
up setiap hari tapi gas komen ya
Hujan semakin deras membasahi bumi, bibir Selo sudah membiru, tubuhnya juga sudah gemetar karena kedinginan. Ini sudah 3 jam hujan tidak berhenti, dan selama 3 jam itu pula Sello menderita dan merasa kesakitan karena tubuhnya terkena air hujan yang sangat lebat.
Tiba-tiba terdengar suara mobil, rupanya ada mobil yang melewati dan itu adalah pegawai di mansion Gabriel yang akan melakukan shift malam, dia baru saja akan pergi ke rumah majikannya dan ternyata saat di perjalanan dia pun melihat orang yang sangat dia kenal.
Walaupun hujan sangat deras, tapi dari perawakannya, Roy mengetahui bahwa itu adalah anak tuannya. Seketika Roy memarkirkan mobilnya, lelaki itu langsung keluar dari mobil untuk memastikannya itu Sello atau bukan.
“Tuan Sello!” pekik Roy. Terlihat jelas wajah Sello sudah memucat, dengan bibir yang membiru karena kedinginan.
“Tunggu sebentar, Tuan.” Secepat kilat, Roy membuka pintu mobilnya, kemudian dia membopong tubuhnya lalu mendudukkan Sello di kursi belakang, sedangkan dia langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.
“Buka gerbang, cepat!” teriak Roy pada penjaga mansion, hingga gerbang terbuka dan dengan cepat Roy langsung menjalankan mobilnya.
Roy menekan klakson, hingga beberapa orang penjaga menghampiri mobil Roy,
“Panggil Nyonya Amelia dan Tuan Gabriel. Katakan pada mereka, aku menemukan Tuan Sello dengan kondisi parah,” ucap Roy, kedua penjaga itu mengangguk, lelaki itu pun angsung masuk ke dalam untuk memanggil Gabriel dan Amelia Gabriel dan Amelia
Gabriel yang sedang terlelap terbangun ketika terdengar suara gedoran yang halus, walaupun para penjaga panik. Tapi tentu saja mereka tidak seberani itu untuk menggedor dengan keras.
“Biar aku saja sayang,” ucap Gabriel ketika Amelia akan turun, Gabriel turun dari ranjang, lalu berjalan ke arah pintu, lelaki paruh baya itu langsung membuka pintu.
“Ada apa? apa kalian tidak melihat ini sudah malam?!” bentak Gabriel yang emosi.
“Tuan, maaf. Tuan Sello ada di bawah sepertinya Tuan Sello ....”
“ Ada apa dengan Selo?” tanya Amelia yang langsung bertanya dari arah belakang.
“Tuan Sello ....”
Tanpa mendengar penjelasan pegawainya, Amelia langung turun, kemudian keluar dari kamar. Dia berjalan dengan cepat diikuti Gabriel di belakangnya.
“Sello!” pekik Amelia ketika Sello di bopong oleh Roy
“ Nyonya, tadi saya menemukan Tuan Selo di pinggir jalan dan terduduk di kursi roda.”
“Apa!” pekik Amelia.
Sedangkan Gabriel langsung mengambil alih tubuh Sello dari Roy. Lalu setelah itu membaringkan tubuh Sello di sofa.
“Cepat panggil dokter!” teriak Gabriel, hingga salah satu pelayan yang sedang ada di sana langsung memanggilkan dokter.
“Sello!” panggil Gabriel sambil menepuk-nepuk pipi sang putra, Sello hanya membuka matanya sedikit karena dia di ambang kesadaran, tubuhnya juga sudah sangat tidak berdaya hingga pada akhirnya, Sello langsung memejamkan matanya, dan Amelia pun langsung berlari ke arah kamar Sello untuk untuk mengambilkan pakaian putranya.
***
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Amelia ketika dokter sudah selesai memeriksa kondisi Sello. Sello mengalami dehidrasi ringan, demam tinggi. Sayangnya Dokter belum mengetahui racun di tubuh Selo, karena memang Sello tidak sadarkan diri.
”Kalau begitu, saya permisi. Jika ada sesuatu bisa panggil saya,” ucap dokter tersebut, Amelia menggangguk. Kemudian . Dia menggenggam tangan Sello begitu erat, lalu menangis tersedu-sedu.
Sedangkan Gabriel tidak bergerak sedikit pun, terbesit penyesalan di diri lelaki paruh baya itu saat melihat Sello seperti ini, apalagi saat mendengar Sello ditinggalkan di pinggir jalan dengan kondisi memakai kursi roda. Tunggu! tiba-tiba, Gabriel terpikirkan sesuatu. Kenapa putranya memakai kursi roda?
“Sayang, ayo kita bawa Sello ke rumah sakit," ucap Gabriel.
***
Setelah melewati serangkaian untuk memeriksa hasil tes darah, dokter langsung kembali ke ruangan Sello, hingga Gabriel dan Amelia yang sedang berada di ruang rawat menoleh.
“Tuan Gabriel di tubuh putra anda terdapat beberapa kandungan obat dan ...."
“Obat apa?” tanya Gabriel.
Dokter pun menjelaskan semuanya membuat rahang Gabriel mengeras, dia langsung teringat sosok menantunya yang tidak ia akui, sedangkan Amelia langsung menggenggam tangan Sello dengan erat, Wanita paruh itu menyesal telah mengabaikan Sello bertahun-tahun hingga sekarang Sello seperti ini.
"Apa putraku bisa sembuh, Dok?” tanya Gabriel.
“Tentu, tapi kami membutuhkan waktu yang lama dan ...."
“Tidak apa-apa, yang penting putraku bisa bergerak lagi,” jawab Gabriel.
“Baik kalau begitu, kami permisi.” Tim Dokter pun pergi meninggalkan ruang rawat Sello.
***
Bianca keluar dari ruangannya, dia berencana untuk memeriksa pasien karena dia ingin segera beristirahat. Saat dia berjalan dan melewati ruangan lorong, sayur-sayup Bianca mendengar suara mantan mertuanya.
Bianca menghentikan langkahnya saat berada di sebuah ruangan. Dia mengintip dan ternyata benar saja, kedua mertuanya sedang berpelukan.Hiingga refleks, Bianca membuka pintu, sedangkan Amelia dan Gabriel langsung melepaskan pelukan mereka.
“ Paman ... Bibi,” panggil Bianca
“Bianca kau sedang berdinas malam?” tanya Gabriel, seraya menghapus air matanya. Bianca tidak menjawab lagi, dia malah fokus pada Sello yang terbaring di berangkar.
“Paman ... Bibi, Sello, kau Kenapa?” tanya Bianca dengan terkejut. Seperti kemarin-kemarin, Bianca benar-benar sudah menganggap Sello hanya saudaranya, itu sebabnya tidak ada dendam sedikitpun, bahkan sekarang dia begitu terkejut saat melihat mantan suaminya terbaring di berangkar.
“Selo ....”
“Paman? apa ini hasil pemeriksaan Selo?” tanya Bianca yang melihat map di atas nakas. Gabriel mengangguk, dengan cepat Bianca pun membuka map itu, lalu membacanya dengan seksama
“Apa Sello minum obat itu lagi?” lirih Bianca.
Seketika Gabriel dan Amelia menoleh.
“Maksudmu kau tahu tentang obat yang diminum Sello?” tanya Amelia.
Bianca menggaruk tengkuknya yang yang tidak gatal. Sebenarnya dia tidak ingin terlalu banyak ikut campur, toh dia juga sudah memberitahu Grisya mantan kakak iparnya.
“Bibi bolehkah aku bercerita?” tanya Bianca.
Amelia maju ke hadapan Bianca, kemudian dia megang bahu bianka hingga Bianca meringis.
Gabriel menepuk lembut bahu Amelia. “Sayang, tenang,” ucap Gabriel.
“Maafkan, bibi Bianca. Ceritakan semuanya pada kami."
Dan Bianca pun menceritakan semua apa yang dia tahu hingga ....