
Sello melihat ke sekitarnya, lelaki itu sedang berada di taman yang sangat indah. Tak lama dia melihat dua orang yang sedang duduk di kursi. Senyumnya begitu mengembang kala menyadari siapa yang duduk di kursi tersebut, yaitu Bianca dan Putri mereka.
“Bianca,” panggil Selo, hingga Bianca menoleh.
“Hallo Daddy ” toleh gadis kecil menghampiri Selo.
Selo sedikit membungkuk, dia menyetarakan tubuhnya lalu merangkul gadis kecil itu. Terlihat tatapan berbinar keluar dari sorot matanya, dia mengayunkan putrinya dengan penuh kasih sayang.
“Anak Daddy cantik sekali,” ucapnya dengan tatapan berbinar. Sello mengecup seluruh wajah putrinya, dia merasa gemas dengan gadis yang sedang berada dalam pangkuannya saat ini.
“Daddy,, turunkan aku. Aku ingin bermain,” balasnya membuat Selo terkekeh lalu menurunkannya.
Sebelum pergi, gadis kecil melambaikan tangannya. Dia berjalan ke depan meninggalkan Selo dan Bianca di sana.
Selo sedikit melangkah lalu duduk disamping Bianca. Dia menaikkan kaki ke kursi, kemudian berbaring dengan berbantalkan paha Bianca
“Kenapa kau tidak membangunkanku,” tanya Sello.
“Kau terlihat lelah, jadi aku tidak berani membangunkanmu,” jawab Bianca sambil membelai pipi Sello.
“Ya, rasanya sangat lelah. Maafkan aku tidak menemani kalian,” balas Selo menghela napasnya dalam.
Bianca tersenyum kecil, dia melihat wajah suaminya dengan tatapan dalam hingga kecupan lembut mendarat di kening Selo.
“Apa kau mencintaiku?” tanya Bianca membuat Selo tertawa.
“Mana mungkin aku tidak mencintaimu. Tentu saja, aku sangat mencintaimu.” Jawab Selo membuat Bianca tersipu malu, wajahnya langsung memerah.
“Gombal,” balas Bianca mencubit pipi Selo.
“Eh, siapa bilang. Bianca, aku benar-benar mencintaimu.” Sello tidak terima Bianca menganggapnya menggombal.
“Kenapa? Tidak percaya?” Selo yang mulai terlihat kesal, ketika Bianca masih menatapnya dengan aneh
Tawa Bianca pecah, dia merasa gemas dengan tingkah Selo yang seperti ini. Apalagi, saat Selo menunjukkan wajah cemberutnya.
“Iya, iya aku percaya.” Balas Bianca dengan masih tertawa.
“Apa kau masih mengantuk?” tanya Bianca.
“Hmm, aku masih mengantuk. Bolehkan aku tidur lebih lama disini?”
“Tentu saja,” angguk Bianca dengan senyumnya.
Selo membalas senyuman Bianca, dia merasa senang dan mulai menutup matanya. Bianca menggerakkan tangannya, dia mengelus rambut Selo dengan terus menatapnya.
Selo merasa sangat nyaman dengan apa yang sedang dilakukan oleh Bianca, sentuhan lembut Bianca di rambutnya, benar-benar membuatnya merasa nyaman. Dan inilah, salah satu hal yang di sukai oleh Selo. Dimana Bianca mengelus kepalanya hingga membuatnya tertidur dengan lelap.
Rasanya baru saja dia terlelap, Selo di bangunkan oleh teriaka putri mereka. Selo dan Bianca menoleh secara bersamaan, mereka melihat Ashilla tiba-tiba melambaikan tangannya pada mereka dengan senyum yang tidak bisa di artikan.
Ada perasaan aneh yang tengah dirasakan oleh Selo, dan itu bukanlah hal yang baik. Sello bangkit dari posisinya, kemudian dia berjalan ke arah Ashila.
“Shilla, kemari sayang," ucap Sello.
“No Daddy. Tunggu saja disana,” jawab Ashila sedikit berteriak karena jarak mereka terbilang cukup jauh.
“Ashilla,” ulang Selo.
“Jangan ikuti Ashilla Daddy” balas Ashila.
“Ashilla, kamu mau kemana?” teriak Sello, ketika Ashila berjalan mundur.
“Daddy disitu saja, bersama mommy, aku pergi dulu ke atas sana. By Mommy, By Daddy.” Perlahan, bayangan Ashila memudar dan Ashila pun menghilang.
Seketika Sello di landa kepanikan, dia berteriak beberapa kali memanggil nama putrinya. Namun dia tidak menemukannya sama sekali.
Berbeda dengan Bianca, dia kini tengah melihat suaminya dengan tatapan sendu. Matanya mulai berkaca-kaca melihat Selo seperti ini.
“Bianca, kenapa diam saja. Kemana Ashilla? Dia pergi kemana? Tadi dia disini. Ayo kita cari dia.” Ajak Selo menarik tangan Bianca.
Bianca tidak bergerak sama sekali, dia menghempaskan genggaman tangan Selo membuat lelaki itu melihatnya dengan tatapan aneh.
“Ayo Bianca,” ajak Selo.
“Selo, ayo kita pulang. Ashila sudah kembali tempatnya, dia sudah tenang di sana.” Jelas Bianca mengusap air mata yang melewati pipinya.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti, dan jangan katakana hal itu. Ayo kita harus cari Ashilla.” Sello sedikit kesal pada Bianca karena Bianca tidak mau mencari putri mereka.
Bianca menarik napasnya, dia menggelengkan kepala dengan menggenggam kedua tangan Selo menatapnya dengan penuh arti.
Pada akhirnya Selo menghempaskan tangan Bianca, kemudian lelaki tampan itu memutuskan untuk mencari putrinya seorang diri.
Namun, saat langkah kelima. Tiba-tiba dada Selo terasa begitu sesak, pandangannya mulai sedikit kabur. Bahkan dia kesulitan untuk berdiri tegap. Hingga tak lama, Selo terjatuh mengalami kejang dan tidak sadarkan diri
.***
Suasana di dalam ruang rawat Selo begitu penuh ketegangan Bagaimana tidak Selo yang baru saja selesai dioperasi dan sedang dinyatakan kritis mengalami kejang, hingga dokter dengan cepat mengambil alat pemacu jantung. Beberapa kali detak jantung Selo berhenti. Namun dokter terus berjuang.
Satu jam berlalu, akhirnya dokter berhasil menyelamatkan nyawa Sello, jantung Selo sudah kembali berdetak, Amelia yang sedang berada di ruangan hanya bisa menatap putrinya, dengan tangis yang berlinang ini sudah dua hari Selo dioperasi dan operasi Selo dinyatakan sukses walaupun Selo dinyatakan kritis dan kemarin malam Amelia baru diberitahu tentang kondisi Selo hingga Setelah dia tahu Amelia langsung menemani putranya.
Semenjak semalam Amelia tidak beranjak sedikitpun dari ruang rawat putranya, dia terus menggenggam tangan Sello dan dia tidak menyangka barusan Sello mengalami kejang.
Dokter menghela nafas kemudian mengembalikan alat kepada perawat hingga perawat itu pun langsung menyimpan alat tersebut, lalu dia menghampiri Amelia.
“Putra anda sudah melewati masa kritisnya,” ucap dokter membuat Amelia menghela nafas lega. Namun, dia masih belum bisa menghentikan tangisnya.
“Kapan anakku sadar, Dok?" tanya Amelia.
“Jika anak Anda tidak sadar dalam waktu 24 jam, mungkin anak Anda akan dinyatakan koma.”
Amelia terjatuh ke lantai. Namun dengan cepat dokter langsung menahan tubuh wanita paruh baya itu, dia tidak menyangka akan mendengar hal yang menyakitkan di mana Sello akan dinyatakan koma, jika tidak sadar dalam waktu 24 jam.
Setelah dokter pergi, Amelia langsung berjalan ke arah brangkar, kemudian wanita paruh baya itu menggenggam tangan Sello Lalu setelah itu Amelia membungkuk kemudian mendekat ke arah telinga putranya.
“Sello, Mommy mohon, bangunlah Mommy berjanji akan membantumu kembali pada Bianca, asal kau bangun,” ucap Amelia. Jangan ditanyakan betapa pedihnya Hati wanita paruh baya itu, yang pasti dia benar-benar hancur sehancur-hancurnya dan tak lama pintu ruang rawat Sello terbuka muncul sosok Gabriel yang baru saja masuk, ternyata Gabriel baru saja menjenguk Bianca di bawah.
Apapun yang terjadi pada Sello, tapi Gabriel dan Amelia tidak menyalahkan Bianca karena mereka sadar ini bukan salah Bianca melainkan sudah takdir.
Gabriel mengelus rambut Amelia, hingga Amelia menegakkan tubuhnya kemudian dia langsung memeluk Gabriel lalu menangis sesegukan. “Dad, Sello akan dinyatakan koma jika 24 jam tidak sadarkan diri,” ucap Amelia dengan tangis yang mengencang, sedangkan Gabriel sudah mendengar itu dari dokter.
3 bulan kemudian
Tidak terasa Ini sudah 3 bulan berlalu dan selama 3 bulan ini pula, Sello belum membuka matanya, lelaki itu masih setia dengan tertidurnya, Ya, pada akhirnya Sello dinyatakan koma.
Selama 3 bulan ini, ujian keluarga Gabriel benar-benar berat di mana mereka harus terus melihat Sello terbaring dan terus memejamkan matanya, sedangkan kondisi Bianca sudah bahkan bisa dibilang pulih
Setiap malam, Bianca selalu menemani Selo karena Gabriel dan Amelia pulang ke mansion mereka untuk istirahat, semua kompak saling menjaga lelaki itu.
Seperti saat ini, waktu menunjukkan pukul 02.00 malam Bianca terus menatap wajah Sello yang setia memejamkan matanya, sedari tadi dia tidak berhenti menggenggam tangan mantan suaminya.
Tak ada yang Bianca lakukan setiap malam selain menatap wajah Sello, berharap Mata Lelaki itu terbuka. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika Sello sadar dia akan menerima apapun yang Sello lakukan. Dia mau kembali pada lelaki itu.
Bianca tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang pada Sello entah dia mulai mencintai lelaki itu ataupun hanya sekedar merasa bersalah, tapi Bianca tidak memperdulikan itu, dia hanya ingin terus berada di samping lelaki yang sudah menyelamatkan nyawanya.
Bianca melepaskan genggaman tangannya dari Sello, kemudian wanita itu berniat untuk melakukan salat malam meminta pada Allah agar Sello secepatnya sadar.
Setelah selesai bersiap, Bianca langsung membuka tasnya kemudian dia mengeluarkan sajadah dan perlengkapan Sholat, Lalu setelah itu dia memulai acara ibadahnya
Setelah selesai, Bianca mengadahkan tangannya ke atas, dia memohon pada sang pencipta agar membuat Sello terbangun dari komanya, hingga pada akhirnya Bianca selesai dengan aktivitasnya. Lalu setelah itu Dia merapikan alat sholatnya dan kembali lagi berjalan ke arah brangkar
Bianca mendudukkan diri di kursi di dekat brangkar, wanita itu setiap malam tidak tertidur dia hanya duduk sambil menggenggam tangan Sello, Bianca tidak pernah mengantuk matanya seolah terhipnotis untuk terus melihat mantan suaminya, setiap detik yang dilalui Bianca di penuhi harapan, berharap bahwa Selo akan membuka matanya.
Bianca menggenggam tangan Sello begitu erat, kemudian pikirannya melanglang buana pada masa lalu
“Sello, kau tahu, kan aku menyukai pedas cepat bangun, rasanya aku rindu saat kau mengomeliku karena aku terlalu banyak banyak pedas ....”
“Sello, kau tahu kan aku sangat suka es krim, ayo bangun temani aku makan es krim. Aku rindu saat kau protes di mana aku terus makan es krim, karena kau takut Aku flu ...”
“Kau tahu kan aku selalu ingin pergi ke taman hiburan, menikmati kincir angin tapi kau selalu tidak mau karena kau takut ketinggian, tapi jika kau sadar aku akan memaksamu ikut agar kau bisa melihat pemandangan malam ....”
“ Selo, kau tahu kan aku paling tidak suka minum obat, jika kau bangun aku akan menurutimu untuk meminum obat secara rutin.
“Sello kau tahu kan ....” Bianca menghentikan ucapannya karena suaranya tenggelam dalam tangisan, kenangan-kenangan itu membuat Bianca semakin pedih.
Bianca membungkuk kemudian menyimpan kepalanya di berangkar, lalu menangis sejadi-jadinya. Dan ketika Bianca mengucapkan itu, Sello menitihkan Air matanya