
“Ayo makan, Bianca. Kau harus menghabiskan semuanya!” kata Roland, ketika Bianca sudah menghabiskan makanan pembuka.
“Roland. Aku kenyang," dusta Bianca.
“Bagaimana kau bisa kenyang, lihat kau baru memakan makanan pembuka. Ayo makan lagi.” Roland mengambil makanan lain, kemudian ia mendudukkan diri di sebelah Bianca. Lalu setelah itu, ia memberikannya pada Bianca.
“Ayo, Bi. Aku tahu kau masih lapar.” Bianca mengulum senyum saat tebakan Roland benar. Nyatanya perutnya begitu lapar, ia merasa malu jika harus makan banyak di hadapan Roland, itu sebabnya dia berpura-pura kenyang. Tapi ternyata Rolland mengetahui bahwa ia masih lapar.
30 menit kemudian, Bianca selesai dengan makanannya. Tadi, Bianca malu-malu untuk memakan makanan yang dibawa Roland. Tapi ternyata, Bianca menghabiskan semuanya bahkan tanpa tersisa.
Roland mengembangkan senyumnya saat Bianca memegang perutnya, dan tak lama, tanpa sengaja, Bianca bersendawa, ia langsung menutup mulutnya.
“Maafkan aku, Roland. Aku tidak sengaja,” jawab Bianca, membuat Roland terkekeh.
“ Sebentar, aku akan membereskan ini dulu. Roland pun bangkit dari duduknya, kemudian ia membereskan makanan yang tadi dimakan oleh Bianca. Setelah itu membuangnya keluar, dan ketika Roland keluar Celine masuk ke dalam ruangan.
“Bagaimana kabarmu? apakah kau sudah merasa baikan?" tanya Celine.
“Hmm, aku merasa baikan. Setidaknya untuk saat ini,” jawab Bianca dengan wajah yang redup. Celine mendudukkan diri di sebelah Bianca, kemudian ia mengusap lembut bahu sahabatnya
“Bianca, anggap saja ini sebagai jackpot untukmu. Coba bayangkan, jika kau terlalu lama hidup bersama lelaki seperti dia, bukankah itu lebih mengerikan,” jawab Celine.
Pandangan Bianca tampak lurus ke depan kenangan 4 bulan bersama Selo kembali menubruk otaknya. Selama 4 bulan, Bianca benar-benar merasa diratukan oleh Sello, ia merasa bahagia, dan seperti kembali pada saat mereka awal-awal berpacaran. Tapi ternyata, Itu semua hanya palsu karena faktanya Sello, tidak setulus saat dahulu.
Sebelum Bianca menjawab, Roland masuk ke dalam, ia sudah selesai membuang sampah.
“Aku pikir kau sudah pulang,” ucap Celine.
“Aku akan pulang setelah mengantar Bianca.” Tiba-tiba, Bianca terdiam. Sekarang, ia harus bagaimana. Tidak mungkin ia pulang ke rumah orang tuanya, karena ia berencana akan memberitahu nanti, mungkin setelah satu minggu berlalu.
Roland menatap wajah Bianca, sepertinya ia mengerti kebingungan Bianca. Hingga Roland terpikirkan sesuatu. “Bianca Apa kau bingung harus kemana sekarang?” tanya Roland.
“Hmm, aku bingung, aku belum siap bertemu kedua orang tuaku.”
“Kau bisa pergi ke apartemenku,” jawab Celine
“Adikmu akan mengomelku, jika aku pergi ke apartemen Kalian,” jawab Bianca.
“Satu apartemenku kosong, kau bisa tinggal di sana beberapa hari,” jawab Roland.
“Benarkah?” tanya Bianca. Ia bisa saja menginap di hotel. Tapi, ia takut Sello menghampirinya dan memaksanya untuk berbicara dengan Gabriel.
“Bagaimana jika kita pulang sekarang,” ajak Roland, Bianca mengangguk.
“Uuu, Kalian cocok sekali. Kenapa kalian tidak bersama saja.” tiba-tiba Celine berbicara membuat wajah Bianca memerah.
Sedangkan Roland langsung mengulum senyumnya. “Aku rasa tidak ada salahnya mencoba, bukankah itu ide yang bagus Bianca.” Roland malah semakin gencar menggoda Bianca, membuat wajah Bianca merona. Setidaknya sekarang lukanya sedikit terobati karena kehadiran Roland dan Celine, walaupun rasa sakit tetap akan menghantuinya
•••
“Sello aku takut,” ucap Agnia
“Tidak apa-apa, ayah dan ibuku pasti akan baik padamu.” Sello menggenggam tangan Agnia, menguatkan Agnia untuk tidak takut. Saat ini, mobil Sello sudah terparkir di pekarangan mansion kedua orang tuanya.
Ini sudah satu minggu berlalu semenjak ia terpergok dan hari ini Sello, berencana untuk mengenalkan Agnia dan kepada kedua orang tuanya. kali ini, Sello menyuruh Agnia berpura-pura hamil, agar orang tuanya luluh. Ia tahu, orang tuanya akan luluh ketika mendengar Agnia sedang mengandung anaknya, dan ia berharap Gabriel memberikan lagi semuanya padanya.
“ Ayo kita turun!” ucap Sello.
“Berikan waktu aku 10 menit lagi," jawab Agnia. walaupun ia berpura-pura tulus pada Sello, Tapi tetap saja ia merasa gugup ketika dipertemukan dengan kedua orang tua Sello, apalagi pasti kedua orang tuanya akan membencinya. Melihat Gabriel saja sudah sangat mengerikan, apalagi ketika ia bertemu secara langsung dengan orang tua Selo.
”Ayo!” ajak Sello, kali ini Sello mendahului Agnia untuk turun, kemudian membukakan pintu untuk Agnia. Hingga mau tak mau, Agnia pun langsung keluar dari mobil, mereka berjalan sambil bergandengan tangan, lalu masuk ke dalam mansion. Beruntung saat masuk, pintu terbuka hingga Selo tidak perlu mengetuk pintu lagi.
“Wow, lihat siapa yang datang!” Tiba-tiba terdengar suara Mayra dari arah samping, Ia yang baru saja turun dari lift langsung menghardik Selo dan Agnia yang baru saja masuk.
Sello menoleh ke arah Mayra. “Ayo, jangan pedulikan dia!” kata Sello, ia menarik tangan Agnia untuk masuk. Namun tak lama,.langkah Sello dan Agnia, kembali terhenti ketika Mayra menghadang langkah mereka.
“Mayra minggir!” ucap Sello.
“Minggir, kenapa aku yang harus minggir, kau yang harus pergi. Siapa yang mengizinkan mu masuk.” Mayra berteriak lantang,.emosinya terpancing saat melihat wajah Agnia yang tertunduk.
“Berani sekali kau menginjakkan kakimu di sini!” ucap Mayra dengan penuh kebencian, ia pernah berada di posisi Bianca, Itu sebabnya saat melihat Agnia, rasanya ia ingin sekali menghancurkan wanita di depannya ini.
“Mayra cukup! aku tidak ada urusan denganmu!”
“Silahkan!” kali ini Mayra mempersilahkan Selo dan Agnia untuk masuk ke dalam, ia hanya ingin melihat bagaimana respon kedua orang ini menghadapi ayahnya dan ibunya.
Sello kembali menarik tangan Agnia untuk masuk, matanya berpendar mencari ayah dan ibunya.
“Mom ... Dad.” Sello memanggil Ayah dan ibunya. Namun tidak ada sahutan.
“Di mana mommy dan Daddy?” tanya Selo pada pelayan yang melewati tubuh mereka.
“ Tuan dan nyonya, sedang ada di taman belakang," jawab pelayan tersebut.
“Ayo kita ke taman belakang,” jawab Sello, ia. kembali menarik tangan Agnia untuk pergi ke taman belakang. Saat berada di taman belakang, Sello mengeratkan genggamannya. Kali ini, bukan Agnia yang takut Sello juga cukup merasa ketakutan. Ia menghela nafas beberapa kali, kemudian menghembuskannya lalu menoleh ke Agnia.
“Ingat, kau harus mengatakan bahwa kau mengandung,” ucap Sello, Agnia mengangguk. Setelah itu, ia membuka pintu taman. Lalu mereka pun masuk ke dalam area taman.
Lagi-lagi, Sello menghela nafas kemudian menghembuskannya, kedua orang itu saling menggenggam tangan dengan erat karena mereka merasakan gugup yang luar biasa.
“Dad, lihatlah siapa yang datang!” Tiba-tiba terdengar suara Mayra dari arah belakang membuat Gabriel dan Amelia yang sedang duduk langsung menoleh ke belakang.
Mata Gabriel terbelalak saat mendengar saat melihat Sello dan Aghnia. Seketika lelaki paruh baya yang itu langsung bangkit dari duduknya, matanya menatap penuh amarah.
“Sello kau!”
Tiba-tiba Bug ... Sebelum Gabriel menghampiri Sello, tiba-tiba seseorang datang dari belakang dan langsung menendang punggung Sello, siapa lagi kalau bukan Lyodra.