
Bianca meringis ketika melihat Selo yang juga ikut meringis. Dia langsung memalingkan tatapannya ke arah lain karena tahu Selo sedang malu padanya.
"Maafkan aku Selo, aku tidak sengaja," ucap Bianca.
Selo tidak menjawab. Dia sibuk mengelus senjatanya, karena rasa sakitnya benar-benar terasa sampai ke bagian perut. "Bianca, bagaimana jika ini tidak berfungsi lagi? Kau tahu ini akan bisa membuatmu terbang?" tanya Selo disertai ringisan membuat mata Bianca membulat. Bagaimana mungkin Selo akan mengatakan hal seperti itu?
Sepuluh menit kemudian, akhirnya rasa ngilu yang dirasakan Selo hilang. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya ke belakang.
"Kau sudah selesai?" tanya Bianca.
"Sudah selesai," jawab Sello. Namun, sesekali dia meringis.
Bianca pun berbalik kemudian dia menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Rasa canggung langsung mendera di antara mereka. Sesekali, dia melihat ke arah senjata Selo.
"Kenapa kau mencobanya sekarang?" tanya Sello yang melihat arah tatapan Bianca.
"Ish kau ini," ucap Bianca yang langsung berjalan ke arah nakas.
"Apa itu?" tanya Selo.
"Ini masakan dari ibu mertua ...." Tiba-Tiba Bianca menghentikan ucapannya ketika tanpa sadar dia mengucapkan kata ibu mertua, membuat Selo mengulum senyum.
"Oh, itu dari ibu mertuaku," jawab Selo membuat Bianca berdecih.
"Sejak kapan Mommy-ku menjadi calon ibu mertuamu?" tanya Bianca.
"Kau ingin menikah di mana?" tanya Selo.
"Memangnya, siapa juga yang ingin menikah denganmu?" tanya Bianca, dia bisa saja berkata seperti itu. Tapi, wajahnya mengatakan sebaliknya.
"Jadi, kau tidak ingin menikah denganku? Padahal aku sudah menyelamatkan nyawamu," kata Selo. Dia melepaskan tangannya dari pinggang Bianca, tapi belum Selo menjauh, Bianca sudah memeluk Selo membuat mata Selo membulat.
Hening. Tidak ada yang berbicara.
Sebenarnya Bianca ingin sekali memeluk Selo mengucapkan kata terima kasih sebanyak-banyaknya, karena saat itu Selo rela terbang dari luar negeri untuk ke Rusia, hanya untuk menyelamatkannya dan menukar nyawanya. Jika Selo tidak datang, mungkin Bianca pun sudah tidak ada di dunia ini.
"Ada apa?" tanya Selo. Tubuhnya terasa menegang karena jujur saja, dia pikir ini mimpi.
"Terima kasih Selo. Terima kasih kau telah menyelamatkanku. Terima kasih kau mau datang," mata Bianca membasah saat memeluk Sello.
Selo membalas pelukan Bianca kemudian dia mengelus punggung wanita yang dia cintai.
"Kau tahu, saat aku disiksa oleh Roland, aku tidak pernah menyesal menyelamatkanmu. Aku bersyukur saat itu aku yang dibawa oleh Roland dan bukan kau. Mungkin jika kau yang dibawa Roland pergi ...." Selo menghentikan ucapannya kemudian dia bergidik membuat Bianca melepaskan pelukannya, lalu dia menatap Selo. Dia juga merasakan tubuh Selo bergetar.
Walau bagaimanapun, setiap Selo membahas hal ini, dia selalu mengingat detik demi detik yang menyakitkan ketika dia dihajar oleh Roland. Selama di rumah sakit mungkin Selo terlihat seperti sudah melupakan yang terjadi, tapi sebenarnya tidak. Trauma itu masih ada. Selo tidak pernah tenang jika tertidur, bahkan ada kalanya Selo merasa lelah jika sedang tertidur, sebab dia tidak bisa tertidur nyenyak. Namun, selama ini Selo selalu memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja.
Bianca mendudukan diri di sebelah Selo, kemudian dia menggenggam tangan lelaki itu. "Sudah tidak usah dipikirkan lagi, aku akan menemanimu agar kau bisa lepas dari traumamu," kata Selo, memajukan bibirnya meminta dicium oleh Bianca.
Seketika, suasana serius yang barusan terjadi, buyar karena kelakuan Selo.