.


"Dad, ada apa? Kenapa kau menghajarku?" tanya Tristan lagi.


Bukannya menjawab, Darren malah kembali mendaratkan pukulan di pipi putranya. Beberapa saat berlalu, Tristan sudah terkapar. Dia masih sadar, tapi dia merasa seluruh tubuhnya remuk. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba ayahnya datang dan menghajarnya? Padahal tadi pagi, ayahnya masih menelepon dan menanyakan tentang keberadaannya.


Setelah menghajar putranya, Darren langsung membanting tubuhnya di sofa. Dia sama sekali tidak berniat untuk membantu Tristan untuk berdiri, karena bagi Darren, Tristan sudah mencoreng harga dirinya sebagai seorang pemimpin keluarga yang sudah mengajarkan keluarganya tentang kesetiaan. Walaupun dia tidak bisa mengontrol anak-anaknya, tapi dia selalu yakin dengan Tristan bahwa Tristan tidak akan mengecewakannya, tapi sekarang?


Pada akhirnya, Tristan berhasil bangkit dari lantai kemudian ia berjalan tertatih-tatih.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Dad? Kenapa kau menghajarku?" tanya Tristan yang memberanikan diri bertanya. Dia merasa geram dengan ayahnya. Walaupun usia Darren sudah lanjut, tapi kekuatan ayahnya tidak bisa diragukan lagi hingga membuat dia bisa babak belur seperti ini.


"Apa Daddy pernah mengajarimu menjadi pengecut?" tanya Darren membuat Tristan semakin tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Darren.


"Dad, bisakah kau tidak berbelit-belit? Katakan saja salahku di mana," ucap Tristan, dia tidak terpikirkan bahwa Darren sudah mengetahui semuanya.


"Hanya karena istrimu terpuruk, kau tega menduakannya?" Tiba-Tiba, tubuh Tristan dia mematung saat mendengar ucapan Darren dan dia tidak mengetahui bahwa Darren sudah tahu semuanya.


"Aku tidak pernah menduakan Bella, aku dan Flora hanya saling nyaman. Aku ini lelaki dan aku ingin mempunyai anak. Aku ingin diperhatikan, tapi Bella hanya fokus dengan lukanya. Aku sudah bersabar selama dua tahun untuk mengembalikan dia seperti semula, tapi apa yang aku dapat?" tanya Tristan.


Darren bangkit dari duduknya, dia rasa tidak ada gunanya menasehati putranya.


"Tak ada gunanya berdebat denganmu," ucap Darren. Setelah itu, Darren pun langsung keluar dari ruangan putranya.


***


Tristan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Rasanya, dia tidak sabar untuk segera sampai di apartemen. Amarah langsung menguasai Tristan, rasanya dia ingin berteriak di hadapan wajah istrinya. Rupanya, saat ini emosi Tristan sedang meledak-ledak karena dia pikir Bella yang memberitahukan semuanya pada ayahnya sampai dia babak belur seperti ini.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tristan pun sampai di basement. Tristan dengan cepat turun dari mobil kemudian lelaki tampan itu sedikit berlari untuk sampai ke unit apartemen miliknya.


"Bella!" Tristan berteriak ketika sampai di apartemen. TV menyala tapi Bella tidak ada di mana pun, hingga pada akhirnya Tristan langsung berjalan ke arah kamar, tapi ketika dia membuka pintu, pintu terkunci dari dalam.


Tristan yang emosi, langsung menendang pintu hingga pintu terbuka.


"Bella!" teriak Tristan, tapi Bella tidak ada di mana pun. Saat dia akan mencari ke kamar mandi, tubuh Tristan mematung ketika melihat Bella ada di lantai. Mata Tristan membulat saat melihat darah yang mengucur, dia juga melihat mulut Bella mengeluarkan busa. Lalu yang paling membuat Tristan terkejut adalah, ada obat-obat di sekeliling Bella. Tristan dengan cepat langsung membungkuk.


"Bella ... Bella!" panggil Tristan, rasa marah yang tadi dia rasakan hilang begitu saja ketika melihat Bella seperti ini. Tristan semakin panik ketika melihat darah yang mengucur dari lengan Bella, dia pun dengan cepat mengambil kain untuk mengikat.


Rupanya, Bella sudah tidak kuat menahan semuanya, apalagi tadi pagi Tristan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Bella yang awalnya ingin bertahan sampai akhir, merasakan tidak ada gunanya terus bertahan di sisi Tristan ketika Tristan terus memojokkannya, hingga pada akhirnya Bella memakan semua obat yang tersisa. Dia juga menyayatnya Nadinya, dia sengaja mengunci pintu agar tidak ada yang tahu tentang apa yang dia lakukan. Dia ingin pergi menyusul ayahnya, karena dia merasa hidupnya sia-sia.


***


Tristan menatap tangannya yang penuh dengan darah. Saat ini, Tristan sedang duduk di kursi tunggu, sedangkan Bella sedang ditangani oleh dokter. Saat melihat Bella seperti tadi, rasanya dunia Tristan menggelap. Amarah yang dirasakan hilang begitu saja berganti dengan rasa takut. Berjuta tanya tersimpan di benak lelaki itu. Kenapa Bella bisa seperti ini? Kenapa Bella sampai bisa melukai dirinya sendiri? Kenapa Bella memakan obat penenang?


"Tuhan, apa yang aku lakukan?" lirih Tristan, rupanya hati Tristan mulai terbuka. Semua apa yang dia lakukan pada Bella beberapa bulan ini langsung menubruk otak Tristan, semua apa yang dilakukan Bella untuknya juga langsung menubruk pikiran lelaki itu. Dia teringat bagaimana Bella berusaha untuk menggapai hatinya, dia teringat bagaimana Bella bersikap seperti biasa saja, padahal Bella sudah tahu hubungannya dengan Flora.


Lalu tadi pagi, dia kembali menyudutkan Bella, dan yang paling parah, Tristan menghina Bella hanya karena Bella selalu datang ke makam ayahnya padahal dia juga tahu bagaimana rasa sakitnya ketika dulu Darren menghilang.


"Tuhan, tolong selamatkan Bella. Aku berjanji aku akan menebus semuanya." Tristan mengepalkan tangannya, dia memohon untuk Tuhan menyelamatkan istrinya, dia tidak akan sanggup kehilangan Bella. Dia tudak ingin kehilangan istrinya, dia ingin menebus semua kesalahannya pada Bella.