Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Jebakan


"Mana mungkin sih, aku membohongi istriku yang cantik ini?" gombalnya. Lalu seperti biasa wajah Maria akan memerah.


Ini sudah bertahun-tahun dia menikah dengan suaminya, tapi ketika Lyodra memuji, dia seperti terbang ke atas awan.


"Ish, kau ini."


Pada akhirnya, Maria berbalik. Dia memutuskan untuk mencuci wajah membuat Lyodra mengusap dada. Akhirnya, dia terbebas dari wanita itu, walaupun hanya sementara, karena besok pagi dia yakin Maria akan kembali mencurigainya.


***


Bianca mendudukkan diri di balkon. Wanita itu memutuskan untuk menikmati angin malam sejenak.


Sejak tadi pulang diantarkan oleh Adrian, sebenarnya Bianca sudah merasa tidak enak pada perasaannya sendiri. Dia begitu resah dengan kelakuan dua lelaki itu. Dia ingin hidup tenang tanpa gangguan Roland dan Selo.


Sebenarnya, Bianca sudah mencoba menahan diri untuk tidak meminta Roland menjauh, karena dia pikir pria itulah yang selalu ada di masa sulitnya, tapi ternyata dia tidak sanggup menahan perasaan yang bergejolak.


Sampai akhirnya, Bianca memutuskan untuk menyuruh Roland menjauh sementara waktu. Namun sekarang, dia bingung bagaimana cara mengatakannya pada Roland, sebab Roland pasti akan bertanya-tanya, kenapa dia mendadak meminta Roland menjauh.


Begitu pun dengan Selo. Dia akan minta Sello untuk menjauh. Dia tidak ingin ada hubungan apapun lagi dengan lelaki itu. Dalam artian, dia tidak ingin terlalu sering didatangi oleh Selo.


Bianca menghela napas, dia mengutak-atik ponsel kemudian melihat fotonya bersama Roland. Dia mengusap layar. "Roland, kenapa sekarang perasaanku berbeda? Seperti ada yang mengganjal ketika melihatmu, padahal dulu aku selalu berharap kau terus bersamaku, menemani hariku. Tapi kenapa sekarang berbeda?" Lirih Bianca.


Jika ditanya apakah Bianca pernah menyukai Roland, jawabannya ya, dia pernah menyukai Roland. Walau bagaimana pun, pria itu selalu menjadi garda terdepan ketika dia merasa sakit.


Roland juga selalu mendukung apa yang Bianca lakukan. Namun entah kenapa, belakangan ini rasa suka itu menguap begitu saja, tidak ada puing-puing yang tersisa untuk perasaannya. Termasuk juga nama Roland yang hilang begitu saja, seperti pasir terbawa ombak.


Tak lama, Bianca mengutak-atik ponselnya. Dia memutuskan untuk menghubungi Roland, mengajak pria itu berbicara besok.


Setelah tiga kali berdering, Roland pun mengangkat panggilan darinya. "Halo, Bi?" sapanya dengan antusias. Terdengar jelas bahwa lelaki itu senang ditelepon Bianca ? membuat Bianca memejamkan mata. Dia menjadi tidak tega ketika mendengar hal seperti ini.


"Bianca, kau masih di sana?" tanya Roland ketika Bianca sedang memutar otak, mencari cara mengatakan apa yang dia ingin sampaikan.


"Roland, bisakah kita bertemu besok?" tanya Bianca.


"Tentu, jam berapa? Di mana? Kau ingin aku menjemputmu ke rumah sakit?" Roland bertanya bertubi-tubi, seolah dia bahagia dengan Bianca yang mengajaknya bertemu.


Hal itu tentu saja membuat Bianca semakin bingung. "Roland, kita bertemu di kafe biasa saja," kata Bianca.


"Kau baik-baik saja?" tanya Roland saat mendengar suara Bianca mulai mengecil.


"Hm, aku baik-baik saja."


"Apa ada yang terjadi denganmu? Apa kau sedang kesulitan? Apa kau butuh sesuatu?" Roland kembali bertanya bertubi-tubi membuat hati Bianca terasa berat. Padahal, tadi dia sudah bertekad untuk menyuruh Roland menjauh.


Bianca menghela napas. "Tidak ada, Roland. Besok kita bertemu. Aku menunggumu saat makan siang," ucap Bianca.


Setelah mengatakan itu, Bianca langsung menutup panggilannya.


Roland bersorak kegirangan ketika Bianca mengajaknya bertemu. "Kena kau," ucap Roland yang merasa puas.


Roland pikir Bianca mengajaknya bertemu karena rindu dengan momen yang biasa mereka lakukan, mengingat dulu hampir setiap hari dia menemani Bianca makan siang. Dia selalu berpura-pura sudah makan, tapi dia rela makan lagi bersama Bianca.


Bisa saja Bianca menjauhi pria itu agar Roland pun menjauh dengan sendirinya, tapi dia ingin jujur dengan apa yang dia rasakan.


Roland bangkit dari duduknya. Lelaki itu langsung berjalan ke sebuah kamar, di mana Agunia sedang terbaring di sana dan ternyata, dia masih memiliki belas kasihan untuk mengobati wanita itu.


Namun, tentu saja belas kasihan yang diberikan Roland bukan murni karena iba, melainkan karena dia masih butuh wanita itu, karena hanya dialah yang mengetahui di mana data-data itu disimpan. Jika bukan karena itu, mungkin dia akan menghabisi Aghnia sedari tadi, begitulah pikir Roland.


Roland mendudukan diri di kursi. Dia menatap Aghnia yang sedang memejamkan mata. "Dasar Bodoh. Jika saja kau mau menurut padaku, kau tidak akan seperti ini," umpat Roland.


Jantung Aghnia berdebar dengan kencang saat Roland duduk di depannya, karena memang ketika pria itu masuk, dia memutuskan untuk memejamkan mata karena takut dengan lelaki yang ada di depannya ini.


Satu jam kemudian.


Roland mengerutkan keningnya saat Aghnia


masih belum terbangun padahal ini sudah beberapa jam dia tidak sadarkan diri, hingga akhirnya dia pun mempunyai sebuah ide.


Roland pun langsung berjalan ke arah kamar mandi, tentu saja dia sudah mengambil sebuah wadah untuk mengambil air untuk disiramkan pada Aghnia.


Tak lama, Roland keluar dengan mebawa air. Lelaki itu menyunggingkan senyum sinis, dan seketika pula Aghnia tersentak ketika pria itu menyiram wajahnya dengan air.


"Akhirnya kau bangun juga," ucap Roland. Dia baru menyadari sesuatu, bahwa Aghnia berpura-pura tidur, dan itu membuatnya murka.


Aghnia gelagapan, dan dia pun menatap takut pada Roland.


"Roland, tolong berikan aku waktu untuk beristirahat," ucapnya. Dia langsung berbicara ketika Roland terlihat akan membuka mulut dan seperti akan memakinya.


Roland tertawa. "Istirahat kau sudah cukup selama tiga bulan ini," ucap Roland.


"Hai kau!" Roland berteriak ke arah luar, memanggil anak buahnya. "Bawa dia ke ruangan biasa," kata Roland membuat Aghnia berkedip.


"Roland, kumohon tolong jangan siksa aku sekarang." Aghnia berucap dengan penuh pengharapan bahwa Roland setujuz bagaimana pun dia ingin beristirahat dan setelah itu mencari cara untuk kabur, walau dia tahu itu sangat mustahil.


"Kau pikir aku akan peduli denganmu yang memohon seperti ini?" tanya Roland membuat Aghnia memejamkan mata. Sungguh, tubuhnya sudah tidak berdaya sekarang.


"Baiklah aku akan berikan semua data dan uang yang aku sembunyikan itu sekarang."


"Di mana kau menyimpan data-data itu?" tanya Roland.


"Aku menyimpannya di kamar, aku menempelkan flashdisk itu di belakang laci." pada akhirnya Aghnia memberitahukan rahasianya, dia pikir setelah ini Roland akan membebaskannya


Roland menganggukkan kepalanya. "Kau dengar? Cepat pergi ke apartemen, cari di laci yang dia sebutkan," titah Roland pada anak buahnya hingga mereka pun mengangguk.


Setelah anak buahnya pergi, Roland menoleh ke arah Aghnia kemudian menyeringai membuat wanita itu bergidik. "Kenapa kau menatap begitu?" tanyanya.


Roland keluar dari kamar tanpa menjawab ucapan Aghnia, lalu tak lama masuk beberapa anak buah pria itu dan Aghnia pun langsung di bawa paksa oleh anak buah Roland.


Tentu saja karena sekarang Roland tidak membutuhkan lagi Aghnia, dan dia harus segera melenyapkan wanita itu karena tujuannya sudah tercapai.