Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
58. Keisengan Rion


Hari yang melelahkan akhirnya berakhir bagi Merilin. Semua pekerjaan yang bisa diselesaikan hari ini, akhirnya rampung juga. Semua majalah sudah selesai didistribusikan, baik bagian internal karyawan perusahaan maupun rekan bisnis Andez Corporation, yang menyebar di berbagai sudut dan sentra perekonomian ibu kota. Kendra dan Baim berbagi rute untuk menyelesaikan pengiriman hari ini. Setelahnya Mona membuat laporan beserta bukti foto yang diterima dari lapangan.


Pekerjaan baru saja selesai, diujung sana sudah melambai tugas baru, konsep wawancara dengan Presdir dan CEO untuk edisi bulan depan, sudah harus mereka mulai rapatkan. Silih berganti pekerjaan menanti.


Kejadian sepanjang hari ini cukup menguras energi Merilin. Semuanya dimulai dari ruang kerja presdir tentunya, sampai sore hari ini.


Ada beberapa tatapan mengikuti Merilin selama mereka makan siang. Tapi Merilin tidak mau ambil pusing, dengan semua gosip yang beredar itu. Dia juga cuma orang rendahan, memang akan berdampak apa si gosip itu baginya. Walaupun Mona yang meradang kesal melihat orang-orang julid itu membicarakan Merilin ke arah yang negatif. Gosip kan lebih sip kalau berbau miring.


Mona gatel ingin bicara mengklarifikasi, tapi karena janjinya pada Merilin, akhirnya membungkam mulutnya lagi.


Begitulah Merilin melewatkan hari, semua gara-gara mobil mewah, si miskin pemimpin redaksi majalah membawa mobil mewah, menjadi sesuatu yang layak mereka pergunjingan.


Padahal, mau aku membawa mobil, motor, bus atau jalan kaki sekalipun, memang merugikan mereka apa, sampai segitu pentingnya dibahas. Mei yang terlihat acuh, walaupun sedikit menggerutu dalam hati. Karena dia diperhatikan sampai segitunya. Padahal dia sendiri bukan tipe orang yang terlalu perduli dengan apa yang dipakai para karyawan yang lain. Ya, selama ini hidupnya sudah cukup berat, dia tidak punya waktu mengurusi hidup orang lain.


Dan saat senja sudah menjemput, waktunya untuk pulang kantor.


Setelah selesai membaca pesan yang baru dia terima dari Rion, Merilin baru menghidupkan mesin mobilnya. Gadis itu berdendang dengan lagu-lagu yang dia hafal. Hatinya sedang senang, karena Rion akan pulang larut malam. Artinya dia punya banyak waktu sore ini. Dia akan makan malam bersama Harven dan membantunya membereskan rumah. Sambil menitipkan barang-barang berharga miliknya. Akan dia simpan sekarang benda-benda ini, nanti setelah dia berpisah dengan Rion, dia bisa memakai semua itu lagi. Semua barang di dalam koper dan tas memiliki banyak kenangan dalam hidupnya.


Merilin akan menantikan hari itu datang. Saat dia lepas dari statusnya menjadi boneka Rion.


Mobil keluar dari area parkir, dia akan membeli ayam goreng dan buah-buahan untuk Harven, sebelum ke rumah Harven. Sekarang, dia memiliki uang, dia ingin membelikan Harven makanan yang lain yang bisa dia stok untuk dia makan kemudian hari. Sebuah amplop berisi uang tunai juga sudah dia siapkan di dalam tas barunya.


Semua ini lebih baik Mei, jadi kau harus jauh lebih bersyukur, walaupun kau harus mengorbankan banyak hal.


Sepanjang melewati jalanan yang ramai, Merilin terjebak kepadatan jalan raya, ada beberapa titik kemacetan karena waktunya karyawan dan para pekerja pulang ke rumah. Sambil menunggu jalanan lancar, sempat-sempatnya dia melamun. Dia membenturkan kepalanya di kemudi mobil. Kejadian di ruang Presdir tadi menari-nari menertawakannya.


Hah! bisa-bisanya manusia bunglon itu berulah walaupun ada di kantor dan di depan Presdir ayahnya. Merilin tidak habis pikir. Kemampuan akting Rion memang semakin menjadi jika ada di depan orangtuanya. Namun gadis itu juga semakin menyadari, hubungan baik antara ayah dan anak. Kasih sayang keluarga yang tidak berjarak.


Ya, keluarga kan memang selalu begitu. Memaafkan adalah cara mencintai dan menyayangi keluarga. Memahami dan saling mendukung adalah bahasa lain dari keluarga. Dia pun merasakannya pada Kak Brama, sejauh apa pun jarak mereka, hati Merilin selalu merindukan sentuhan tangan kakak laki-lakinya. Karena mereka adalah keluarga.


Mobil berhenti di lampu merah, pikiran Merilin melayang jauh lagi.


Di ruangan Presdir tadi, setelah Merilin ditarik duduk di samping Rion, setelah dia merasakan kecupan di pipinya, Rion berbisik di telinganya.


"Lakukan dengan baik di depan ayahku Mei."


Aaaaaa! memang kau mau aku berakting apa! Lagi-lagi cuma memberi perintah yang harus ditafsirkan Merilin sendiri. Beberap detik pikirannya loading, mencari hal apa yang harus dia lakukan sekarang.


Ah ia, tersenyum dengan tulus sambil menatap Kak Rion Mei.


Mei tersenyum hangat setelah Rion mencium pipinya, lalu dia menyentuh pipi Rion dan mengusapnya, tidak mengucapkan apa pun, namun cintanya tersalurkan melalui sorot mata dan senyumnya dan Merilin memindahkan tangan laki-laki itu yang ada di bahunya pindah ke pinggangnya. Presdir terlihat puas dengan sorot mata menantu yang ditujukan pada anaknya.


Sekarang Mei melihat ke arah Presdir.


"Apa ayah sehat? bagaimana dengan ibu, saya kangen pada ibu."


Tubuh Merilin menjadi kaku, ternyata yang dia lakukan saat memindahkan tangan Rion dari bahu ke pinggang, menjadi bumerang baginya sendiri. Dengan isengnya Rion mencubit pinggang Merilin. Lalu mengusap-usap bagian yang dia cubit tadi. Dengan setelan wajah datar, bahkan melihat ke arah Mei pun tidak.


Aaaaaa! Apa si Kak, ini di depan ayahmu!


"Sering-seringlah kalian datang Nak, dia hanya membicarakan kalian sepanjang waktu. Kalau nanti ibu kalian tiba-tiba datang ke rumah kalian, jangan kaget ya." Presdir bicara dengan suara yang lebih bersemangat ketika membicarakan istrinya.


Wajah stay cool itu tidak menjawab, malah mendekatkan kepala ke bahu Merilin. Saat Mei melirik, hah! rasanya gadis itu terpantik emosi karena wajah itu benar-benar tidak bergeming, padahal sedari tadi tangannya beraksi di pinggang Merilin. Pipi mereka menempel dekat sekali.


Presdir semakin puas melihat interaksi mesra anak dan menantunya.


"Baik Ayah. Kak." Mei memutar tangannya, menarik tangan Rion yang ada di pinggangnya. Supaya berhenti, tangan itu menggesek kulitnya. Gadis itu tersenyum sambil menggenggam tangan Rion dengan erat. Genggaman kesal sebenarnya, namun diartikan sebagai sentuhan cinta menantu pada anaknya. "Bagaimana kalau kita mengunjungi ibu setelah dari RS Kak?"


Hah! setelah pinggang, sekarang tangan! Di bawah telapak tangan Mei, tangan Rion dengan kailnya menoel-noel. Masih dengan wajah lurus ke depan sambil melihat ayahnya. Mei menarik nafas dalam.


"RS?" Presdir yang menyahut dengan suara terkejut. "Apa kalian sudah hamil?" Saking semangatnya Presdir lupa menghitung hari sepertinya.


Ditempatnya berdiri Serge hampir terjatuh karena kaget, tapi setelah mendengar suara tawa Presdir dan kalimat yang ia ucapkan selanjutnya, Serge langsung mengelus dadanya lega.


"Aku terlalu antusias, maaf Nak, padahal kalian baru menikah kemarin." Presdir menyadari kesalahannya dan tertawa lagi. Serge yang sudah merasa tenang, melihat Presdir dengan mengeryit. Laki-laki itu memang sangat baik dan ramah pada keluarganya, namun dia jarang menunjukan sikap itu pada orang lain.


Mei bahkan sudah dianggap keluarga sendiri oleh Presdir, akting Mei memang luar biasa. Tidak, tidak, kalian berdua berakting dengan menakjubkan. Gumam Serge di tempatnya berdiri.


"Ayah terlalu semangat Mei." Rion ikut tertawa sambil merangkul Merilin lagi dan mencium pipinya lagi.


Kenapa kau mencium orang sembarangan Kak! Ku mohon berakting saja sewajarnya.


"Jadi kenapa kalian mau ke RS?"


"Ah, itu Yah. Kakak mau bertemu dengan ibu saya." Untuk memastikan apakah saya benar-benar mirip dengan ibu atau tidak. "Kakak ingin berkenalan dengan ibu secara resmi." Merilin ikut berakting dengan aktif. "Terimakasih ya Kak, aku senang sekali Kakak mau bertemu dengan ibu. Setelah itu kita menginap di rumah ayah dan ibu ya?"


Presdir terlihat kaget saat mendengar cerita menantunya, tapi tidak lama dia tersenyum senang. Anak dan menantunya memang memiliki hubungan yang sangat baik, anaknya bahkan berinisiatif untuk memperhatikan keluarga istrinya. Laki-laki itu terlihat puas. Karena hati Rion yang hangat dan baik telah kembali. Sepertinya aku sudah harus berhenti mencurigai menantuku gumam Presdir, karena anaknya bahkan sudah menunjukan keperdulian pada keluarga Merilin, sudah dianggap Presdir sebagai hal yang sangat luar biasa.


Yang tak kalah senang tentu saja Serge, dia menahan senyum dengan memalingkan wajah. Dia sedang memuji kepiawaian Merilin bicara. Dia bangga dengan bakat mengarang Merilin. Apa yang dikatakan Merilin barusan telah meringankan beban di pundaknya.


Aku bangga padamu Mei, gumam Serge.


"Baiklah Nak, akan kusampaikan pada ibunya Rion, dia pasti senang sekali melihat kerukunan kalian."


Merilin tersenyum. Namun kukunya menusuk jemari yang lain. Ketika rasa takut terselip karena telah membohongi orang sebaik Presdir dan ibu.


Sebelum berpisah, Presdir mengangkat majalah di atas meja. Memuji hasil kerja Merilin dan timnya. Gadis itu tersipu namun dadanya berdebar bangga. Mendapat pujian dari Presdir langsung, rekan kerjanya pasti akan meledak bahagia kalau mendengarnya.


"Aku menantikan wawancara untuk edisi mendatang, aku yakin, kau akan melakukan yang terbaik."


Merilin berdiri dari duduk. Berteriak dengan suara lantang. Mode karyawan yang bangga karena dipuji hasil kerjanya oleh atasan muncul. Gadis itu bicara berapi-api dengan bola mata dipenuhi semangat.


"Kami akan melakukan yang terbaik Tuan! Terimakasih sudah memberi kami kesempatan berharga untuk melakukan wawancara dengan Anda dan CEO." Merilin sampai kaget sendiri dengan suaranya. Dia menutup mulutnya dengan wajah memerah.


Ada yang kakinya bergetar, saat Merilin berhenti bicara dengan berapi-api. Siapa lagi kalau bukan Rion. Tidak, kali ini sepertinya bukan hanya Rion, karena laki-laki yang sedang berdiri di ujung ruangan, juga menahan tawa sampai tubuhnya bergetar.


Wajah Merilin yang sudah jadi tomat rebus semakin merah padam, apalagi saat Presdir juga menahan tawa, tapi tetap tersenyum.


"Aku senang dengan semangatmu Nak." Presdir menggangukan kepala.


"Terimakasih Ayah."


Merilin keluar dari ruangan Presdir dengan wajah merah padam. Dia bahkan tidak mengangkat kepalanya di depan para staf sekretaris, dia hanya menundukkan kepala dan langsung lari ke lift. Setelah masuk ke dalam lift yang kosong dia duduk lemas.


Aaaaaa! Aku jadi seperti badut tadi. Bahkan Kak Ge juga tertawa. Aaaaaa!


Merilin menyentuh pipi kanannya, Rion yang mengantarnya sampai ke pintu mencium pipinya.


"Aku selalu tertawa dengan ulahmu Mei, akan kuberi kau hadiah nanti."


Kecupan di pipinya terasa hangat bahkan sampai dia keluar dari lift dan berjalan menuju ruang kerjanya.


Saking panjangnya lamunan Merilin, saat terbangun dari lamunan, dia baru tersadar sudah hampir sampai ke tujuan.


Bersambung


.