Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Introgasi


Selo masih tetap diam di cafe. Sedari tadi, lelaki itu tidak lepas menatap ke arah jendela, berharap Bianca akan segera tiba. Setiap sepuluh menit sekali, dia menelepon wanita itu dan menanyakan keberadaan mantan istrinya.


Namun, Bianca selalu mengatakan bahwa di jalan sedang macet, hingga Selo tetap sabar menunggu. Sayangnya, dia tidak menyadari bahwa Bianca mengerjainya. Dia juga tidak punya pikiran buruk tentang wanita itu yang berbohong padanya, padahal jelas-jelas dia telah ditipu.


Selo menghela napas. Dia kemudian mengutak-atik ponsel lalu menelepon Bianca. Tiga kali berdering, akhirnya wanita itu mengangkat panggilan. "Bi, kau di mana? Kenapa kau belum juga sampai ini? Sudah dua jam aku menunggu," ucap Selo.


Selo berbicara dengan cepat membuat Bianca di seberang sana menutup mulut menahan tawa.


"Selo, aku lupa mengabarimu. Ada pasien darurat di rumah sakit," kata Bianca.


"Apa?!" pekik Selo saat mendengar ucapan Bianca.


"Maafkan aku, Selo. Ada operasi darurat," kata Bianca.


"Ya sudah kalau begitu," jawab Selo dengan lesu. Dia pun langsung mematikan panggilan lalu melempar ponsel ke meja. Jangan ditanya betapa merahnya wajah Selo, karena yang pasti dia benar-benar marah juga kecewa.


Namun tak lama, Selo terpikirkan sesuatu. Tunggu, ada operasi? Bukankah dia belum jadi dokter spesialis?


Selo memejamkan mata. Dia menggeram saat menyadari bahwa dia ditipu oleh Bianca. Namun tak lama, rasa kesal itu berubah menjadi tawa kala menyadari ternyata Bianca bisa jahil juga, padahal Bianca yang dia kenal tidak seperti ini.


"Beruntung aku mencintaimu, jika tidak sudah kutenggelamkan kau," kata Selo.


Pada akhirnya, Selo pun memakan makanan yang telah dia pesan. Tentu saja dia menikmatinya dengan kesal. Bayang-bayang dia akan mengobrol panjang lebar dengan Bianca jelas gagal.


Setelah menghabiskan makanan yang dia pesan, Selo bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah kasir untuk membayar, saat dia akan berbalik keluar, langkahnya terhenti karena melihat Roland masuk ke dalam kafe.


Tampaknya, Roland ingin menikmati secangkir kopi, karena dia benar-benar depresi dengan apa yang dilalui. Belum lagi, saat ini dia tak menemui celah untuk anak buahnya masuk ke markas Gabriel.


Layaknya Selo, begitupun Roland. Lelaki itu menghentikan langkahnya, hingga kini kedua orang itu saling menatap. Selo dengan sorot puas disertai mengejek, sedangkan Roland menatapnya dengan amarah yang membara.


"Aku harap kau tidak stres dengan apa yang terjadi," kata Selo dengan nada mengejek. Dia menepuk bahu Roland, setelah itu dia pun pergi keluar dari kafe meninggalkan Roland yang kesal setengah mati. Jika dia tidak sedang berurusan dengan Gabriel, mungkin saja dia akan mengejar lelaki itu dan menghajarnya.


Roland menarik napas kemudian menghembuskannya, lalu masuk ke dalam. Dia berjalan ke arah meja untuk duduk kemudian memanggil pelayan dan membuka buku menu.


Sementara di sisi lain, Aghnia kini dibangunkan oleh anak buah Gabriel karena kondisi wanita itu sudah lebih segar, dan bos mereka memintanya dibawa ke ruang rahasia mereka, di mana Aghnia akan diinterogasi.


Aghnia dalam posisi pasrah. Dia tidak berniat untuk melawan ataupun memberontak pada Roland maupun Gabriel. Sekarang, dia hanya mengikuti alur. Tubuhnya sudah sedikit bertenaga, tapi dia mempunyai trauma hebat di mana kemarin dia dikurung oleh Roland dengan serangga yang sangat banyak.


Lalu sekarang, di sinilah Aghnia berada. Dia duduk dengan tangan diborgol di kursi dan di seberang sana ada Gabriel yang sedang menatapnya dengan sorot tajam. Aghnia menunduk tidak berani beradu pandang, karena tatapan pria itu begitu menakutkan.


Pada akhirnya, Gabriel mengetuk meja dan dinding berubah jadi layar yang menampilkan beberapa rekaman CCTV ketika Roland, Aghnia serta anak buahnya sedang beraktifitas.


"Jelaskan sekarang sebelum aku marah!" ancam Gabriel.


"Baik Tuan," jawabnya dengan cepat sebelum Gabriel kembali bicara, "itu adalah proses seleksi korban yang akan kami eksekusi. Mereka diiming-imingi akan mendapatkan pekerjaan di luar negeri, lalu setelah itu ...."


Aghnia menghentikan ucapannya ketika Gabriel mengangkat jari, mengisyaratkan dia untuk diam. Lelaki itu mengetuk meja lagi hingga tayangan beralih.


"Sebanyak ini?" tanya Gabriel ketika layar menangkap banyak sekali orang yang keluar dari mobil, hingga Aghnia mengangguk mengiyakan ucapan Gabriel.


"Wah kalian benar-benar membuatku merinding," kata Gabriel. Ternyata, banyak sekali orang yang ditipu oleh Aghnia, Roland serta bosnya.


"Lalu setelah itu?" tanya Gabriel.


"Setelah mereka berlayar, mereka akan ditempatkan ke sebuah pulau tidak berpenghuni dan setelah itu, eksekusi pun dimulai," kata Aghnia sembari membayangkan hal itu, dan dia pun bergidik saat menginta tugasnya


.


"Dan kalian tidak merasa bersalah?" tanya Gabriel.Aghnia tidak menjawab. Kadang dia merasa bersalah, tapi uang telah membutakan matanya.


"Lalu, di ke mana, 'kan, organn-organ yang tersisa?" tanya Gabriel lagi.


"Mereka akan dibuang ke peternakan buaya," jawab Aghnia sambil menunduk, dia tidak berani menatap Gabriel.


Gabriel mengusap wajah kasar. "Cukup, jangan teruskan lagi," ucapnya.


Di masa lalu, Gabriel adalah orang yang sangat sadis. Dia tidak pandang bulu pada siapapun, tapi ketika mendengar semua ini rasanya dia menjadi ngilu sendiri.


"Dan sekarang, pertanyaan terakhir. Siapa yang berada di belakang Roland?" tanya Gabriel.


Aghnia kembali menggigit bibirnya. Dia menatap Gabriel dengan sorot sendu. Sejujurnya, dia tidak ingin menjawab karena bahaya jika dia memberitahu siapa yang ada di belakang Roland.


"Bo-bolehkah aku tidak menjawabnya, Tuan?" tanya Aghnia dengan terbata membuat Gabriel menggeleng.


"Jawab sekarang. Siapa yang ada di belakang Roland?" tanya Gabriel.


Aghnia menarik napas kemudian menghembuskannya. Semula dia berpikir tentang nyawanya yang terancam jika dia memberitahukan semua ini, tapi tak lama dia tersadar bahwa sekarang dia ada bersama Gabriel. Tidak mungkin orang itu tahu.


"Katakan, siapa dia?" tanya Gabriel.