
Tommy memeluk Mayra dengan erat. Rasanya, dia hampir gila karena tadi dia tidak menemukan Mayra di mana pun. Helaan napas lega terlihat dari wajah tampan Tommy, membayangkan Mayra merajuk dan pergi dengan waktu yang lama membuat Tommy benar-benar merasakan rasa was-was yang luar biasa.
Ketika Tommy memeluknya, Mayra langsung membalas pelukan sang suami. Rasa bersalah langsung menghinggapinya. Dia yang tadinya gengsi meminta maaf, memutuskan untuk meminta maaf terlebih dahulu karena dia telah membuat Tommy malu. Tadi, dia melabrak Tommy di restoran dan juga menyiram wajah suaminya dengan air. Pasti itu sangat memalukan untuk Tommy.
Sepuluh menit kemudian.
Tommy melepaskan pelukannya. Lelaki itu langsung menangkup pipi Mayra. "Aku bisa menjelaskan semuanya, Sayang. Tidak ada yang terjadi. Dia adik sepupuku." Tommy pun langsung menjelaskan semuanya hingga Mayra langsung mengangguk.
"Kau percaya padaku?" tanya Tommy.
Mayra kembali menganggukkan kepalanya lalu menunduk. "Maafkan aku. Seharusnya aku bertanya terlebih dahulu," kata Mayra lagi. Tommy kembali menghela napas lega. Dia pun langsung membawa Mayra ke dalam pelukannya.
"Jangan pergi lagi seperti tadi, aku begitu panik mencarimu. Kau tahu? Aku takut kau pergi," ucap Tommy.
Mayra kali ini memeluk Tommy begitu erat.
***
Mayra duduk di ranjang. Dari tadi, dia terus melihat ke arah kamar mandi, di mana Tommy masih berada di sana. Lelaki itu kembali menyegarkan dirinya karena merasa gerah, dan sedari tadi masuk ke dalam kamar, Mayra begitu gugup.
Walaupun kesalahpahaman sudah berakhir, tapi tetap saja Mayra merasa bersalah dan sekarang dia bertekad minta maaf. Lalu ketika akan meminta maaf, dia merasakan malu yang luar biasa.
Sepuluh menit kemudian.
Pintu kamar mandi terbuka, muncul sosok Tommy keluar dari kamar mandi. Tommy tersenyum saat melihat Mayra yang menunduk. Lelaki itu langsung melemparkan handuknya ke sembarang arah, lalu setelah itu dia berjalan ke arah ranjang dan naik ke sana dan setelah itu dia mendudukkan diri sebelah Mayra.
"Kau kenapa?" tanya Tommy. Dia merangkul pundak Mayra, tapi tak lama Mayra langsung menegakkan tubuhnya.
"Kau ini kenapa? Kenapa kau seperti ini?" tanya Mayra yang tiba-tiba berbicara dengan nada yang sedikit kencang membuat Tommy terkejut.
"Apa aku membuat salah?" tanya Tommy lagi.
Tiba-Tiba, Mayra memukuli dada Tommy. "Seharusnya kau marah padaku, seharusnya kau mendiamkanku karena aku telah berbuat salah, lalu kenapa kau masih bersikap baik?" tanya Mayra lagi. Rupanya, dia terlalu gengsi untuk meminta maaf hingga dia berbicara seperti itu, dan tentu saja Tommy tertawa. Istrinya benar-benar unik.
"Kenapa aku harus marah? Aku tahu kau juga pasti akan salah paham. Jika aku dalam posisimu, pasti aku akan salah paham. Tidak apa-apa, aku mengerti. Itu tandanya kau sangat mencintaiku. Benar begitu?" tanya Tommy lagi.
Seketika, Mayra kembali memeluk pinggang Tommy membuat Tommy tertawa. "Kau ingin meminta maaf tapi gengsi?" tebak Tommy hingga Mayra mengangguk.
"Aku memaafkanmu, kau boleh marah tapi jangan sampai meninggalkan rumah. Kau mengerti aku bisa gila jika kehilanganmu seperti tadi," kata Tommy.
"Kau mencariku tadi?" tanya Mayra. Dia bertanya hal yang jelas-jelas jawabannya dia sendiri tahu, di mana Tommy mencarinya.
"Aku mencarimu, bahkan rasanya aku hampir gila," kata Tommy.
***
Berapa tahun kemudian.
Salsa keluar dari kamarnya. Gadis remaja yang kini menginjak delapan belas tahun itu, langsung turun ke bawah untuk ikut sarapan, karena dia akan pergi ke kampus.
"Morning Mom, Dad," sapa Salsa pada kedua ayah dan ibunya.
"Dad, Mom, aku akan pergi ke pesta ulang tahun temanku. Bolehkah aku pulang terlambat malam ini?" tanya Salsa ketika dia sudah mendudukan dirinya di sofa.
Tommy tampak berpikir, dia langsung menyimpan sendok yang sedang dia pegang kemudian menatap Salsa. "Di mana pesta ulang tahun temanmu dirayakan? Lalu, ada siapa saja di sana?" tanya Tommy.
Seperti biasa, Tommy mulai protektif pada Salsa. Ini sudah delapan belas tahun Tommy berumah tangga dengan Mayra, dan selama delapan belas tahun itu pula mereka benar-benar tidak pernah berdebat atau berselisih paham tentang apapun, hanya saja setelah Salsa dewasa, Tommy lebih protektif pada putri pertamanya dibandingkan Darren. Tentu saja karena Darren adalah lelaki, walaupun usia Darren lebih muda dari Salsa, dia tidak mengkhawatirkan apapun.
Namun, berbeda dengan Salsa yang mulai beranjak dewasa. Dia selalu mewanti-wanti anaknya untuk tidak bebas dalam pergaulan, dan selama delapan belas tahun ini pula, Salsa juga masih tidak mengetahui sama sekali bahwa Tommy bukan ayahnya.
"Tapi ingat kau tidak boleh pulang lebih dari jam 11 malam. Kau mengerti, Salsa?" tanya Tommy hingga Salsa mengangguk, sedangkan Mayra tidak menimbrung percakapan mereka. Dia fokus pada sarapannya, begitu pun dengan Darren.
"Darren," panggil Tommy.
"Ya, Dad?" sahut Darren.
"Ingat berhenti main-main di sekolahmu, awas saja jika kau membully orang lain lagi," kata Tommy karena Darren sangat jahil di sekolahnya.
Beberapa kali Darren terkena teguran karena membully seorang wanita hingga Tommy harus turun tangan, bahkan beberapa kali Tommy menahan fasilitas Darren karena Darren tidak berubah. Dan kemarin, Tommy kembali dipanggil oleh pihak sekolah karena Darren kembali membully seorang wanita yang baru saja pindah sekolah.
Kali ini, Tommy mengancam akan memindahkan Darren keluar negeri jika Darren tidak berubah dan masih terus bersikap petakilan. Namun, sepertinya ancaman Tommy sama sekali tidak mempan pada Darren, karena faktanya lelaki itu sama sekali tidak takut, mungkin dia akan meminta maaf lagi jika terpergok.
Akhirnya, acara sarapan pun selesai. Salsa sudah meninggalkan meja makan dan berangkat bersama sopirnya, sedangkan Darren pergi ke sekolahnya menggunakan motor besar.
***
"Sayang kau masih tidak enak badan?" tanya Tommy ketika mereka berjalan keluar, dan seperti biasa Mayra mengantar Tommy sampai keluar.
"Masih, Dad," jawab Mayra.
Tommy menghentikan langkahnya. "Ya sudah, aku tidak akan bekerja di kantor. Aku akan menemanimu saja," kata Tommy lagi. Namun, Mayra menggeleng.
"Tidak usah. Jangan pulang terlalu sore saja," jawab Mayra hingga Tommy pun mengangguk.
"Ya sudah, aku pergi dulu." Tommy mencium seluruh wajah Mayra, kebiasaan yang tidak pernah dia lupakan dari dulu. Lalu setelah itu, dia berjalan ke arah mobilnya dan ketika mobil akan berjalan, Tommy langsung melambaikan tangannya pada istrinya, dan setelah itu Mayra pun masuk ke dalam.
***
"Dina, bukankah kita akan pesta ulang tahun di rumahmu? Lalu kenapa kita malah pergi ke bar?" tanya Salsa. Dia langsung protes pada temannya karena mereka setuju untuk merayakan pesta ulang tahun Dina di rumah. Namun sekarang, dia malah dibawa ke bar.
"Salsa, kau ini kolot sekali," kata Dina, "ayo masuk saja di sana, kita hanya akan berpesta dengan para wanita di ruangan yang berbeda."
"Benarkah?" tanya Salsa dengan polosnya.
"Benar. Ayo," ajak Dina lagi.
Salsa sedikit ragu untuk masuk. Dia takut sang ayah murka padanya, tapi ucapan Dina tidak ada yang salah karena mereka akan menyewa satu ruangan hanya untuk para wanita saja, begitulah pikir Salsa.
Salsa pun langsung mengikuti langkah Dina untuk masuk. Beberapa teman Salsa sudah berada di tengah-tengah, berbaur dengan para tamu. Salsa kebingungan sendiri, sebab tadi Dina mengatakan bahwa akan menyewa satu ruangan hanya untuk para perempuan, tapi sekarang semua malah berbaur dengan tamu yang lain yang sedang berjoget ria di depan sambil mendengarkan musik.
Salsa menjadi bingung sendiri. Dia seperti orang linglung, apalagi dia tidak pernah pergi ke tempat seperti ini. Saat dia akan berbalik dan memutuskan untuk pergi, tiba-tiba tangan Salsa ditarik oleh seseorang.
"Bastian," panggil Salsa.
Saat tangannya ditarik oleh Bastian, Salsa sudah terlebih dahulu menarik tangannya dari genggaman tangan Bastian, tapi Bastian menggenggam tangannya begitu erat, hingga Salsa tidak bisa melawan dan ketika sudah berada di tempat yang sepi, Bastian langsung melepaskan tangannya karena Salsa terus meronta.
"Aku ini ingin pulang, bukan ingin mengikutimu!" teriak Salsa pada Bastian. Dia berteriak dengan sangat keras karena tidak terima tangannya disentuh oleh Bastian.
"Oh ayolah Salsa, kita bersenang-senang. Kita sudah dewasa, jadi sekarang waktunya kita menikmati dunia malam," ucap Bastian lagi karena dia tahu Salsa tidak pernah menginjakkan kakinya di tempat seperti ini, hingga dia tertantang untuk mengajak Salsa.
"Tutup mulutmu! Aku ingin pulang," kata Salsa lagi. Saat dia akan berbalik, Bastian kembali menarik tangan wanita itu lalu menyeret tubuh Salsa.
Namun, belum Bastian berbelok, tiba-tiba satu tendangan mendarat di tubuh Bastian hingga Salsa menutup mulut, kemudian melihat siapa yang menendang tubuh Bastian.
Mata Salsa membulat saat melihat siapa yang ada di sampingnya, yang tak lain orang yang menendang tubuh Bastian, dan ternyata orang itu adalah Tommy. Jantung Salsa berdebar dua kali lebih cepat ketika melihat Tommy. Dia melihat wajah sang ayah yang memerah, dan untuk pertama kalinya dia melihat Tommy seperti ini. Sepertinya, Tommy marah kepada Salsa karena Salsa berbohong padanya, mengatakan akan pesta di rumah temannya tapi malah datang ke bar.
"Da-Dad," panggil Salsa dengan terbata.
Tommy yang sedang melihat ke arah Bastian, langsung mengalihkan tatapannya ke arah Salsa.
"Kau berani membohongi Daddy?" tanya Tommy dengan nada dingin, membuat Salsa semakin ketakutan.
"Daddy, ini tidak seperti yang Da—" Salsa menghentikan ucapannya ketika Tommy menarik lengannya, dan menyeretnya untuk keluar dari bar.
"Daddy sakit!" teriak Salsa ketika Tommy mencengkeram erat tangannya, hingga gadis itu kesakitan. Namun, Tommy sepertinya sudah kehilangan akal. Dia terus menyeret tubuh Salsa. Tommy paling tidak suka dibohongi, apalagi dia tadi dia sudah memberikan kepercayaan penuh pada Salsa, tapi Salsa malah membohonginya.
Barusan anak buah Tommy melapor, bahwa Salsa pergi ke bar hingga Tommy langsung menyusul putrinya, dan ketika melihat Salsa ditarik oleh seorang lelaki, emosi Tommy langsung memuncak hingga dia menendang tubuh Bastian dan menarik tangan Salsa dengan keras.
Salsa berteriak dengan keras ketika sudah berada di luar bar, hingga Tommy langsung melepaskan tangan Salsa dengan keras hingga tangan Salsa terbentur dengan mobil, membuat Salsa langsung mengibaskan tangannya karena terasa nyeri. Dia juga berteriak kesakitan, tapi Tommy yang sedang dikuasai emosi sama sekali tidak menggubris apa yang Salsa lakukan, padahal biasanya dia yang paling khawatir jika terjadi sesuatu dengan putrinya.
"Berani kau bohongi Daddy?!" teriak Tommy.
Salsa yang sudah merasa kesakitan, langsung mundur satu langkah karena dia begitu terkejut dengan teriakan sang ayah. Untuk pertama kalinya selama dia hidup, dia melihat Tommy seperti ini dan tentu saja dia terkejut.
"Da-Daddy," panggil Salsa dengan terbata.
"Masuk! Kita bicara di rumah!" titah Tommy, lelaki itu langsung buka pintu mobil hingga Salsa pun langsung masuk, begitu pun dengan Tommy.
Selama di perjalanan, Salsa satu terus mengelus tangannya yang terasa nyeri. Benturan di tangan Salsa barusan benar-benar keras, hingga tangan Salsa benar-benar memerah, bahkan gelang yang dipakai Salsa pun hampir patah karena kerasnya hempasan di tangannya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tommy pun sampai di rumah. Tommy turun dari mobil, kemudian membanting pintu membuat Salsa semakin ketakutan dan setelah itu pintu terbuka, ternyata Tommy yang membukakan pintu.
"Turun," ucap Tommy. Lalu dengan tubuh yang bergidik, Salsa pun turun lalu mengikuti langkah sang ayah. Ketika masuk, ternyata Mayra sedang ada di bawah hingga Salsa langsung berlari ke arah Mayra karena merasa ketakutan.
"Ada apa ini?" tanya Mayra ketika Salsa memeluknya dan menangis di pelukannya. Dia juga bingung kenapa wajah Tommy memerah.
"Dad, ada apa?" tanya Mayra.
"Tanyakan padanya," ucap Tommy.
Mayra juga aneh, untuk pertama kalinya dia melihat Tommy seperti ini, bahkan menatap Salsa dengan penuh amarah. Bagi seorang ibu, tentu saja Mayra tidak bisa menerima hal itu, apalagi Salsa bukan anak Tommy.
"Salsa, ada apa?" tanya Mayra yang memilih untuk bertanya langsung pada Salsa. Namun bukannya menjawab, Salsa malah memeluk Mayra semakin erat.
"Dad, sebenarnya ada apa?" tanya Mayra lagi.
"Kau tahu dia membohongi kita semua? Tadi pagi dia mengatakan akan menggelar pesta di rumah temannya, tapi kamu tahu, Sayang? Dia malah pergi ke bar," kata Tommy.
Mata Mayra membulat saat mendengar ucapan Tommy. Dia pun langsung melihat ke arah Salsa, lalu melepaskan pelukannya.
"Salsa, apa benar yang diucapkan Daddy?" tanya Mayra, "Salsa, tanganmu kenapa?"
Belum Salsa menjawab, Mayra langsung terkejut ketika melihat tangan Salsa yang memerah.
"Jujur, apa yang dikatakan Daddy benar?" tanya Mayra lagi.
"Mo-Mommy," jawab Salsa dengan terbata. Sepertinya Salsa benar-benar terpukul dengan sikap Tommy. Seharusnya, Tommy bertanya terlebih dahulu padanya, bukan malah berteriak membentaknya dan melukai tangannya.
"Ya sudah kau masuk ke kamar biar Mommy yang berbicara dengan Daddy?"Mayra tidak ingin membuat Salsa semakin ketakutan, sedangkan Tommy langsung mengusap wajah kasar padahal dia ingin berbicara dan menasehati Salsa terlebih dahulu.
"Biarkan dia di sini. Aku har—"
"Tutup mulutmu!" bentak Mayra membuat Tommy menatap istrinya dengan tatapan terkejut.
"Jangan mentang-mentang Salsa bukan anakmu, kau bisa memperlakukan dia dengan semena-mena." Mayra juga terpancing emosi.
"Sayang," panggil Tommy.
"Apa kau sudah bertanya apa yang terjadi?" tanya Mayra lagi ketika Tommy terdiam, "Kau selalu menganggap dia putrimu, kau tahu bagaimana dia. Apa dia pernah membohongimu sebelumnya?"
Tubuh Tommy diam mematung. "Sayang," panggil Tommy lagi, seketika tubuh lelaki itu diam mematung, karena dia terlalu emosi dan malah membentak Salsa padahal seharusnya dia bertanya terlebih dahulu.
Mayra menghapus air matanya, kemudian dia berbalik lalu setelah itu dia berjalan ke arah kamar Salsa, meninggalkan Tommy yang termenung dengan apa yang terjadi.
Mayra masuk ke dalam kamar Salsa, ternyata Salsa sedang menangis.
"Salsa," panggil Mayra.
"Katakan pada Mommy, apa yang terjadi? Mommy tahu kau tidak mungkin berbohong," ucap Mayra ketika dia duduk di sebelah Salsa.
Salsa menceritakan semuanya, bahwa temannya berbohong mengatakan akan pesta di rumah tapi malah membawanya ke bar, dan Salsa pun mengatakan bahwa tadinya dia akan pulang tapi tangannya ditarik oleh lelaki, hingga tangannya membengkak.
Seketika, Mayra langsung memeluk Salsa, menenangkan putrinya. Ini mungkin sepele. Bagi sebagian orang mungkin bisa dipahami juga kenapa Tommy seperti ini, tapi percayalah untuk Mayra ini tidak mudah.
Satu jam kemudian, Mayra menarik selimut, menyelimuti tubuh Salsa yang sudah terlelap dan setelah itu pun bangkit dari duduknya, kemudian berjalan keluar kamar dan ternyata saat dia keluar, Tommy sedang menunggunya. Rupanya, Tommy mendengar percakapan mereka.
"Sayang," panggil Tommy, dia menatap Mayra dengan tatapan rasa bersalah.
Mayra terdiam. Dia juga sadar dia tidak boleh egois. Tommy sudah menyayanginya dan Salsa selama belasan tahun, dan dia tidak mungkin memojokkan Tommy walaupun tadi dia sempat marah.
"Salsa sudah tidur, bicara dengannya besok," ucap Mayra. Dia tersenyum pada Tommy, tapi Tommy tahu senyuman itu adalah senyuman kecewa.
"Sayang!"
“ Aku mengantuk," kata Mayra yang tidak ingin berdebat dengan Tommy membuat Tommy mengusap wajah kasar. Dia pun langsung mengikuti langkah Mayra, mungkin besok Tommy akan meminta maaf pada putrinya.