Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Bianca yang berubah


Sello menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, setiap detik mengantarkan Sello pada ketakutan yang luar biasa.


Tadi pagi, Ia baru saja diteror oleh ayahnya saat ayahnya datang ke kantor, dan sekarang ketika ia sudah mempunyai rencana. Bianca malah tidak ada di apartemen dan memilih pulang ke mansion orang tuanya.


Bisa habis, Jika orang tua Bianca mengetahui yang sebenarnya, tentu saja hukuman yang akan diterima oleh Selo berkali-kali lipat, dari keluarganya dan dari keluarga istrinya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya, mobil yang dikendarai Sello sampai di mansion keluarga Bianca, ia pun langsung turun kemudian masuk ke dalam.


“Sello!” panggil Maria. Sello tersenyuk kikuk, helaan nafas terlihat dari wajah tampannya saat mendengar Maria memanggilnya. Sebab Maria masih memanggilnya dengan hangat dan jika memang Bianca sudah memberitahukan semuanya, tentu saja reaksi ibu mertuanya tidak akan begini.


”mommy, mana bianca!” tanya Sello


“Bianca sedang ada di kamarnya, kau naik saja ke atas!” kata Maria, Sello pun mengangguk.


Setelah di depan kamar Bianca, Selo membuka pintu kamar, kemudian ia langsung masuk.


“Aaaa!” Bianca berteriak saat Sello masuk ke dalam kamarnya, dan ternyata Bianca baru saja keluar dari kamar mandi dan dia hanya memakai handuk kimono yang super pendek dan itu sukses membuat Sello membulatkan matanya, dengan jakun yang naik turun.


Saat menyadari tatapan Selo, Bianca langsung berlari ke arah ranjang, kemudian ia langsung melempar bantal pada Sello.


“Berani sekali kau masuk ke kamarku!” teriak Bianca, membuat Sello tersadar.


Seketika Sello maju ke arah Bianca, kemudian ia langsung membekap mulut Bianca, karena tidak ingin kedua mertuanya mendengar perdebatan mereka.


“Tutup mulutmu, jika orang tuamu tahu akan bahaya!” kata Selo. Namun Bianca men geleng-gelengkan kepalanya.


“Biarkan mereka tahu!” kata Bianca lagi, dengan suara yang kurang jelas, karena mulutnya dibekap oleh Sello, membuat Sello memejamkan matanya.


Sello menarik Bianca, kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Lalu setelah itu, Sello mengunci kamar mandinya.


“Sello,.apa-apa kan kau!” teriak Bianca, matanya melotot pada Sello, membuat tertegun, karena untuk pertama kalinya, ia mendengar Bianca ia berteriak padanya dengan wajah yang memerah.


“Bianca, pelankan suaramu!” kata Sello.


“Tidak mau, memangnya siapa kau. Ini mansion kedua orang tuaku.”


“Aku suamimu Bianca!” jawab Sello.


“Dengarkan aku, Bianca. Ayo kita pulang ke apartemen. Kita mulai semuanya dari awal,” ucap Sello, seketika tawa Bianca meledak.


“Apa kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu?” tanya Bianca.


Sello sudah kehilangan akal, bagaimana cara untuk membujuk Bianca, seketika ia maju ke arah Bianca. Satu langkah Sello maju, satu langkah pula Bianca mundur.


“Kau mau apa?” tanya Bianca dengan gugup apalagi Sello menatapnya dengan tatapan lapar.


“Aku akan memberikan hakmu, sepertinya tidak buruk juga jika kita bercinta di sini!” kata Sello.


Mendengar ucapan Sello tiba-tiba Bianca menghentikan langkahnya, kali ini ia menatap Sello dengan tatapan mengejek. “Jika kau ingin bercinta denganku, berikan dulu semua isi dompetmu, uang, kredit card dan yang lain-lain!” kata Bianca, membuat mata Sello bulat.


“Kau memerasku?” tanya Sello.


“Bukan selama 5 tahun ini, kau tidak pernah memberikan nafkah padaku. Jadi aku minta nafkah sekarang. Setelah itu, aku akan pulang ke apartemen!”


“Lupakan, terserah kau saja jika kau ingin di sini!” pada akhirnya, Selo berbalik dan keluar dari kamar mandi, membuat Bianca mengangkat bahunya acuh. Ia terpaksa harus mengatakan ini, karena ia benar-benar tidak ingin diganggu oleh Sello.


Tapi kelegaan Bianca tidak bertahan lama, karena pintu kamar mandi kembali terbuka. Sosok Sello masuk ke dalam lagi, membuat mata Bianca membulat.


“Untuk apa kau kemari!” tanya Bianca “Cepat pergi!”


Bukannya menjawab, Sello Malah mengeluarkan dompetnya, lalu menarik tangan Bianca. “Ambil semuanya dan cepat keluar, ayo kita pulang ke apartemen!” kata Sello membuat mata Bianca membulat.


“Bianca, kenapa kau begitu bodoh, mau saja menikah dengan lelaki sepertinya!” ucap Bianca pada dirinya sendiri, ketika Sello sudah berbalik.


“Apa kau bilang!” Ternyata Sello mendengarkan ucapan Bianca.


“Tidak lupakan saja!”BIanca berjalan mendahului Sello, dan tepat ketika ada di samping Sello, Bianca menarik tangan Sello.


“Ambil dompetmu, aku tidak butuh uangmu, uangku juga pasti lebih banyak daripada uangmu!”


Sello ....