Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Sebuah maaf


“Bianca kau tidak bercanda kan?” tanya Gabriel, ketika Bianca sudah menceritakan Semua yang dia tau. Bianca menceritakannya tidak ada yang terlewat, dari mulai dia memeriksa Selo dan juga sampai terakhir dia memergoki Agnia yang menyuruh suster untuk memasukkan obat ke dalam minuman Selo.


“Tidak paman, aku benar-benar tidak bercanda. Agnia melakukan itu. Dulu, aku tidak mempunyai bukti. Tapi setelah melihat ini, aku yakin Sello memakan akan obat yang Agnia berikan.”


Rahang Gabriel mengeras rasanya dia ingin menghancurkan wanita itu, apalagi Aghnia sudah menghancurkan Selo dan juga Bianca, hingga pernikahan mereka tercerai berai. Dan sekarang, wanita itu juga yang meracuni putranya.


“Sayang kau tunggu di sini, aku akan keluar.” Gabriel memutuskan untuk keluar dari ruang rawat Selo, karena dia ingin menelepon anak buahnya untuk mencari keberadaan Aghnia, dia harus membalas wanita itu dengan tangannya sendiri.


satu minggu kemudian


Sello membuka mata, ini sudah 1 minggu berlalu dia dirawat dan selama satu minggu ini pula kedua orang tuanya selalu menunggunya di rumah sakit, kondisi Sello sudah membaik, racun-racun di tubuhnya perlahan sudah sedikit menghilang. Hingga Sello bisa menggerakkan kaki dan tangannya. Hanya saja selalu belum terlalu kuat untuk bergerak banyak.


Tak lama pintu terbuka, muncul sosok Bianca masuk ke dalam ruang rawat Sello, karena barusan Amelia menitipkan Sello pada Bianca tentu saja Amelia beralasan bahwa dia harus mengurus sesuatu, dan Bianca yang sudah selesai praktek, menuruti keinginan Amelia.


Bianca melakukan ini bukan karena dia masih menyimpan perasaan pada Selo, tapi karena dia memang benar-benar sudah menganggap Sello saudaranya.


“Bagaimana keadaanmu? Apa sudah mendingan?” tanya Bianca Selo menggangguk.


“Hmm, aku sudah mendingan,” jawab Selo dia ragu-ragu untuk menatap Bianca, karena dia merasakan malu yang luar biasa. Dulu dia mati-matian memprioritaskan Agnia, dan meninggalkan Bianca dan sekarang dia malu karena kelakuannya tersebut.


Bianca menundukkan dirinya di kursi. “Kau lapar, kau haus?" tanya Bianca.


“Tidak, hanya mengantuk,” jawab Sello yang terlalu malu untuk terus-menerus diperhatikan oleh Bianca..


“Hmm, tidurlah aku akan menunggu sampai Bibi Amelia datang,” jawab Bianca. Tidak ada rasa keberatan menunggu mantan suaminya, dia benar-benar sudah mengubur masa lalunya dan berdamai dengan apa yang Sello lakukan di masa lalu.


Tak lama ponsel Bianca berdering, satu panggilan dari Rola. “Ya Roland,” jawab Bianca. Selo yang sedang memejamkan matanya langsung menoleh, ketika Bianca menyebut sama Roland.


“Oh, baiklah kau akan pergi,” jawab Bianca saat Roland mengatakan di seberang sana bahwa lelaki itu akan keluar negeri.


“Hmm, baiklah. Aku akan menjemputmu nanti di bandara ketika kau pulang.” Setelah mengatakan itu, Bianca pun mematikan panggilannya dan tanpa sengaja tatapan matanya bersibobrok dengan mata Selo dan Selo langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain sedangkan Bianca langsung mengutak-atik ponselnya.


Hening, tidak ada yang berbicara Bianca dan Selo sama-sama tidak ada yang berbicara lagi, Sello memutuskan untuk memejakan matanya, sedangkan Bianca terus memainkan ponselnya.


Satu jam berlalu, ponsel Bianca berdering hingga Bianca yang sedang memainkan game langsung mengangkat panggilannya.


“Ya, Dad," jawab Bianca ternyata Lyodra yang menelponnya.


Ternyata, Lyodra yang menelponny. “Oh baiklah ,aku akan pulang sekarang,” ucapnya. Bianca mematikan ponselnya, kemudian dia bangkit dari duduknya, lalu dia melihat ke arah Sello.


“Dia masih tidur,” lirih Bianca, dia langsung menarik selimut, kemudian menyelimuti tubuh Selo. Lalu setelah itu dia memeriksa selang infusan Sello tidak terlepas dan setelah semuanya selesai, Bianca memutuskan untuk keluar dari ruang rawat mantan suaminya.


“Bianca Seandainya aku tidak bodoh. Mungkin kita sudah mempunyai anak yang sangat lucu,” lirih Selo dengan mata yang berkaca-kaca.


Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa Ini sudah 3 bulan berlalu semenjak kejadian itu dan akhirnya setelah 3 bulan berlalu, Selo dinyatakan sembuh. Tubuh Selo sudah kembali bugar, bahkan tubuh lelaki itu sudah berisi karena walaupun di rumah sakit Selo diberikan yang terbaik dari mulai makanan dan lain-lain dan hari ini Sello sudah diperbolehkan pulang.


Selama 3 bulan ini, Sello jarang berinteraksi dengan kedua orang tuanya, dia terlalu malu untuk berbicara pada ayah dan ibunya dan selama 3 bulan ini pula dia lebih banyak diam.


Sello yang sedang melamun menoleh ketika pintu terbuka, dan ternyata yang masuk adalah sang Ibu. “Kau sudah siap?” tanya Amelia.. “Sebentar lagi dokter akan memeriksamu dan setelah itu kita pulang,” ucap Amelia. Sello menunduk, tidak berani menatap ibunya, hingga Amelia langsung mengelus kepala sang putra.


“Tidak apa-apa, Mommy dan Daddy memaafkanmu,” kata Amelia yang mengerti dengan apa yang dirasakan oleh putranya. hingga selalu langsung mengangkat kepalanya.


“Mom, masih ada kesempatan kedua untukku, untuk berbakti pada kalian?” tanya Sello.


“Tentu kau tetap putra kami, maafkan kami yang mengasingkanmu selama bertahun-tahun,” jawab Amelia. Seketika Sello langsung memeluk ibunya, dia begitu rindu dengan wanita ini dan sekarang dia tidak perlu ragu lagi untuk memeluk sang Ibu.


Dan tak lama, Gabriel masuk ke dalam ruangan. Mata Lelaki paruh baya itu berkaca-kaca saat melihat sang istri sedang memeluk putra mereka. “Tuhan terima kasih akhirnya Sello kembali lagi ke dalam dekapan kami,” ucap Gabriel, dia pun maju ke arah anak dan istrinya.


“Daddy bangga padamu, akhirnya bisa melewati ini semua.” Sello melepaskan pelukannya, kemudian dia langsung menghapus air matanya lalu langsung beralih memeluk Gabriel, dan setelah itu dokter pun masuk ke dalam ruangan untuk pemeriksaan terakhir dan akhirnya, Sello diizinkan pulang.


Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, dari tadi Selo terus melamun di kamarnya. Sedari pulang dari rumah sakit, dia belum lagi keluar kamar dia masih menikmati kamar yang selama ini dia rindukan. Tak lama, dia teringat Bianca dan dia juga teringat lelaki yang selama ini menyuruh Agnia, ternyata lelaki itu mempunyai motif yang luar biasa mengerikan dan dia sepertinya harus berbicara secara gentle pada lelaki yang selama ini ada di balik perpisahannya dengan Bianca.


***


Beberapa hari kemudian


Bianca keluar dari rumah sakit dan masuk ke dalam mobil, hari ini setelah pulang praktek Bianca berencana untuk pergi ke sebuah masjid, karena setiap hari Jumat selalu ada perkumpulan umat muslim yang berada di Rusia dan ini adalah semacam pengajian rutin untuk umat muslim di sana, termasuk Bianca


Dia sengaja membawa abaya dari rumah, karena akan berganti pakaian di mobil dan akhirnya setelah melewati perjalanan yang cukup panjang mobil yang dikendarai oleh Bianca sampai di sebuah masjid besar di Rusia, dia pun turun dari mobil.


Saat dia akan masuk, Bianca menghentikan langkahnya ketika melihat sosok lelaki memakai Koko dan sarung, bukan pakaian lelaki itu yang membuat Bianca heran.


Namun Siapa orang yang memakai pakaian tersebut karena dari belakang, terlihat jelas itu seperti Sello. “Tunggu, tidak mungkin Sello di sini,” ucap Bianca.


Saat mereka menikah, Sello memang sempat menjadi mualaf. Tapi semenjak berpisah mungkin saja Sello kembali pada keyakinannya.


“Ah, hanya perasaanku saja. Mana mungkin Sello ada di masjid,” Gumam Bianca.


***


Di sisi lain, seorang pria sedang menggeram kesal dia menjatuhkan semua yang di mejanya, karena rencana yang dia susun dengan rapih, akhirnya gagal karena Agnia malah meninggalkan Selo. Sungguh, dia tidak akan pernah melepaskan wanita itu dan lelaki itu adalah.