Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Merajuk


"Kau pasti akan seperti dulu lagi," kata Shelby dengan suara yang memberat. Dia bahkan belum berani menatap Darren.


Mendengar ucapan itu, Darren tidak menjawab. Dia malah merebahkan lagi kepalanya di bantal, lalu setelah itu dia memeluk Shelby dengan erat dan tak lama Shelby dibuat terkejut dengan tubuh Darren yang bergeta


Sedetik kemudian, terdengar suara tangis dan sekarang Darren sedang menangis sambil memeluk Shelby. Dia merapatkan wajahnya ke punggung istrinya, hingga Shelby merasakan punggungnya basah karena tangisan Darren.


Darren menangis karena tidak percaya bahwa Shelby kembali mengandung. Dia begitu bahagia hingga tidak bisa menghentikan tangisnya. Tidak bisa dikatakan lagi betapa bersyukurnya Darren saat ini, dan Shelby cukup terkejut dengan reaksi Darren. Dia pikir dia akan seperti dulu. Dia pikir Darren akan berubah, tapi ternyata Darren malah menangis.


Beberapa saat berlalu, Darren menjauhkan tubuhnya dari tubuh Shelby kemudian dia menghapus air matanya dan tepat ketika itu, Shelby berbalik hingga kini pasangan suami-istri itu berhadap-hadapan dan sungguh Shelby tidak percaya melihat Darren seperti ini.


Darren mengelus pipi istrinya.


"Terima kasih." Hanya itu yang Darren katakan membuat Shelby sedikit bingung.


"Maksudmu?" tanya Shelby.


"Terima kasih karena sudah kembali mengandung," jawab Daren dengan suara yang amat pelan.


Sepertinya tangisan Darren masih belum cukup. Setelah mengatakan itu, dia menyimpan kepalanya di bahu Shelby kemudian menangis lagi dan kali ini tangannya membelai perut istrinya, membuat Shelby menutup mulut. Rasa khawatir Darren akan berubah hilang begitu saja. Ketika melihat Darren seperti ini.


"Kau tidak akan seperti dulu lagi?" tanya Shelby yang mengulang pertanyaan.


"Aku tidak akan mungkin berubah seperti dulu lagi. Aku bersyukur kau mengandung lagi, aku tidak akan pernah mengulangi kesalahanku," jawab Darren. Kali ini dia berusaha untuk tidak menangis dan perlahan, Shelby maju. Wanita itu berhambur memeluk suaminya.


Saat mereka saling memeluk, tiba-tiba terdengar suara ketukan. Rupanya Theresia mengetuk pintu kamar, karena sedari tadi kedua orang tuanya belum keluar padahal sarapan sudah siap di meja makan, dan mereka pun harus segera pergi ke sekolah.


"Biar aku saja," kata Shelby saat Dareen akan turun. Shelby pun turun dari ranjang kemudian wanita cantik itu langsung berjalan ke arah pintu, lalu membuka pintu hingga Theresia langsung menatap Shelby dengan bingung ketika melihat Shelby seperti orang habis menangis, bahkan terlihat ada jejak air mata di pelupuk mata ibunya.


"Apa Daddy melukai Mommy lagi?" tanyanya yang menyangka Shelby menangis karena Daren. Seketika Theresia dilanda amarah, dia bahkan langsung masuk menerobos tubuh ibunya membuat mata Shelby membulat. Baru saja dia akan menegur ayahnya, Theresia menghentikan niatnya ketika melihat sang ayah sama seperti ibunya, seperti habis menangis.


"Kalian kenapa?" tanya Theresia, dia menatap Shelby dan Daren bergantian.


Darren bangkit dari berbaringnya, turun dari ranjang kemudian lelaki tampan itu langsung berjalan ke arah Theresia. Dia menekuk kakinya, menyetarakan diri dengan putri bungsunya.


"Theresia," panggil Darren.


"Daddy, sebenarnya kalian kenapa?" tanya Theresia yang mengulangi pertanyaannya.


"Theresia, bagaimana jika kamu mempunyai adik? Apa kau senang?" tanya Darren.


Tiba-Tiba, Theresia terdiam. Dia tidak langsung merespon ucapan Darren. Entah kenapa rasa sesak langsung menghinggapi gadis yang sebentar lagi akan menginjak remaja itu mengerti Kenapa kedua orang tuanya seperti ini ? Dia yakin kedua orang tuanya menangis karena bahagia dan yang membuat Theresia sesak adalah ayahnya. Dia mengalami masa kecil yang pahit, tapi sekarang calo adiknya sepertinya akan mendapat kasih sayang ayahnya, berbeda dengan dia dulu. dan Theresia merasa itu tidak adil.


"Oh, Mommy hamil?" tanya Theresia dengan dinginnya.


Darren pikir Theresia akan senang, tapi bahkan wajah Theresia sama sekali tidak terlihat bersahabat.


"Kau tidak senang?" tanya Daren


"Tidak, aku senang," dusta Theresia, "sebentar lagi aku sekolah, ayo cepat." Setelah mengatajn itu, Theresia meninggalkan kamar membuat Shelby bingung karena Theresia melewatinya begitu saja.


Shelby dan Darren saling tatap. Sepertinya mereka tmengerti dengan apa yang dilakukan oleh Theresia, tapi di sisi lain Darren mengerti dengan apa yang dirasakan oleh putrinya. Dareen langsung menegakkan tubuhnya hingga Shelby langsung menghampiri suaminya.


"Kita bisa berbicara dengan pelan pada Theresia," kata Shelby hingga Darren mengangguk.


***


"Theresia, kau kenapa?" tanya Tristan ketika Theresia masuk ke kamar dan menutup pintu dengan membantingnya, hingga Tristan yang sedang bersiap untuk sekolah, menoleh.


Thersia tidak menjawab. Dia berjalan ke arah meja belajarnya kemudian memasukkan buku dengan emosi,terbayang masa kecilnya yang penuh dengan kepahitan, dan sekarang dia melihat ayahnya begitu antusias menyambut calon adiknya. Ini adalah hal yang tidak adil untuknya.


Mungkin Theresia hanya butuh sedikit waktu untuk menerima kehamilan ibunya, apalagi yang dialami Theresia saat masa kecilnya tidak mudah, tentu saja dia merasa iri ketika ayahnya menyambut kehamilan ibunya dengan penuh sukacita.


Tristan benar-benar bingung dengan apa yang dilakukan oleh Theresia, hingga dia pun langsung menghampiri adiknya.


"Theresia, sebenarnya kau ini kenapa?" tanya Tristan, bahkan ketika dia mendekat, dia mendengar isakan dari Theresia.


Theresia tidak membalas, dia malah memasukkan buku-bukunya ke dalam tas hingga Tristan langsung menepuk bahu Theresia.


"Jangan ganggu aku!" teriak Theresia membuat Tristan terpekik.


Teriakan Tristan membuat Theresia semakin emosi, hingga dia langsung membanting tas ke hadapan saudaranya. Mengetahui ibunya hamil dan teringat rasa sakitnya di masa lalu, dia mendadak emosi karena dia juga mengingat betapa ayahnya menyayangi Tristan dan selalu membedakannya.


Tristan benar-benar menatap Theresia dengan tatapan bingung. Tadi adiknya baik-baik saja, tapi sekarang ketika datang ke kamar, adiknya sudah berubah.


Tristan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Dia tahu menghadapi Theresia dengan emosi hanya akan memperburuk keadaan, hingga dengan pelan Tristan berjalan ke arah Theresia.


"Sebenarnya kau ini kenapa? Apa yang mengganggumu?" tanya Tristan. Dia berbicara dengan lemah lembut hingga emosi Theresia sedikit mereda.


"Tristan, kau tahu bahwa aku selalu iri denganmu?" tanya Theresia dengan berlinang air mata. Pada akhirnya dia kembali mengungkit rasa sakitnya.


"Apa maksudmu? Tolonglah jangan berbelit-belit. Aku sungguh tidak mengerti," kata Tristan.


"Dari kecil kau selalu mendapatkan apapun dari Daddy. Kau selalu mendapatkan yang terbaik, apapun yang kau mau kau selalu mendapatkannya, sedangkan aku? Aku hanya bisa bersabar jika aku menginginkan sesuatu. Aku hanya bisa menunggu Mommy membelikannya, berbeda denganmu yang selalu mendapatkan hal yang kau inginkan," ucap Theresia dengan berapi-api.


Tristan masih belum mengerti masalah Theresia di mana. "Theresia, aku tak paham apa yang kau katakan," ucap Tristan.


"Kau tahu sekarang Mommy mengandung lagi?!" teriak Theresia.


Tristan membulatkan matanya dan sekarang Tristan mengerti dengan apa Theresia rasakan.


"Jadi sekarang maumu bagaimana, apa kau tidak suka Mommy mengandung lalu? Ingin Mommy untuk menggugurkan kandungannya?" tanya Tristan hingga Theresia merasa jawaban Tristan malah semakin memojokkannya.


"Sudahlah, kau tidak akan mengerti," kata Theresia dengan gemas.


Darren keluar dari kamar ketika mendengar suara teriakan dari kamar kedua anaknya, dan setelahl itu dia berjalan ke arah kamar Tristan dan Theresia lalu membuka pintu. Dia melihat tas dan buku-buku Theresia ada di lantai, sedangkan Tristan langsung menoleh ke arah Darren.


"Ada apa ini?" tanya Darren.


Theresia yang mendengar suara ayahnya, langsung pergi ke kamar mandi membuat Tristan menggeleng.


"Tristan, ada apa?" tanya Darren.


Tristan pun menceritakan semuanya tentang apa yang Theresia katakan. Dia meniru semua ucapan yang keluar dari adik kembarnya.


Darren mengusap wajah kasar saat mendengar apa yang diucapkan oleh Tristan. Seandainya dia tahu reaksi Theresia akan seperti ini, dia pasti tidak akan memberitahukannya terlebih dahulu.


"Ya sudah, hari ini kau pergi bersama supir dulu oke,” kata Darren hingga Tristan mengangguk. Sepertinya, Darren harus meluangkan satu hari untuk Theresia dan untuk membuat Theresia tetap tenang.


Tristan dengan segera mengambil tasnya kemudian dia keluar dari kamar untuk sarapan, sedangkan Darren juga ikut keluar. Dia berencana mengambil ponsel dan menelepon sopirnya untuk menjemput Tristan.


Darren kembali lagi ke kamar anaknya, lemudian dia berjalan ke arah kamar mandi. Terdengar isakan dari dalam dan dia tahu Theresia sedang menangis.


'Tuhan, ternyata aku sudah menorehkan luka yang sangat dalam untuk putriku.' Di satu sisi dia sedih, tapi satu sisi dia senang karena Shelby kembali mengandung. Dia merasa sedih karena Theresia seperti ini.


"Theresia," panggil Darren."Ayo kita bicara," ajak Darren lagi.


Tidak ada sahutan dari dalam. Theresia malah menyalakan keran agar tangisnya tidak terdengar. Darren benar-benar bingung.


"Theresia jika kau tetap di dalam, Daddy akan mendobrak pintu," kata Darren lagi. Namun, sepertinya Theresia tidak mengindahkan panggilan Darren hingga pada akhirnya Darren langsung membuka kamar mandi lewat kunci yang terpasang di ponselnya, karena tentu saja pintu kamar mandi menggunakan teknologi smart lock hingga bisa diatur dari ponsel.


Tepat ketika pintu terbuka, Darren langsung berjalan. Ternyata Theresia sedang duduk di toilet sambil menangis sesenggukan. Dia mematikan keran air kemudian dia menghampiri putrinya lalu menekuk kaki, menyetarakan diri dengan Theresia, berusaha menggapai tangan Theresia tapi Theresia menepis tangan sang ayah. Namun, Darren tidak menyerah.


"Ya sudah kau boleh menangis sepuasnya. Daddy akan menunggu di sini," ucap Darren pada akhirnya, hanya ini yang bisa Darren lakukan. Sebab, dia tahu membujuk Theresia tidaklah mudah dan benar saja, wanita cantik itu langsung berjalan keluar melewati tubuh Darren begitu saja, dan setelah itu Theresia langsung mendudukan diri di sofa. Dia tidak mau menatap ke arah ayahnya.


Darren langsung mengelus rambut putrinya.


"Kau tidak senang Mommy mengandung?" tanya Darren.


"Daddy pikir saja sendiri," jawab Theresia.


Sekarang Darren benar-benar bingung bagaimana cara menghadapi putrinya.


"Ya sudah kalau begitu, kau tenangkan dirimu dulu. Jika kau sudah tenang, ayo kita bicara," kata Darren. Setelah itu, dia bangkit dari duduknya kemudian lelaki tampan itu langsung keluar dari kamar Theresia.


"Tidak peka sekali," ucap Theresia, dia seperti wanita lain yang ingin dibujuk tapi selalu mengutamakan gengsi, padahal Darren sudah membujuknya.