
Saat menggendong Theresia Dareen berjalan dengan susah payah, tentu saja karena dia membawa belanjaan yang berat belum lagi dia harus menggendong Theresia.
"Daddy, apakah aku harus turun?” tanya Theresia ketika akan menaiki lift.
“Tidak usah,” jawab Dareen, dia menolehkan kepalanya ke pinggir. Lalu setelah itu Theresia mencium pipi ayahnya dan akhirnya mereka pun sampai.
Theresia langsung menekan kode hingga pintu terbuka dan mereka pun langsung masuk ke dalm. “Theresia Kenapa kau minta digendong Daddy, apa kau tidak lihat Daddy kesulitan?” tanya Shelby ketika mereka masuk ke dalam.
Dareen membungkuk kemudian Thresia pun langsung turun. Gadis remaja itu mengibaskan rambutnya. “Aku tidak meminta Daddy menggendongku. Daddy sendiri yang memaksaku," jawabnya membuat Shelby berdecak.
“Ya sudah istirahat, Daddy akan antarkan ini kamarmu,” kata Dareen. Setelah itu, Theresia pun berbalik, kemudian berjalan ke arah kamarnya diikuti Dareen sambil membawa belanjaan. Seetelah menaruh belanjaan putrinya, Dareen langsung keluar dari kamar, kemudian dia menghampiri Shelby yang sedang duduk di sofa. Lalu setelah itu Dareen langsung mendudukkan diri di sebelah istrinya, lelaki itu mengangkat kaki kemudian yang membaringkan dirinya berbantal kan paha Shelby, lalu setelah itu Dareen mengubah posisinya menjadi menyamping hingga wajahnya menghadap ke perut istrinya.
Shelby tertawa ketika Dareen terus mencium perutnya, karena dia merasa geli dan tak lama Dareen kembali menoleh ke arah depan..
“Berjanjilah untuk tetap baik-baik saja,” kata Dareen, entah kenapa nada itu baru terdengar penuh kesedihan.
“Kenapa kau berkata seperti itu? Apa kau tidak akan mendampingi kami?”
“Tidak, aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja,” jawab Dareen, “Dan juga .....” Dareen menjeda sejenak ucapannya, kemudian lelaki tampan itu bangkit dari duduknya. Lalu setelah itu dia kembali menggenggam tangan Shelby.
“Dann juga apa?” tanya Shelby.
“Kau sekarang istriku, mengandung anakku, tolong jangan pernah menahan apa yang kau mau, kau boleh berbelanja sepuasnya, kau boleh beli apapun yang kau mau Bahkan kau boleh juga menghabiskan semua uangku,” kata Dareen dengan penuh ketulusan. Inilah permasalahan yang belum selesai, di mana Shelby selalu menolak apa yang dia berikan.
“Tapi, aku merasa tidak berhak,” balas Shelby.
“Kau mau orang lain yang menghabiskan uangku?” Mata Shelby membulat saat Daren mengucapkan itu, seketika dia mencubit bibir Dareen.
“Kau ini ingin mati, ya!” hardik Shelby dengan sedikit emosi, membuat Dareen tertawa.
“Ya sudah kalau begitu habiskan uangku,” jawab Dareen lagi. Tanpa membalas ucapan Dareen, Shelby menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya.
“ Aku tidak ingin apa-apa, hidup bersamamu dan anak anak saja aku sudah bersyuku.”
”Apakah tandanya kau sudah mulai mengakui bahwa kau mencintaiku?” tanya Dareen. Shelby menatap suaminya kemudian mengangguk. Pada akhirnya, Shelby berpikir tidak ada yang perlu ditutupi lagi, dia mencintai suaminya dia mencintai lelaki ayah dari ketiga anaknya. Lelaki yang dulu pernah menorehkan luka yang sangat hebat, tapi lelaki ini, sekarang begitu membuatnya bahagia..
Beberapa hari kemudian
Dareen yang sedang fokus di depan laptop menghentikan aktivitasnya sejenak, kala ponselnya berbunyi, satu panggilan masuk dari kepercayaan yang memimpin perusahaan di luar kota.
“Ada apa? Tanya Dareen ketika mengangkat panggilannya. “Apa? aku harus pergi ke sana?” tanya Dareen dengan terkejut. Rupanya kepercayaan Dareen mengatakan ada yang harus Dareen urus dan tidak bisa diwakilkan, hingga mau tak mau Dareen menyetujuinya.
Pada awalnya, Dareen sudah bertekad tidak akan pergi ke manapun sebelum Shelby melahirkan. Tapi ternyata ada hal urgen yang harus dia urus hingga pada akhirnya dia harus pergi. Setelah menutup panggilannya, Dareen langsung melihat jam, ternyata waktu menunjukkan pukul 11.20 siang dia berjanji dengan Tristan dan Theresia untuk makan siang bersama.
Dareen bangkit dari duduknya, kemudian dia menyambar kunci mobil. Lalu setelah itu dia keluar dari perusahaannya untuk menjemput Tristan dan Theresia, dan ternyata ketika Dareen sampai Tristan dan Theresia keluar dari kelas, sehingga keduanya langsung menghampiri sang ayah.
“Ingin makana di restoran biasa?” tanya Dareen.
“Tidak, Daddy selalu mengajak untuk makanan ke restoran favorit kami, jadi Ayo kita makan di restoran favorit Daddy," kata Tristan hingga Dareen mengangguk dan keduanya langsung masuk ke dalam mobil diikuti Daren di belakangnya.
Dan akhirnya mereka pun sampai di restoran kesukaan Dareen. Setelah itu mereka pun masuk. Dareen tersenyum ketika melihat putra-putrinya yang sedang berdebat, pemandangan ini begitu indah untuknya hingga pada akhirnya pesanan mereka pun tiba, mereka memakan makanannya dengan lahap.
Dareen belum memberitahukan tentang dia yang akan pergi ke luar kota, Mungkin dia akan memberitahukan kepada keluarganya nanti.
***.
waktu menunjukkan pukul 08.00 malam, Darene Shelby bererta anak mereka baru saja selesai makan malam, dan sekarang mereka sedang berada di ruang tamu. Theresia sedang menggambar, sedangkan Tristan sedang menyusun lego.
Sedari tadi, Dareen duduk di sofa dan Shelby berbaring di sofa dengan berbantarkan paha Dareen. Sedari tadi, setelah makan malam Daren melamun, dia bingung harus memulai bicara dari mana tentang kepergiannya. Sebab Dia merasa tak tega harus meninggalkan keluarganya, walaupun pergi ke luar kota hanya dalam jarak waktu beberapa hari.
“Apa ada yang kau pikirkanmu. Kenapa kau melamun?” tanya Shelby, wanita cantik itu langsung duduk, setelah itu dia menatap Dareen. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak nyaman Karana suaminya terus melamun.
“Besok, aku harus pergi ke luar kota," kata Dareen.
”Haruskah kau pergi? Tidak, aku tidak mengizinkanmu pergi," ucap Shelby dengan cepat.
“Sayangku, tidak ada yang bisa pergi selain aku. meminta Daddy yang pergi pun rasanya tidak enak, Aku yang bertanggung jawab," balas Dareen.
“Daddy, Daddy tidak boleh pergi.” Kali ini Thresia yang berbicara, hingga Dareen terkekeh.
“Daddy hanya pergi sebentar. Hanya beberapa hari.”
***
Tristan keluar dari kamar, kemudian dia berencana untuk berbicara dengan ayahnya meminta ayahnya untuk tetap tidak pergi. Saat dia akan mengetuk kamar kedua orang tuanya, tiba-tiba terdengar suara dari arah dapur hingga Tristan pun melihat siapa yang ada di dapur dan ternyata sang ayah ada di dapur.
“Dad!” panggil Tristan. Dareen yang baru saja akan mengambil minum langsung terkejut ketika putranya memangginya secara tiba-tiba.
“Kau mengagetkan Daddy saja,” kata Dareen.
Tristan maju kemudian dia berdiri di depan Dareen.
“Dad, tolong jangan pergi, jangan tinggalkan kami di sini,” kata Tristan. Dareen dibuat bingung, tidak biasanya Tristan mengatakan hal seperti ini. mungkin untuk pertama kali Tristan mencegahnya pergi.
“Kenapa kau mencegah Daddy untuk pergi?’ tanya Dareen.
“Tidak, sebentar lagi kan ulang tahun Mommy Ayo kita rayakan bersama. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Daddy," jawab Tristan. Dareen menekuk kakinya, kemudian mengambil mengelus rambut putranya.
“Daddy, akan kembali sebelum ulang tahun Mommy," jawab Dareen. Sepertinya Tristan tidak bisa mencegah sang ayah.
“Ya sudah, tapi Daddy berjanji. Daddy harus tetap baik-baik saja dan kembali secepatnya.”
Setelah berbincang dengan Tristan, Dareen masuk ke dalam kamar, dia menggeleng ketika melihat Shelby sedang meringkuk dan terdengar juga isakan kecil dari wanita itu. Sepertinya, Shelby benar-benar tidak ingin Daren pergi.
Tadi, saat masuk kedalaam kamar, Shelby tidak mau disentuh oleh Dareen, wanita itu terus meringkuk tidak mau melihat ke arah suaminya.
Dareen membuka kaosnya, kemudian dia berjalan ke arah ranjang. Lalu setelah itu, lelaki tampan itu pun membaringkan tubuhnya lalu mengelus rambut Shelby.
“Sayang!” panggil Dareen.
“Jangan sentuh aku!” omel Shelby. Dareen tidak menyerah, dia memeluk saya Shelby dari belakang.
Seketika Shelby berbalik, kemudian dia langsung memeluk Dareen. “Dareen, aku ikut. Aku ingin ikut.” Dareen mengusap lembut lepala istrinya, dia merasa lucu ketika Shelby merengek.
“Tidak bisa sayangku, kau baru saja trimester 1 dan akan rentan untuk bepergian, sedangkan perjalanan cukup panjang. Aku tidak mau mengambil resiko.”
”Dareen, ayolah aku ikut," ucap Shelby yang merengek seperti anak kecil, membuat Dareen tertawa.
“Sayang, tidak usah ada yang dikhawatirkan oke, sebentar lagi ulang tahunmu, aku akan datang sebelum kau berulang tahun. Aku akan mengabulkan apapun yang kau mau,” ucap Dareen. Shelby menjauhkan tubuhnya. Sepertinya dia tidak bisa untuk menolak keinginan suaminya.
Shelby merubah posisinya, wanita cantik itu langsung menyetarakan diri dengan Dareen, hingga kini wajah mereka begitu dekat.
“Dareen, jaga dirimu. Telepon aku setiap jam, kau tidak boleh tidak meneleponku, dan yang terpenting kau harus tetap baik-baik saja dan terpenting kau harus cepat kembali,” ucap Shelby yang memberikan banyak syarat untuk Dareen
“Aku ikuti syaratmu, Sayang,” balas Dareen, tiba-tiba Shelby bangkit dari berbaringnya, kemudian dia menindih tubuh suaminya. Lalu setelah itu Shelby mulai membungkuk, mencium bibir Dareen.
Dareen cukup terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya, karena biasanya Dareen terlebih dahulu yang mendekati Shelby dan bahkan untuk pertama kalinya mungkin Shelby bersikap agresif pada Dareen.
“Da-Dareen, Aku ingin kita bercinta sekarang," ucap Shelby dengan malu-malu. Dareen menatap Shelby dengan tatapan tak percaya.
“Apa aku salah?” tanya Shelby secepat kilat Dareen menggeleng.
“Tidak, aku hanya heran biasanya ....” baru saja Shelby akan turun karena merasa tidak enak pada Dareen, tapi Dareen menahan tubuhnya, lalu lelaki itu pun setengah bangkit dari duduknya dan setelah itu dia mulai bergerak menyentuh tubuh istrinya.
Dareen tidak bermain seperti biasanya,.dia bermain dengan pelan dan teratur tentu saja karena Shelby sedang mengandung, hingga pada akhirnya mereka mencapai puncaknya bersama-sama.
Dareen menggulingkan tubuhnya ke samping, mereka sama-sama mengatur nafasnya hingga tak lama Shelby langsung menoleh kemudian mengubah posisinya menjadi menyamping, hingga kini dia menghadap ke arah Dareen, setelah itu dia memeluk suaminya dengan dengan erat.
“Aku mencintaimu," ucap Shelby.
“Aku lebih mencintaimu, Sayangngku.” tiba- tiba Darent terpikiran sesuatu.“Sayang jika kau kesepian ketika aku pergi, berbelanja lah belilah semua yang kau mau, tas pakaian, aku hanya akan membawa beberapa kartu kredit. Kartu kredit utamaku ada di dompetmu Jadi pakai itu, kau mengerti?”
“Hmm aku mengerti.”
“ Oh ya satu lagi.” Daren tiba-tiba terpikirkan sesuatu lagi.
“Apa?”
“ kau tahu tentang Angel?”
“Angel? Kenapa kamu bahas dia?” tiba-tiba raut wajah Shelby mulai tidak suka, dia bahkan mendorong tubuh Dareen.
“Dengarkan aku, sebenarnya dia bukan ingin berniat jahat padamu.”
“ Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan seperti itu, kau membela dia? atau jangan-jangan kau ....” Shelby menghentikan ucapannya ketika Dareen mencapit bibirnya.
"Tunggu, aku berbicara dulu. Jangan menyela."
”Memangnya, kau akan berbicara apa?” wajah Shelby sudah benar-benar kesal dai menatap Dareen dengan tatapan tidak suka.
“Kau tahu ....,” Dareen pun menceritakan semuanya, dari mulai apan yang dilakukan Angel untuk melindungi Shelby, karena Dareen juga tahu dari anak buahnya.
Anak buahnya selalu kecolongan ketika mengawasi Shelby, hingga pada akhirnya Shelby selalu diselamatkan oleh Angel.
Shelby menutup mulu saat mendengar kesaksian Dareen, “Tidak mungkin dia berniat begitu, sudah jelas dia hanya ingin membuatku marah,” kata Shelby yang masih mencoba mengelak
“Dia membuatmu marah karena dia ingin perhatianmu, coba bayangkan jika saat itu Angel tidak datang, mungkin sekarang kau sudah tersiram oleh air keras itu.” Dareen berusaha menjelaskan bagaimana sikap Angel selama ini.
“ Ah sudahlah tidak usah membahasnya lagi.” Sepertinya Shelby mulai tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh adiknya, tapi dia enggan menerimanya begitu saja, karena walaupun bagaimanapun sumber dari lukanya adalah ibu Angela, hingga pada akhirnya dia tidak lagi membahas tentang adiknya.
Malam berganti pagi.
Darren sudah rapi dengan memakai pakaian kantornya. Shelby juga sudah membereskan beberapa pakaian Dareen ke dalam koper. Dareen tersenyum lucu, Saat melihat Shelby terus memegang kopernya, dan tidak membiarkan dia mengambil koper dari tangan istrinya.
"Sayang, jika kau seperti ini, kapan aku akan berangkat?" tanya Darren.
"Satu jam lagi saja," kata Shelby yang masih enggan berpisah dengan suaminya.
Darren mengulurkan tangannya pada tangan Shelby, hingga Shelby menerima uluran tangan Darren lalu mengajak istrinya untuk duduk di sofa, hingga Shelby duduk di atas pangkuan Darren dan setelah itu Darren memeluk Shelby. Tangannya tidak henti-hentinya mengelus perut istrinya, hingga pada akhirnya waktu yang menyebalkan bagi Shelby pun tiba, di mana saat ini Darren harus pergi karena sekretarisnya sudah menjemput di bawah.
"Aku pergi, Sayang. Aku akan selalu mengabarimu," kata Darren ketika dia akan keluar dari apartemen.
Shelby mengangguk, tapi baru saja Darren berbalik, Shelby kembali memeluk suaminya sedangkan anak-anak sudah berangkat sekolah.
"Darren," panggil Shelby.
"Kenapa, hm?" tanya Darren.
"Ingat, tundukkan pandanganmu jika melihat wanita cantik. Kau sudah menjadi seorang lelaki yang mempunyai tiga anak. Awas saja jika kau macam-macam," ucap Shelby membuat Darren tertawa.
Darren mencium kening Shelby kemudian lelaki itu berbalik dan ketika melihat punggung Darren
Berapa hari kemudian.
Darren masuk ke dalam ruangan meeting. Lelaki itu langsung mendudukkan diri di kursi utama. Ini sudah beberapa hari berlalu dan pada akhirnya kekacauan pun berhasil diatasi, dan sekarang adalah meeting terakhir yang akan dilakukan bersama para stafnya.
Satu jam kemudian.
Meeting pun selesai. Darren beserta anggota lain keluar dari ruangan meeting dan sekarang Darren memutuskan untuk langsung pulang. Dia pun berjalan ke arah lift, tapi karena lift tidak kunjung terbuka, dia memutuskan untuk menaiki tangga darurat.
Saat berada di basement, suasana tampak sepi membuat Darren merinding padahal waktu masih sangat sore, dan tak lama Darren berteriak saat ada yang membius Darren dari belakang lewat sapu tangan yang berisi obat bius. Sedetik kemudian, Darren terkulai tak sadarkan diri. Tidak ada siapa pun di basement. Suasana basement benar-benar sepi memudahkan anak buah Rush untuk menculik Darren.
Lima tahun kemudian.
Theresia membuka kamar sang ibu, gadis yang kini menginjak 18 tahun itu menghela nafas besar saat melihat kamar ibunya. Seperti biasa, ibunya tetap melamun dan seperti biasa pula makanan di atas nakas tidak tersentuh. Theresia gadis itu langsung pergi ke gereja kecil yang ada di rumah kakek dan neneknya.
Theresia menyalakan lilin kemudian dia mengepalkan tangannya, lalu mulai berdoa.
"Tuhan, tak bisakah kau membuat Daddy pulang? Kenapa kau begitu tega mengambil Daddy kami? Tolong tunjukkan di mana dia sekarang," ucap Theresia dengan berlinang air mata, karena lima tahun ini Darren menghilang, tidak pernah diketahui di mana keberadaannya.