
"Argh!" Roland membanting semua barang-barang yang ada di kamarnya. Dia merasakan emosi yang membara karena Agnia tertangkap oleh Gabriel.
Jika Gabriel berhasil menangkap Agnia, maka tentu wanita itu akan membocorkan rahasia yang dia pegang. Lalu akhirnya, dialah yang akan terkena masalah. Ini bukan soal Selo saja, tapi karena dia tahu berhadapan dengan siapa.
Roland memang tidak pernah berinteraksi langsung dengan Gabriel, tapi kabar mengenai keluarga itu sudah beredar di mana-mana, lalu sekarang dia akan berurusan dengan Gabriel jika Agnia buka mulut.
Roland menghentikan sejenak aktivitasnya yang baru saja menghancurkan semua barang. Dia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, lalu mencoba berpikir jernih.
Sekarang, Roland tidak punya pilihan apapun selain menculik Agnia dari tangan Gabriel. Dia berjalan ke arah sofa, tempat ponselnya tersimpan di sana kemudian menelepon anak buahnya.
"Cari tahu di mana markas Tuan Gabriel, setelah itu atur siasat agar kita bisa menyamar menjadi anak buahnya. Aku juga akan ikut untuk menyamar," ucap Roland. Walaupun cukup berisiko, tapi dia ingin memastikan semuanya.
***
"Matikan mesinnya," ucap Gabriel pada anak buahnya ketika melihat Agnia sudah tidak sadarkan diri setelah melewati siksaan yang tidak berujung.
Tidak ada raut kasihan di wajah Gabriel. Dia bahkan ingin mendengar teriakan yang lebih keras dari Agnia, karena ingin melihat lebih banyak kesakitan yang wanita itu terima.
Gabriel masih teringat jelas ketika Agnia menyimpan Selo di kursi roda, hingga putranya itu kedinginan karena air hujan. Dan Dia akan membalasnya berkali-kali lipat.
Anak buah Gabriel langsung masuk ke dalam ruangan, mereka menggeleng saat melihat tubuh Agnia yang tampak menghitam. Lalu setelah itu, mereka mengambil sarung tangan dan menggotong tubuhnya untuk dipindahkan ke ruang khusus, sebelum menerima hukuman yang lain.
Gabriel bangkit dari duduknya, kemudian memutuskan untuk pulang. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti," ucap Gabriel saat akan keluar, hingga anak buahnya itu pun mengangguk.
Setelah itu, Gabriel langsung keluar dari rumah yang selalu dia pakai untuk mengeksekusi.
***
"Dad, kau dari mana?" tanya Grisya ketika Gabriel masuk ke dalam mansion.
"Daddy ... Daddy baru saja bermain golf bersama Paman Justin," ucap Gabriel berbohong membuat Grisya berdecak. Dia benar-benar heran dengan keluarganya.
Entah itu Selo, Gabriel ataupun suaminya, menurut dia yang sebagai mantan detektif, mereka bertiga menyembunyikan sesuatu yang entah apa itu.
"Daddy jangan berbohong, Paman Justin, 'kan, sekarang sedang di London."
Gabriel menggaruk kepala yang tak gatal. "Sudahlah, pokoknya bukan Justin pamanmu," kata Gabriel kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Grisya.
"Aku benci ketika jiwa ingin tahuku meronta-ronta," ucap Grisya kemudian dia keluar dari mansion dan memutuskan untuk pulang. Tadi dia datang ke sini hanya untuk mengantarkan sesuatu pada Amelia.
Gabriel kini mendudukkan diri di sofa sembari bersandar. Lelaki itu tampak sedang memikirkan sesuatu, hingga tak lama terdengar suara derap langkah yang ternyata adalah Selo.
"Dad, kau dari mana?" tanya Selo. Dia mendudukkan diri di seberang Gabriel.
"Selo, andai kau bertemu Agnia, apa yang akan kau lakukan?"
"Menghancurkannya," jawab Selo tanpa ragu membuat Gabriel menganggukan kepala.
"Jangan kotori tanganmu, biar Daddy saja yang mengurusnya," jawab Gabriel membuat Selo membulatkan mata karena tiba-tiba sang ayah berkata seperti itu.
Gabriel tidak menjawab, tapi dari wajahnya Selo sudah mengetahui jawaban pertanyaan tersebut. "Di mana dia? Aku ingin menghancurkannya dengan tanganku sendiri."
Selo bahkan bangkit dari duduknya, kemudian menatap sang ayah dengan sorot tak sabar. Dia ingin segera membalas apa yang sudah Agnia lakukan berkali-kali lipat.
"Selo, duduk," ucap Gabriel membuat Selo tersadar hingga dia pun kembali duduk.
"Sudah Daddy bilang, biar itu menjadi urusan Daddy. Kau fokus saja pada hal yang sedang kau lakukan. Hasil akhirnya nanti kau juga akan tahu," ucap Gabriel kemudian bangkit dari duduknya, karena tidak ingin Selo terus bertanya tentang di mana dia menyekap Agnia.
Sepeninggal Gabriel, Selo terdiam. Di sisi lain dia ingin menghukum Agnia dengan tangannya sendiri, tapi dia sudah menjadi mualaf dan tidak ingin mengotori tangannya lagi.
Tidak ada yang tahu bahwa dia mempunyai darah dingin seperti Gabriel. Selo mungkin terlihat tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti ini, tapi nyatanya dia justru lebih kejam daripada Gabriel. Beberapa kali dia mengeksekusi lawan yang ingin menjatuhkan perusahaannya dengan cara lebih dari sang ayah.
Jika Gabriel senang menyiksa lawan dengan cara yang mematikan, maka Selo lebih dari itu. Namun sekarang, dia tidak bisa berbuat banyak. Pertama, ayahnya melarang, kedua dia sudah menjadi seorang mualaf, hingga tidak mungkin untuk melakukan hal kotor lagi.
"Kau kenapa?" tanya Maira yang tiba-tiba datang.
"Maira, bisakah kau telepon Bianca? Tanyakan dia sedang apa dan apakah dia ada rencana untuk keluar? Aku ingin mengikutinya," ucap Selo.
Maira mengutak-atik ponsel kemudian menelepon Bianca. "Bianca, kau ada di mana?" tanyanya.
"Aku sedang berada di rumah sakit, memangnya kenapa?"
"Kapan kau akan pulang?" tanya Maira.
"Entahlah, aku menunggu Daddy menjemputku."
"Ah, kebetulan sekali. Biar aku yang menjemputmu, oke?" tanya Maira.
"Baiklah."
Maira mematikan panggilannya kemudian menoleh pada Selo. "Cepat jemput Bianca. Dia tidak membawa mobil."
Secepat kilat, Selo bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah kamar untuk mengganti pakaiannya. Dia kini mematut diri di cermin. Lelaki itu ingin tampil rapi di hadapan Bianca, walaupun pada kesehariannya, dia selalu terlihat tapi. Namun, dia hanya ingin mempunyai nilai plus di mata wanita itu.
Setelah yakin bahwa dirinya rapi, Selo keluar dari kamar dan berjalan dengan semangat.
***
Di sinilah Selo berada, di depan rumah sakit tempat Bianca praktek.
Setengah jam berlalu, tapi Bianca tidak kunjung keluar membuat Selo merasa gelisah. Baru saja dia akan masuk untuk menemui wanita itu, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat Bianca berjalan dengan Dokter Adrian.
Emosi langsung mendera lelaki itu, tapi dia berusaha untuk tetap tenang dan tak memperlihatkan bahwa dia sedang cemburu.
"Bianca," Panggil Selo.
Bianca menoleh kemudian menghela napas. Entah kenapa, dia merasa tidak nyaman Selo terus menghampirinya, dan tentu saja raut wajah itu ditangkap oleh Selo. Hingga