Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Ayo bercerai


Adrian, Mayra serta Alice masuk ke dalam restoran, di mana restoran itu tampak ramai. Adrian sengaja memilih bangku di ujung agar tidak terlalu berisik. Setelah semua duduk, Ardian langsung mengangkat tangannya kemudian memanggil pelayan, lalu setelah itu dia menyerahkan buku menu pada Alice dan Mayra.


"Mommy, kau tidak memilih?" tanya Alice ketika Mayra hanya melihat menu. Entahlah, Mayra sama sekali tidak ingin makan, bahkan rasanya Mayra ingin cepat berbaring.


"Mommy pesan susu coklat saja," jawab Mayra.


"Mommy tidak makan?" tanya Alice lagi yang terheran.


"Mommy sudah makan tadi di rumah kakek dan nenekmu," jawab Mayra lagi seraya tersenyum pada Putri sambungnya.


Adrian melihat ke arah Mayra. Dia merasakan bahwa wajah Mayra pucat.


"Kau baik-baik saja?" tanya Adrian, hingga Mayra mengangguk.


"Aku baik-baik saja," sahut Mayra.


"Adrian." Tiba-Tiba, terdengar suara wanita yang memanggil Adrian, hingga Adrian menoleh.


"Dokter Siska," panggil Adrian. Lelaki itu pun langsung bangkit dari duduknya untuk menyapa Siska, dokter yang dulu berdinas di rumah sakit yang sama di rumah sakit yang dulu.


"Aku tidak menyangka kita bertemu di sini," ucap Adrian yang menerima uluran tangan Siska.


"Anda sendirian, Dok?" tanya Adrian.


"Iya, aku sendirian," jawab Siska.


"Oh ya, perkenalkan, ini istriku dan juga ini putriku," ucap Adrian sembari menoleh pada sosok yang dimaksud. Mayra pun bangkit dari duduknya, kemudian mengulurkan tangan lalu disusul oleh Alice.


"Apa boleh aku bergabung?" tanya Siska.


"Tentu, silakan," jawab Adrian dengan santainya, membuat Mayra terdiam. Menyakitkan ketika di depan matanya sendiri, dia melihat Adrian mempersilakan wanita lain duduk di meja yang sama.


Setelah Siska duduk, Adrian memanggil pelayan, meminta buku menu untuk Siska dan setelah itu mereka pun berbincang-bincang mengenai pekerjaan, mengabaikan Mayra dan Alice. Jangan ditanyakan betapa hancurnya Mayra saat ini.


Ternyata, Adrian hanya bersikap dingin padanya, tapi bisa bersikap hangat pada wanita lain. Jela


Sementara Alice, dari tadi menatap ayahnya dengan kesal. Dia tidak suka ayahnya mempersilahkan duduk wanita lain.


Namun sayangnya, Adrian sama sekali tidak melihat ke arah Alice yang menatapnya dengan tajam, hingga pesanan mereka pun datang.


"Alice, kau tidak makan?" tanya Adrian ketika Alice hanya menatap makanannya.


"Tidak, aku ternyata sudah kenyang," jawabnya.


Sementara Mayra juga sama. Dia hanya menatap susu yang ada di depannya.


"Kau tidak minum susumu?" tanya Adrian pada istrinya dengan sorot penuh tanya.


"Tidak, nanti saja," jawab Mayra. Adrian yang tidak ingin ambil pusing pun, mengangguk kemudian dia memakan makan malamnya, begitu pun dengan Siska.


Akhirnya, acara makan malam pun selesai. Siska pamit untuk pergi terlebih dahulu, dan ketika Adrian menoleh ke arah Mayra dan Alice, Adrian mengerutkan keningnya ketika makanan mereka masih utuh.


"Kenapa kalian tidak memakan makanan kalian?" tanya Adrian, benar-benar bingung.


"Aku permisi, aku ingin pergi ke toilet," ucap Mayra. Wanita itu pun langsung bangkit dari duduknya, kemudian dia langsung berjalan meninggalkan meja Alice.


"Kenapa kau tidak makan?" tanya Adrian lagi pada Alice.


"Daddy, apa Daddy tidak tahu bahwa Mommy Mayra cemburu?" Alice bertanya balik. Tatap matanya menyiratkan ketidaksukaan terhadap sikap Adrian kepada Siksa di hadapan Mayra tadi.


"Cemburu? Kenapa harus cemburu?" Adrian memasang ekspresi bertanya-tanya.


Alice menggeleng saat melihat ayahnya. Entah pura-pura polos ataupun memang sengaja.


"Sudahlah," kata Alice yang enggan berbicara dengan sang ayah.


***


Mayra mematut diri di depan cermin. Wanita itu menatap wajahnya lekat-lekat, dia mencari ke kekurangan di dalam wajahnya sampai Adrian tidak mau menatapnya.


Mayra menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi. Sebuah pertanyaan melintas di benak wanita itu, bahwa bukankah seumur hidup terlalu lama dihabiskan dengan orang yang salah?


Mayra menghela napas, mencoba untuk menegarkan hatinya kemudian dia kembali keluar.


***


Adrian menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali, dia melihat ke arah Alice yang tampak terdiam dan juga dia melihat ke arah Mayra. Anak dan istrinya kompak mendiamkannya.


Adrian tidak peduli dengan Mayra yang mendadak bersikap dingin dan mendadak mendiamkannya, tapi tidak dengan Alice. Dia paling tidak bisa didiamkan oleh putrinya.


"Alice," panggil Adrian hingga Alice langsung menoleh. Dia hanya berdeham menjawab ucapan ayahnya.


"Kau ingin membeli sesuatu?" tawar Adrian.


"Tidak, aku tidak ingin apa-apa. Aku ingin tidur," jawab Alice.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adrian sampai di rumah. Mayra mendahului turun tanpa menoleh ke arah Adrian, begitu pun dengan Alice yang juga menyusul Mayra. Sepertinya, Mayra sudah berada di titik lelahnya, di mana dia tidak ingin menoleh lagi pada lelaki itu, dan dia tidak ingin peduli lagi dengan Adrian dan apapun yang dilakukan oleh suaminya.


"Alice, tidurlah. Alice, apa kau lapar?" tanya Mayra ketika mereka sampai rumah, sebab Alice tadi tidak menyentuh makanan di restoran.


"Tidak Mommy, aku ingin tidur saja," jawab Alice hingga Mayra pun mengangguk.


"Selamat malam Mommy Mayra," pamit Alice.


Mayra dan Alice sama-sama masuk ke dalam kamar, dan ketika masuk, Mayra langsung berjalan ke walk-in closet kemudian dia langsung membersihkan dirinya lalu mengganti pakaiannya.


Tepat ketika Adrian masuk, Mayra keluar dari walk-in closet. Lelaki itu menatap Mayra, sedangkan maira tak acuh pada Adrian dan lebih memilih membaringkan tubuhnya di ranjang.


Setengah jam kemudian, terdengar suara ranjang bergoyang hingga Mayra yang sedang melamun, mengerjap. Dia membelakangi Ardian karena dia tidak ingin melihat wajah lelaki itu, sedangkan Adrian langsung menarik selimut kemudian juga ikut membelakangi Mayra. Keduanya tidur saling membelakangi, hingga pada akhirnya malam pun berganti pagi.


Adrian terbangun dari tidurnya. Dia melihat ke arah samping, ternyata Mayra tidak ada dan tak lama, terdengar suara dari arah walk-in closet. Sepertinya, Mayra baru saja membersihkan dirinya.


Sepuluh menit kemudian, Adrian yang sedang melamun, menoleh ketika mendengar suara derap langkah.


"Kau mau ke mana?" tanya Adrian.


"Aku akan mulai ke kantor hari ini," jawab Mayra.


"Ke kantor? Lalu, bagaimana dengan Alice?" tanya Adrian.


Mayra terdiam saat mendengar ucapan Adrian. Namun tak lama, dia menormalkan ekspresinya. "Aku sudah berbicara dengan Alice," jawabnya.


"Oh iya, hati-hati di jalan," ucap Mayra, karena Adrian mengatakan akan kembali ke Korea hari ini. Setelah itu, Mayra langsung keluar dari kamar.


Selama ini, dia mempercayakan pada bawahannya. Namun setelah dipikir, Mayra merasa akan tertekan jika terus seperti ini, hingga dia memutuskan untuk bekerja. Soal Alice, tadi pagi dia sudah berbicara dengan putri sambungnya, dan Alice pun mengizinkan Mayra untuk kembali bekerja.


Ketika Mayra keluar, Adrian mengerutkan keningnya. Bukankah bagus jika Mayra tidak terus berharap padanya? Begitulah pikir Adrian.


Adrian turun dari ranjang. Lelaki itu langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan diri, karena hari ini dia akan kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja. Tentu saja alis Alice dan Mayra berpikir bahwa dia kembali ke Korea.


***


Adrian keluar dari kamar. Dia sudah rapi dengan pakaiannya dan bersiap untuk pergi, dan sebelum pergi ke ruang makan, Adrian pergi ke kamar Alice.


"Alice," panggil Adrian.


Alice yang sedang berada di depan laptop, menoleh. Sepertinya, gadis remaja itu masih kesal tentang kejadian semalam di mana Adrian mengizinkan Siska untuk makan di meja yang sama.


"Ayo sarapan, Daddy sebentar lagi berangkat," ucap Adrian.


"Aku sudah sarapan. Nanti saja," jawabnya.


"Alice, kau berbohong," ucap Adrian.


Alice bangkit dari duduknya. "Daddy, jika ingin berangkat, berangkat saja," ucap Alice.


"Alice, apa Daddy pernah mengajarkanmu untuk tidak sopan?" tanya Adrian yang merasa bahwa Alice sudah di luar batas.


"Apa Daddy pikir, Daddy juga sudah merasa sopan mengizinkan wanita lain duduk di meja yang sama?" Alice menyerang.


"Kau masih kesal tentang semalam?" tanya Adrian, dia menatap Alice seraya menggeleng. Sepertinya di mata Alice hanya ada Mayra dan Mayra.


"Jika Daddy sadar, baguslah," katanya lagi hingga Adrian mengusap wajah kasar. Tak ada gunanya berdebat dengan sang anak, hingga pada akhirnya Adrian pun memutuskan untuk berbalik dan keluar dari kamar Alice.


"Dasar egois," gerutu Alice.


***


Mayra turun dari mobil. Wanita itu masuk ke dalam kafe, dan seperti biasa, dia menikmati secangkir susu sebelum dia pergi ke kantor. Ada yang aneh dan ada yang berbeda dengan Mayra pagi ini, sebab dia merasa plong. Tidak berjibaku lagi dengan memikirkan Adrian dan sikap suaminya.


Setelah kemarin, dia sudah berpikir banyak. Dia tidak akan peduli lagi dengan apapun yang dilakukan oleh suaminya di luar sana, entah Adrian akan tetap bersikap dingin atau berubah, Mayra hanya ingin menikmati hidupnya.


Tiba-Tiba, seseorang berdaham hingga Mayra yang baru saja duduk di kursi, langsung menoleh. "Tommy," panggil Mayra.


Sepertinya, Tommy mengikuti Mayra, hingga akhirnya dia bisa tahu wanita itu ada di mana, dan ketika Mayra masuk, dia pun langsung menyusul masuk ke dalam.


"Apa aku boleh duduk di sini?" tanya Tommy.


"Tentu, duduklah," jawabnya.


"Kau kebetulan kemari atau kau ...."


"Tentu saja aku mengikutimu," jawab Tommy membuat mata Mayra membulat. Seketika, tawa Tommy meledak.


"Tidak, tidak. Maaf Mayra, aku hanya bercanda. Aku kebetulan lewat sini, dan aku tadi melihat mobilmu jadi aku mampir kemari," jawab Tommy.


Mayra mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Tommy," ucap Mayra. Setidaknya, dia tidak terlalu kesepian karena dia mempunyai teman mengobrol. Memang ini salah, tapi siapa tahu Adrian pun berbuat lebih salah darinya, begitulah pikir Mayra.


Setelah memesan, mereka berbincang-bincang hangat dan untuk pertama kalinya, Mayra merasa bahwa dia mempunyai teman yang mampu mendengarkannya.


Akhirnya, acara di kafe pun selesai. Mayra dan Tommy pun bangkit, kemudian berjalan ke arah mobil masing-masing. Mereka berjanji untuk menjadi sepasang teman. Bagi Mayra, mungkin tidak ada salahnya untuk menjalin pertemanan dengan Tommy.


Mayra menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak lama, ponsel berdering. Satu panggilan dari Alice, hingga Mayra pun langsung mengangkatnya.


"Iya, Alice?" sapa Mayra.


"Mommy, aku tidak mau sekolah. Boleh aku bolos saja?" tanya Alice di seberang sana.


"Alice, kau ada ulangan di sekolah, Jika kau tidak sekolah, Mommy tidak akan pulang," ucap Mayra.


"Baiklah." Alice pun mematikan panggilannya hingga Mayra tersenyum, mungkin dia hanya ibu sambung Alice, tapi rasa sayang Mayra pada Alice tidak perlu diragukan lagi.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Mayra sampai di depan gedung yang tak lain gedung perusahaan miliknya. Dia pun langsung turun, kemudian berjalan masuk.


***


Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Mayra menyandarkan tubuhnya ke belakang. Wanita itu mengambil ponselnya, kemudian melihat jam. "Dia pasti sudah pergi," lirih Mayra, yang dimaksud dia adalah Adrian karena dia tahu Adrian akan pergi hari ini.


"Ah sudahlah, apa peduliku," lirih Mayra lagi.


Tak lama, pintu ruangan Mayra diketuk hingga Mayra pun mempersilahkan untuk masuk.


"Nona Mayra, ini ada kiriman untuk Anda," ucap Elvi, sekertarisnya.


"Kiriman?" ulang Mayra. Dia menatap sekretarisnya dengan bingung. Elvi maju kemudian wanita itu memberikan paper bag untuk Mayra, dan tak lama ponsel Mayra berdering. Satu pesan masuk ke nomornya, hingga Mayra melihat siapa yang mengirim pesan itu.


"Makan siang untukmu." Begitulah isi pesannya, dan ternyata Tommy yang memesankan makanan untuknya.


"Terima kasih, Tommy," balas Mayra, hingga Mayra pun menyimpan kembali ponselnya ke bawah kemudian membuka paper bag, lalu setelah itu membuka kotak makan.


Mata Mayra berbinar saat melihat makanannya. Tadi, Mayra sempat mengatakan bahwa dia menderita penyakit liver, dan ternyata Tommy mengirimkan makanan sehat yang sesuai dengan yang selalu Mayra makan.


Mayra pun dengan lahap memakan makanan itu, hingga akhirnya makanan itu pun habis. Tak lama, ponsel Mayra berdering. Satu panggilan masuk dari Bianca.


"Bi," ucap Mayra, "oh, baiklah aku akan pergi ke sana nanti sore," ucap Mayra lagi. Setelah itu, dia mematikan panggilan.


Rupanya, Bianca mengajak berbelanja dan jika biasanya Mayra menolak karena dia tidak ingin meninggalkan Alice, tapi sekarang dia tidak ingin menahan apapun lagi. Dia ingin menikmati hidupnya, begitulah pikir Mayra.


***


Satu bulan kemudian.


Adrian menyandarkan tubuhnya ke belakang. Lelaki itu menatap ke arah jam, ternyata waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Ini sudah satu bulan berlalu semenjak dia berpura-pura pergi ke Korea, dan selama satu bulan ini pula Mayra benar-benar tidak pernah mengirimnya pesan lagi, begitu pun dengan Alice. Sepertinya, kejadian sebulan lalu membuat gadis remaja itu masih kesal, sehingga tidak pernah meneleponnya dan jika dia menelepon Alice pun, Alice hanya akan menjawab singkat.


Adrian bangkit dari duduknya, kemudian setelah itu, dia menyambar kunci mobil. Namun, baru saja dia akan keluar, ponselnya berdering. Satu panggilan masuk dari Mayra.


"Tepat sekali," ucap Adrian hingga dia pun langsung mengangkat panggilannya.


"Ada apa?" tanya Adrian, seperti biasa, Adrian menjawab dingin dan datar.


Mayra terdiam di seberang sana. "Boleh aku minta waktu sepuluh menit?"


"Bicaralah," titah Adrian.


"Aku sudah memikirkan ini selama sebulan, dan ayo kita bercerai," ajak Mayra. hingga