
“Sello kau ini mesum sekali!” umpat Bianca membuat Selo tertawa.
“Cepat suapi, aku aku rindu masakan calon ibu mertuaku,” kata Selo membuat Bianca berdecih, dia pun langsung membuka kotak makan.
Bianca menggeleng saat melihat kotak makan yang baru saja dia buka, ibunya manata makanan dengan sangat rapi. “Kenapa?' tanya Selo yang melihat Bianca melamun.
“Mommyku tidak pernah membuatkanku dan adikku makanan serapih ini,” kata Bianca membuat Sello mengulum senyum.
“Berarti, aku orang yang istimewa," kata Sello lagi dengan percaya diri.
Tak ingin terus mendengar kenarsisam lelaki ini, Bianca langsung menyuapi Sello, hingga akhirnya acara makan pun selesai
“Bianca ayo berbaring di sini," ucap Selo yang menyuruh Bianca untuk naik ke berangkar.
“Tidak mau, kita bukan muhrim,* jawab Bianca.
“Tapi barusan kau memelukku," kata Sello.
“Ya sudah kalau begitu geser!" pada akhirnya, Bianca pun menuruti ucapan Sello untuk naik ke berangkar. Sebab jika tidak, pasti Sello akan terus berbicara dan dia begitu malas mendengarkan kecerawatan Selo.
Hingga kini, posisi kedua pasangan suami istri itu duduk dan berbaring bersebelahan.
“Bianca!” panggil Sello. Sello mengangkat dagu Bianca, hingga kini tatapan mereka saling mengunci. “Seteelah pulang dari sini, ayo kita persiapkan pernikahan kita. Kali ini aku ingin mempersiapkan dengan tanganku sendiri," ucap Sello, Bianca tersenyum getir tiba-tiba pikirannya melanglang buana pada masa lalu, dimana dulu mereka menikah, dia memikirkan semuanya sendiri bahkan untuk masalah cincin pernikahan saja dia harus membelinya seorang diri tanpa Sello.
Mengerti apa yang dirasakan Bianca, Sello mengusap rambut wanita itu. “Maafkan aku," ucap Selo yang mengerti bahwa Bianca sedang memikirkan masa lalu, tiba-tiba bulir bening terjatuh tanpa bisa ditahan.
“Aaa.” Tiba-tiba Sello berteriak ketika Bianca mencubit pinggangnya.
“Kenapa kau mencubit pinggangku!” hardik Sello.
“Sakit bukan?” kata Bianca. “Bayangkan sakitnya lebih dari itu. Aku harus mempersiapkan pernikahan kita dulu seorang diri dan kau malah bersenang-senang dengan wanita itu. Sello kau bodoh, selalu kau idiot.” Bianca terus mengumpat membuat Sello tertawa, karena wajah Bianca begitu lucu.
1 bulan kemudian ini
sudah 1 bulan berlalu akhirnya Selo benar-benar pulih, bahkan Sello sudah bisa berjalan. Namun tentu saja, dia berpura-pura tidak bisa berjalan pada Bianca karena takut Bianca tidam akan menemuinya lagi.
Seperti saat ini, Bianca sedang keluar dari ruang rawatnya. Sepertinya wanita itu sedang mengurus sesuatu, dan Sello yang sedari tadi duduk di kursi roda langsung bangkit dari duduknya, lelaki itu berjinjit karena kakinya terasa kram. Dia juga melompat-lompat kecil agar uratnya tidak kaku.
Setelah menelpon adiknya, Sello langsung mematikan panggilannya.
Tiba-tiba ... “Aaaa ...." Bianca kenapa kau menjewerku!” teriak Sello ketika Bianca menjewer kupingnya.
Dan pada akhirnya, Sello tersadar, dia sedang berdiri.
“Kau berpura-pura!" sentak Biaca.
“Hmm, aku mendapat keajaiban barusan, keajaiban itu membuat aku bisa berdiri," jawab Sello dengan konyol membuat Bianca benar-benar tidak mengerti dengan sifat calon suaminya yang mendadak menjadi pelawak.
“Jadi, selama ini kau membohongiku dan berpura-pura tidak bisa berjalan?” tanya Bianca dengan kesal seraya menghentakkan kakinya.
“Sudah kubilang, aku mendapatkan keajaiban barusan, kau tahu bukan aku selalu membaca doa yang rajin aku agar aku cepat sembuh.”
Bianca mengusap rambutnya ke belakang sepertinya tidak ada gunanya berdebat dengan lelaki ini, hingga pada akhirnya Bianca memutuskan untuk pergi mendahului Sello, meninggalkan lelaki itu.
“Hah, gagal lagi!” umpat Sello, sehingga dia pun langsung mengambil tasnya lalu setelah itu keluar dari ruang rawatnya.
***
Maira turun dari mobil, sebenarnya dia begitu malas menghampiri Sayra yang sedang berada di restoran, karena barusan Sayra mengajaknya untuk makan malam bersama
Tadinya, dia ingin langsung pulang tapi ternyata saudara kembarnya malah meneleponnya dan mengajaknya makan bersama.
Mayra masuk ke dalam restoran kemudian dia mengedarkan pandangannya, hingga tatapnya berhenti di sebuah meja yang ada saira dan di depan Sayra ada lelaki yang duduk hingga Mayra pun langsung berjalan ke arah meja yang ditempati kembarannya.
Saat semakin mendekat, Jantung Mayra berdegup sangat kencang saat menyadari siapa lelaki yang duduk bersama Sayra. Walaupun lelaki itu membelakanginya. Tapi, Mayra tahu itu adalah Adrian yang jadi pertanyaan kenapa Adrian bisa bersama Sayra.
“Mayra!” panggil Sayra hingga Mayra tersadar, begitupun Adrian yang langsung menoleh.
Adrian memang sengaja lebih akrab dengan Sayra, agar Mayra berhenti mendekatinya, terlebih lagi Sayra sekarang yang menggantikan Gabriel sebagai pemimpin di rumah sakit dan ada beberapa project yang akan Sayra bicarakan dengan Adrian dan Adrian memanfaatkan itu untuk mendekati Sayra.
Sayangnya Sayra tidak tau dia sedang di manfaatkan, toh dia tidak berpikiran jauh dengan Adrian, karena dia pun sudah memiliki kekasih.
“Hai, Mayra," sapa Adrian, membuat Mayra terpaku dan hatinya terasa tersayat, dia tidak pernah melihat Adrian menyapanya seperti ini. Tapi, sikap Adrian berbeda jauh ketika bersama Sayra.