
Gengs maafin ye baru update aku fokus nganterin anakku terapi.
Lutut Agnia tiba-tiba melemas wanita itu dilanda kepanikan. Bagaimana jika obat itu bereaksi pada tubuhnya, sedangkan tadi dia memberikan obat di kopi Selo dengan jumlah yang banyak.
Aghnia memegang nakas berusaha menyeimbangkan dirinya, dia pun langsung mengutak-atik ponselnya untuk menelepon seseroang.
“Tolong aku, aku tak sengaja meminum obat itu.”
“Tunggu sebentar, akan ada orang yang mengantar obat penawar.” Balas orang itu.
Setelah mematikan panggilnya, Agnia berusaha untuk terus menggerakkan kakinya, ia tidak boleh membiarkan otot-ototnya kaku. 20 menit berselang ponsel Agnia berbunyi kembali, ternyata orang itu mengabari bahwa ada seseorang di depan apartemennya yang membawakan obat penawar.
Dengan pelan, Aghnia membuka pintu kamar kemudian wanita itu langsung melihat kesana kemari, memastikan Sello tidak ada dan ketika yakin Sello sudah masuk kedalam kamar, Agnia langsung keluar dia berjalan dengan kaki yang memberat.
Beberapa kali Aghnia hampir tumbang karena kakinya terasa lemas, hingga akhirnya wanita itu bisa mencapai pintu dan membukakan pintu tersebut. “Terima kasih.” Dengan cepat Agnia mengambil penawar itu, kemudian dia masuk ke dalam dan lansung meminum obat tersebut.
•••
Roland baru saja mematikan panggilan dari seseorang, kemudian dia menoleh lalu setelah itu ia tersenyum ternyata mobil sang Kaka sudah terparkir di pekarangan. Roland pikir, Freed tidak akan menginap. Tapi ternyata, mobil kakanya masih terparkir.
Roland turun dari mobil, kemudian masuk ke dalan. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah tampannya karena dia merasa senang setelah melewati makan malam bersama Bianca di pinggir pantai
“Roland Dari mana saja kau?’ ucap Chelsea saat Roland masuk kedalam rumah.
“Mommy kau mengagetkanku,” jawab Roland.
“Kau dari mana, kakakmu menunggumu dari tadi hampir saja dia pergi lagi, kau seperti tidak tahu kakakmu saja.” Ya, faktanya jika pun pulang ke Rusia, Fred jarang sekali menginap di rumah orang tua angkatnya, dia lebih suka menginap di hotel. Namun dari tadi, Chelsea terus menahan Freed
“Sebentar aku akan menghampirinya dulu.”
Roland pun bergegas menemui sang kakak dan benar saja ternyata sang Kakak yang sedang berada di balkon.
“Feeed!” panggil Roland
“ Kau dari mana?” tanya Freed.
“Aku baru menemani Bianca makan malam.”
“ Apa kau mencintai wanita tadi” tanya Freed.
“Kau mencintainya tapi kenapa kau ....” tiba-tiba Freed menghentikan ucapannya.
“Kenapa apa?” tanya Roland dengan waspada.
“ Ya sudah aku akan pergi sekarang.”
“Kenapa kau tidak menginap di sini?” tanya Roland.
“Aku akan menemui temanku dulu. Besok aku akan pergi ke kantormu," ucap Freed.
“Kau menunggu aku hanya untuk menanyakan ini?” tanyanya lagi.
“Hmm.” Freed menjawab dengan deheman, seraya berbalik dan pergi meninggalkan adiknya. Selalu seperti ini, Freed tidak pernah berbasa-basi dan selalu datar. Setelah Freed pergi, Roland pun berjalan ke arah kamarnya dia langsung berganti pakaian dan langsung berbaring di ranjang.
Setelah berbaring, Roland langsung mengutak-ngatik ponselnya dan langsung menelpon Bianca, dan ternyata Bianca mengangkatnya.
***
Bianca mematikan panggilan, ternyata Roland meneleponnya saat dia akan tertidur, hingga mereka hanya berbincang-bincang sebentar. keduanya memutuskan untuk mengakhiri panggilan karena Bianca mengantuk. Bianca menyimpan ponselnya di samping kemudian wanita itu pun terlelap.
Malam berganti pagi, Bianca terbangun dari tidurnya hari ini rasanya tubuhnya terasa lemas sekali, apalagi dia sedang dalam masa periode. Seandainya hari ini dia tidak ada praktek sudah dipastikan dia tidak akan pergi ke rumah sakit
Setelah selesai bersiap, Bianca mematut diri di cermin, tampilannya sudah rapi dan sudah sangat fresh dia pun keluar dari kamar.
“Morning, Mom ... dad.” Sapa Bianca pada Maria dan Lydora yang sudah berada di meja makan.
“Morning, apa kau ada praktek hari ini, jam berapa kau pulang?” tanya Lyodra.
Bianca menarik kursi kemudian menundukkan dirinya. “Entahlah jika tidak ada operasi, mungkin aku akan pulang dengan cepat.” Bianca menarik piring, kemudian menyimpan roti di piring lalu mengoleskan selai roti.
Sarapan pun selesai, Bianca langsung bangkit dari duduknya kemudian pamit kedua orang tuanya dan pergi keluar. Setelah masuk mobil, Bianca memastikan tidak ada yang tertinggal hingga dia pun langsung menjalankan mobilnya dan keluar dari gerbang. Tepat saat Bianca keluar dari gerbang, ada mobil yang mengikuti mobil Bianca..Siapa lagi kalau bukan Selo
Rupanya setelah semalam bertemu dengan Bianca tidak bisa tertidur, wajah Bianca dan kenangan mereka terngiang-ngiang di otak lelaki tampan itu, hingga pada akhirnya Ia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dan memutuskan untuk mengikuti Bianca, hari ini ia ingin melihat Bianca dari kejauhan.
Jalanan begitu padat, hingga mobil berhenti Bianca berhenti begitu pun mobil Sello dan mobil-mobil yang lain, dan ketika jalanan sudah lancar, Selo mengerutkan keningnya kala mobil Bianca tidak maju seperti mobil yang lainnya.
Tanpa sengaja, Sello melihat ke arah samping sebuah mobil yang mengebut sepertinya mobil itu kehilangan kendalinya. Mata Sello membulat saat sepertinya mobil itu akan menabrak mobil Bianca, dan seketika itu juga Selo maju kemudian menabrak mobil Bianca hingga mobil wanita itu langsung maju ke depan dan akhirnya mobil Sellolah yang tertabrak oleh mobil yang hilang kendali.
Bianca terpekik ketika ada yang menabraknya dari belakang, dia tidak mengerti kenapa mobilnya tidak bisa dijalankan, seingatnya dia sudah menservisnya kemarin.
Dia menoleh ke arah belakang. Lalu menutup mulut tak percaya saat melihat tabrakan di depan di belakangnya, ternyata mobil yang menabraknya adalah mobil yang menyelamatkannya. Jika mobilnya tidak ditabrak ke depan mungkin dialah yang akan terlibat kecelakaan
Seketika Bianca langsung turun dari mobil, dia langsung melihat pada orang yang berkerumun.
“Sello!” Bianca berteriak histeris ketika Selo dikeluarkan oleh orang-orang yang membantu. nafasnya terasa tercekat, karena Sello menabrak mobilnya hingga kini selolah yang mengalami kecelakaan.