
Langit sudah kemerahan.
Jam pulang kerja pun datang. Para karyawan yang sudah menyelesaikan pekerjaan keluar dengan wajah tertekuk dari ruangan kerja. Mereka terlihat lelah dan mengantuk, karena energi yang terkuras. Bahkan kopi yang sudah mereka teguk bukan hanya satu gelas, tapi sepertinya tidak bisa menghapus lelah dan kantuk.
Ada banyak juga karyawan yang masih lembur hari ini, menyelesaikan apa yang belum selesai dari pekerjaan mereka hari ini.
Mei terlihat berdiri di loby kantor di dekat dinding, sebenarnya agak menjauh dari pintu keluar. Dia menundukkan kepala dan tersenyum sekenanya pada orang-orang yang menyapanya. Sebenarnya dia merasa sangat canggung. Rasanya ingin menutupi wajah dengan penutup muka supaya tidak dikenali.
Seharusnya mereka biasa saja padaku! Tidak perlu bersikap sopan dan menundukkan kepala segala si. Aku kan bukan Kak Rion!
Begitu Mei ingin bicara di depan semua orang. Apalagi yang jelas-jelas posisinya dan jabatannya lebih tinggi darinya pun sekarang ikut-ikut menyapanya.
Anggap aku tidak terlihat saja seperti biasanya dulu.
Mei menghela nafas lelah dengan semua sorotan mata yang dia terima. Buru-buru kepala Mei menunduk, ketika seorang direktur wanita tersenyum dan menyapanya. Dan itu terjadi berulang kali.
Kenapa aku disuruh menunggu di loby si, bukannya di dalam mobil saja. Kalau begini kan semua orang melihatku. Hah! Apa Kak Rion sengaja mau mengerjaiku.
Karena gadis itu ingat dengan jelas apa yang dikatakan Kak Rion tadi.
Telepon yang diterima Mei sebelum dia pulang. Panggilan dari Rion langsung. Mei belum menyapa dengan salam atau mengucapkan kata hallo, suara Kak Rion yang sudah dikenali Mei langsung terdengar.
"Tunggu aku di loby sepulang kerja, kita pulang bersama."
Rion bahkan tidak memberi kesempatan Mei bicara, alias panggilan langsung dia tutup dengan seenaknya setelah dia menyelesaikan kata-kata. Alhasil Mei menunggu di depan loby seperti sekarang ini. Tahu begini, dia tidak akan buru-buru tadi. Karena sudah cukup lama dia menunggu. Takut Kak Rion turun duluan, akhirnya membuatnya secepatnya berkemas meninggalkan rekannya yang lain.
Masih menunggu, masih menanggapi sapaan orang yang mau pulang bekerja.
Nanti makan malam apa ya? Apa kami mampir belanja di minimarket dulu. Bertambah kebingungan Mei, kalau dia sendiri yang makan, dia bisa asal mampir membeli makanan. Di pinggir jalan sekalipun. Tapi ini kan ada Kak Rion. Hah! Aku rasanya semakin lelah walaupun hanya memikirkan mau makan apa gumam Mei.
Saat sedang melamun ke mana-mana, suara Mona terdengar dengan jelas. Mei menutup wajahnya malu ketahuan masih ada di dalam gedung. Sudah turun duluan dari tadi, sok buru-buru karena ada keperluan, eh malah masih berdiri di loby.
Aaaaaa! Gara-gara Kak Rion ini!
"Kak Mei, katanya mau duluan, kenapa masih di sini?" Ternyata Mona dan Baim pulang bersamaan. Berjalan beriringan mendekati Mei.
"Ia Mei. Kau menunggu siapa, suamimu?" Mona senyum-senyum, gadis itu masih belum bisa tidak berekspresi dengan aneh setiap menyebut suami Mei.
Sudah berdiri di depan Mei kedua rekan kerjanya itu.
"Kenapa harus menunggu suami Kak Mei, Kak Mei kan bawa mobil sendiri Kak." Baim seperti protes pada Mona. Efek patah hati masih belum memudar jadi masih agak sensitif setiap kali suami Mei disebut. "Ia kan Kak?" Melihat Mei, berharap mendapat jawaban yang lain. Walaupun Baim sebenarnya juga berfikir sama, tapi, dia tidak mau mengakui. Lagi, lagi karena efek belum move on masih membayangi hati. Hiks.
"Hehe, kalian turun bareng ya." Mengalihkan pembicaraan. "Tidak mau mengiyakan, atau pun menyanggah. Mei melihat layar hpnya, tidak ada pesan atau panggilan dari Kak Rion. Mei melambaikan tangan seperti mengusir keduanya supaya cepat pergi.
Tapi, Mona ataupun Baim belum bergerak dari tempatnya berdiri.
"Kak Mei, mau pulang bareng nggak? Kita mampir makan dulu yuk, sepertinya sudah lama sekali kita tidak pergi bersama." Baim menyenggol bahu Mona untuk mengajak Mei. "Kak Mona, ajak Kak Mei." Bicara agak berbisik.
Hah! Mona agak loading, karena tadi belum ada pembicaraan tentang makan malam bersama. Mona baru mau membuka mulut, ketika hawa dingin mulai terasa dari balik punggung mereka.
"Memang siapa kalian mau makan bersama istriku makan." Suara dingin yang langsung membuat udara di loby kantor turun beberapa derajat. Baim dan Mona membeku, tanpa sadar mereka bergandengan tangan. Mengusir keterkejutan dan rasa takut. Suara itu berasal dari balik punggung mereka. "Kemarilah Mei!"
Mona dan Baim langsung melepaskan pegangan tangan dan memutar tubuh. Mei juga mendekat ke asal suara. Gadis itu tersenyum menyambut kedatangan Rion. Tubuhnya sudah berdiri kaku di depan Kak Rion sekarang. Kedua tangan Kak Rion menyentuh bahunya, dengan kepala menunduk menempel di bahu Mei. Menunjukkan kepada Baim dan Mona, statusnya sebagai suami Mei.
Yang ada di loby, menonton dari kejauhan sambil berbisik-bisik. Saat Rion mendekatkan bibir di leher Mei, ada yang terlihat jatuh pingsan di sudut ruangan. Mencipta kehebohan sesaat.
"Siapa kalian? Seenaknya mau pergi dengan istriku." Suara dingin dan ekspresi angkuh terlihat. Membuat Mei panik jadinya.
"Kak, mereka rekan kerjaku, Mona dan Baim, mereka cuma basa-basi mengajakku karena aku sendirian."
Aku mohon hentikan! Kita sudah jadi tontonan orang!
Mei meraih pergelangan tangan Rion, menggenggamnya erat. Berharap sentuhan tangannya bisa mencairkan suasana. Dan berhasil, Rion sudah tersenyum lalu membenturkan kepalanya ke kepala Mei pelan.
"Baiklah, ayo pergi." Melihat Mona dan Baim.
Mona mendorong kepala Baim untuk tertunduk, kepalanya sendiri juga sudah menunduk dengan dalam.
"Maafkan kami Tuan, kami permisi dulu, maaf sudah menggangu kebersamaan kalian. Mei, kami duluan ya." Dua langkah berjalan mereka berhenti, lagi-lagi Mona menundukkan kepala Baim dan kepalanya. Lalu kabur secepat kilat menghilang dari pandangan Mei, tangan mereka terlihat saling terpaut erat.
Rion tergelak kecil, lalu meraih tangan Mei.
"Mereka kabur!"
Itu kan karena Kakak menakutkan! Kalau aku yang jadi mereka, aku juga bakal kabur.
Rion menyodorkan tangan miliknya yang tidak menggengam tangan Mei. Apa? Kau mau apa? Mei kebingungan menebak. Saat Rion menggoyangkan tangannya, Mei menunduk mendekatkan dagunya supaya menempel di telapak tangan Rion.
"Apa yang kau lakukan Mei?"
Langkah kaki mereka berhenti, Rion menggelitik dagu Mei sambil tertawa. Lucunya, gumam laki-laki itu.
"Aku minta kunci mobilmu." Kembali tertawa, saat wajah Mei langsung meledak merah karena malu. Dia menjauhkan kepalanya dan dagunya dari telapak tangan, membenturkan wajahnya ke bahu Rion. Berharap tenggelam ke dalam tanah.
"Haha. Kau selalu membuatku tertawa Mei."
Aaaaaa! Merilin gila! Kenapa kau memberikan dagumu! Kau juga kenapa tidak bicara! Kau kan punya mulut Kak! Merilin gila! Segitunya kau menyukai suamimu sampai jadi gila!
Sementara itu, ada yang jatuh pingsan lagi di sudut loby, melihat kemesraan CEO Rionald dengan pimred Merilin.
"Kak, kita mau kemana?"
Saat sudah keluar dari loby dan berada di area parkir. Rion masih senyum-senyum karena kelucuan Mei di loby tadi.
"Kita mampir ke mini market ya Kak? Aku mau membeli bahan makanan untuk menyiapkan makan malam." Rion belum menjawab kata-kata Mei.
Mereka sudah masuk ke dalam mobil. Rion menarik sabuk keselamatan, berhenti di depan wajah Mei. Dengan jarak sedekat itu langsung membuat debaran jantung Menguat.
Deg...deg ..
Apa sih! Kenapa kak?
Rion masih diam, belum mengunci sabuk keselamatan. Masih memandang Mei.
"Cium aku." Mei sampai melongo kehabisan kata-kata.
Apa si Kak! Aku bisa pakai sendiri, memang siapa yang minta dipakaikan.
Setelah mendapat ciuman di semua bagian wajah, dan beberapa kali di bibir, akhirnya Rion menyelesaikan pekerjaan yang sama sekali tidak diminta Mei. Sabuk keamanan sudah terkunci. Setelah mendapat imbalan dia duduk di belakang kemudi seperti orang tidak berdosa.
"Aku tidak mau makan masakan mu hari ini."
Deg.
Wajah Mei langsung sendu. Ternyata Kak Rion tidak mau makan masakanku. Baiklah Mei, tidak apa-apa. Gadis itu menghibur dirinya yang terluka.
"Baik Kak, aku tidak akan memasak seterusnya. Masakan bibi lebih enak dari masakanku. Hehe. Aku akan belajar memasak dari bibi dulu, supaya bisa masak dengan enak."
Mobil melaju.
"Kau ini bicara apa, aku tidak mau kau memasak hari ini saja, karena aku sudah memesan tempat untuk makan malam." Melihat Mei sebentar, ekspresi terkejut gadis itu lucu sekali gumam Rion. "Kau senang karena aku ajak makan malam di luar."
Mei menutup wajahnya malu, dia sudah berfikir yang tidak-tidak.
"Terimakasih Kak, kita mau makan malam di mana?"
"Kalau kau senang, cium aku sekarang."
Aaaaaaa! Apa sih Kak!
Mobil masuk melaju, saat Mei memberi kecup-kecup basah dipipi Kak Rion.
Penutup
Mona menarik tangan Baim, setengah berlari keluar gedung. Agak terengah-engah, setelah menjauhi gedung mereka berhenti tanpa dikomando. Melihat wajah satu sama lain, lalu tertawa.
"Suami Kak Mei menakutkan!"
"Suami Mei menyeramkan!"
Mereka bicara bersamaan, setelahnya tertawa terpingkal berdua. Lelah tertawa, keduanya sepertinya baru tersadar, saat melihat tangan mereka masih terpaut.
"Eh, maaf!" Lagi-lagi berteriak bersamaan, sambil melepaskan tangan. Memutar kepala, wajah keduanya memerah karena malu.
Ada mobil melintas di depan keduanya.
Bersambung