Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
189. Kontrakan Jesi


Di suatu sore, di sebuah kontrakan. Ini adalah tempat tinggal Jesi, seorang komikus yang menghasilkan karya luar biasa dari petak sempit dia tinggal. Gadis yang memperjuangkan mimpinya, walaupun masih selalu di pandang sebelah mata oleh keluarganya sendiri.


Terdengar suara dari dalam, suara berisik anak perempuan yang bergantian bercerita. Di karpet, di depan TV yang hampir tak pernah menyala itu, kotak ayam goreng terbuka, separuh isinya tinggal tulang. Gelas jus juga sudah habis separuh isinya. Cake stroberi yang mereka beli dari kafe musim semi sudah tinggal kotaknya.


Tertawa dan bercerita sambil menikmati makanan yang mereka suka, padahal belum lama ini mereka liburan bersama, tapi selalu rindu berkumpul seperti ini.


Dan sekarang, ketiga gadis itu sedang duduk di atas tempat tidur, Mei dan Dean demi mendengarkan cerita lamaran Jesi sampai buru-buru datang setelah merampungkan pekerjaan. Mei kabur begitu saja setelah meminta izin pada Rion. Pekerjaan divisinya memang sedang lumayan senggang.


Obrolan mereka dimulai dari cerita Jesi.


"Kami berciuman!" Lalu melotot ke arah Dean. "Jangan melihat ku begitu!" Jesi berteriak malu, meraih bantal lalu memukul Dean, yang bibirnya tersungging seringai lalu tertawa setelah kalimat pengakuan Jesi terucap. "Bukan aku yang duluan! Kalian tahu kan, aku cuma hebat teorinya saja, Kak Arman yang duluan. Tapi cuma menempelkan bibir kok, karena aku takut. Aaaaaa!" Jesi membenturkan wajahnya ke bantal. Sampai separuh wajahnya masuk ke dalam bantal.


Dia mengakui itu, soal teori dia sudah jagonya, menghayal jadi tokoh utama komik juga sering dia lakukan, tapi jujur, hatinya mau meledak saking berdebar kemarin.


"Dasar gila! aku malu sekali waktu mendorong Kak Arman kemarin."


Mei dan Dean cekikikan bersama, lalu menghujani Jesi dengan bantal, setelahnya tertawa dan memeluk Jesi bersamaan juga. Luapan perasaan bahagia, karena teman mereka sedang senang. Seperti kebahagiaan itu juga milik mereka.


"Jesiku selamat ya, aku benar-benar ikut berbahagia. Untuk kalian semua pokoknya." Mei meraih tangan Dean dan Jesi bersamaan. Bukan hanya dia yang jatuh cinta, satu persatu sahabatnya juga menemukan pelabuhan hati mereka. "Selamat untuk kalian berdua, aku benar-benar bahagia. Dean, Jes, hiks, aku bahagia sekali sekarang."


Mereka berpelukan sampai menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur, tertawa bahagia mensyukuri semua kebahagiaan yang sudah Tuhan berikan, lalu perlahan ketika sudah tertawa mereka pun terisak haru bersamaan. Semua terasa seperti mimpi. Setahun lalu, mereka mengisi waktu-waktu pertemuan mereka hanya dengan saling menguatkan. Menghapus airmata satu sama lain. Kalau ada yang bersedih, salah satu akan memberikan bahunya untuk bersandar. Seperti itulah mereka bertiga kalau bertamu.


Semoga hanya akan ada cerita indah yang terus mengalir diantara ketiganya. Begitulah isi tangisan dan Isak ketiganya, saat kenangan hari-hari berat mereka bergulir.


"Hei, kenapa kita malah menangis sih." Jesi mengusap ujung matanya sendiri, lalu bergantian membasuh wajah kedua sahabatnya. "Sekarang, janji ya, kita semua harus hidup bahagia. Dan walaupun sudah menikah semua nanti, jangan berubah ya. Hiks, aku mencintai kalian tahu. Terimakasih selalu mendukung semua yang aku lakukan. Hiks."


Memang menyuruh berhenti menangis, tapi malah suara Jesi yang terdengar paling keras. Pelukan erat ketiganya, menepuk bahu. Mereka pun berjanji untuk tidak berubah, persahabatan yang terjalin, semoga semakin erat walaupun semuanya sudah menikah nanti.


Setelah puas menangis dan tertawa, awalnya Jesi yang turun dari tempat tidur, mau mengambil gelas jus miliknya, lalu yang lain mengikuti. Makanan kembali satu persatu masuk ke dalam mulut. Kunyah, kunyah, teguk-teguk minuman sampai habis.


Dan tiba-tiba, Jesi nyeletuk.


"Mei, kalau kau, apa yang kau lakukan selama liburan." Mulutnya sudah berhenti mengunyah.. "Kau berciuman juga? Kau kan kabur dari kami setelah Tuan Rion kembali." Jesi seperti mencari teman untuk menggoda, dia menyenggol lengan Dean untuk ikut meledak Mei. "Berapa kali kau berciuman Mei? Haha?"


Wajah Mei sudah memerah seperti stroberi yang mereka makan tadi.


"Kau sudah lihat foto yang diambil rekan kerja mu yang diatas balkon." Dean semakin memanaskan suasana.


Mona! Baim! Aaaaaaa! Bisa-bisanya kalian ya! Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah, Kak Rion sampai membayar foto-foto ini dengan harga yang diluar nalar. Kalian bertiga itu ya! Mei benar-benar kaget waktu Kak Rion dengan bangganya menunjukkan album foto liburan mereka, yang sudah tercetak. Isinya khusus foto mereka berdua lagi.


"Kau berciuman?" Jesi mengulang pertanyaan.


"Pasti lebih, ia kan?" Dean tak mau kalah menyerang, benar-benar membuat wajah Mei memerah. "Ayo cerita Mei, aku penasaran setengah mati, apa yang kau lakukan pada Tuan Rion, sampai suami mu benar-benar terlihat tergila-gila padamu."


Wajah yang memerah bercampur teriakan Mei, gadis itu memukul lengan teman-temannya yang masih terus bicara menyuruhnya cerita.


"Apa sih, kami nggak melakukan apa pun kok!"


Aaaaaaa! Aku nggak mungkin bilang kami cuma berciuman kok, kalian mana percaya! Jesi dan Dean tidak menyerah, sebelum Mei membongkar rahasianya, rasa penasaran keduanya semakin meluap-luap.


"Kami cuma berciuman! Puas!" Akhirnya, teriakan Mei bergema di dalam ruangan. Kedua gadis di depan Mei langsung menyeringai sambil menggelengkan kepala. Tidak percaya. "Haha, ia, ia, kami tidak cuma berciuman. Ya, tambah dikit-dikit, kecup-kecup juga. Dan, aaaaaaaaa! Begitulah!"


Dean mencubit pipi memerah Mei, gadis itu gemas melihat rona malu di wajah Mei.


"Haha, hentikan Jes, Mei sudah matang mukanya saking malunya."


"Menikah dulu sana, nanti kalian juga tahu." Tangan Mei terangkat, menyentuh pipinya yang memerah. Sekarang pun, di dalam pikirannya wajah Kak Rion terbayang-bayang.


Dean dan Jesi langsung lirik-lirikan, Mei makin hari semakin terlihat cantik dan bersinar. Suaminya benar-benar seperti merubah hidup gadis itu batin mereka berdua, dan mereka pun berharap, kisah cinta yang sedang mulai mereka rajut, akan berlabuh pada kebahagiaan pernikahan seperti yang mereka lihat dari Mei.


"Terus jawab dulu, apa yang kau lakukan untuk menggoda Tuan Rion, dia sepertinya sangat mencintai mu Mei. Aku membayangkan, kau bertingkah seperti karakter komik ku."


Dean langsung tertawa, membayangkan Mei melakukan tindakan konyol untuk menggoda suaminya. Kedua sorot mata menunggu jawaban, yang ditanya menutup wajahnya malu-malu.


Apa si! Dasar Jesi!


"Pasrah!" Sambil menurunkan tangan, bibir mungil Mei bergumam. "Aku cuma pasrah."


"Hah? Maksudnya?"


Berbeda dengan Jesi yang masih sedikit kebingungan dengan jawaban Mei, berbeda sekali dengan reaksi Dean. Gadis itu tergelak, seperti memahami situasi yang dihadapi Tuan Rion saat menghadapi Mei yang pasrah.


"Apa si De, kenapa kau tertawa? Memangnya pasrah apa? Terlentang di tempat tidur?" Menoleh ke arah Mei, yang disambut pukulan di lengan Jesi. "Haha, aku paham, aku paham, kau memakai konsep menggemaskan dan imut jadi Tuan Rion yang menerkam mu duluan kan."


Tiba-tiba Dean nyeletuk.


"Kalau melihat Kak Ge, wajahnya lagi kaget trus seperti orang bodoh, aku juga ingin langsung menerkamnya."


Ketiga gadis itu tertawa lalu pukul-pukulan dengan bantal lagi, rasanya sampai lelah saat menertawakan kepolosan Serge yang tidak ada habisnya.


"Kak Ge itu lucu banget, haduh, ada ya manusia sepolos dia. Sepertinya setelah menikah aku harus mengajarinya banyak hal. Tapi, aku juga tidak mau dia berubah." Dean.


"Kak Rion itu kalau sudah ada maunya, aaaaaa!" Mei.


"Aku mau buat komik dengan karakter utama kita bertiga, boleh nggak?" Jesi yang tetap produktif disegala situasi.


Ketiga gadis yang menemukan cinta mereka masih-masing. Menuliskan kisah yang berbeda. Berbahagia dengan cara yang berbeda pula.


Setelahnya, satu persatu akan berkisah, tentang liburan versi mereka masing-masing.


Penutup.


Masih di kantor, setelah memeriksa semua audit keuangan proyek perumahan baru yang sedang on proses pembangunan. Tumpukan berkas di meja Rion sudah selesai di periksa. Serge masih duduk di depan meja Rion.


"Ge, kalau mereka berkumpul, mereka membicarakan apa ya?"


Maksudnya kalau para wanita berkumpul apa yang mereka bicarakan, Rion meletakan hpnya, setelah melihat kiriman foto Mei di kamar Jesi, bukti keberadaannya saat ini.


"Apa mereka membicarakan ku?"


Dih, kenapa juga mereka membicarakan mu. Gumam Serge. Mereka mungkin sedang membicarakan lamaranku yang keren di pulau, eh, bukan aku yang keren, tapi Dean.


"Entahlah, mungkin mereka sedang membanggakan pasangan mereka masing-masing. Ehm." Serge menepuk dadanya.


"Apa yang dibanggakan dari mu, kau kan bodoh."


Boleh tidak si, aku lemparkan berkas ini ke wajahnya. Dasar Rion sialan! Tapi cuma berakhir dengan meletakan berkas pelan-pelan di tumpukan.


"Ge..."


"Apa!"


"Kapan kau akan melamar secara resmi pada keluarga Dean?"


Deg... langsung berdebar-debar, dan bengong sesaat.


"Sudahlah, percuma aku tanya pada mu. Dasar bodoh!" Rion mendorong kursinya. Menggelengkan kepala. Rencana pernikahan Serge malah lebih banyak Rion dengar dari Mei.


"Hei! Tunggu dulu! Dengarkan aku dulu. Sebelum resepsi pernikahan mu, orang tua kami akan bertemu."


Serge mengejar Rion, sambil mulutnya tidak berhenti bicara, dia senang Rion bertanya, entahlah, hati Serge selalu merasa bersyukur laki-laki di depannya terlah berubah sikapnya, bukan berubah, tapi kembali seperti dia seharunya.


Semua ini, karena mu Mei, gumam Serge sambil mengikuti langkah cepat Rion.


Bersambung