
Sementara itu, di ibu kota. Masih di hari yang sama.
Di sebuah di kawasan elite. Salah satu komplek perumahan milik Andez Corporation. Rumah Serge.
Harven sudah selesai sarapan, dia duduk di teras menunggu Serge yang sedang mandi. Dari teras rumah Serge, Harven memandangi rumah-rumah besar bak istana negri dongeng. Megah, besar dan mewah.
Kalau dia memperhatikan, blok perumahan ini terbagi dalam beberapa cluster. Tempat Kak Serge ini termasuk dalam cluster Emerald. Rumah-rumah yang jauh lebih besar ada di lingkungan cluster diamond.
Melihat semua rumah-rumah besar itu, Harven jadi teringat keluarganya. Bagaimana mereka dulu hidup sebelum ayahnya jatuh dalam kebangkrutan karena tertipu temannya. Walaupun rumah mereka tidak semewah rumah besar di cluster diamond, tapi masih bisa bersanding dengan rumah Kak Serge. Kamar yang ditempatinya dulu seluas kamar tamu yang dia tiduri semalam.
Sudahlah Ven, itu hanya masa lalu. Sekarang, yang penting Kak Mei tidak menderita.
Sepertinya pilihan Merilin menikah adalah pilihan yang terbaik. Harven merenung lagi. Melihat wajah tersenyum Kak Mei, hati Harven juga diliputi kebahagiaan. Kak Mei sudah lama menderita sejak keluarga mereka bangkrut. Sekarang saatnya Kak Mei mendapatkan kesempatan hidup lebih baik kan. Begitulah yang Harven yakini setelah melihat keluarga suami Kak Mei.
Walaupun ada bagian hatinya yang berdenyut sakit saat dia memikirkan Merilin.
Ah, sialan! Aku jadi sedih karena mulai sekarang aku harus hidup sendiri. Ah, Kak Mei, tidak bolehkan aku tinggal menumpang di rumah Kak Mei sampai ibu sembuh.
Pandangan Harven sekarang tertuju pada bunga-bunga yang ada di halaman rumah Serge. Orangtua Kak Serge merawat halaman rumah mereka dengan sangat baik. Tatapan Harven sendu lagi.
Sekarang saja aku kangen sama Kak Mei, kenapa dia tidak bisa ditelepon ya. Pesan pun tidak terkirim.
Harven memikirkan hari-harinya ke depan tanpa Kak Mei di sisinya.
Kalau boleh, tinggal di pojokan yang seperti kamar untuk pembantu juga tidak masalah bagi Harven. Kalau dia harus tinggal di kamar selama suami Kak Mei di rumah juga tidak apa. Semua itu pasti lebih baik daripada tinggal sendirian. Kesembuhan ibu juga belum tahu kapan, sampai ibu sembuh Harven harus tinggal sendirian. Entah kenapa pikiran sedih dan takut itu mulai bermunculan di kepalanya sekarang.
Bocah SMU itu ingin menangis dan merengek di depan Kak Mei, tapi dia tahu kalau dia melakukannya hanya akan menyusahkan Kak Mei.
Serge menepuk bahu Harven yang sedang tenggelam dalam lamunan. Sedikit tersentak saat mendongak melihat wajah ramah milik Serge.
Kenapa Kak Mei tidak menikah denganmu Kak, kalau denganmu, aku kan bisa menumpang di pojokan rumah juga tidak apa-apa. Kau kan sangat baik pada kami, pasti boleh kan, kalau itu Kak Ge yang jadi kakak iparku.
"Kenapa? kangen Kak Mei?
Serge duduk di samping Harven. Laki-laki itu juga tahu pasti kondisi Harven sekarang. Sepanjang jalan pulang ke ibu kota kemarin, Harven lebih banyak diam. Dengan pura-pura menikmati perjalanan sambil menatap ke luar kaca mobil yang berjalan. Padahal hati bocah ini pasti sedang kalut. Entah karena meninggalkan kakak perempuannya, entah juga karena takut sendirian.
"Aku nggak boleh ya Kak? tinggal dirumah Kak Mei dan suaminya? Aku bisa kok tinggal dipojokan kamar, nggak masalah."
Dasar bodoh, kenapa kau mengucapkannya Ven, kau jadi terlihat seperti bocah cengeng sekarang di depan Kak Ge.
Hati Serge rasanya pilu. Karena masalahnya bukan kamar pojokan Ven, tapi masalahnya kakak iparmu itu agak sialan, dia tidak suka hidupnya diusik orang lain. Apalagi jelas-jelas Rion sudah bicara kalau dia tidak mau terlibat dengan keluarga Mei. Jadi Serge tidak bisa membantu apa pun perihal ini. Dia juga tidak berani mengusulkan pada Mei untuk bicara pada Rion.
"Apartemen kakak iparmu kecil, pasti tidak akan nyaman untukmu. Jadi dia memintaku mencarikan mu tempat tinggal." Serge berusaha mencari alasan yang masuk akal. "Aku akan menunjukkan rumah yang akan kau tempati, ayo ikut aku."
Hah! Maksudnya? rumahku akan satu kompleks dengan Kak Serge di kawasan elit ini!
"Kak, aku tinggal di rumah yang lama juga nggak masalah kok. Sewa rumah yang sekarang juga kata Kak Mei nggak terlalu mahal."
Serge menatap Harven lekat, adik Mei yang satu ini selalu dibanggakan oleh Mei. Kata Mei adiknya itu tampan, pintar, nggak neko-neko dan penurut. Dia tahu keluarganya sudah tidak punya apa-apa, jadi dia juga tidak mau menyusahkan Mei. Dia nggak pernah minta dibelikan ini dan itu. Dia juga rajin belajar biar bisa masuk universitas ternama.
"Mei yang akan khawatir kalau kamu tetap tinggal di lingkungan itu sendirian Ven. Setidaknya kalau di dekat sini, ada aku yang bisa mengawasi mu. Lingkungan di sini juga aman. Dan rumah yang mau kau tempati ini salah satu aset kakak iparmu kok, jadi kamu jangan merasa terbebani."
Harven yang ragu melangkah, akhirnya ditarik tangannya untuk berjalan.
Mereka berjalan kaki menyusuri jalanan komplek yang rapi dan bersih. Mereka berpapasan dengan beberapa orang yang sedang joging atau ada juga orangtua yang menemani anak-anak mereka bermain sambil menyuapi. Anak-anak berkejaran masuk ke taman bermain.
Matahari jatuh di antara pohon, bunga dan dedaunan di pinggir jalan.
"Ven, pendapatmu tentang kakak iparmu bagaimana? kau sudah bicara dengannya kan?" Serge sambil lalu bertanya.
Ah Kak Rion ya, dia agak menakutkan menurutku. Ayahnya juga, berbeda dengan ibunya yang sangat ramah. Tapi setidaknya mereka menerima keluarga Kak Mei. Mereka menerimaku adiknya Kak Mei. Tidak seperti mertua Kak Brama.
Rion memang menyapa Kak Brama dan Harven dengan sopan kemarin, namun seperti membuat sebuah jarak, laki-laki itu hanya menunjukkan sopan santun dan bukan keakraban sebuah keluarga.
"Yang penting dia sayang dan mencintai Kak Mei Kak, buat aku itu sudah lebih dari cukup." Wajah Harven tertimpa cahaya matahari. Dia mengangkat tangannya menutupi matanya. "Itu kan yang lebih penting."
Walaupun aku yakin, Kak Mei masih hanya memikirkan mu.
Serge batuk-batuk sebentar.
"Benar, itu yang paling penting." Dalam hati Serge sedang menangis karena dihujani rasa bersalah.
Jalan kaki sekitar sepuluh menit mereka ada di cluster Silver stone. Rumah-rumah di sini jauh lebih kecil dari rumah Kak Serge. Walaupun bentuknya tetap terlihat mewah dan berkelas.
"Kita lihat dulu yang ini, kalau kau tidak suka ada yang lebih besar dari ini, dua lantai juga. Satu cluster dengan rumahku." Serge menarik gerbang depan, mereka memasuki halaman.
Harven tidak mau membayangkan tinggal di rumah dua lantai sendirian. Dia merinding, antara takut dan sudah merasa kesepian.
Serge membiarkan Harven melihat-lihat semua ruangan, ada dua kamar tidur, ruang keluarga, ruang tamu dan dapur. Satu kamar lagi yang ukurannya lebih kecil dari kamar tidur. Masih ada teras belakang dengan sepetak halaman yang cukup lebar, sisi samping kanan dan kiri juga masih ada ruang udara. Semua ruangan mendapatkan jendela.
Perumahan milik Andez Corporation memang sudah sangat diakui kualitas baik dari segi material bangunan maupun desain bangunan yang memperhatikan sirkulasi cahaya dan udara dengan baik.
"Benar, aku boleh tinggal di sini Kak?"
Serge tersenyum, mengusap kepala Harven.
"Rumah ini akan jadi milikmu Ven, Mei akan mengatasnamakan rumah ini dengan namamu."
Dada Harven bergetar mendengar penjelasan Kak Serge.
"Ini termasuk hadiah dari kakak iparmu untuk Mei, sebagai hadiah pernikahan. Dan Mei minta rumah ini dijadikan atas namamu bukan namanya."
Ah, kenapa Kak Mei sampai kepikiran begini si. Kenapa dia selalu memikirkan ku terus.
"Kak..."
"Kenapa?" Serge merasa takut karena nada suara Harven serius terdengar. "Ada yang mau kamu tanyakan?" Harven malah terdiam dan terlihat ragu.
Akhirnya belum bicara, Harven keluar dari rumah setelah melihat semua ruangan. Serge mengunci pintu lagi. Sekarang sudah menutup pagar dan berjalan beriringan di jalan komplek. Ada motor lewat pelan.
"Ven, kenapa? kamu mau bilang apa tadi?"
Langkah kaki mereka terhenti, Harven memandang Serge dengan serius. Memantapkan hati untuk bertanya.
"Tolong jawab dengan jujur Kak, Kak Mei menikah dengan Kak Rion karena mereka saling menyukai kan?"
Ah sialan! Kenapa bocah ini juga masih curiga. Begitulah kebingungan Serge, meyakinkan Brama saja tidak mudah, ini kenapa Harven ikut-ikutan curiga juga. Mak comblang yang masih merasa berdosa sedang bingung memilih kata.
Berjalan selangkah, dua langkah, akhirnya menemukan jawaban.
"Rion memperlakukan Mei dengan baik, dia menyukai kakakmu." Setidaknya Rion sudah menganggap Mei itu miliknya, gumam Serge. "Mei akan hidup bahagia Ven, dia bisa hidup lebih layak dan menghirup sedikit kebebasan. Rion akan membantu melunasi hutang ayahmu, bukankah kau tahu beban berat itu di pundak Mei."
Harven tertunduk dalam. Tanggungan hidup yang mengejar Kak Mei selama ini seperti hantu yang membayangi Kak Mei siang dan malam.
Kalau Kak Ge yang bilang begitu, aku percaya, bahwa Kak Mei hidup bahagia. Mereka saling mencintai itu sudah cukup.
Mereka meneruskan langkah dalam diam.
"Ah ia, hp Mei rusak katanya, makanya pesan mu nggak masuk tadi. Aku mau membeli hp baru untuk Mei, dan perlengkapan rumah untukmu, kalau ada yang mau kau beli katakan saja. Kalau kau tidak mau bilang, aku penuhi saja rumahmu dengan perabotan seperlunya ya." Karena menduga Harven akan menolak, Serge menebar ancaman dulu. "Ya seperlunya sesuai standar ku, jadi jangan protes ya."
Harven merengut, lalu tertawa.
"Terimakasih ya Kak, sudah menolong kami sampai sejauh ini. Kak Ge yang selalu perhatian padaku dan Kak Mei."
Padahal Kak Brama saja cuci tangan.
"Kalian kan sudah seperti adikku, jadi jangan merasa terbebani. Katakan saja kalau ada yang kau inginkan."
Harven tersenyum saat tangan Serge mengusap kepalanya. Mereka terus berjalan kembali ke rumah Serge.
Tiba-tiba terdengar panggilan untuk Harven.
"Harven! Harven!" Sebuah suara wanita terdengar. "Harven!"
Saat Harven dan Serge mencari asal suara, seorang gadis sedang terengah-engah berlari ke arah mereka.
Sherina, terlihat memakai pakaian olahraga, dia juga memakai sepatu olahraga. Seperti habis joging.
Hah, kenapa Sherina muncul di sini? Bersama kakak sepupunya itu lagi.
"Harven!" Sherina mengerem mendadak, sampai hidungnya membentur bahu Harven. "Kenapa kamu disini? katanya kemarin kakakku menikah? Teleponku juga nggak diangkat, pesanku juga nggak dibalas." Sherina nyerocos.
Harven memeriksa saku celananya, hpnya tidak ada. Sepertinya tadi pagi saat mau menghubungi Merilin dan tidak tersambung dia menjatuhkan hp begitu saja di atas meja.
"Kenapa kamu disini?" tanya Sherina lagi.
Dan ternyata Serge mengenali gadis muda dan kakak sepupu palsu di sampingnya itu.
Bersambung