Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
5 tahun berlalu


Bianca menatap punggung Sello tanpa berkedip. Sello berjalan mendahuluinya, sedangkan Bianca masih terdiam di tempat. Ia hanya mampu memandang punggung Selo dengan hati yang luar biasa nyeri.


Ini sudah satu minggu mereka tidak bertemu, tidak ada bias kerinduan di mata Sello padanya. Hanya dia yang merindukan Sello, tapi tidak dengan suaminya.


Bianca menghela nafas, kemudian hembuskannya. Ia menghapus sudut matanya yang berair, kemudian berjalan dengan sedikit cepat untuk menyetarakan dirinya, agar bisa sejajar dengan langkah Sello.


Saat sudah berada di sisi Sello, Bianca langsung menggandeng tangan suaminya, membuat Sello terperanjat kaget, dan langsung melihat ke arah Bianca, terlihat jelas bahwa Sello tidak nyaman saat Bianca menghentikan tangannya.


“Kenapa, apa ada yang salah?” tanya Bianca ketika Sello menghentikan langkahnya, dan menatap dirinya dengan aneh. Sello berdehem, kemudian tersadar lalu menggeleng.


“Tidak, tidak apa-apa,” jawab Sello, ia pun kembali melanjutkan langkahnya. Walaupun risih tangannya digandeng oleh Bianca. Namun Tak urung, Sello tetap berjalan dan berusaha untuk tidak memperdulikan Bianca yang di sampingnya, karena jujur saja ia begitu risih saat dia Bianca dekat-dekat padanya.


Bianca membuka pintu apartemennya. Lalu, ia pun masuk disusul Sello yang juga ikut masuk. ”Aku akan mandi dulu sebentar!” ucap Sello saat masuk ke dalam apartemen. Bianca mengangguk.


Setelah Sello pergi ke dalam kamar, Bianca langsung menyimpan tasnya, kemudian ia pergi ke dapur. Ia ingin memasakan makanan kesukaan Sello. Ia membuka kulkas, lalu mengeluarkan semua bahan-bahan yang ada di kulkas tersebut, lalu memulai memasak.


30 menit kemudian, akhirnya masakan Bianca selesai. Ia melihat ke arah jam, lalu mengerutkan keningnya. “Kenapa Sello nelum juga keluar dari kamar. Padahal, Sello hanya pamit padanya untuk mandi. Bianca melepas apron, kemudian ia keluar dari area dapur lalu memasuki kamarnya.


Rupanya, Setelah Sello mandi,.Selo langsung membaringkan dirinya di ranjang, lalu tertidur. Bagaimana tidak, selama seminggu ini ia terus menjaga Agnia dan jarang sekali tertidur dan ketika sudah mandi. Tanpa pikir panjang, Sello langsung membaringkan tubuhnya.


Bianca maju ke arah Sello, kemudian ia mendudukkan dirinya di sebelah Sello. Lalu menatap wajah Sello lekat-lekat. Perlahan, tangan yang menggenggam tangan Sello dengan hati yang luar biasa pedih.


Bianca mencium tangan Sello. “Sello kenapa kau seperti ini,” jawab Bianca. Hatinya benar-benar patah saat melihat Sello yang benar-benar berubah.


Perlahan, Bianca bangkit dari duduknya, kemudian ia naik ke atas ranjang. Lalu setelah itu, ia mendudukkan dirinya. Ia membaringkan tubuhnya di sebelah Sello, lalu memeluk Sello kemudian memejamkan matanya.


Hati Bianca terasa damai saat memeluk suaminya. Suami yang selama satu minggu ini ia rindukan, walaupun menyadari bahwa Sello tidak merindukannya. Tapi, Bianca berusaha untuk


berusaha menganggap semua baik-baik saja.


Waktu berlalu begitu cepat. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam hari demi hari Minggu demi Minggu, bulan demi bulan, tahun berganti tahun. Tidak terasa, semuanya terjadi begitu saja, hingga sekarang usia pernikahan Bianca dan Selo sudah menginjak tahun ke-5.