Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
151. Senang Dicemburui


Bersamaan waktunya dengan kejadian di ruangan divisi majalah perusahaan.


Terlalu banyak yang dipikirkan Serge dalam perjalanan pulang, tahu-tahu mobil yang dia tumpangi sudah memasuki area parkir gedung Andez Corporation. Serge kembali ke kantor. Staf di depan ruangan CEO langsung bangun saat dia sudah berdiri di depannya.


"Tidak ada hal yang terjadi kan? CEO masih di dalam?" Serge menunjuk pintu.


"Ia, beliau ada di dalam." Menjawab pelan, sambil menggeser kertas didepannya karena kikuk. Serge tiba-tiba muncul.


"Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu." Staf wanita itu menundukkan kepala saat Serge berlalu dari hadapannya. Dia bergumam pada dirinya sendiri, kenapa sekarang aura yang terpancar dari sekretaris Serge terlihat lain ya, dia semakin tampan saja kalau dilihat setiap hari. Efek statusnya yang masih singel, beberapa pengagum CEO memutar haluan menargetkan Serge sebagai idola baru. Bisa jadi termasuk staf wanita itu.


Sementara Serge yang tidak tahu kalau diam-diam dilirik, berjalan mengetuk pintu ruang kerja Rion.


Dan saat Serge masuk ke dalam ruangan CEO. Rion sedang seperti orang bodoh karena bolak balik di dalam ruangan, dia berdiri di depan cermin, atas permintaannya memang ada cermin besar yang menempel di samping lemari sekarang.


"Kenapa kau? kenapa buka jas? Panas?" Serge meletakkan tas yang dia bawa di sofa.


Kenapa lagi si gila ini?


"Kau sudah datang? Bagaimana penampilanku?" Seperti biasa, tidak perduli Serge bicara apa, Rion menjawab apa.


"Biasa saja." Maksudnya ya biasa, tetap tampan seperti tadi pagi, begitu sebenarnya yang dipikirkan Serge. Memang mau aku menjawab apa lagi, kan aku juga sudah bertemu denganmu. Kau masih tampan seperti tadi.


Tapi, Rion tersinggung dengan tanggapan Serge.


Pena di atas meja kerja Rion langsung melayang ke arah Serge. Tidak sempat tertangkap tangan jadi mengenai tubuhnya lalu jatuh membentur sepatu.


Apa sih! Dasar gila! Ngedumel sambil memungut pena dan meletakkannya kembali ke atas meja. Melihat Rion menggulung kemejanya, mengibaskan rambut di belakang tengkuk. Dia ini kenapa si, memang siapa yang mau datang. Kau mau aku memujimu? Setelah berfikir sesaat sepertinya Serge mulai paham yang dimau Rion. Saat laki-laki itu sekali lagi meliriknya.


"Kau terlihat tampan, lebih tampan dari saat aku lihat tadi pagi, kemeja mu juga sangat cocok denganmu. Digulung begitu ternyata boleh juga ya. Hemm, bagus-bagus." Rion dengan sombongnya menepuk dadanya. Dih, puas! Serge cuma menghela nafas melihat kelakuan bosnya.


"Aku memang keren mau pakai aja. Nggak pakai baju juga keren kata Mei." Rion menyentuh dagunya, memutar ke kanan dan ke kiri di depan cermin.


Bodo amat, kalau begitu kenapa bertanya padaku. Dari pada mengurusi Rion yang sedang berdandan, Serge mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Apa yang dia dapatkan dari pertemuannya dengan teman ayah Mei tadi. Sedikit kemajuan.


"Kau mendapatkan petunjuk." Rion sepertinya sudah puas dengan penampilannya, dia mulai fokus dengan Serge. "Apa itu?"


"Nama dan ciri-ciri pelaku, tapi memang tidak ada latar belakang apa pun yang aku dapatkan, dia juga cuma bertemu sekali. Tapi lumayan lah, aku akan coba mencari ke pemakaman siapa tahu bisa mendapat petunjuk. Semoga orang itu tertangkap CCTV atau apalah gitu."


Rion mendengus kesal, karena dia berfikir orang yang datang ke makam ayah Mei pasti penipu sialan itu. Sama seperti yang dipikirkan Serge. Jadi pencarian mereka memang mengkerucut ke arah itu. Serge belum menemukan apa-apa selain data perusahaan seperti yang diminta Presdir.


"Teman-teman ayah Mei kebanyakan sudah lupa dengan kejadian itu." Kata-kata Serge membuat dia yang mendengarnya sendiri merasa sedih. Jadi, tidak terlalu berharap dari sebatas ingatan sambil lalu mereka ujar Serge lagi. Setelah dia menghela nafas dia melihat Rion lagi. "Tapi, kenapa kau berdandan segala, siapa yang mau kau temui. Sore ini kau, tidak ada janji bertemu siapa-siapa kan?"


"Siapa lagi, tentu saja Mei. Memang aku berdandan untuk siapa kalau bukan untuk istriku."


Ya, ya, bodo amat! Pamer terus sana. Nggak sadar dia juga suka pamer kalau sudah punya pacar.


"Kenapa Mei ke sini?" tanya Serge.


"Dia mau memberi tahu foto yang akan dia pakai sebagai sampul majalah dan minta pendapatku."


"Hei, sejak kapan kau perduli urusan begituan." Serge tercengang, sampai Rion mengurus foto sampul majalah segala. Ditanya begitu Rion malah tertawa. "Kau mengerjai Mei!"


"Suka-suka aku, aku kan CEO." Dengan sombongnya mendorong kursi lalu menjatuhkan tubuh bersandar. "Pergi sana! Urus pekerjaanmu."


Dasar gila! Kau menyusahkan Mei saja. Penyalahgunaan jabatan ini namanya! Tapi mau protes pada siapa dia memang. Dia saja terjebak sebagai budak kapitalis di sini. Serge merengut karena dia sudah diusir dengan tangan oleh Rion. Mentang-mentang Mei mau datang, kau mau mengusirku! Gerutuan Serge terhenti saat ada pesan masuk ke hpnya. Saat melihat siapa pengirim pesan, dia menarik kursi di depan Rion.


"Siapa yang menyuruhmu duduk? Keluar sana! Sebentar lagi Mei datang."


Serge mengangkat tangannya menyuruh Rion diam sebentar, Eh saat Serge mendongak dia tergagap kaget. "Maaf, maaf, tanganku refleks." Yang disuruh diam marah dengan memukul meja.


"Keluar sana! Sebelum aku menghajarmu."


"Ini pesan dari Kendra, rekan Mei."


Sekarang giliran Rion yang langsung tersentak, laki-laki itu memang selalu memberi info kalau ada sesuatu yang terjadi pada Mei sekecil apa pun itu. Jadi kali ini ada apa pikir Rion.


"Dia bilang apa?"


Serge segera menyebut nama senior Mei yang dulu pernah bekerja di perusahaan game.


"Dia menyampaikan pesan dari Amerla, yang katanya ingin bertemu dengan Mei untuk minta maaf." Membaca pesan Kendra dalam hati dulu sebelum bersuara.


"Kau bilang apa?" Suara Rion sudah penuh tekanan, membuat kursi Serge bergeser karena takut. "Gadis sialan itu mau bertemu lagi dengan Mei!"


Ah, sialan! Dia jadi emosi.


Ini bagaimana si dibacanya, Serge ingin membacakan pesan yang sudah terfilter, supaya Rion tidak terlalu marah.


"Tapi Mei menolak kok, Mei bilang tidak mau bertemu dengan Erla, karena tidak mau melukai hatimu dan gadis itu juga sudah minta maaf karena membuat Mei tidak nyaman." Ah, Serge tahu pasti, situasi tidak nyaman seperti apa yang dihadapi Mei saat itu. "Jadi tenanglah, Mei juga tidak mau bertemu dengannya."


"Aaaaaaa! Membuatku emosi saja." Rion bahkan berteriak sudah dengan posisi berdiri dari kursi, membuat Serge semakin ngeri. "Tegur dia, dan katakan untuk tidak membicarakan wanita sialan itu pada Mei lagi, aku saja tidak pernah mau menyebut namanya di depan Mei karena takut Mei kepikiran ini malah." Perintah Rion ditambah tatapnnya yang menakutkan, benar-benar serius, ini perintah sungguhan ujar Serge dalam hati.


"Aku yang menegurnya?" Maksudnya Serge sudahlah, tidak perlu ditegur atau diberi peringatan, karena kan Mei sudah tidak mau bertemu Erla. Sisi tidak enakan Serge muncul lagi, bagaimana pun dia kan kenal gadis itu. Dia juga sudah minta maaf. Serge lebih memilih menghibur Mei, dari pada menegur seniornya itu.


"Kenapa? Kau mau aku yang memanggilnya langsung?" Rion baru bertanya tapi sudah memegang telepon, sambungan pun sudah terhubung dengan staf yang ada di depan ruangannya. "Panggil..."


"Ia, ia, aku yang akan menegurnya langsung." Serge merebut telepon. "Aku akan memanggilnya dan menyuruhnya bicara hati-hati ke depannya."


Tutup teleponnya sialan! Masih terdengar suara staf perempuan memanggil nama Rion. Serge yang meletakan telepon, setelah sebelumnya minta maaf karena salah pencet. Dia jadi seperti habis lari maraton, lelah, padahal cuma bicara dengan Rion.


Pesan masuk lagi di hp.


'Eh, katanya Mei cemburu." Membaca pesan dengan seksama. "Kalau dilihat dari nada suaranya saat bicara, Mei sepertinya menunjukkan kecemburuan saat nama Amerla di sebut. Bahkan saat keluar dari ruangan barusan dia agak bersungut-sungut bibirnya, dan menutup pintu dengan agak keras." Pesan terakhir yang dikirim Kendra, mengisyaratkan Mei sudah keluar dari ruangannya.


"Haha..."


Apa sih! Kenapa kau tertawa, dasar orang aneh, Mei cemburu kenapa kau jadi senang begitu. Serge yang langsung kebingungan dengan perubahan sikap Rion yang mendadak itu.


"Mei cemburu? Mei cemburu padaku." Tangan Rion menutup wajahnya, yang sedang tergelak senang. "Periksa CCTV Ge, aku ingin melihat ekspresi wajahnya."


"Hah? Apa sih?"


"Hei bodoh! Kau tidak tahu, kalau Mei cemburu ada yang menyebut Amerla, itu artinya dia mencintaiku bodoh, dia sangat mencintaiku." Lagi-lagi tergelak senang. "Dia tidak mau nama Amerla disebut bersama namaku. Dia cemburu karena mencintaiku. Dia menunjukkannya pada orang lain. Hihi, lucunya. Mei memang yang paling lucu dan menggemaskan."


Apa sih?


Serge sedang loading, mencoba menarik benang merah, hubungannya cemburunya Mei sama kebahagiaan Rion sekarang itu apa.


"Kau belum paham juga? Bodoh!"


"Hei, aku paham!"


"Apa?" Rion menyeringai mengejek.


"Makanya kau selalu cemburu dan marah kalau aku bicara dengan Mei kan? Karena kau mencintainya, makanya kau tidak mau dia bicara denganku. Aku juga tahu kalau cuma itu!" Serge terbawa emosi juga akhirnya. "Cemburu jadi seperti tanda cinta."


"Kali ini otakmu bekerja dengan baik."


Dasar gila! Kalau kau mau cemburu itu pada laki-laki yang suka pada Mei, bukan aku aneh. Aku kan kakaknya. Hah! Sabar Ge, sabar, dia kan memang manusia aneh. Sudah sejak lama dia jadi manusia aneh kan. Kau yang waras yang harus sabar.


"Kau tidak perlu menegurnya dengan keras, berikan dia hadiah saja," Secepat kilat teguran untuk senior Mei berganti hadiah. Karena Rion sedang senang karena akhirnya Mei menunjukkan kecemburuannya. Aku harus melihatnya. Wajah cemburu Mei."Periksa CCTV sana di ruangan Mei, atau tanya Kendra dia punya foto atau vidioa rekaman tidak. Aku ingin melihat Mei yang cemburu karena mencintaiku."


Bodo amat!


Serge duduk di sofa, menyandar malas, tapi dia tertawa saat melihat kelakuan Rion yang saking senangnya karena dicemburui Mei. Dasar orang gila, dia senang sekali karena Mei cemburu.


Ketukan di pintu membuyarkan kesenangan Rion dan lamunan Serge.


"Maaf Tuan, Pimred Merilin sudah datang." Staf di luar bicara dengan suara keras.


Bersambung