Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Kecurigaan


Sello berdiri di depan ruangannya, ini sudah 10 menit berlalu dan Sello masih belum berani masuk ke dalam ruangan, ia sedang menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan sang ayah.


Entah kenapa firasat Sello mengatakan akan ada


pembicaraan serius yang diucapkan ayahnya


.


Sebab, jika tidak serius, ayahnya tidak akan sampai datang ke kantor dan akan selalu memanggilnya untuk pulang ke mansion. Tapi, sekarang ...


Sello menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia pun langsung memutar gagang pintu, hingga pintu terbuka. Gabriel yang sedang duduk sambil bermain ponselnya menoleh ke arah Sello, hingga tatapan mereka saling mengunci.


Gabriel menyempitkan matanya saat melihat ekspresi Sello, “Kau baru datang, apa kau tidak lihat jam berapa ini?” tanya Gabriel, membuat Sello tersadar.


Sello berjalan ke arah sang ayah, kemudian ia mendudukkan dirinya di seberang ayahnya. “Tumben sekali kau ke kantor, Dad. Ada apa? apa ada yang penting?” tanya Sello, ia berusaha tenang walaupun rasa gugup tidak bisa ia sembunyikan.


“Tidak, Daddy hanya ingin memastikan sesuatu padamu ....” Tiba-tiba jantung Sello berpacu dua kali lebih cepat saat mendengar ucapan Gabriel. Sang ayah bukan ora tipu orang yang blak-blakan, sang ayah bukan tipe orang yang bertindak gegabah.


Jika memang Ayahnya tahu, ia bermain-main dengan pernikahannya. Gabriel tidak akan pernah menegurnya secara langsung. Tapi Gabriel akan bertindak, karena itulah watak Gabriel dan sekarang ia yakin, sang ayah hanya masih dalam tahap curiga.


“Daddy, ingin memastikan apa padaku?” tanya Sello.


“Kenapa kau bertanya begitu padaku?” tanya Sello.


“Kau sudah lama tidak datang bersama Bianca, dan, ini sudah 5 tahun pernikahan kalian, apa kalian tidak ingin mempunyai anak?” tanya Gabriel.


Lagi-lagi Selo menghembuskan nafas lega, kala mendengar pertanyaan sang ayah, benar dugaannya sang ayah belum tahu yang sebenarnya. Gabriel baru curiga saja padanya, dan ia rasa ia masih belum terlambat untuk meyakinkan semua, bahwa pernikahannya baik-baik saja tidak.


Ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan semuanya, Sello tidak akan bisa jika harus hidup tanpa apapun, inilah komitmen yang selalu Gabriel ultimatumkan kepadanya. Gabriel akan mencabut semuanya jika Sello melakukan kesalahan yang fatal, apalagi Sello satu-satunya anak lelaki.


Gabriel memberi ultimatum keras bahwa Sello harus bertanggung jawab dengan apapun yang ia lakukan, termasuk pada pernikahannya. Jika tidak, ia kehilangan semuanya dan ia tidak mau itu terjadi. satu-satunya cara adalah, ia harus terus mengajak Bianca untuk berpura-pura bahwa pernikahan mereka baik-baik saja.


“Pernikahan kami baik -baik saja, Dad. Kami hanya ingin lebih banyak waktu berdua.” jawab Sello, Gabriel mengangguk-anggukan kepalanya pertanda ia percaya.


Gabriel bangkit dari duduknya. “Daddy merasa ada yang aneh dengan kalian, dan khususnya dengan kau. Jika kau bermain berani bermain-main di belakang Daddy atau bermain-main dengan apa yang kau dapatkan dan apa yang kau miliki, maka kau tahu akibatnya bukan!” kata Gabriel, lelaki paru baya itu bangkit dan langsung berbalik, lalu keluar dari ruangan sang putra.


Setelah Gabriel pergi, Sello mengadakan kepalanya ke atas, tiba-tiba ia teringat lagi saat tadi Bianca pergi bersama seorang lelaki.


“Haissshhh.”