
Setelah mengambilkan gelas untuk putrinya, Darren langsung berbalik, kemudian lelaki itu langsung berjalan ke arah kamar. Tak lupa, dia mematikan TV membuat Theresia keheranan. Untuk pertama kalinya selama hidup mungkin inilah Darren membantunya, walaupun hanya melakukan hal yang sederhana untuknya.Mungkin kemarin-kemarin Theresia akan merasa senang ketika sang ayah seperti ini, tapi sekarang tidak, dia merasa asing.
Theresia pun mengambil gelas yang tadi diberikan oleh Darren, kemudian dia langsung berjalan ke arah kulkas untuk menuangkan minuman dingin, setelah itu dia pun langsung kembali ke kamar.
Malam berganti pagi.
Akhirnya, hari ini Shelbi dan Theresia akan keluar dari apartemen Dareen, kebetulan Hari ini adalah hari Sabtu, di mana Shelby tidak mengajar, begitu pun juga Theresia yang kembali izin untuk tidak sekolah karena hari ini mereka akan membereskan pakaian mereka. Tidak akan ada barang-barang yang mereka bawa karena ini adalah apartemen Darren dan semua juga milik Dareen, itu sebabnya mereka hanya akan membawa pakaian mereka.
Akhirnya, setelah beberapa jam berlalu, Darren dan Theresia sudah selesai membereskan pakaian mereka, dan mungkin sebentar lagi saat Tristan bangun, mereka akan langsung pergi.
"Theresia tunggu sebentar, Mommy ingin mengambil minum," kata Shelby hingga Theresia mengangguk.
"Aku juga mau minum," jawabnya.
Setelah itu, Shelby pun berbalik kemudian wanita cantik itu langsung berjalan ke arah luar. Dia keluar melihat Darren, sepertinya baru saja masuk ke dala.
Mata Shelby membulat saat melihat amplop yang dipegang oleh Daren, rupanya barusan ada petugas bang yang datang memberikan surat tagihan yang harus Shelby bayar dan ternyata Dareen yang menerima. Dengan cepat, dia berlari kemudian wanita cantik itu langsung merebut kertas itu dari tangan Darren membuatnya terpekik kaget.
"Apa-apaan kau?" tanya Darren, seperti biasa, nadanya terdengar sangat ketus dan menetap Shelby dengan tatapan tak suka.
"Ini milikku," kata Shelbi.
Darren berdecak. Lelaki itu memutuskan untuk berjalan ke arah kamar.
***
Shelby memegang dadanya. Dia merasa lega karena Darren tidak membuka amplop tersebut, karena amplop tersebut adalah surat peringatan dari kartu kredit sebab Shelby telat membayar kartu kredit miliknya, apalagi kemarin dia membayar biaya rumah sakit dengan cukup besar menggunakan kartu kredit, dan Shelby harus segera membayar tagihan yang jatuh tempo hari kemarin.
Shelby berjalan ke arah dapur kemudian wanita cantik itu langsung mengambil minum, lalu setelah itu dia keluar dari arah dapur dan masuk ke dalam kamar.
Shelby masuk ke dalam kamar, kemudian dia menyerahkan botol minum, lalu setelah itu dia berjalan ke balkon agar Theresia tidak melihat apa yang sedang dia lakukan.
Shelby mendudukkan dirinya di kursi, kemudian wanita itu langsung membuka amplop. Dia memejamkan matanya ketika melihat tagihan kartu kredit bulan ini. Tabungan Shelby sudah menipis. Dia bisa saja menggunakannya untuk melunasi tagihan bulan ini, tapi bagaimana dengan sehari-hari? Sementara dia belum memiliki kerja tambahan yang bisa dia lakukan.
Dia sudah lama sekali tidak menjadi tour guide karena tidak ada turis yang menghubunginya, dan mengandalkan dari mengejar saja masih jauh, hingga sekarang Shelby kebingungan. Haruskah dia menggunakan kartu kredit milik kedua mertuanya?
'Kau ini pasti datang ke rumah ayahku hanya ingin harta, 'kan? Cih, dasar gadis sialann!'
Tiba-Tiba, ucapan Darren saat itu menabrak otak Shelby hingga Shelby langsung menggeleng. "Tidak, aku tidak boleh memakai itu," lirih wanita itu dengan cepat. Dia langsung merobek kertas itu, kemudian berjalan ke arah pojok lalu membuang ke tempat sampah yang ada di sana.
Shelby pun langsung berjalan ke arah dalam, kemudian wanita cantik itu langsung menghampiri Theresia yang sedang memainkan ponselnya.
"Theresia," panggil Shelby. Dia mendudukkan diri di sebelah putrinya.
"Kenapa Mommy, apa ada yang Mommy pikirkan?" tanya Theresia.
"Jika kita sudah pindah dan Mommy harus bekerja lagi, apa kau tidak apa-apa menunggu di apartemen sendiri?" tanyanya.
Theresia terdiam. "Bukannya mommy sudah bekerja menjadi guru?" tanya Theresia lagi.
Shelby menggenggam tangan putrinya. "Theresia, begitu pindah dari sini, Mommy harus mencari uang yang banyak untuk menyewa apartemen untuk biaya kita sehari-hari, untukmu sekolah dan lain-lain. Mengandalkan gaji Mommy dari mengajar saja rasanya tidak cukup. Mommy tidak tahu kau mengerti apa yang mau Mommy katakan atau tidak, tap—"
"Aku mengerti, Mommy," jawab Theresia yang memotong ucapan Shelby membuat Shelby mengelus rambut putrinya.
'Ibu aku lapar, apakah tidak ada makanan?'
Saat melihat Theresia berwajah semua, Tiba-Tiba, Shelby teringat bayangan dirinya di mana saat itu dia diusir dari rumah oleh ayahnya, dan dia bahkan pernah tidak makan selama dua hari bersama ibunya, belum lagi setelah di usir dia berpindah-pindah dari gereja satu ke gereja lainnya sekadar untuk menumpang tidur, dan sekarang dia harus mencari pekerjaan tambahan agar Theresia tidak mengalami apa yang dia alami.
"Mommy kenapa?" tanya Theresia ketika melihat mata sang ibu berkaca-kaca.
Shelby menghapus sudut matanya yang berair kemudian menggeleng.
"Tidak apa-apa," katanya.
Dua jam berlalu.
Theresia dan Shelby pun akan pergi sekarang untuk keluar dari apartemen. Sebelum keluar dari kamar, Shelby berbalik kemudian melihat ke sekeliling kamarnya, kemudian dia tersenyum getir.
"Terima kasih selama tujuh tahun ini sudah tempat untukku dan untuk putriku pulang.”
Setelah itu, Shelby pun langsung keluar dari kamar.
"Mommy akan pergi sekarang?" tanya Tristan yang sedari tadi menunggu di depan pintu dan ketika Shelby dan Theresia keluar dari kamar, Tristan langsung berbicara. Mata bocah kecil itu sudah berkaca-kaca. Sedari tadi, dia menangis karena tidak rela ibu dan adiknya pergi, tapi dia tidak bisa berbuat banyak.
Shelby menekuk kakinya, menyetarakan diri dengan Tristan. "Mommy hanya pergi ke atas, kenapa kau sedih?" tanya Shelby.
"Kau boleh ikut sekarang dan nanti Mommy akan mengantarkanmu ke sini lagi," kata Theresia.
"Tristan, ayo kita pergi." Tiba-Tiba, terdengar suara Darren. Rupanya, Darren ingin mengajak Tristan untuk ke rumah orang tuanya.
Darren menghentikan langkahnya ketika Tristan tidak kunjung bergerak, hingga tatapannya langsung bersibobrok dengan Theresia yang sedang melihat ke arahnya.
'Seandainya kau tahu, adakalanya aku ingin berubah menjadi Tristan yang selalu kau ajak kemana pun. Ada kalanya aku ingin berteriak minta ikut padamu, ada kalanya aku ingin datang berlari dan memelukmu. Tapi sekarang, aku menyerah, aku lelah. Tidak apa-apa, aku masih mempunyai Mommy.' Theresia membatin, seraya menatap wajah Darren dan sedetik kemudian, gadis kecil itu langsung memutus pandangannya pada sang ayah, kemudian dia langsung menarik tangan ibunya.
"Ya sudah Tristan, jika kau ingin ke atas, ke atas saja. Kau bisa telepon Mommy dulu nanti," ucap Theresia lagi. Tristan mempunyai ponsel hadiah dari Darren, sedangkan Shelby masih belum siap memberikan ponsel pada Thersia, karena biasanya Theresia akan bermain menggunakan ponsel Shelby dan juga tab miliknya, itu sebabnya dia menyarankan Tristan untuk menelepon sang ibu.
"Ya sudah Tristan, sampai jumpa," kata Shelby, mencium kening putranya kemudian dia pun langsung menarik kopernya lalu Theresia juga menarik koper kecil yang berisi pakaiannya. Setelah itu, mereka pun mulai berjalan melewati tubuh Darren begitu saja. Ketika tubuhnya dilewati oleh Shelby dan Theresia, Darren melihat punggung anak dan istrinya. Entah kenapa dia merasa aneh, sedangkan Tristan hanya menatap punggung ibunya dengan mata yang membasah. Rasanya, dia ingin berlari untuk menyusul adik dan ibunya, tapi tentu saja dia tidak seberani itu.
***
Shelby membuka pintu unit apartemen yang dia sewa. Beruntung, sudah ada beberapa furniture di sana, Shelby tidak perlu membeli barang apapun.
"Ayo masuk, Theresia," kata Shelby hingga Theresia mengangguk. Gadis kecil itu langsung menarik kopernya dan masuk ke dalam. Theresia melihat ke sekelilingnya. Perasaannya asing, tapi tak lama dia menggeleng lalu melanjutkan langkahnya.
Shelby yang melihat itu terasa nyeri. Dia mengerti betul perasaan yang Theresia rasakan, hingga Shelby langsung menghampiri putrinya.
"Theresia," panggil Shelby, hingga Theresia tersadar kemudian menutup kulkas.
"Mommy, apa tidak ada makanan di sini?" tanyanya.
Shelby memejamkan matanya. Dia dilanda kebingungan lagi, mana mungkin dia tidak menyediakan camilan untuk Theresia. Tapi di sisi lain, dia juga harus menghemat semuanya.
"Nanti Mommy akan beli," jawab Shelby. Sepertinya, dia harus mengajukan pinjaman agar bisa memenuhi untuk sehari-hari.
Beberapa hari kemudian.
"Theresia, kau yakin tidak apa-apa menunggu di sini? Mommy tidak tahu Mommy pulang jam berapa," kata Shelby. "Atau mau di apartemen bersama Tristan?" tanya Shelby lagi. Hari ini, dia ada pekerjaan yaitu mengantar turis untuk berkeliling Rusia, dan ini adalah hal yang paling ditunggu oleh Shelby karena yang pasti bayarannya lebih besar dan dibayar secara cash, itu sebabnya dia terpaksa meninggalkan Theresia.
"Mommy pergilah, aku tidak apa-apa. Aku tidak mau menunggu di apartemen itu, di sini lebih nyaman," jawab Theresia dengan tidak yakin.
"Aku tidak apa-apa," kata Theresia lagi. Dia tahu betul situasi sang ibu, apalagi tadi dia melihat ibunya tampak kebingungan ketika akan membeli sarapan dan Theresia menebak, mungkin ibunya tidak punya uang.
"Ya sudah kalau begitu, ini tab Mommy. Telepon Mommy jika ada apapun," jawab Shelby yang meninggalkan tab-nya di apartemen hingga Theresia mengangguk.
Shelby pun langsung keluar dari apartemennya, kemudian wanita itu berjalan ke arah basement.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
Shelby begitu gelisah. Rasanya dia ingin segera pulang. Shelby pikir dia akan pulang lebih awal karena dia sudah menemani kliennya berkeliling Rusia sedari tadi siang, tapi ternyata Shelby salah. Sekarang, dia sedang berada di musium dan setengah dari sini, dia harus menemani tamunya untuk menikmati makan malam.
Hal yang membuat Shelby khawatir adalah Theresia pasti ketakutan karena dia seorang diri di apartemen, sedangkan dulu jika di apartemen Darren ada Tristan, tapi sekarang putrinya benar-benar sendiri dan Shelby merasa tidak tenang. Beberapa kali dia mencoba menelepon Theresia, tapi Theresia tidak mengangkat panggilannya.
"Nona Shelby," panggil seorang wanita paruh baya hingga Shelby langsung menghampiri para tamu.
"Ayo antar kami ke tempat lain," ajak kliennya lebih memejamkan matanya.
Sepertinya, turis ini memang benar-benar ingin menikmati waktu panjang di Rusia.
"Baik," jawab Shelby.
Pada akhirnya, mereka pun keluar dari museum lalu menuju restoran yang buka dua puluh empat jam dan tepat ketika Shelby dan kliennya masuk kedalam restoran tatapannya berhenti pada satu meja di mana ada Darren dengan teman-teman kuliahnya yang juga teman-teman kuliah Shelby. Hingga Shelby mengenal beberapa orang itu, sedangkan Darren dia memang sedang berkumpul bersama temannya yang baru saja datang ke Rusia.
"Itu istrimu?" tanya Rendy hingga Darren menoleh ke arah Shelby. Shelby yang ditatap langsung memutuskan pandangannya.
"Kami sudah bercerai," jawab Darren dengan santai.
"Apa?! Kau sudah bercerai?" tanya Rush.
"Kenapa?" tanya Darren.
"Berarti aku boleh mendekati mantan istrimu?" tanyanya lagi dengan antusia, membuat semua yang ada di meja menggeleng.
Darren terdiam, tapi tak lama dia mengangguk.
"Terserah saja," jawab Darren. Dia mengambil minum di depannya kemudian meneguknya hingga kandas.
***
Shelby mondar-mandir di depan kamar mandi. Tamu-tamunya yang tadi tengah menikmati hidangan malam mereka dan Shelby izin untuk pergi ke toilet. Sedari tadi, dia menelepon Theresia tapi Theresia tidak mengangkat panggilannya, dan karena tidak enak menunggu lama di toilet, Shelby pun langsung keluar dan tepat ketika dia keluar, ternyata dia melihat Darren yang sepertinya akan masuk ke dalam toilet lelaki. Secara refleks, Shelby berlari ke arah suaminya.
"Darren," panggil Shelby hingga Darren menghentikan langkahnya. Dia menatap Shelby dengan tatapan tak suka.
"Boleh aku minta tolong? Tolong antarkan Tristan ke unit apartemenku untuk menemani Theresia, sebab Theresia di sana hanya sendiri," pintanya dengan nada memohon.
Darren berdecak kesal. "Kau tidak salah menyuruhku seperti ini?" sindirnya.
Tiba-Tiba, tubuh Shelby terdiam. Dia lupa, tidak seharusnya dia minta tolong pada Darren.
"Ya sudah kalau begitu.”
Pada akhirnya, Shelby pun meninggalkan Darren. Dia berharap tamunya tidak akan meminta untuk diantarkan ke mana pun lagi.
Setelah Shelby pergi, dia menatap punggung Shelby lalu kembali menatap ke depan. Tiba-Tiba perasaan Darren mendadak tidak enak. Wajah Theresia langsung menubruk otak lelaki itu.
'Kenapa juga aku harus mempedulikannya?' batin Darren. Dia pun langsung melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam toilet.
***
Satu jam kemudian.
Shelby keluar dari restoran, dia berlari dengan kencang. Akhirnya setelah menemani para tamunya bincang-bincang di restoran, tamunya memutuskan untuk ke hotel dan beristirahat. Itu berarti tugasnya selesai dan setelah Shelby menerima bayaran, dia langsung berlari keluar dari restoran, memutuskan untuk segera pulang. Rasanya, dia tidak sabar.
***
Theresia memeluk tubuhnya yang terasa dingin. Gadis kecil itu sedari tadi menunggu di luar tower apartemen. Saat pukul 9 malam, Theresia merasakan rasa takut yang luar biasa. Dia sudah mengalihkan pikirannya dengan menonton video di tab milik ibunya, tapi tetap tidak bisa. Itu sebabnya dia memutuskan untuk menunggu di luar tower apartemen, sebab tentu saja banyak orang yang berlalu lalang.
Beberapa penjaga menghampiri Theresia karena Theresia duduk seorang diri di anak tangga dan Theresia menjelaskan bahwa dia sedang menunggu ibunya hingga para penjaga pun melanjutkan tugas mereka dan membiarkan Theresia menunggu di sana.
Theresia memegang perutnya yang terasa lapar, karena dia belum makan malam. Tidak ada camilan di kulkas dan rasanya sekarang Theresia ingin sekali menangis. Dia sudah menunggu selama dua jam, tapi ibunya tidak kunjung datang.
"Theresia," panggil Shelby.
Mendengar suara sang ibu, Theresia bangkit dari duduknya."Mommy!" Theresia berteriak dengan kencang kemudian berlari ke arah Shelby, sedangkan Shelby langsung memeluk putrinya.