
Roland melemparkan tongkat bisball yang baru saja dia pakai untuk memukul Selo, dan sekarang tubuh Selo sudah terkapar di tanah dengan posisi kursi yang masih menempel di tubuhnya. Lelaki itu tidak sadarkan diri karena dia disiksa oleh Roland sedemikian rupa.
Roland langsung keluar dari ruangan tersebut, kemudian lelaki itu langsung menghampiri anak buahnya.
"Jangan berikan dia makan, berikan dia makan dua hari lagi. Aku harus mengurus sesuatu," ucap Roland. Dia harus melakukan rencana dengan matang sebelum dia melakukan negosiasi dengan Gabriel.
Sementara di sisi lain, Gabriel mengamuk di kantor kepolisian. Setelah tadi dia menghajar polisi yang menutupi kaburnya Roland, dan setelah menyusul ke gudang untuk membebaskan Bianca, Gabriel kembali lagi ke kantor polisi dan lelaki itu mengamuk di sana.
Sebab, jika polisi mengatakan bahwa Roland kabur, dia bisa berantisipasi. Namun, gara-gara polisi itu lalai, akhirnya sekarang Bianca dan Selo yang menjadi korban.
Semua polisi terdiam di sisi. Tidak ada yang berani menghentikan Gabriel. Semua ruangan sudah acak-acakan. Komputer, berkas-berkas dan yang lain-lain berserakan di bawah.
Gabriel benar-benar mengamuk sejadi-jadinya, memaki para polisi yang bertugas menangani kasus Roland hingga polisi yang lain yang tidak terlibat pun, ikut menunduk karena mereka takut dengan lelaki paruh baya tersebut.
Tak lama, tatapan Gabriel terarah pada lelaki yang merupakan ketua tim polisi yang menangani kasus Roland, dan lelaki itu pula yang melarang membocorkan tentang kaburnya Roland dari tahanan.
Seketika Gabriel langsung berjalan ke arah lelaki itu. Tadi dia sudah menghajarnya, dan sekarang rasanya Gabriel ingin sekali menghancurkan lelaki tersebut. Satu tendangan Gabriel arahkan pada lelaki itu. Dia tidak peduli jika harus berurusan dengan hukum.
"Apa kau tahu kau berhadapan dengan siapa?!" teriak Gabriel. Dia mencengkeram leher lelaki tersebut hingga lelaki tersebut hanya bisa pasrah. Dia tidak berani melawan sedikit pun.
"Kau ini dibayar melalui pajak masyarakat dan kau masih menyalahgunakannya?!" tanya Gabriel. Dia melepaskan cengkramannya lalu setelah itu dia menampar lagi pria tersebut.
Tak cukup sampai di situ, Gabriel menghajar hingga lelaki tersebut terkapar di lantai. Tidak ada yang berani melerai Gabriel karena sepertinya lelaki paruh baya itu sedang menggila.
Setelah urusannya di kantor polisi selesai dan setelah membuat lelaki itu tidak sadarkan diri, Gabriel keluar dari kantor kepolisian. Dia langsung menuju ke markas untuk mencari tahu di mana Selo. Dia yakin lewat cermin canggihnya, dia bisa melacak keberadaan Selo lewat ponsel putranya.
"Bisakah kalian menyetir dengan cepat?!" teriak Gabriel pada sopir yang memawa mobilnya. Sepertinya emosi Gabriel masih memuncak hingga sopirnya menjadi sasaran emosi.
Lelaki itu sudah membawa mobilnya dengan kecepatan yang sangat kencang, bahkan beberapa kali dia hampir menyenggol mobil milik orang lain. Namun bagi tuannya, ternyata kecepatan ini masih sangat lambat.
"Baik, Tuan," jawab sopir Gabriel.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Gabriel sampai di markas miliknya. Lelaki itu segera turun diikuti anak buahnya. Dia lalu masuk ke dalam.
Saat berada di dalam, Gabriel langsung mendudukkan diri di kursi, kemudian dia mengetuk-ngetuk meja. Lalu setelah itu, dinding berubah menjadi sebuah layar.
"Lacak keberadaan putraku lewat ponselnya," ucap Gabriel.
"Baik Tuan." Monitor itu menjawab
Layar mulai bergerak menampilkan semua grafik, hingga Gabriel terus melihat ke arah layar tanpa berkedip. Sepuluh menit kemudian, layar tidak kunjung berubah. Seperti masih mencari di mana keberadaan Selo, hingga Gabriel kembali mengetuk meja, lalu layar berhenti dengan sendirinya.
"Kenapa kalian begitu lambat? Apa kalian tidak bisa lebih cepat?" tanya Gabriel dengan berapi-api.
"Maaf Tuan, kami masih berusaha mencari," jawab monitor.
Gabriel kembali mengetuk meja hingga layar itu kembali menampilkan beberapa grafik, pertanda sedang mencari keberadaan Selo.
Setengah jam kemudian, Gabriel menggebrak meja. Dia begitu emosi ketika cermin canggih itu tidak mengeluarkan informasi apapun. Dari tadi hanya menayangkan grafik. "Cepat! Cari apa? kalian masih belum menemukannya?!" teriak Gabriel.
"Maaf, Tuan, sinyal dari ponsel putra Anda tidak tertangkap," jawab monitor.
Gabriel memejamkan matanya seraya mengusap wajah kasar. Dia langsung mengetuk meja hingga layar itu berubah menjadi tembok. Lalu setelah itu, Gabriel mendudukkan dirinya di kursi.
Gabriel mencoba menghela napas. Melihat kondisi Bianca seperti tadi, dia yakin kondisi Selo akan lebih parah di tangan Roland.
Gabriel lalu bangkit dari duduknya. Lelaki itu keluar dari ruangan, lalu menghampiri anak buahnya. "Sebar semua di seluruh negeri, kerahkan mereka untuk mencari di hutan dan di manapun. Jika masih kurang, gunakan orang-orang," ucap Gabriel. Dia akan mempertaruhkan apapun untuk menemukan putranya.
Setelah mengatakan itu, Gabriel pun keluar, begitu pun dengan anak buah Gabriel yang langsung menyebar untuk mencari Selo ke seluruh penjuru negeri.
***
Gabriel menyadarkan tubuhnya ke belakang. Lelaki paruh baya itu memegang dadanya yang terasa sesak. Apa yang harus dia jelaskan pada Amelia? Dia tidak sanggup melihat Amelia hancur karena kehilangan putra mereka.
Gabriel memejamkan matanya. Tanpa sadar, bulir langsung terjatuh dari pelupuk mata lelaki itu. "Maafkan Daddy, Selo," ucap Gabriel.
Tiba-Tiba Gabriel terpikir akan sesuatu. Dia pun meminta sopir untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Dia ingin melihat kondisi mantan menantunya.
***
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Gabriel sampai di sana. Lelaki itu bergegas turun kemudian masuk ke dalam, dan ternyata Maria dan Lyodra sedang berada di depan ruang operasi.
"Bagaimana keadaan Bianca?" tanya Gabriel.
Lyodra yang sedang duduk, menoleh. Mata Lyodra sudah basah pertanda lelaki itu juga baru saja selesai menangis.
"Pendarahan di otaknya dan juga ...." Lyodra tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya, bahkan bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata lelaki itu.
Sementara Maria, dari tadi menyadarkan tubuhnya ke dinding. Tatapan matanya kosong. Separuh jiwa Maria seperti pergi.
***
Bianca terbangun dari tidurnya. Dia tersenyum ketika dia sedang berada di kamar yang sangat mewah. Tak lama, terdengar suara derap langkah hingga Bianca menoleh ke arah pintu, dan ternyata muncul sosok Selo dan juga anak mereka yang mungkin sekarang sudah berusia tujuh tahun.
"Mommy, kau tidur lama sekali. Aku dan Daddy tidak bisa bermain dengan Mommy," ucap anak kecil itu yang Bianca beri nama Ashilla.
Bianca terkekeh kemudian dia mengelus rambut Ashilla. Lalu setelah itu, Selo pun naik.
"Akhirnya kau bangun," ucap Selo sambil mengelus rambut Bianca.
Bianca memeluk Sello dengan erat. Dia begitu bahagia, karena sekarang kehidupannya begitu sempurna. Selo mencintainya dan juga dia mempunyai putri yang sangat lucu.
Selo membalas pelukan Bianca dengan erat. Lelaki itu menciumi pucuk kepala Bianca bertubi-tubi.
"Kenapa perasaanku tidak enak sekali?" tanya Bianca.
Selo terkekeh. Dia mengelus kepala istrinya. "Pasti kepalamu masih sakit?" tanyanya.
"Kepalaku, tubuhku juga semua masih sakit," ucapnya.
Selo mengajak Bianca untuk berbaring, sedangkan putri mereka sudah keluar dari kamar. Kini, posisi mereka pun berhadap-hadapan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Bianca.
"Oh ya, kau mencintaiku?" tanya Bianca lagi.
"Cinta sekali. Jika aku pergi, kau harus tetap baik-baik saja. Kau harus tetap ceria dan kau harus tetap bahagia," ucap Selo.
"Memangnya, kau mau pergi ke mana? Kau tega meninggalkan kami?" tanya Bianca yang protes dengan ucapan Selo membuat Selo tertawa.
"Ya aku, 'kan, hanya berjaga-jaga. Umur, 'kan, tidak ada yang tahu," jawab Sello, tatapan matanya mendadak kosong.
Tiba-Tiba Bianca mencapit mulut Selo, karena Selo terus berbicara seperti itu. Bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali.
" Jangan katakan itu lagi, Aku tidak ingin kehilanganmu, memangnya kau mau aku menikah dengan orang lain?" tanya Bianca membuat Selo terkekeh.
"Asal lelaki itu bisa membuatmu bahagia, kenapa tidak?" tanya Selo.
"Tutup mulutmu," ucap Bianca. Bianca tidak terima. Dia langsung menyentil mulut Selo yang mengatakan hal seperti itu, membuat Selo tertawa hingga Bianca pun langsung mendekat kemudian memeluk Selo dengan erat, begitu pun dengan Selo. Kedua insan itu saling memeluk. Cinta mereka begitu menggebu-gebu, hingga pada akhirnya Bianca terlelap di pelukan suaminya.
Bianca terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan pandangannya. Wanita itu melihat sekelilingnya. Gelap. Dia pikir dia lupa menyalakan lampu. Dia meraba ke sekitarnya, ternyata Selo tidak ada di sampingnya. Seingatnya, tadi mereka tidur berdua.
Bianca dengan pelan turun dari ranjang, kemudian wanita itu langsung mencari saklar, dan dia pun langsung menyalakannya. Bianca melihat ke sekelilingnya. Semua tampak sepi. Putri dan suaminya tidak ada di kamar, hingga Bianca pun langsung keluar.
Terdengar suara dari arah dapur dan sepertinya, Bianca tahu apa yang sedang dilakukan oleh Selo dan juga putri mereka, hingga Bianca pun berjalan ke arah dapur.
Bianca tersenyum saat melihat Selo dan putri mereka sedang memasak, ini adalah pemandangan indah baginya.
"Kau sudah bangun?" tanya Selo.
Bianca tersadar ketika Selo memanggilnya, hingga Bianca tersenyum.
"Mommy, ayo memasak bersama kami," ucap putri mereka hingga Bianca pun berjalan ke arah dapur untuk bergabung bersama anak dan suaminya.
Namun, saat dia akan mendekat, Bianca tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika Selo dan putri mereka melambaikan tangan pada Bianca.
"Kenapa kalian melambaikan tangan?" tanya Bianca dengan panik.
"Mommy, hiduplah bahagia. Jangan pikirkan kami," ucap putrinya.
"Sayang, kami harus segera pergi. Ingat pesanku, jaga kesehatanmu. Bahagialah, aku dan putri kita akan selalu melihatmu dari atas sana," ucap Selo, tatapan mata lelaki itu begitu memucat.
Wajah Bianca memucat. "Kau mau ke mana, Selo?!" teriak Bianca.
"Sampai jumpa, Sayang," ucap Selo.
"Sampai jumpa Mommy," ucap Ashilla.
Pada akhirnya, Sello dan Putri mereka hilang secara perlahan. Bayangan mereka sudah tidak terlihat lagi. "Tidak. Selo! Ashilla!" teriak Bianca. Dia langsung pergi ke arah dapur kemudian wanita itu berjalan ke sana kemari.
"Tidak, jangan tinggalkan aku!" teriak Bianca. Dia meraung memanggil nama Selo dan putri mereka.
Bianca membuka matanya, wanita itu mengerjapkan pandangannya.
Otak Bianca terasa kosong. Dia tidak mengingat apa yang terjadi. Tadi seingatnya dia berteriak di dapur memanggil nama Selo karena Selo dan putrinya menghilang, dan rupanya itu adalah mimpi Bianca yang sedang dioperasi, dan saat ini Bianca sudah berada di ruang rawat.
Setelah di operasi, Bianca di tempatkan di ruang ICU selama beberapa jam dan sekarang Bianca sudah di rawat di ruang rawat biasa.
Beberapa menit berlalu, Bianca masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dia berusaha berpikir keras. Sungguh, dia hanya ingat bahwa dia tadi berteriak mencari Selo dan anak mereka yang menghilang secara tiba-tiba.
Tak lama, Bianca tersadar ketika dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya hingga wanita itu langsung melihat ke arah bawah. Mata Bianca membulat saat melihat tubuhnya dipasangi alat-alat medis, dan sepersekian detik Bianca juga merasa kepalanya terasa nyeri.
Tak cukup sampai di sana, Bianca juga merasa tubuhnya begitu remuk dan pada akhirnya, kilasan kejadian-kejadian yang menimpanya langsung menubruk otaknya. Sekarang, dia mengingat semuanya.
Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Bianca. Di tengah rasa sakit yang menderanya, Bianca tiba-tiba teringat Selo dan dia juga sadar, bahwa apa yang dia ingat tentang kepergian Selo dan putrinya adalah sebuah mimpi.
Hati Bianca terasa sesak ketika mengingat Selo datang menyelamatkannya. Tunggu, apakah itu sebuah firasat?
Maria yang sedang melamun, tanpa sengaja melihat ke arah brankar di mana Bianca sudah membuka matanya. "Bianca," panggil Maria. Wanita paruh baya itu langsung bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Bianca.
"Bianca," panggil Maria.
Bianca menatap Maria dengan tatapan sendu. 'Mommy, tubuhku sakit,' batin Bianca, 'Mommy, kepalaku nyeri,' sambungnya.
Namun sayang, dia tidak bisa mengatakan itu. Dia hanya mengatakan apa yang dia rasakan lewat tatapan matanya, hingga pada akhirnya Maria langsung berlari untuk memanggil dokter.
***
Waktu menunjukkan dini hari.
Sedari tadi, Maria terus menggenggam Bianca yang sedang membuka mata, sedangkan Bianca dia tidak bisa tertidur karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia juga berpikir bagaimana nasib Selo di tangan Roland.
"Bianca, apa kau ingin minum?" tanya Maria lagi.
Bianca menggelengkan kepalanya satu kali, pertanda dia tidak ingin minum hingga Maria kembali menggenggam tangan putrinya. Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Bianca ketika mengingat apa yang terjadi, dan dia yakin apa yang akan diterima Selo dari Roland lebih parah dari apa yang Roland lakukan padanya.
'Selo, kenapa kau lakukan hal bodoh?' batin Bianca. Dia tidak menyangka mantan suaminya yang sudah dia usir, yang sudah dia suruh menjauh, malah datang menyelamatkannya. Rela enukar nyawanya.
'Maafkan aku, Selo,' batin Bianca.
"Bianca, kau tidak apa-apa?" tanya Maria ketika Bianca mengeluarkan air mata.
"Selo," kata Bianca.
Akhirnya, Bianca berhasil menyebutkan nama Selo, hingga Maria terdiam. Dia lupa bagaimana keadaan Selo, yang pasti akan baik-baik saja.
"Paman Gabriel sedang mencarinya," ucap Maria yang menenangkan sang putri. Walaupun dia juga tidak tahu bagaimana keadaan Selo sekarang.
Perasaan Maria berbanding terbalik. Jika sebelumnya dia membenci menantunya, tapi sekarang dia khawatir. Walau bagaimanapun, jika tidak ada Selo mungkin tidak akan seperti ini.
Sedangkan di sisi lain, Roland tertawa saat melihat tubuh Sello digantung, hingga kini posisi kepala Selo ada di bawah. Sedari tadi dia mengalami kekerasan dari Roland, dan itu benar-benar membuat tubuh Sello lemas dan tidak berdaya, ia berharap sang ayah segera datang menyelamatkannya, karena dia sudah tidak sanggup untuk menerima siksaan Roland yang luar biasa pedas. Di tengah rasa sakitnya, dia masih terpikirkan Bianca.
Walaupun sekarang dia merasa tak berdaya, tapi dia sama sekali tidak menyesali keputusannya untuk datang menyelamatkan Bianca.