
“Dad, bagaimana mungkin kau tega melakukan itu padaku!” protes Sello, ia memang tahu dan menyangka bahwa sang ayah akan menahan semua fasilitas dan menarik semua yang ia nikmati selama ini. Tapi ia tidak menyangka tebakannya benar, ia pikir sang ayah akan memberinya teloransi.
“ Kenapa, kau menyesal? tidak Sepertinya kau tidak menyesal.”Gabriel berucap sinis.
“Aku menyesal, Dad," jawab Sello. “Tapi aku ini putramu. Walaupun dia menantumu, tapi dia hanya orang lain!"
“ Tutup mulutmu Sello!’ teriak Gabriel, hingga Sello langsung menunduk, tidak berani lagi menatap sang ayah, ia memutar otak bagaimana caranya agar ayahnya membatalkan keputusannya.
“Selama ini Daddy sudah mendidikmu dengan baik. Daddy sudah mengajarkanmu tentang arti kesetiaan. Lalu kenapa tidak ada yang kau turuti. Apa kau tidak ingat, kau mempunyai dua adik wanita, bagaimana jika dia menanggung karma atas perbuatanmu.”
“ Aku menyesal, Dad. Aku benar-benar menyesal. Aku berjanji, tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Sello dengan kekeh.
“Tapi dari wajahmu menunjukkan yang sebaliknya. Kau sama sekali tidak terlihat menyesal.”
Sello tampak salah tingkah. Namun, sebisa mungkin dia tetap tenang di hadapan Gabriel. “Daddy, kumohon. Selama ini aku sudah membangun perusahaan dengan pesat ...”
“Tapi kau mengkorupsi dana perusahaan yang selama ini Daddy dan kakekmu bangun dengan susah payah!” Sello terdiam saat mendengar ucapan Gabriel, ia memang menggelapkan dana untuk kehidupan Aghnia dan kehidupannya, ia sudah menyimpannya serapih mungkin agar sang ayah tidak curiga tentang dana yang dia gelapkan. Tapi dia lupa, Ayahnya adalah orang yang paling teliti, apalagi jika berkaitan dengan perusahaan.
“Daddy,.aku mohon. Aku akan berlutut pada Bianca dan memohon ampun padanya, asal Daddy tidak mencabut semua yang aku pakai selama ini.” Sello berbicara dengan nada menggiba.
“ Tutup mulutmu, keluar dari ruangan ini dan jangan pernah lagi kembali ke mansion ini, kau harus merasakan bagaimana kerasnya hidup di luar dan tanpa koreksi dari keluarga Josephine,” ucap Gabriel, Sello kembali menunduk ia menggigit bibirnya, bayang-bayang dia akan hidup susah menari-nari di otaknya
“Keluar!” teriak Gabriel. Tak lama, Gabriel langsung memegang dadanya yang terasa sesak karena berteriak dan tak bisa membendung emosinya. Pada akhirnya, Sello pun bangkit dari duduknya, kemudian ia keluar dari ruangan sang ayah.
Sello pikir, mungkin Gabriel sedang emosi dan ia berpikir, akan membujuk sang ayah lain waktu dan menunggu emosi ayahnya sudah stabil. Saat sudah turun dari lift, Sello menghentikan langkahnya saat di depannya ada Amelia. Rupanya Amelia baru saja akan naik.
“Mom!” panggil Sello, Amelia membuang muka saat bertemu putranya. Tapi tak lama, ia menoleh lagi ke arah putranya.
“keluar kau dari sini!” titah Amelia.
“Ku mohon dengarkan penjelasanku, Mom,” pinta Sello dengan nada memelas.
“Jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di sini!” Amelia berucap dengan tegas, ia yang tadinya akan menaiki lift langsung berbalik dan memilih untuk pergi ke kamarnya
Sello keluar dari mansion kedua orang tuanya, kemudian ia langsung berjalan ke arah mobilnya. Saat ia akan membuka pintu mobil, tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya, dia adalah Ratine, orang yang selama ini mengatur mobil-mobil mewah milik Gabriel dan keluarganya.
“Maaf tuan. Saya diperintahkan oleh Tuan Gabriel untuk meminta kunci mobil yang Anda gunakan!” mata Sello membulat saat mendengar ucapan Ratin. “Tidak, aku tidak mau memberikan mobilku,” Sello menyalakan mobilnya. Namun, saat ia akan membuka pintu mobil, mobil terkunci kembali, ternyata Ratin mengaktifkan kunci otomatis, hingga Sello tidak bisa masuk.
•••
Bianca terbangun, ia mengejar kemudian membuka matanya. Ia melihat ke sekelilingnya, saat ia membuka mata dan menikah ke kanan, matanya langsung bersihbobrok dengan Roland yang juga sedang menatapnya.
Saat menyadari Roland ada di sisinya, Bianca langsung memalingkan tatapannya ke arah lain, ia begitu malu menetap lelaki di sampingnya ini. Bahkan setelah ia mengecewakan Roland, berkali-kali Roland tetap ada di sisinya.
“Semua akan baik-baik saja, Bi.” Roland menggenggam tangan Bianca, ia menangis tergugu. Padahal dia baru saja membuka matanya, tapi detik itu pula, rasa sakit kembali menghantam Bianca.
15 menit berlalu, Roland bangkit dari duduknya kemudian ia berjalan ke arah nakas untuk mengambil air. Setelah itu, Roland berjalan lagi ke arah berangkar. “Bianca!” panggil Roland, ia menempuk lembut bahu Bianca.
Bianca yang masih menangis berusaha untuk menghentikan tangisnya. “Bianca kau membutuhkan minum. Ayo minum, agar kau sedikit tenang," titah Roland, Bianca menghapus air matanya, kemudian menoleh ke arah Roland. Lalu setelah itu, Roland membantu Bianca untuk duduk.
“Te-terima kasih Roland,” ucap Bianca dengan terbata-bata, Bianca memberikan gelas pada Roland, setelah itu Roland menyimpan gelas tersebut kemudian menundukkan dirinya di kursi, lalu mendekat kursi ke arah brangkar.
“Kau tidak sendiri, Bianca,” ucap Roland. Setiap mendengar ucapan Roland yang begitu halus. Rasanya, hati Bianca berdesir, bodohnya ia menyia-nyiakan lelaki seperti Roland
“Dari mana kau tau aku di sini?” tanya Bianca yang berusaha mencoba mencairkan suasana, agar tidak terasa canggung. Bianca berusaha tersenyum, ia malu jika menampilkan wajah sedihnya, walaupun sedari tadi, Roland sudah melihat dia menangis
“Aku tahu dari Celine,” jawab Roland, dan mereka kembali terdiam.
“Bianca kau tidak perlu menangis lagi. Ada aku disini,” kata Roland tiba-tiba, Bianca yang tadinya menunduk langsung melihat ke arah Roland.
Lihatlah, lelaki ini, lelaki yang mengejarnya. Tapi dia menyia-nyiakannya dan malah memilh suaminya yang telah melukainya.
“Ro-Roland!” panggil Bianca dengan bibir bergetar.
“Apa kau ingin sesuatu?” tanya Roland.
“Bo-bolekah aku memelukmu?” Pinta bianca dengan mada malu-malu. Roland tidak menjawab, ia malah bangkit dari duduknya kemudian ia mendudukkan diri di sisi Bianca, lalu ia menarik tangan Bianca dan membawa Bianca ke dalam pelukannya.
Saat berada di pelukan Roland, Bianca kembali menumpahkan tangisannya “Terima kasih, masih mau menemui wanita jahat sepertiku,” lirih Bianca dengan di sela tangisnya.
Roland melepaskan pelukannya dari Bianca, kemudian ia menghapus air mata wanita yang ia cintai. “Kau tidak jahaat, kau sama sekali tidak jahat. Jangan melihat lagi ke belakang, Masih banyak orang yang menyayangimu!” Roland menutup ucapannya dengan tersenyum, lalu ia kembali membawa Bianca ke dalam pelukannya.