Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
149. Penipu Itu


Dan waktu pun bergulir, selayaknya matahari yang terbit dan tenggelam tanpa perduli suasana hati manusia. Dan esok sudah akhir pekan lagi. Hari kerja yang padat, tidak menyisakan rehat yang layak, hingga hari esok sangat menjadi penantian semua orang.


Serge meninggalkan gedung Andez Corporation sendirian. Tidak ada Rion di mobilnya. Kemana kah dia siang ini dengan deru roda mobilnya melaju. Laki-laki itu terdiam sepanjang perjalanan, bahkan saat berhenti di lampu merah, dia juga termenung. sepertinya banyak hal yang dia pikirkan sekarang. Dia melirik map coklat yang ada di kursi depan. Teronggok diam.


Aku berharap kali ini akan ada titik temu, walaupun sedikit saja.


Siang ini dia akan bertemu dengan salah satu rekan bisnis ayah Mei. Sebelumnya dia dan Rion sudah bertemu dengan rekan ayah Mei yang lain. Tapi nihil, tidak menghasilkan apa pun. Hanya berbuah dia dimarahi Rion saat itu. Bahkan dia tidak bisa mengelak saat bahunya ditonjok si gila itu.


Ya wajar si dia ngamuk, dia pasti bangun pagi-pagi sekali waktu itu, bahkan dia yang tidak dihajar sudah merasa beruntung.


Kejadian waktu itu, kira-kira seperti ini.


"Aku sudah datang pagi-pagi dan cuma omong kosong yang dia lakukan." Rion memaki sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil, menendang kursi di depannya yang di duduki Serge. "Lain kali kau pastikan sendiri, jangan libatkan aku." Rion melengos membuang muka sambil melihat jalanan. Karena ternyata kakinya sendiri yang sakit saat dipakai menendang kursi. Jadi tambah kesal saja dia.


"Maaf, maaf, aku kan tidak tahu kalau bakal begini. Soalnya kalau tidak bersama mu dia tidak mau datang."


"Cih..."


Kalau tahu laki-laki yang dia temui cuma mau aji mumpung karena bertemu CEO Andez Corporation, dia pasti tidak akan membawa Rion. Laki-laki teman ayah Mei itu, sama sekali tidak punya informasi apa-apa tentang perusahaan ayah Mei, dia bahkan kaget karena mendengar ayah Mei ternyata sudah meninggal. Dan lebih parahnya dia malah membawa proposal proyek kerja sama untuk ditunjukkan pada Rion. Artinya dia datang memang hanya untuk bertemu dengan CEO Andez Corporation. Tidak perduli, kalau dia dan Rion datang untuk mencari informasi perusahaan ayah Mei yang sudah bangkrut.


"Kenapa kau makin bodoh saja Ge." Terdengar lagi makian dari kursi belakang. Belum puas ternyata gumam Serge.


Ia, ia, hamba memang bodoh. Serge menaikkan kacamatanya yang melorot. Karena dia menahan kesal.


"Padahal kau sudah pamer punya pacar, kenapa masih bodoh juga Ge." Wah, kalau disenggol tentang pacar, Serge membalas, walaupun takut.


"Kenapa jadi pacar? Aku dan Dean baik-baik saja, dia bilang aku lucu dan menggemaskan tuh, cuma kamu yang sering bilang aku bodoh."


Wekk, Serge yang sedang menghadap ke depan menjulurkan lidah, mengejek. Tapi yang diejek mana tahu kalau sedang dikatai. Apa! Kau iri, Mei pasti tidak pernah bilang kau lucu dan menggemaskan kan.


Rion tertawa saat mendengar apa yang dipamerkan Serge, setelah dia pacaran Serge mengoceh setiap hari tentang bahagianya dia setelah punya pacar.


"Kau itu memang bodoh, ya, ya, untung saja pacarmu pintar." Rion masih tertawa mengejek. "Teruslah bodoh sana!"


Hih, apa sih, lebih baik menggerutu dalam hati pikir Serge, daripada membalas Rion tidak ada habisnya.


Saat lamunannya tentang hari itu terhenti pada seraut wajah cantik yang selalu membuatnya merasa nyaman, Serge langsung senyum-senyum sendiri. Tak terasa mobilnya sudah sampai ke tujuannya hari ini.


Ah, awas saja kalau yang sekarang juga begitu. Bisa-bisa aku di pukul lagi sama si gila itu. Tidak sabaran sekali dia, memang kau pikir gampang mengumpulkan data dan mencari orang-orang di masa lalu. Lagi-lagi Serge ingin memaki bosnya dengan sepenuh hati. Sambil turun dari mobil.


Dan disinilah dia berada.


Di sebuah restoran, jam makan siang sudah berakhir. Jadi keadaan di dalam restoran lumayan sepi. Serge melihat jam tangannya. Mulai cemas, karena yang dia tunggu sudah terlambat sepuluh menit. Dia memeriksa hpnya, tidak ada pesan masuk.


Eh malah...


Cantiknya Dean, malah memuji gadis yang ada di foto layar depan. Fokusnya teralihkan segampang itu setelah melihat foto pacarnya. Senyum-senyum bibir Serge sambil bergumam. Sampai tidak menyadari kemunculan seseorang di depannya.


"Permisi, Anda Tuan Serge dari Andez Corporation kan?" Seorang laki-laki berdiri di dekat meja Serge. "Maaf, saya terlambat. Mobil yang saya kendarai tiba-tiba Ban mobilnya pecah."


Serge memperhatikan wajah laki-laki di depannya sambil membalikkan hp, lalu dia tersenyum canggung dan mengulurkan tangan, mereka berjabat tangan.


Laki-laki yang ditemui Serge hari ini, adalah salah satu rekan bisnis ayah Mei. Yang namanya Serge dapatkan dari data perusahaan. Setelah dua kali janjian mereka batal akhirnya hari ini Serge bertemu juga. Dia bukan rekan bisnis yang membawa kabur uang ayah Mei, tapi Serge berharap bisa mendapat sedikit saja petunjuk mengenai penipu itu.


"Saya juga tidak terlalu kenal dengannya, katanya mereka teman lama. Saya cuma pernah bertemu sekali, saya juga tidak menyangka kalau dia penipu sampai membuat ayahnya Brama bangkrut seperti itu." Laki-laki itu mengusap wajahnya, kembali sedih kalau mengingat kejadian itu. Roda yang berputar sangat cepat menghancurkan perusahaan temannya. "Saya sudah bilang sebelum ayahnya Brama menerima tawaran, hati-hati karena ini proyek besar dan uangnya sangat banyak, tapi ya karena memang keuntungan yang dijanjikan penipu itu besar sekali ya akhirnya yang terjadi seperti itulah." Dia juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena hanya orang luar. "Ayahnya Brama bilang, Brama anak pertamanya juga sebentar lagi mau menikah, butuh biaya besar, belum adik laki-lakinya yang masih harus menempuh pendidikan. Akhirnya ya sudahlah, saya juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena dia sudah yakin."


Serge tidak menyeka cerita laki-laki di depannya. Untung saja aku tidak datang dengan Rion. Dia senang karena hari ini datang sendirian.


Sepertinya dia cukup akrab dengan ayah Mei, dia juga mengenal Brama berarti.


"Apa Anda pernah mendengar kabarnya? Selintas atau sekecil apa pun tidak masalah. Perusahaan yang dia punya atau apa pun yang bisa dipakai sebagai petunjuk."


Serge menangkap tatapan curiga, ya, dia mungkin memang terlihat mencurigakan. Karena semua sudah berlalu lama, tiba-tiba muncul orang asik yang mengorek masa lalu yang mungkin sudah dia lupakan. Hanya karena dia membawa nama Andez Corporation dibelakang namanya, laki-laki di depannya ini mau datang.


"Sebenarnya buat apa lagi, Anda mencari tahu. Toh ayahnya Brama sudah meninggal, perusahaannya juga sudah bangkrut. Apa Anda mau menuntut ganti rugi dan menjebloskannya ke penjara?" Laki-laki itu mencoba mengobati rasa penasarannya. Sebenarnya ada hubungan apa Serge dengan temannya yang bangkrut di masa lalu itu. "Mengurus begituan kan susah, malah kita harus keluar uang lagi, belum tentu uangnya kembali kan."


Ya, begitulah orang yang tidak terlibat, dalam hitungan tahun berganti, mereka pasti akan lupa, ikut bersedih lagi mungkin jika ada di hari diperingatkan kematian yang meninggal. Tapi, Serge menekan jemarinya, bagaimana Mei dan keluarganya. Sepanjang hari, Minggu, bulan dan tahun, dia yakin sakit dan penyesalan itu pastilah ada. Apalagi ibu Mei.


"Keluarga beliau masih hidup, istri dan anak-anak beliau yang berjuang untuk hidup, mereka menanggung kesedihan dan hutang. Saya memang bukan keluarga kandung, tapi saya juga sudah mengganggap beliau seperti ayah saya. Saya ingin mencari keadilan. Kalau perlu menyeret laki-laki itu untuk memohon pengampunan pada keluarga beliau." Suara Serge yang biasanya ramah mendadak menjadi getir. Ah, jangan digambarkan bagaimana sedihnya Mei dan keluarganya. Dia tidak mau mengatakan, kalau istrinya sampai depresi. "Jadi ini bukan hanya perkara uang. Saya ingin menemukannya untuk saya bawa dia ke hadapan keluarga beliau yang selama ini berjuang hidup."


Kata-kata Serge mencekik suasana, langsung terasa jarak mereka menjauh. Dia memegang tas dipangkuannya. Sepertinya dia tidak akan berani mengeluarkan map proposal kerja sama yang dia bawa hari ini. Karena suasana langsung berubah tegang. Ah, sial, seharunya aku tidak menyinggungnya, ini Andez Corporation, aku melewatkan kesempatan emas ini. Laki-laki itu sedang mengutuki kebodohannya.


"Maaf, maafkan saya kalau Anda tersinggung. Saya bisa memahaminya. Benar, benar, ini bukan hanya perkara uang."


Serge berusaha tersenyum. Walaupun sudah terlihat palsu.


Laki-laki itu berusaha mencairkan suasana, lalu mengeluarkan pena dan kertas dari dalam tasnya


"Yang saya tahu cuma namanya saja, setelah dia kabur, jejaknya benar-benar menghilang." Dia menuliskan nama dan ciri-ciri laki-laki yang sudah membawa kabur uang ayah Mei. Cukup terperinci. "Saya akan coba cari diberkas lama, mungkin bisa menemukan foto-foto lama. Nanti kalau ketemu, akan saya kirimkan kepada Anda." Dia meyakinkan Serge kalau dia akan membantu sebisanya. "Anda bisa menghubungi saya kalau ada apa-apa, saya juga akan menghubungi Anda kalau menemukan sesuatu."


Serge mengangguk. Lalu mengulurkan tangan untuk menjabat tangan. Artinya pembicaraan ini sudah harus disudahi. Ragu, laki-laki itu meraih tangan Serge. Dia benar-benar ingin mengeluarkan proposal proyeknya. Tapi takut semakin menyinggung Serge


"Terima kasih banyak."


"Sama-sama Tuan Serge, saya akan menghubungi Anda lagi."


Dan mereka akhirnya berpisah.


Memang masih belum ada titik terang yang pasti. Tapi ini setidaknya ada sedikit info yang Serge dapatkan hari ini.


Kemampuannya mencari informasi Serge memang masih melalui jalur resmi. Serge jadi berfikir untuk meminta bantuan sekretaris Presdir. Dia pasti memiliki banyak chanel khusus, untuk mencari informasi. Tapi setelah kejadian itu, dia belum berani bertatap muka langsung dengan sekretaris Presdir. Kalau tidak sengaja bertemu di kantor, dia pasti sebisa mungkin kabur. Supaya tidak perlu memberi salam.


Cih, aku mau pergi olahraga dulu, sebelum berpapasan dengannya. Tidak, apa perlu aku mendaftar kelas bela diri ya. Ah, sial kenapa banyak sekali yang harus aku pikirkan si. Aku juga kan mau sering bertemu dengan Dean dan kencan.


Ehm, aku juga mau mengajaknya menikah. Aaaaaa! Tapi aku tidak berani mengatakannya duluan. Bagaimana kalau dia menolak aku ajak menikah, bagaimana kalau dia maunya pacaran dulu. Serge dengan segala overthingkingnya, melajukan mobil kembali ke gedung Andez Corporation.


"Apa aku tanya Rion ya, apa yang harus aku lakukan sekarang. Cih, paling dia cuma menjawab, dasar bodoh! Aaaaaa! Aku harus bagaimana De..."


Ah, aku tanya Mei saja, adikku itu pasti membantu.


Bersambung