
Di tepi pantai.
Bersamaan waktunya dengan kepergian Jesi dan Arman. Hari terakhir, benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin oleh setiap orang.
Memang ada yang pergi untuk berbelanja oleh-oleh, tapi lebih banyak yang sekali lagi bermain segala macam permainan air. Main sepuasnya, sampai lelah sekalipun tak mereka rasakan, karena tidak tahu, kapan lagi ada kesempatan mereka menikmati liburan mewah ini kalau bukan sekarang.
Dan tidak jauh berbeda dengan yang lain, sepertinya Serge dan Dean punya rencana sendiri siang ini.
Serge akan mengajak Dean menyelam, dia penasaran dan ingat ajakan senior Mei waktu itu. Ditambah saat dia bertanya pada para pelayan dan penjaga pantai. Keindahan alam bawah laut, memang mempesona ujar mereka. Jadilah, hari ini mereka akan pergi. Mereka hanya akan melakukan snorkeling di pandu dengan orang yang berpengalaman.
Sekarang waktunya persiapan.
Dan seperti biasa laki-laki kurang peka itu masih mengajak senior Mei, karena merasa berterimakasih sudah mendapat info tentang spot cantik untuk menyelam.
Tapi..
"Lho, benar nggak mau ikut? Kemarin katanya ingin menyelam bareng." Masih bersikeras mengajak, walaupun sudah mendapat penolakan.
Gadis di depan Serge malah melirik Dean yang sedari tadi diam saja.
"Ayo pergi bertiga. Aku mau mengajak Mei dan Jesi, tapi mereka juga sibuk sendiri, jadinya cuma kami berdua yang pergi." Menyentuh lengan Dean. Gadis yang disentuh Serge menarik bibirnya supaya terlihat tersenyum. "Semakin ramai semakin seru kan?"
Dean berdehem, lalu menoleh ke arah senior Mei. Gadis itu merasa terintimidasi dengan sorot mata Dean, langsung menjawab cepat.
"Nggak papa Kak, aku sudah kemarin. Kalian pergi berdua saja, selamat menikmati. Banyak ikan warna warni di sana." Kalau hanya dengan Kak Serge dia akan senang hati ikut, tapi ini.
Karena sepertinya dia benar-benar ditolak, akhirnya Serge menyerah. Dia permisi mau menyiapkan peralatan dan bertemu dengan awak perahu yang akan membawa mereka, Dean melambaikan tangan dan tersenyum riang saat Serge berlalu. Setelahnya, entah hilang ke mana senyum dan tawanya tadi. Dua orang gadis itu masih diam, karena langsung tercipta kecanggungan.
Terdengar helaan nafas ringan Dean, sebelum melirik gadis disampingnya, bertepatan mereka bertemu pandang.
"Apa?" Senior Mei bertanya dengan nada tidak suka, karena sejak dari tadi, Dean sudah menunjukkan antipati padanya, walaupun tidak terlalu nyata, tapi dia bisa merasakan, kalau pacar Kak Serge tidak menyukainya. "Apa ada yang mau Anda katakan?" Dia bicara dengan bahasa formal, sebenarnya hanya karena merasa kesal dan cemburu.
Kenapa kau pacaran dengan Kak Serge, dan kenapa Kak Ge, mau pacaran dengan mu. Seribu satu pertanyaan sudah bermunculan dikepalanya dari kemarin, kenapa dan kenapa. Apa hanya karena kau berani menyatakan perasaan duluan, karena kau yang melamar duluan, makanya Kak Ge tidak bisa menolak. Namanya hati yang cemburu, selalu merasa diri lebih baik dari yang dicemburui.
Dalam diam mereka saling lirik-lirikan. Dengan kecamuk pikiran yang berbeda.
Apa dia sedang menantang ku? padahal kau tahu kan, aku sudah melamar Kak Ge, tapi kenapa kau belum mau menyerah. Dean masih beberapa kali memergoki senior Mei berusaha mendekati dan bicara dengan Kak Ge, dan masalahnya Kak Ge yang tidak berfikir apa pun, meladeni itu. Hihhh, aku jadi terlihat seperti pacar cemburuan. Walaupun sadar dia cemburuan, Dean tetap tidak mau mengendurkan sorot matanya. Menyalakan permusuhan.
Kalau Kak Ge tidak peka, seharusnya kau yang menyerah donk, begitu kira-kira yang dipikirkan Dean.
"Kak Ge itu orang baik." Dean bicara pelan. Pandangannya lurus ke depan. Melihat kekasihnya yang sedang bicara dengan awak kapal di kejauhan.
"Saya juga tahu, dari dulu, sejak di perusahaan game, Kak Serge orang yang sangat baik dan perhatian. Saya kan sudah mengenalnya lama sekali." Senior Mei menjawab, sambil tersenyum seperti pemenang. "Kalau Anda, sejak kapan mengenal Kak Ge? Apa dari Mei?"
Hah? Maksudnya? Kau mau mengatakan, kalau kau lebih dulu kenal dengan Kak Ge daripada aku? Entah kenapa, Dean jadi merasa jengkel sendiri. Karena memang, walaupun sering mendengar namanya dari Mei, dia dan Kak Ge memang belum lama bertemu. Tapi memang kenapa kalau aku baru mengenalnya? Tidak mau kalah, Dean mendengus.
Perang urat saraf, walaupun keduanya tidak mengeluarkan suara keras. Tapi dari raut wajahnya saja sudah terlihat, kalau mereka sedang ingin saling menjatuhkan.
"Kami sudah berkencan, dan akan menikah." Karena kesal, jadi malas berbasa basi, Dean langsung menyerang pada intinya. "Jadi, saya harap, Anda tahu batasan. Kak Ge orang yang baik, dia baik pada semua orang, bukan hanya pada Anda. Jadi jangan merasa menjadi orang yang spesial."
Jangan GR hanya karena Kak Ge menyapa mu dengan tersenyum. Ingin melontarkan itu, tapi Dean tidak mengatakannya, karena hanya akan terlihat seperti pacar cemburuan dan itu tidak elegan sama sekali.
Wajah senior Mei memerah malu.
"Hah, haha, Anda ini bicara apa? Saya bicara dengan Kak Ge, karena dia senior dan atasan saya di kantor, jadi Anda tidak perlu salah sangka begitu. Memang siapa yang merasa jadi orang spesial. Saya juga tahu dia baik pada semua orang kok." Demi menutupi kekagetan serangan Dean, akhirnya senior Mei bicara panjang lebar. "Haha, Anda lucu sekali." Dia masih berusaha menjaga ekspresi wajahnya, walaupun sejujurnya, hatinya jengkel dan kesal.
Dasar gila! Darimana dia bisa tahu si! Padahal aku mengatakannya saja belum. Gadis itu mengusap wajahnya, berusaha menunjukkan senyum ceria. Padahal orang yang aku sukai saja tidak sadar begitu.
Diluar dugaan senior Mei, dia mengira, Dean gadis didepannya akan menyerangnya membabi buta setelah mendengar penyanggahnya. Eh, tapi kenapa dia. Kenapa dia malah memelukku, dasar gila! Senior Mei kebingungan sendiri dengan sikap Dean.
Dean meraih bahu senior Mei, mengguncangnya pelan. Lalu langsung memeluk tanpa aba-aba. Gadis itu mau menyerang dengan cara yang cantik.
"Apa yang Anda lakukan?"
Dengan elegan, Dean melepaskan pelukannya, lalu tersenyum manis di depan senior Mei, tapi jujur, senyum itu membuat gadis itu merinding. Dan benar saja, yang diucapkan Dean jauh lebih mencengangkan.
"Maaf Kak, aku tidak tahu kalau kalian benar-benar hanya saling menghormati sebagai senior dan junior." Senior Mei matanya langsung melotot, kenapa tiba-tiba kau memanggilku Kak. Hah! wanita aneh. Belum selesai dengan keterkejutan, Dean menyerang lagi. "Karena Kak Ge sangat baik pada semua orang, jadi banyak yang salah paham dan berfikir Kak Ge suka padanya. Maaf ya Kak, memang aku yang cemburuan dan harus merubah sikap." Dean menutupi bibirnya yang tersenyum dengan kedua tangan.
"Apa?"
Dean merangkul bahu senior Mei dan memeluknya lagi.
"Aku akan mengundang Kakak nanti, datang dan berikan kami restu ya Kak." Dean mengusap punggung. "Kak Ge pasti senang, juniornya yang sudah lama dia kenal datang." Seringai tipis muncul di bibir Dean, sebelum dia melepaskan pelukan.
Kau bingung?
Dean memberikan batasan lebar bagi senior Mei dan Kak Ge, kalau hubungan mereka hanya sebatas masa lalu. Berhenti menabur harapan, seperti yang kau bilang, kalau hubungan kalian hanyalah sebatas teman. Jadi, tetaplah berdiri di tempat mu. Jangan melangkah mendekat. Dean menarik garis tebal, sebagai daerah kekuasaannya.
Hah! Apa ini? Kenapa sekarang aku jadi merasa bahkan mengharapkan dalam hati untuk bersama Kak Ge sudah tidak diizinkan. Kenapa aku bilang begitu tadi si! Saat dia masih menyesali kata-katanya, dari kejauhan Serge berlari mendekat. Sudah memakai wetsuit. Senyumnya terkembang untuk gadis yang berdiri di sampingnya. Walaupun begitu.
Deg... dadanya masih berdebar, walaupun tahu siapa pemilik senyuman itu.
...🍓🍓🍓...
Kapal melaju dengan tenang, semua sudah berganti pakaian. Serge dan Dean duduk berdampingan, tangan saling terpaut, mendengarkan penjelasan. Apa yang harus mereka lakukan di bawah air nanti dan apa saja yang tidak boleh dilakukan.
"Kenapa? Kau takut?" Serge sebenarnya yang agak gelisah, tapi berusaha tetap tenang.
Dean mengganguk.
"Jangan takut, aku akan melindungi mu nanti. Pokoknya ikuti arahan dan tetep di samping ku ya."
Serge sudah seperti orang profesional, padahal baru sekali dia menyelam, itu dulu sekali waktu zaman kuliah bersama teman-teman kuliahnya. Dean menepuk tangan Serge lembut, dia akan menyerahkan semuanya pada Serge.
Setelah sampai di spot menyelam, dibantu dengan awak kapal, mereka memakai peralatan. Masker sudah menutupi wajah keduanya. Tabung udara kecil sudah terpasang. Semua peralatan sudah menempel.
Dan byur, cipratan air menyembur saat mereka menjatuhkan diri ke dalam air. Ada dua pemandu yang juga turun ke dalam air, sisanya tetap berjaga di atas kapal.
Hah? Apa ini!
Serge cuma bisa bengong di tempatnya, saat melihat Dean yang bergerak lincah. Meliuk diantara terumbu karang dan ikan yang berenang ke sana ke mari. Ikan berputar di sekeliling Dean. Wajah yang tertutup masker memerah karena malu. Padahal dia sudah sesumbar akan melindungi Dean.
Aaaaaaaa, kenapa kau keren dan mengejutkan begini si, rasanya semua hal bisa kau lakukan.
Serge yang terkesima dengan gerakan tubuh Dean lagi-lagi cuma bisa tercengang kaget, saat gadis yang ada di depannya mengangkat papan di dadanya. Bertuliskan I💖U.
Apa ini! Aku kan yang mengajak mu, kenapa kau yang memberiku kejutan. Serge seperti bertubi-tubi dicurahkan cinta. Dia bergerak mendekati Dean, kesusahan, sampai Dean yang akhirnya mendekat. Mereka berpelukan, lalu membuat simbol hati dengan tangan mereka yang terpaut. Tim pemandu membawa kamera mengabadikan setiap momen yang terjadi di bawah laut.
Setelah momen mencurahkan cinta selesai, barulah mereka menikmati pemandangan laut. Serge memegang tangan Dean, mengikuti gerakan tubuh gadis itu yang meliuk luwes di dalam air. Mereka menemukan ikan-ikan beraneka warna. Ada yang berenang bergerombol. Ada yang berpencar setelah datang arus. Air laut yang jernih, benar-benar membuat siapa pun yang melihat pemandangan laut pasti akan takjub. Dean yang memegang kamera, mengambil foto Serge dengan berbagai gaya.
Keseruan mereka pun harus berakhir, saat mendapat isyarat dari pemandu yang menunjuk atas, kalau waktunya sudah habis. Lambaian tangan Serge pada ikan-ikan, membuat Dean gemas sendiri, dan tentunya tidak bisa dilewatkan. Foto lagi dan lagi.
Hari ini, mereka membuat kenangan manis lagi, yang akan mereka ingat bersama.
...🍓🍓🍓...
Sementara itu, yang ada di bibir pantai, duduk bersandar di kursi, sambil berpelukan.
"Kak, benar tidak mau menyelam juga seperti Kak Ge dan Dean?" Mei masih berusaha membujuk. "Kak Rion pandai menyelam nggak?"
Rion menjawab dengan tawa. Membuat Mei bergumam apa sih.
"Dean kan ahlinya kalau menyelam, dia sudah punya sertifikat, jadi dia bisa menjaga Kak Ge. Kalau Kak Rion bagaimana?"
Tangan Rion melingkar di pinggang Mei sambil berbisik di telinga.
"Bagaimana kalau kau menyelam di tubuh ku saja."
"Hah?"
"Atau aku yang menyelam di tubuh mu."
"Kakak!"
"Haha, aku ahlinya Mei."
Mei mencubit kaki Rion, laki-laki itu malah semakin tergelak. Sambil menciumi telinga dan pipi Mei. Senja mulai akan menyapa, mereka menikmatinya, karena esok sudah akan kembali pada realita dunia kerja.
"Ayo Mei, kita menyelam."
"Kakak!"
...🍓🍓🍓...
Cerita manis yang sedang ditertawakan ketiga gadis di kontrakan Jesi. Suara Jesi terdengar keras memenuhi ruangan, sepertinya dia senang sekali dengan cerita semua orang.
Sementara itu yang sedang berdiri di luar pintu kontrakan Jesi.
Serge dengan wajah memerah, saking malunya, tidak sengaja mendengar, karena Rion melarangnya mengetuk pintu tadi. Padahal seharusnya yang malu kan Rion, tapi kenapa dia tetap tenang begitu si. Dasar gila! Kau menyuruh Mei menyelam di mana? Menyelam di tubuh mu! Aaaaa! Merilin! Serge seperti terguncang, karena adiknya sudah bukan adik yang polos dan tidak tahu apa-apa seperti dulu.
Dan Rion, bibirnya menyunggingkan senyum yang entah maknanya apa, mungkin mau mengajak Mei menyelam lagi setelah pulang ini. Entahlah, hanya dia yang tahu rencana apa yang menari di kepalanya sekarang.
Bersambung