Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Tak sadarkan diri


Selo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melihat ke arah Bianca yang tampak cemberut. Sepertinya, Bianca masih marah karena dia berpura-pura belum bisa menggerakkan kakinya.


Sello mengutukb dirinya sendiri yang malah bangkit dari kursi roda. Seharusnya, dia tetap ada di kursi roda agar Bianca tidak mengetahui bahwa dia berbohong.


"Bianca, kau masih marah?" tanya Selo.


"Pikir saja sendiri," ucap Bianca.


"Sepertinya kau tidak senang aku sembuh," ucap Selo, mulai memainkan sandiwaranya, mencoba mencari perhatian Bianca.


"Aku tidak akan tertipu. Kau terlalu licik," kata Bianca lagi membuat Selo berdecak.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di mansion kedua orang tuanya.


"Bianca, bantu aku turun. Kakiku masih terasa nyeri," ucap Selo.


"Mau kupukul lagi kakimu agar ucapanmu menjadi kenyataan?" tanya Bianca membuat Selo menahan tawa. Bianca turun dari mobil, kemudian disusul Selo di belakangnya.


"Selo, kau sudah bisa berjalan? Mana mungkin secepat itu?" tanya Gabriel membuat Selo memejamkan matanya dan sekarang, melihat ekspresi Gabriel, Bianca mengerti bahwa mantan ayah mertuanya pun berbohong.


"Oh, Paman juga ikut berbohong," ucap Bianca.


"Berbohong? Memangnya pun berbohong apa?" tanya Gabriel.


"Selo sudah bisa berdiri dari kemarin-kemarin," jawabnya.


"Oh, ternyata terbongkar," jawab Gabriel sambil tertawa membuat Bianca menggeleng.


***


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Setelah makan malam, Bianca pamit untuk pulang, dan tentu saja diantarkan oleh Selo walaupun tadi Bianca menolak. Namun pada akhirnya, karena Selo memaksa Bianca pun setuju.


"Bianca, ayolah. Jangan terus marah," kata Selo ketika sudah di perjalanan.


Bianca hanya berdeham kemudian ia menatap ke arah jendela.


"Bianca," panggil Selo lagi.


"Tutup mulutmu. Aku tidak ingin mendengar apa yang kau katakan," ucap Bianca hingga Selo pun langsung menutup mulutnya menahan kesal.


"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Bianca ketika Selo turun dari mobil.


"Aku harus menyapa kedua calon mertuaku. Memangnya, apa salahnya?" tanya Selo. Lalu tanpa mendengar jawaban Bianca, Selo pun langsung berjalan begitu saja membuat Bianca menggeleng.


"Assalamualaikum," ucap Selo.


"Waalaikumussalam." Tiba-Tiba terdengar suara Maria dari arah dalam, wanita itu menyambut Selo dengan senyum yang mengembang, membuat Bianca yang berada di depan Selo bergidik, karena tingkah sang ibu yang menurutnya berbanding terbalik dengan saat itu.


"Akhirnya kau pulang dari rumah sakit, Selo," ucap Maria.


, Bibi, ini berkat Bianca yang mengurusku," kata Selo lagi.


"Ya sudah kalau begitu. Sudah malam, cepat kau pulang," kata Bianca yang menyela percakapan Selo dan Maria.


"Bianca, apa-apaan kau? Kenapa kau mengusir Selo?" tanya Maria.


Bianca hampir saja tidak mengenali sang ibu, saat ibunya membela Selo, membuat Selo tersenyum penuh kemenangan.


"Sepertinya, Bianca membenciku Bibi. Dia tidak mau berbicara denganku," ucap Selo.


"Bianca, apa benar kata Selo?" tanya Maria lagi.


'Ya Tuhan, ada apa dengan ibuku?' batin Maria.


"Aku membencimu," ucap Bianca dengan gemas. Bianca pun langsung masuk ke dalam, membuat mata Selo membulat.


***


Setelah berbincang-bincang dengan Maria, akhirnya Selo pun memutuskan untuk pulang. Selo menjalankan hobinya dengan kecepatan sedang. Dia tidak percaya dia bisa kembali lagi menikmati angin malam, setelah dikurung oleh Ronald berbulan-bulan.


Saat dia akan berbelok, tiba-tiba Selo memperlambat laju mobilnya kala dia melihat mobil terparkir di sisi. Hal yang membuat Selo berhenti adalah, mobil itu seperti mobil milik Maira.


Selo menghentikan laju mobilnya, kemudian dia menelepon adiknya. Namun, beberapa kali menelepon Maira tidak mengangkat panggilannya, hingga dia dilanda kepanikan.


Selo langsung memarkirkan mobilnya, kemudian lelaki itu langsung menyeberang untuk menghampiri mobil Maira. Mata Selo membulat saat dia mengintip dari jendela, ternyata Maira tidak sadarkan diri.