Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Daren pergi


“Ada apa dengan Theresia?” tanya Shelby ketika Dareen masuk ke dalam kamar.


Dareen terkekeh, kemudian dia menghampiri istrinya. Bukannya menjawab dia malah menggendong tubuh Shelby membuat Shelby terpekik. Hingga Shelby mengalungkan tangannya pada leher Dareen.


“Dia merajuk seperti biasa. Sepertinya dia teringat masa lalu," balas Dareen, ketika sudah membaringkan tubuh Shelby di ranjang. Lalu setelah itu dia pun ikut berbaring di sebelah Shelby.


“Maksudmu?" Tanya Shelby. Dareen pun menceritakan apa yang terjadi di kamar Theresia, hingga Shelby terdiam, pikiran wanita itu mengembara.


”Aku takut Theresia membenci adiknya.”


“Tidak akan, Theresia tidak akan membenci adiknya. Aku akan berusaha membujuknya dan aku akan berusaha untuk meyakinkan Theresia," jawab Dareen. Walaupun dia sendiri tidak yakin. Theresia mempunyai watak seperti dirinya, tidak mudah menerima apapun dan butuh waktu yang lama untuk menerima semuanya.


***


Setelah sang ayah pergi, Theresia langsung membanting pintu gadis kecil itu kesal karena ayah tidak membujuknya. Padahal Dareen membujuknya, tapi di otak Theresia itu belum cukup.


Theresia langsung berbalik, kemudian Gadis remaja itu langsung mendudukkan diri di ranjang Dia memutuskan untuk mogok bicara pada kedua orang tuanya. Sejatinya mungkin Thresia hanya takut Dareen lebih menyayangi adiknya, kekhawatiran demi kekhawatiran terjadi dia takut Bagaimana jika sikap ayahnya kembali seperti dulu.


2 jam kemudian, Dareen keluar dari kamaren lelaki itu berniat untuk membujuk lagi putrinya. “Theresia!” panggil Dareen.


Theresia yang sedang menonton tabnya langsung menyimpan tab dan menyembunyikannya ke bawah bantal, dia berpura-pura berbaring dan sedetik kemudian Dareen masuk ke dalam kamar dan menggeleng saat melihat Theresia, putrinya benar-benar mirip dengannya, lelaki itu berjalan ke arah ranjang. Lalu setelah itu dia duduk di sebelah Theresia.


Ketika Dareen duduk di sebelahnya, Theresia langsung membelakangi sang ayah. “Jangan sentuh aku!” omel Theresia, ketika Daren mengusap rambutnya.


“Kau mau berbelanja?” tawar Dareen, biasanya seorang wanita akan semangat jika berbelanja, tapi tidak dengan Shelby, wanita itu selalu menolak jika di ajak berbelanja dan sekarang Dareen berharap Theresia mau dibujuk dengan berbelanja.


“Tidak mau!"


“Kau yakin tidak mau? Daddy dengan ada miniatur terbaru. Masih yakin tidak mau berbelanja. Daddy bisa membelikan semua apa yang kau mau?" tawar Dareen berhapa kali ini putrinya mau.


“Tidak usah, aku punya uang,” jawab therasia.


“Memangnya uangmu cukup? Ada keluaran terbaru, seharusnya kau sudah memiliki itu. Bagaimana jika temanmu yang memilikinya dan dia akan pamer padamu dan mengejekmu." Mata Theresia membulat saat mendengar ucapan sang ayah. Tidak, dia harus cepat mendapatkan keluaran terbaru sebelum temannya mendapatkannya.


Theresia bangkit dari berbaringnya. ”Kau mau ke mana, bukannya tidak jadi pergi?” goda Dareen.


“Ayo pergi sekarang!” omel Theresia, dia msih tidak mau menatap Dareen membuat Dareen menggeleng seraya tertawa kecil, lelaki itu pun memutuskan untuk keluar dari kamar putrinya.


Setelah beberapa saat berlalu, Theresia kembali keluar dari kamar, dia sudah rapi dan mengganti seragamnya, wajahnya menatap Dareen dengan kesal, sedangkan Shelby yang berada di sebelah Dareen hanya menggeleng melihat tingkah putrinya.


“Kita berangkat sekarang?” tanya Dareen seraya menahan tawa.


“Tahun depan!” kata theresia sambil mencebikan belikan bibirnya. Dareen yang baru saja akan bangkit langsung duduk kembali kemudian dia merangkul tubuh istrinya , membuat mata Theresia membulat.


“Kau bilang tahun depan, bukan?” tanya Dareen yang semakin gencar menggoda putrinya.


“Ya suda tidak usah!” Baru saja Theresia akan menarik lengan putrinya, Dareen dengan cepat menarik lengan putrinya.


“Maafkan Daddy, maafkan Daddy," ucap Dareen, ternyata lebih menyenangkan meladeni Theresia seperti ini, daripada dia mengajak Theresia untuk berbicara.


Dareen menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, lelaki tampan itu sesekali melihat ke arah putrinya yang sedang menatap ke arah jendela.


“Kau ingin makan terlebih dahulu?' tanya Dareen karena memang dia dan Thresia tidak sempat sarapan.


“Tidak mau," jawab Thresia. Tapi, sepertinya Thresia tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya, hingga Dareen tetap membawa mobilnya untuk berhenti di restoran


” Ayo turun kita sarapan," ajak Dareen ketika mobilnya sudah berhenti di sebuah restoran.


“Sudah kubilang, aku tidak mau." Thresia kekeh dengan jawabannya.


“Ya sudah kau tunggu di sini, biar Daddy yang masuk." Dareen turun dari mobil, kemudian lelaki tampan itu langsung berjalan ke arah restoran membuat mata Theresia membulat.


“Cih, bisa-bisanya dia tidak membujukku!” Teresia paling takut diam di mobil seorang diri, hingga pada akhirnya Gadis remaja itu langsung keluar dari mobil dan mengejar langkah sang ayah, dan Dareen langsung berbalik kemudian mengunci mobil dan menunggu Theresia untuk melangkah menghampirinya


“Aku tidak mau sarapan. Aku hanya takut di mobil sendiri,” kata Theresia. Dareen tidak menjawab. Dia malah merangkul bahu putrinya, lalu mereka pun masuk ke dalam restoran.


Dareen memesan beberapas semua menu kesukaan putrinya, dia sama sekali tidak memesan menu untuknya. Theresia menatap makanan itu tanpa berkedip, membuat Dareen menutup mulut menahan tawa..


“Aku tidak mau makan," ucap Theresia. Padahal tidak ada yang bertanya.


“Memangnya ada yang menawarimu?” tawa Dareen hampir saja meledak ketika wajah Theresia memerah, lelaki itu langsung ngambil piring kemudian memakan makanan yang dia pesan, membuat Theresia menelan ludahnya tentu saja karena dia tergoda.


Hingga perlahan Dareen menggeser piring ke hadapan Theresia. “Baiklah, aku akan makan jika Daddy memaksa," kata Theresia yang langsung memakan makanannya, hingga akhirnya acara makan pun selesai dan kini mereka keluar dari restoran.


Dan sekarang di sinilah mobil Daren terparkir, di basement mall yang dituju oleh Darren dan putrinya. Saat masu ke dalam mall, Theresia tidak mengingat lagi amarahnya pada sang ayah, dia langsung berjalan ke sana kemari dan Dareen hanya mengekor di belakang. Hingga pada akhirnya setelah berjam-jam berlalu, Theresia merasakan rasa lelah, tangan Gadis itu kosong sedangkan tangan Dareen penuh dengan belanjaan putrinya, bahkan Dareen kesulitan untuk berjalan.


“ Ayo cepat, Kenapa lambat sekali!” Omel Theresia ketika mereka akan berjalan ke basement , dia langsung menggerutu ketika Dareen berjalan dengan lambat, tentu saja karena Dareen harus membawa belanjaan anak bungsunya.


“Ia ... ia maaf,” ucap Dareen. Setelah sampai di mobil Dareen langsung menyimpan barang belanjaannya di mobil, kemudian dia berjalan kursi kemudi sedangkan Theresia duduk di kursi belakang.


“Kau tidak ingin duduk di depan?” tanya Dareen.


“Tidak mau,” jawab Thresia hingga Dareen tidak membujuk lagi putrinya dan akhirnya mereka pun sampai apartemen. Dareen turun dari mobil meninggalkan Theresia membuat mata Thresia membulat.


“Daddy, siapa yang membawa ini?” tanya Theresia ketika Dareen pergi meninggalkannya.


“Besok saja Daddy lelah.”


“Tidak mau, ambilkan sekarang,” jawabnya. Dareen yang sudah akan berbalik langsung menoleh lagi.


“ Oke Daddy akan membawanya ke dalam tapi dengan satu syarat,” kata Dareen, inilah momen yang Dareen tinggu-tunggu, yaitu bersosialisi dengan putrinya


“Syarat apa?” tanya Thresia.


“Ayo bicara, jangan menyelah ucapan Daddy kau mengerti?” kata Daren.


“Tidak mau, aku malas berbicara," jawab Thersia.


“ Ya sudah kalau begitu Tidak usah dikeluarkan.” Daren kembali berbalik hingga Theresia menghentakan kakinya.


“ Ya sudah iya,” balas Thersia yang pada akhirnya, seteju dan sekarang, Theresia kembali masuk ke dalam mobil begitu pun dengan Dareen. Dareen pikir, ia harus berbicara di mobil karena jika di apartemen pasti Thresia akan menghindar.


Kini, Sepasang ayah dan anak itu sudah duduk di kursi belakang. Dareen mengubah posisinya menjadi menyamping, kemudian dia melihat ke arah Thersia.


“Kenapa kau berubah ketika kau mengetahui Mommy hamil?” tanya Daren, Thresia memalingkan tatapannya ke arah lain, kemudian tangisnya hampir saja meledak Ketika sang ayah mengatakan itu. “Kau takut Daddy akan berubah lagi?” tebak Dareen, Theresia menunduk kemudian mengangguk.


“Ini tidak adil untukku,” jawab Theresia. Dareen mengelus kepala sang Putrinya, menguatkan agar Theerisa bercerita, dia ingin mendengar apa yang dirasakan oleh putrinya.


“Ini tidak adil. Mommy baru saja mengandung. Tapi Daddy terlihat antusias. Bagaimana jika anak yang dilahirkan Mommy adalah perempuan sedangkan aku dari kecil tidak pernah mendapatkan perhatianmu. Dari kecil aku harus merasakan pahitnya ketika kau pilih kasih kepada Tristan.. Aku bahkan hampir saja membenci Tristan karena kau terus membedakan kami, dan sekarang ketika aku belum puas dengan perhatian Daddy, perhatian Daddy teralih lagi untuk menerima kasih sayang Daddy.” Thresia menjaskaskan secara berapi-api.


“Theresia, kasih sayang Mommy dan Daddy tidak akan berkurang sedikitpun, walaupun kau sudah mempunyai adik. terlalu jahat jika Daddy mengatakan memintamu untuk melupakan mas lalu. Karena Daddy tahu itu tidak akan mungkin mudah untuk dilupakan, tapi dia hanya ingin meminta sesuatu, percaya pada Daddy, Daddy tidak akan pernah berubah, tidak ada satu persen pun kasih sayang Daddy yang terbagi untukmu.” Dareen melepaskan pelukannya agar Theresia bisa melihat ke arahnya, hingga kini Dareen menghapus air mata putrinya.


“Kau percayakan pada Daddy?” tanya Daren, Thersia mengangguk dan setelah itu dia langsung memeluk Dareen. Seperti biasa Gadis itu tidak tahan jika tidak memeluk sang ayah,.


“Ya sudah ayo turun," ajak Dareen, Thersia menggangguk, hingga mereka pun dari mobil kemudian Dareen langsung membawa belanjaan putrinya.


Belajaan putrinya begitu banyak, hingga Dareen kesulitan untuk berjalan.


”Daddy kau masih bisa menggendongku?” tanya Theresia. Bukannya menolak, Daren malah membungkuk, memberikan punggungnya, walaupun tangannya penuh dengan belanjaan. Tapi tentu saja dia tidak menolak keinginan putrinya.


Sedangkan Thersia, dia seolah sengaja ingin membuktikan ucapan ayahnya.


Dia malah meminta digendong. Padahal tangan Daren penuh oleh belanjaannya .


Beberapa hari kemudian


“Daddy, apakah Daddy benar harus pergi?” tanya Tristan, karena Dareen barusan mengatakan akan pergi karena ada pekerjan di luar kota selama beberapa hari.


“Hmm, Daddy pergi tidak akan lama,” jawab Dareen


”Daddy, aku mohon jangan pergi.” Pinta Tristan membuat Dareen mengerutkan keningnya


“Memangnya kenapa, hmm?” tanya Dareen.


Tristan ....