
Sebenarnya bagaimana perasaan Rion untuk Merilin? apakah laki-laki itu memang menyukai Merilin dalam artian mendalam, bukan hanya sebagai boneka yang manis, penurut dan menggemaskan untuk dia jahili. Bukan sebatas menerima Merilin karena gadis itu tidak akan mengkhianatinya. Tali kekang yang membelenggu leher Merilin terlalu kuat untuk dia lepaskan. Ah, atau Rion telah menganggap gadis itu spesial, dan dia menyukai Merilin dengan caranya sendiri. Entahlah, Rion saja bingung, apalagi kalian ðŸ¤
Mari masuk ke dalam hati Rion, untuk mengetahui seperti apa isinya.
Rion yang masuk ke dalam kamar setelah membanting pintu semakin merasa kesal, karena Merilin tidak mengikutinya. Gadis itu kurang kepekaan menerjemahkan keinginan Rion sepertinya. Hingga tidak tahu kalau sebenarnya Rion berharap Merilin menyusulnya.
Sambil menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur, dipandangi sebentar pintu kamar, hening, tidak ada ketukan atau panggilan dari balik pintu. Membuatnya semakin dilanda rasa kesal.
Dasar bodoh, karena Serge yang membelikanmu hp itu, sesenang itu kau sampai tidak mengikutiku. Setelah kesal, tiba-tiba Rion tersenyum karena merasa lucu. Ah, Merilin, dia lucu sekali. Sepertinya uang yang aku habiskan untuk membelinya tidak sia-sia. Boneka kecilku yang menggemaskan. Kalau dia di dandani dengan baju lucu-lucu pasti lebih menggemaskan lagi. Apa perlu aku yang memilihkan pakaian untuknya. Tidak, tidak, dia bisa besar kepala nanti. Nah kan, isi pikiran Rion yang memang susah dimengerti maunya apa kan?
Rion menatap langit-langit kamar sambil termenung, karena tidak ada tanda-tanda pintu diketuk.
Pertemuan pertama kali Rion dengan Merilin, yang kala itu terjadi untuk wawancara majalah perusahaan. Bukan sesuatu yang spesial, namun juga bukan hal yang terlupakan begitu saja. Rion bahkan masih ingat bagaimana kejadian hari itu.
Saat Serge membacakan daftar pertanyaan yang akan ditanyakan dalam wawancara nanti, Rion mengangkat kepalanya, menunjukkan ketidaksukaan pada siapa yang mau melakukan wawancara
"Suruh yang lain, tidak perlu pemimpin redaksi yang melakukannya."
Aku malas berurusan dengan karyawan perempuan di perusahaan.
Rion bukannya tidak tahu, dia hanya tidak mau tahu. Kalau karyawan perempuan banyak yang berbisik kagum ketika dia lewat. Wajah mereka yang bersemu malu-malu entah karena alasan apa jika dia hanya sekedar melirik mereka. Rion bahkan mendapatkan informasi kalau foto-fotonya banyak beredar di antara para karyawan perempuan. Jadi dia malas berhubungan dengan karyawan perempuan yang jelas-jelas akan bersikap malu-malu dan mencari perhatiannya. Itu memuakkan baginya.
"Kali ini saja aku mohon, dia bekerja dengan profesional, kau sendiri mengakuinya kan. Makanya kau mau tampil untuk edisi mendatang." Serge berkilah dengan sejuta alasan. "Kau sendiri sudah menyetujuinya."
Jangan membuatku susah! Begitu makian tidak terucap dari mulut Serge. Rion pun mengalah setelah dengan segala upaya Serge meyakinkannya.
Dan akhirnya hari itu dia bertemu dengan gadis itu, pemimpin redaksi majalah. Gadis yang gemetar berdiri di depan Rion, menundukkan kepala sambil memperkenalkan diri dengan suara bergetar.
Tapi, dia memang gemetar ketakutan karena baru pertama kali bicara dengan pimpinan perusahaan, dia takut membuat kesalahan, tidak ada wajah bersemu malu-malu atau mencoba mencuri pandang seperti yang selama ini Rion temui dari karyawan wanita.
Hah, apa ini cara lain menarik perhatian. Saat itu Rion masih berfikir begitu. Karena tidak mungkin ada wanita yang tidak terjerat pesonanya.
Namun, pertemuan kedua tidak berubah. Dia masih gemetar takut walaupun berhasil menutupinya. Memperkenalkan diri dan menyebutkan jabatannya jauh lebih percaya diri. Masih tidak ada wajah bersemu malu-malu atau sikap menjengkelkan lainnya. Dia bertanya apa yang sudah tertulis dalam draf pertanyaan, tidak keluar jalur sama sekali. Gadis itu menundukkan kepala dengan sangat dalam dan mengucapkan terimakasih karena dia sudah meluangkan waktu untuk melakukan wawancara, dan berjanji memberikan hasil yang terbaik.
Hari itu Rion menyadari, bahwa pemimpin redaksi majalah perusahaan berbeda dengan wanita yang lainnya. Dan dipertemuan kedua itu Rion memujinya.
"Kau sudah bekerja keras, aku menyukai hasil tulisanmu. Terus tingkatkan kemampuanmu."
Gadis itu tidak bersemu malu, tapi dia berkaca-kaca dan bangga karena hasil pekerjaannya diakui.
Seperti itulah, pertemuan pertama dan kedua Rion yang berhubungan dengan pekerjaan.
Dan entahlah, gadis yang sudah dilupakan Rion itu, muncul di depannya lagi dalam bentuk lembaran biodata dan foto yang diserahkan Serge padanya, sebagai calon istri yang ditemukan Serge. Yang terpantik di kepala Rion hanyalah rasa penasaran. Pada gadis bernama Merilin Anastasya yang katanya sudah dianggap Serge adik sendiri.
Ya, aku hanya butuh istri boneka di sampingku, gadis penurut yang tidak akan mengkhianatiku. Dia bisa menyenangkan ayah dan ibu itu sudah cukup. Kalau kau berhasil meyakinkanku aku akan memilihmu.
Begitulah niat yang ia bawa saat menemui Merilin.
Dan pada pertemuan ketiga tidak ada yang berubah dalam ingatan Rion tentang Merilin, gadis itu masih gemetar dengan cara yang sama. Tapi kali ini sedikit berbeda, wajah bersemu malu-malunya muncul. Tapi bukan tertuju untuk Rion, melainkan dia berikan sorot mata dipenuhi cinta pada laki-laki berkaca mata disamping Rion.
Rion tertawa dengan benang takdir yang telah dibuat Tuhan ini.
Tidak, ini lebih bagus. Kau tidak akan mengkhianatiku sekaligus tidak akan menyukaiku. Baiklah, kau terpilih Merilin, bonekaku.
Begitulah semua niatan awalnya, Rion mendapatkan istri yang manis, yang bisa memuaskan orangtuanya, bisa ia pamerkan pada keluarganya. Gadis penurut yang melakukan apa pun yang ia inginkan, Rion pun menikmati semua sandiwara itu. Tapi, entah kapan dimulainya, boneka kecilnya yang lucu dan menggemaskan itu mulai merobek celah kecil kebencian dihatinya saat melihat perempuan.
Rion sadar, Mei melakukan semuanya karena uang. Dia memiliki uang yang bisa menyelamatkan hidupnya dan keluarganya. Bahkan di dalam hati Mei sudah ada nama laki-laki lain. Rion tahu itu semua, tapi dia menutup mata dari semua itu.
Karena bonekanya itu telah mencuri perhatiannya.
Ah, sialan! Memang kenapa kalau dia menyukai Serge, sekarang dia kan milikku. Dia wanitaku, aku sudah memiliki tubuhnya, aku tinggal membuat hatinya berpaling padaku kan. Dia bonekaku yang tidak akan mengkhianatiku walaupun dia menyukai Serge.
Kau menyukai Merilin? tiba-tiba entah suara dari mana muncul, pertanyaan di kepalanya memprovokasi. Apa kau memang sudah melupakan Amerla? Ah, yang benar saja?
Gadis pengganti, Mei bahkan tidak mirip dengan Amerla yang cantik dan tinggi semampai. Apa benar kau menyukai Mei yang kecil mungil dengan rambut kruel-kruel itu. Haha, lucu sekali. Kau tidak menyukainya Rion, kau tidak mencintainya. Kau cuma sedang bermain dengan mainan baru untuk pelarian.
Wajah Rion mengeras ketika nama Amerla tiba-tiba muncul di kepalnya.
Sialan!
Rion menyambar hp di meja, mengusir bayangan masa lalu yang tiba-tiba muncul. Walaupun dia sendiri yang mengingat, dia marah karena nama Amerla melintas begitu saja. Saat itu ketukan pintu terdengar. Suara Merilin seperti memantik kesadarannya, wajahnya kembali mengendur, nama Amerla menghilang dikepalanya.
Beraninya dia mengetuk pintu setelah membuatku menunggu selama ini. Rion pun tidak sudi menyahut dengan panggilan Merilin di depan pintu. Saat pintu terbuka, dia pura-pura sibuk dengan hpnya. Padahal tidak ada yang dia lihat di hpnya.
Saat ini Rion sendiri masih tidak tahu, apakah posisi Merilin di hatinya. Dia tidak membenci gadis itu, karena potensinya mengkhianatinya sangat kecil. Merilin menggantungkan tali tipis bernama keluarga di lehernya. Namun, nama Amerla masih selalu memantik amarah di hatinya. Bukankan kemarahan dan dendam artinya kau belum bisa melupakannya.
Tapi, saat melihat Merilin masuk ke dalam kamar, dia senang. Terlebih saat gadis itu meminta nomornya secara langsung.
Hah! Dia tahu diri juga, aku jadi yang pertama dia simpan di hpnya.
Hal kecil seperti itu saja membuat hatinya bahagia.
Bersambung