Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Sello yang bingung


1 jam kemudian


Maria terus melihat jam di pergelangan tangannya, sedari tadi setelah memanaskan makanan, ia mendudukkan diri di sofa, sedangkan Selo berada di kamarnya. Ia sengaja menunggu Bianca agar bisa makan bersama.


Tapi satu jam berlalu, Bianca tak kunjung datang.


Tak lama, terdengar suara pintu terbuka. Rupanya Sello keluar dari kamarnya. “Sello, Bagaimana Bianca, bukankah katamu Bianca akan datang sebentar lagi, tapi kenapa Bianca belum juga datang sampai sekarang?” tanya Maria.


Sello menggigit bibirnya, ia tidak pernah segugup ini sebelumnya. Setelah mengirim pesan pada Bianca, Sello kembali menelepon Bianca beberapa kali. Namun seperti tadi, Bianca sama sekali tidak menjawab panggilan.


“ Bianca ....” tiba-tiba ucapan Sello terputus saat mendengar suara pintu terbuka, muncul sosok Bianca masuk ke dalam apartemen, membuat Sello menghela nafas lega.


“Bianca, apa operasimu baru selesai?” tanya Maria tiba-tiba.


“Operasi? operasi apa?” jawab Bianca membuat mata Selo membulat. Lutut Sello rasanya melemas saat mendengar jawaban Bianca. Biasanya, Bianca akan langsung menjawab ia agar Maria tidak banyak bertanya. Tapi sekarang ....


“Bukankah kata Selo kau sedang ada operasi?” tanya Maria, Bianca melihat ke arah Selo yang juga sedang melihat ke arahnya. Tatapan mata Sello mengisyaratkan untuk Bianca mengiyakan ucapan sang ibu.


“Tidak aku tidak ada operasi apa-apa," jawab Bianca dengan santai dan ia tahu Sello berbohong pada ibunya dan mengatakan Ia ada operasi. Mungkin dulu ia akan menyetujui kebohongan Sello. Tapi sekarang, dia ingin membiarkan ibunya mengetahui semuanya secara perlahan, ia tidak ingin menutupi apapun.


“Tadi bukankah Sello ....” Maria menatap Sello dengan tatapan bingung.


“Bianca, bukankah kau mengatakan ada operasi darurat?” tanya Sello, dari nada suaranya, terdengar jelas bahwa dia sedang panik.


“Mommy, ada apa kemari?" tanya Bianca menyadarkan Maria dari lamunannya. Entah kenapa, Maria merasakan ada yang aneh dengan Bianca. Maria tersadar, kemudian tersenyum.


“Mommy, membuatkan makanan kesukaanmu kau belum makankan ayo makan!” Maria mengajak Bianca untuk makan terlebih dahulu sebelum mengintrogasi putrinya.


“Sello, kau tidak ikut makan?” tanya Maria saat dia sudah duduk di meja makan, dan Sello masih terdiam di tempat. Sello tersadar, kemudian Ia pun menggangguk. Lalu, ia menarik kursi di sebelah Bianca dan mereka pun memulai makanannya.


“Hmm, enak sekali. Sudah lama aku tidak makan makanan ini,” celetuk Bianca, Maria yang akan menyuapkan makanan menghentikan gerakannya, karena ia terpikirkan sesuatu.


“Bianca ... Sello, apa kalian menunda untuk mempunyai anak?" tanya Maria, entah kenapa dia tidak bisa menahan pertanyaannya. Tiba-tiba Selo tersedak saat mendengarkan pertanyaan Maria, membuat Maria semakin menyipitkan matanya.


Sedangkan Bianca tetap tenang, ia menghabiskan makanan yang telah Ia kunyah, lalu menatap Maria.


“Kami tidak menundanya Mommy,” jawab Bianca. “Karena kami memang tidak akan memiliki anak!” sambung Bianca lagi dengan santainya.


Sello yang baru saja berhenti tersedak langsung menatap Bianca dengan tatapan tak percaya, ia bahkan melototi Bianca. Tentu saja hal itu tidak luput dari penglihatan Maria.


Maria menyimpan sendok di tangannya, kemudian ia menatap Sello dan Bianca secara bergantian.


“Sebenarnya ada apa dengan kalian?” Umi


Wajib banget sih tinggalin komen wkwkw