
Kejadian setelah Mei kabur dari ruangan Rion.
Tertahan di dalam ruangan Rion sampai waktu makan siang terlewat. Sudah mau keluar masih kepergok Kak Serge. Malunya berkali lipat karena Kak Serge masuk saat dia mencium bibir Kak Rion. Jeritan hati Merilin ingin dia teriakkan supaya bergema di lorong kantor menuju kantin. Tapi pada akhirnya hanya membuatnya menutup wajah malu. Itulah yang dirasakan Mei sekarang.
Rekan kerjanya sudah ada di kantin. Dia segera berjalan dengan cepat, tidak mau makan sendirian. Tapi, ketika memasuki kantin ada semacam aura negatif yang langsung menerpa wajahnya.
Eh apa ini, kenapa perasaanku tidak enak.
Saat kaki Mei memasuki kantin, baru beberapa langkah sebenarnya, semua orang sepertinya melihat ke arahnya. Bukan hanya melihat, tapi bahkan terdengar bisik-bisik. Yang bisa tertangkap jelas pendengarannya. Perasaan gelisah semakin mencuat dengan cepat tanpa bisa dicegah. Bergegas Mei mengambil makanan, tidak ada yang mengantri, karena dia memang terlambat. Para bibi penjaga kantin pun terlihat menatapnya, saat Mei melihat mereka, buru-buru mereka membuang wajah.
Ada apa si! Di mana Mona dan yang lain ya? kenapa perasaanku semakin tidak enak begini.
Mei menyapu ruangan. Mendapati meja teman-temannya duduk. Hanya Kak Kendra yang melambaikan tangan padanya. Mona tertunduk, Baim mengaduk-aduk piringnya tapi tidak terlihat sedang makan. Membuat Mei bertanya-tanya.
Masih dihujani tatapan orang-orang. Dia mendekat ke arah rekan kerjanya.
"Kak? Ada apa ya? Mona kenapa? Baim juga kenapa?"
Baim menjatuhkan sendok yang dia pegang, menatap Mei, ujung matanya seperti dipenuhi kaca. Dia mau menangis, tunggu, kenapa si bungsu ini mau menangis. Sebenarnya ada apa si, tatapan minta penjelasan lagi-lagi diberikan Mei pada Kendra. Karena laki-laki itu yang terlihat paling normal diantara yang lain.
"Kak Mei, benar yang di bilang Kak Mona, katanya Kak Mei sudah menikah?" Baim melontarkan pertanyaan yang mengejutkan.
Deg.
Mona baru mendongakkan kepala saat pertanyaan itu meluncur dari mulut Baim. Dia terlihat takut namun juga marah. Rasa takutnya pasti bersumber dari dia sudah membocorkan rahasia Mei. Sedangkan amarahnya tertuju untuk orang-orang yang sudah menggunjing Mei. Dengan sangat kelewatan.
Keributan yang terjadi di kantin beberap menit yang lalu karena Mona tidak bisa menahan amarahnya.
"Mona, kamu kan sudah janji mau menyimpan rahasia ini." Mei terdengar agak tidak suka dan kecewa. Dia menatap makannya dengan getir, sudah kehilangan selera makan. Dia percaya pada Mona, tapi kenapa begitu mudahnya rekannya mengumbar rahasianya.
"Jadi benar Kak Mei sudah menikah?" Suara Baim rasanya memenuhi kantin. Yang tadi hanya melirik Mei saat masuk mulai bisik-bisik lagi dengan suara keras. "Kak Mei benar sudah menikah?" Mempertegas dengan teriakan kedua.
Baim sudah merasakan patah hati, tidak, hati yang hancur berkeping, bahkan sebelum perasaannya tersampaikan dengan benar. Karena selama ini Kak Mei selalu menganggap pengakuan cintanya sebagai candaan belaka. Kalau Kak Mei benar sudah menikah, bahkan tali harapan sehalus benang pun tidak akan ada lagi. Tidak tersisa harapan, sekedar pengakuan cinta darinya.
"Kak Mei!" Kendra memukul bahu Baim supaya laki-laki itu diam. Setelahnya Kendra menarik tangan Baim untuk duduk. Baim yang manyun menurut, karena laki-laki itu melihat ekspresi Mei yang kecewa.
"Mona..." Suara pelan Mei terdengar.
"Maaf Mei, maaf, aku bukannya tidak bisa menjaga rahasiamu. Tapi..." Mona berdiri, menunjuk meja yang tidak jauh darinya. Kumpulan seniornya. Orang-orang yang Mei juga tahu, kalau mereka tidak suka padanya. "Bisa-bisanya mereka menuduh mu jadi simpanan Presdir! Dasar gila! Aku sudah tidak tahan lagi." Laporan singkat yang seperti mengadu, memantik keriuahan yang tadinya sudah mereda. Yang ditunjuk-tunjuk Mona merasa tidak terima.
Apa!
Brak! Mei memukul meja, membuat Mona tersentak, takut. Mungkin inilah kali pertama melihat Mei menunjukkan kemarahan. Selama ini, walaupun sekesal apa pun kalau urusan pekerjaan gadis itu masih bisa menahan diri. Walaupun dia membuat kesalahan sekalipun saat bekerja, pimred Merilin tidak pernah menunjukkan kemarahan.
"Mei.."
"Kak Mei.."
Mei tidak menghiraukan panggilan Mona atau pun Baim, dia berjalan ke meja seniornya. Orang-orang yang membicarakannya di belakang. Biasanya dia selalu bisa menahan diri, tapi kali ini sudah sangat keterlaluan menurutnya.
Semua mata melihat ke arah Mei. Menerka apa yang akan dilakukan Merilin. Apa dia akan berteriak dengan lantang seperti Mona yang membelanya tadi. Semua orang jadi penasaran.
Gadis itu sudah berdiri di dekat meja. Menatap satu persatu orang yang sedang duduk. Ada empat orang di sana. Apa dari kalian gosip itu berasal gumam Mei. Tangan Mei terlihat terkepal karena dia sedang menahan rasa marahnya.
Apa apa salahku pada kalian sebenarnya, aku tidak pernah menggangu kalian. Kalau urusan jabatan, kalau kalian iri seharusnya bukan dengan menjatuhkan begini. Seharusnya kalian menunjukkan kemampuan kalian dan mengalahkan aku dengan adil. Tunjukkan kemampuan kalian untuk menggeser posisiku. Tapi ini, pikiran Mei rasanya meletup-letup geram. Apalagi yang sedang dia tatap, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.
"Apa kalian tidak merasa yang sudah kalian lakukan sangat keterlaluan?" Mei meremas jemarinya, mempertahankan intonasi suara agar terdengar tegas dan kaku.
Mereka berisik bicara antar mereka sendiri, sambil bilang apa sih. Dasar perempuan gatel. Mau apa dia ke sini.
Bisik-bisik itu saja jelas terdengar di telinga Mei. Lebih-lebih mereka sok bicara antar mereka sendiri, bukan melihat Merilin. Dan itulah yang membuat Mei semakin marah, tidak ada rasa bersalah sedikit pun.
"Kalau kalian mau bergosip tentangku, silahkan saja kalian bergosip, aku juga tidak perduli. Tapi, jujur, aku merasa aneh. Mau aku membawa mobil ke kantor kek, mau aku memakai baju dan tas apa kek, apa itu merugikan kalian?" Mei berusaha sekuat tenaga bicara dengan tegas. Walaupun tetap terlihat bibirnya bergetar. "Aku tidak perduli kalian bicara apa tentangku. Tapi, bisa-bisanya kalian membawa-bawa Presdir, apa kalian tidak malu menggunjing pimpinan yang sudah begitu baik pada kita semua." Kita bekerja di perusahaannya, kita makan dan hidup dari gaji yang dia berikan. Bisa-bisanya kalau mencela Presdir! Kata-kata Itu yang ingin Mei jejalkan ke mulut semua orang.
Kok bisa-bisanya kalian bergosip aku dengan Presdir, seharunya kalian gosipkan aku dengan Kak Rion donk. Dia kan yang masih singel! Bahkan Mei pun memikirkan hal yang sama dengan Rion dan Serge. Kalau Rion tahu, Mei berfikiran sama dengannya, Mei pasti dapat hadiah istimewa lagi dari Rion. ðŸ¤
Kata-kata Mei, membuat dua orang dari mereka wajahnya merah karena malu. Sepertinya fakta itu menampar mereka dengan kesadaran. Tapi, yang dua lagi, malah tertawa mengejek. Mei rasanya ingin meremas bibirnya itu, karena tawa itu seperti ejekan yang bukan hanya tertuju padanya, tapi sudah mengotori nama baik Presdir.
"Tapi kau memang bisa keluar masuk ruangan Presdir kan, yang bahkan tidak bisa dimasuki sembarangan orang." Salah satu mengangkat bahu, dengan dibumbui ejekan. "Benar kan?"
Ia, benar, memang itu terasa aneh. Mei tidak menyangkal.
"Apalagi ada yang melihat staf Sekretaris Presdir menundukkan kepala padamu tadi pagi." Yang satunya menimpali. "Padahal kita semua tahu, bagaimana sikap wanita itu. Kau masih mau berkilah." Dia menutup mulutnya yang tersenyum, dengan tangan. Semakin mengejek.
Yang dua orang sudah agak sadar tadi, saling bersitatap. Membenarkan fakta itu, keduanya jadi merasa ragu lagi.
Itu pasti sekretaris Dev pikir Mei. Tadi pagi dia memang bertemu dengannya di loby. Sikapnya memang sangat mencurigakan, masak dia menundukkan kepala saat melihat Mei. Orang yang curiga Mei memiliki hubungan dengan pimpinan, pasti langsung mengarah ke nama Presdir. Hanya dengan melihat sikap staf Dev yang lain dari biasanya.
Aaaaa! Bagaimana ini! Aku ingin berteriak juga pada mereka kalau aku ini istri Kak Rion. Pasti semua masalah selesai, kalau setidaknya aku menunjukkan foto pernikahan untuk membungkam mereka. Tapi, tangan Mei gemetar menyentuh hp di balik saku roknya. Apa dia boleh mengatakan perkara pernikahannya. Kalau Kak Rion marah bagaimana.
Apa aku harus menyerah sekarang, dan bertanya pada Kak Rion. Ah, tapi apa dia akan perduli. Kalau dia bilang, urus saja sendiri masalahmu bagaimana. Itulah yang membuat Mei takut, hingga dia tidak mau berbagi keluh kesahnya dengan Kak Rion.
Bagaimana ini?
Saat Mei sedang kebingungan mau mengambil sikap seperti apa, salah satu dari mereka bicara.
"Sekarang, coba katakan kepada kami, kalau kau memang tidak ada hubungannya dengan beliau." Dia menyeringai. "Apa kau bisa bersumpah?"
Mona dan Baim sudah mendekat dan berdiri di belakang Mei. Memberi dukungan.
"Kenapa Kak Mei harus menjelaskan pada kalian?"
Mei menyentuh lengan Baim, si bungsu yang bergerak membela seniornya. Tapi, jangan bicara Baim, kalau mereka tersinggung, hari-hari kerjamu akan berat kedepannya. Realita dunia kerja yang agak kejam pasti akan menghadang kehidupan Baim.
"Aku sudah menikah, apa kalian puas? Bukan dengan Presdir, aku bukan simpanan Presdir." Mei melayangkan pandangan bukan hanya pada ke empat orang di depannya. Tapi semua orang yang ada di kantin. "Jadi berhentilah memikirkan hal tercela tentang beliau, Presdir adalah orang yang baik dan sangat mencintai keluarganya. Aku tidak perlu permintaan maaf atau penyesalan dari kalian, tapi, kalian harus minta maaf karena sudah memfitnah Presdir."
Ramai lagi suara berdengung. Mei meraih genggaman tangan Mona, gadis itu sepertinya memanas lagi. Dari helaan nafasnya saja sudah terdengar kalau dia marah. Ya, Mona marah karena merasa Mei pantas untuk mendapatkan ucapan permintamaafan dari semua orang. Kenapa kau baik sekali si Mei. Dia kesal sendiri karena dengan mudahnya Mei memaafkan orang-orang di depannya.
"Kalau begitu, siapa suamimu Pimred Merilin?"
Senior Mei bangun dari duduk. Menatap Mei dengan pandangan mengejek. Dia benar-benar tidak tahu malu. Ya, dia memang asal mula dari gosip itu. Bukan orang yang pertama kali melihat Mei datang ke kantor dengan menggunakan mobil. Tapi, dia mendapat informasi itu dari teman dekatnya. Kalau Mei menjalin hubungan dengan petinggi perusahaan.
"Biar semua orang tahu. Aku akan berlutut dan meminta maaf padamu, kalau kau memang tidak berhubungan dengan beliau." Dia menyeringai. Gadis itu sangat yakin dengan informasi yang dia dapatkan dari temannya, karena temannya itu diundang dalam kegiatan sosial yang diadakan oleh Nyonya Andez Corporation. "Tapi, apa kau bisa mengatakannya pada semua orang, siapa suamimu." Caranya menutup mulut dengan tangan di penuhi ejekan.
Mei mengepalkan tangan. Kau menang, karena aku tidak bisa mengatakan siapa suamiku. Tapi, bagaimana dengan nama baik Presdir. Kalau aku diam saja, nama baik Presdir akan tercoreng. Mei akan merasa sangat bersalah dengan itu.
"Haha, sudahlah, dengan kau diam saja, kami sudah tahu jawabannya. Ayo kita pergi," Memukul meja mengajak yang lain bangun. "Teruskan makan mu Mei, sebentar lagi jam istirahat selesai. Ada yang mau kopi? Aku yang traktir." Dia terlihat sangat puas bisa membuat Mei tidak berkutik.
Seharusnya aku yang jadi pemimpin redaksi majalah, kalau kau tidak merebutnya dengan cara menjijikkan begini. Dia mendengus kesal.
"Tunggu!" Mei menahan langkah ke empat orang itu. "Minta maaf secara resmi pada Presdir!"
Apa sih! Dasar gila! Malah itu jawaban dari mereka.
"Minta maaf secara resmi pada Presdir!" Saat suara Mei terdengar dengan lantang. Pintu kantin terbuka dengan suara cukup keras. Membuat semua orang menoleh. Mereka langsung berdiri dari duduk, saat Melihat Sekretaris Serge dan CEO Rionald masuk ke dalam kantin.
Serge bertepuk tangan. Sementara Rion dengan wajah dingin, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. Menatap orang-orang. Pandangannya langsung membuat udara membeku.
"Wahhh, wahhh." Serge kembali bertepuk tangan. "Apa kalian sudah gila, sampai membuat keributan jilid kedua di kantin." Dia memang tersenyum saat bicara, dan bertepuk tangan. Tapi, semua orang juga bisa tahu, kalau Sekretaris Serge sedang marah.
Lebih-lebih, saat melihat aura kemerahan dari laki-laki di sampingnya. Semua orang merasakan tangan dan kaki mereka bergetar. Apalagi ke empat senior yang sedang berdiri tidak jauh dari Mei.
Kak Rion, Mei ingin berlari dan memeluk laki-laki itu sekarang. Tapi, tubuhnya ikut kaku, dia merasakan takut persis seperti yang lainnya. CEO Rionald sedang menahan amarahnya.
Bersambung