Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
61. Bertemu Mantan


Sementara itu di waktu yang bersamaan.


Pertemuan malam ini dengan Andalusia Mall akan berlangsung di rumah pribadi Presdir mereka. Rion sudah merasa jengah dan kesal sebenarnya setelah mendengar informasi ini. Tapi dia juga tidak bisa mundur sekarang dan berbalik pergi.


Presdir Andez Corporation ayah Rion, memang terkenal sebagai kepala keluarga yang sangat menyayangi keluarganya. Orang-orang kalangan pengusaha mengenalnya sebagai tipe suami yang sangat mencintai istrinya. Jadi hal inilah yang akan dipakai pihak Andalusia Mall untuk menarik perhatian Presdir. Menyentuh dengan menunjukkan keharmonisan keluarga mereka.


Kenapa pihak Andalusia Mall khususnya CEO mereka bersikukuh, ingin memakai jasa Andez Corporation, padahal perusahaan jasa kontraktor cukup bersaing di kota ini, dalam artian banyak juga perusahaan bagus selain Andez Corporation. Sebenarnya ini hanya karena ego tinggi CEO Andalusia Mall yang tidak mau kalah dari CEO Gardenia Mall. Jadi semacam persaingan dan dendam pribadi untuk saling mengalahkan satu sama lain. Dan Andez Corporation secara tidak sengaja masuk ke dalam pertikaian dan persaingan bisnis keduanya.


Sekarang Rion sedang ada di dalam mobil, menuju rumah pribadi Presdir Andalusia Mall. Satu mobil dengan ayahnya. Serge sengaja dia suruh kembali lebih awal, karena Rion tidak mau Serge melihatnya menghadapi masa lalunya. Dia tidak mau, kalau sampai apa yang dikatakan Serge benar adanya dan Serge melihat itu. Kalau hatinya yang belum move on, kalau dia masih mengharapkan gadis sialan itu.


Tangan Rion terkepal, sambil menatap jendela kaca.


"Kau tidak apa-apa?" ayah Rion bertanya, saat anaknya masih terdiam sepanjang perjalanan


Cih. Bagaimana mungkin aku tidak apa-apa. Tapi aku sudah pamer kemesraan di depan ayah dan berlagak dengan Mei, tidak mungkin sekarang aku mundur kan?


"Kalau kau mau membatalkan semuanya sekarang, kita bisa kembali. Toh belum terjadi kesepakatan apa-apa."


Ah, sialan! Lalu ayah akan menganggap ku laki-laki menyedihkan yang bahkan belum bisa melupakan mantan kekasih yang mengkhianatinya. Begitu kan?


"Aku tidak apa-apa Yah, ayo dengarkan penawaran mereka." Akhirnya Rion memutuskan meneruskan langkah ke depan. "Walaupun dari membaca proposal mereka saja sebenarnya kita yang lebih diuntungkan."


"Baiklah." Ayah menepuk bahu Rion. "Aku senang melihat semangatmu Nak, bersemangatlah seperti istrimu."


Rion tertawa saat nama Merilin disebut ayahnya, nama gadis itu memang kerap kali mengembalikan kewarasan Rion. Mereka berdua terdiam setelah membicarakan kelakuan Merilin tadi di ruang kerja ayahnya, Rion memilih menyandarkan kepala dan melihat ke luar kaca.


Rion teringat kejadian itu. Saat Ayah dulu juga pernah bertanya, setelah ayah mencari tahu alasan dia kembali, dan menemukan fakta ternyata ada kisah cinta yang membekas luka membuat anaknya pulang ke rumah. Ayah awalnya pura-pura tidak tahu walaupun Serge sudah memberi tahu semuanya, akhirnya ketika waktu sudah berjalan cukup lama dari luka itu, ayah Rion membicarakannya secara langsung dengan anaknya untuk pertama kali.


"Kau mau membalasnya? kau mau dia kembali padamu? Kau masih menyukai wanita itu?"


Kalau hari itu Rion menganggukkan kepala, mungkin semuanya akan berbeda sekarang. Namun, kebencian dan kemarahannya pada gadis itu, membuatnya menolak uluran bantuan ayahnya.


"Kalau begitu lupakan dia, dan mulai kehidupan barumu. Ibumu memang tidak mengatakannya, tapi setiap malam dia membicarakanmu dengan nada khawatir. Temui wanita yang lain, buka hatimu. Ibumu akan mengatur perjodohan, temui salah satu dari mereka, kalau kau cocok, ayah akan melamarnya untukmu."


Ayah tidak memberi syarat, wanita itu harus begini dan begitu. Dari keluarga terpandang mana. Asalkan kau menyukainya aku akan mendukungmu. Begitulah arti dukungan ayah bagi Rion.


Aku sampai lupa ayah pernah bicara hal begitu karena khawatir padaku. Rion melihat pohon yang berlarian di pinggir jalan. Hah, setelahnya dari pembicaraan itu, serangan perjodohan yang membuat Rion muak datang setiap Minggu dari ibu. Bahkan keluarga yang lain dengan tidak tahu malunya ikut menyodorkan nama pada ibu. Karena muak dengan semua itu, akhirnya Rion mendapatkan ide untuk memiliki boneka yang bisa membuat ayah dan ibunya terpuaskan. Dia meminta Serge menemukan wanita yang akan mematuhinya dan melakukan apa pun yang dia inginkan.


Dan akhirnya, begitulah caranya Merilin masuk ke dalam hidupnya. Mengobrak abrik, rencana awal pernikahan sandiwara yang sudah dia rancang menjadi seperti sekarang ini.


Mobil berhenti di sebuah gerbang tinggi, Rion tersadar dari lamunan. Lalu duduk dengan tegak, ketika mobil bergerak perlahan memasuki komplek perumahan. Lampu-lampu jalan menerangi jalanan komplek, yang masih cukup ramai kendaraan lalu lalang.


Ayah mengusap bahu Rion lagi, saat mobil sudah sampai di halaman depan, di dekat pintu rumah, beberapa orang terlihat berdiri menyambut.


"Mereka bahkan keluar menyambut kita."


"Sepertinya mereka sangat menginginkan Arsitek Andez Corporation."


Ayah Rion bergumam. Ketika ego pribadi lebih ditinggikan, terkadang akal memang susah memenangkan pertempuran. Karena ego CEO Andalusia Mall membuat mereka malah sangat terlihat menginginkan kontrak ini. Padahal sebenarnya proyek ini jauh lebih menguntungkan Andez Corporation.


"Rion, kau masih bisa mundur, ayah akan mendukung apa pun keputusannmu."


"Ayah..."


"Kenapa?"


"Kalau sikapku mulai tidak waras saat di dalam nanti, tolong bisikkan nama Mei di telingaku."


Mata ayah Rion mengerjap tidak percaya, ternyata Merilin telah memasuki hati anaknya dengan sedemikian rupa.


"Merilin, haha baiklah. Istrimu memang sumber kewarasanmu. Haha, kau mirip sekali dengan ayahmu ini." Entah sudut mana yang bisa membanggakan dari kata-katanya, tapi Presdir terlihat sangat senang karena anaknya mewarisi salah satu sifatnya ini. Sekretaris presdir mendekat dan membisikkan sesuatu.


Baiklah, setelah malam ini, aku akan menyayangi menantuku dengan tulus. Kalau semua hal terjadi dengan lancar malam ini, Presdir akan melihat putranya melepaskan belenggu masa lalu di kakinya, dan melangkah ke depan, bersama istrinya yang bersemangat itu. Dia berencana akan memberi menantunya hadiah, apa pun yang diinginkannya, sebagai bentuk terimakasih karena menantunya telah menyelamatkan Rion dari jerat masa lalu.


Belum lagi dalam pekerjaan, perusahaan Andez Corporation menjadi yang terbaik, setelah keberhasilan membangun asrama karyawan Gardenia Mall.


Mulut yang berbusa memberi sanjung dan puji, juga dibalas ayah Rion dengan baik. Presdir Andez Corporation telah berpengalaman menghadapi mulut manis rekan bisnisnya.


Sementara itu, tatapan Rion hanya tertuju pada laki-laki yang duduk di depannya. Dia sedang membuat penilaian. Apa meninggalkannya untuk laki-laki semacam ini sepadan.


Rion bahkan pernah mengutuk laki-laki di depannya ini walaupun sekalipun mereka belum pernah bertemu.


Apa kau bahagia dengannya? Rion juga pernah penasaran dengan hal ini.


Secara fisik dia cukup tampan. Tubuhnya tinggi, pembawaannya juga terlihat ramah, dia menjabat tangan Rion dengan wajah tersenyum tadi. Hanya itu kesan yang muncul di mata Rion.


Siapa namanya tadi, cih, menyebalkan, karena malas mendengar ayahnya mengoceh membanggakannya, aku jadi tidak kepikiran untuk mengingat namanya.


"CEO Rion, Ibram ini seumuran dengan Anda, saya senang sekali kalau kalian bisa berteman." Presdir Andalusia bicara.


Ah benar, Ibram. Tapi maaf, aku tidak sudi, tidak mau dan tidak tertarik untuk berteman dengannya.


Lagi-lagi, Rion menangkap senyum bisnis ramah tamah yang ingin ditunjukkan laki-laki di depannya. Tapi maaf ya, Rion sudah tidak menyukaimu, walaupun kau sebenarnya tidak salah apa-apa disini. Namun hati laki-laki yang sudah tersakiti itu tetap memberi cap dikeningmu sebagai penjahat.


"Hasil pembangunan Andez Corporation selalu menjadi maha karya, saya sangat berharap, kalau asrama karyawan kami nanti adalah hasil rancangan arsitek hebat milik Andez Corporation." Bahkan lebih hebat dari milik Erwin menyebalkan itu, gumam laki-laki di depan Rion. Motivasinya mendapatkan kontrak dengan Andez Corporation murni karena ingin mengalahkan Erwin, CEO Gardenia Pasifik Mall.


Saat para Presdir masih membahas hal yang ringan, anak-anak mereka sudah langsung membicarakan bisnis. Selang tidak lama dari obrolan para laki-laki, masuklah nyonya rumah ke dalam ruang tamu, bersama seorang wanita anggun di sampingnya. Menantu cantik dan berkelas yang bisa dipamerkan di dunia sosialita. Mereka terlihat harmonis, saling memandang dengan hangat ketika memasuki ruangan.


"Sayang, makanan sudah siap." Dia menghampiri suaminya. Lalu suaminya memperkenalkan istrinya. Terlihat rukun dan harmonis seperti layaknya sebuah keluarga bahagia. "Oh ya, Ibra kenalkan istrimu pada CEO Rion, Anda belum menikah kan? Mungkin Amerla bisa mengenalkan Anda pada teman-temannya."


Deg. Yang pucat pasi dan terlihat bingung bukan Rion, karena laki-laki itu sudah tahu. Tapi, wajah Amerla sudah mulai membeku saat dia memasuki ruangan, dan bersitatap tidak sengaja dengan Rion.


Walaupun sudah menyiapkan hati, namun ada bagian di sebelah dada Rion yang rasanya tertusuk benda tajam. Saat melihat istri Ibram, saat wanita itu merangkul lengan suaminya, dan menatapnya dengan tatapan bingung dan terkejut. Saat sedang berusaha menahan gejolak hatinya, tangan ayah Rion menyentuh bahunya. Lalu terdengar dia berbisik.


"Kita selesaikan ini dengan cepat, ibumu sedang menunggu ayah, begitu pula istrimu, Merilin. Mei menunggumu Nak."


Dalam sekejap, setelah nama Merilin terdengar di telinga dan menembus sampai ke otak. Pikiran Rion menjadi jernih lagi. Emosinya yang tadi naik sudah hampir ke kepala rasanya menguap begitu saja.


Hah, aku muak di sini, aku ingin pulang dan bertemu Mei.


Rion sudah bisa menunjukkan ekspresi netralnya sekarang.


"Kenalkan sayang, dia CEO Andez Corporation, Tuan Rion. Beliau yang akan membangun asrama karyawan Andalusia." Ibram berbicara pelan di dekat telinga istrinya.


Amerla menundukkan kepala, memaksakan bibirnya untuk tertarik. Tersenyum dengan getir. Dia tidak salah mendengar kan, perkenalan diri suaminya pada laki-laki di depannya. Kak Rion CEO Andez Corporation, perusahaan yang selama beberapa hari ini selalu dibicarakan suaminya.


Wajah tampan yang dulu memperlakukan dirinya seperti ratu, yang selalu melakukan apa pun yang dia inginkan. CEO perusahaan game yang hanya punya kantor di sudut gedung kecil. Yang wajahnya selalu tampak ramah dan hangat tersenyum. Deg. Amerla tersentak kaget, saat tatapan Rion melihatnya terasa sangat sinis sekarang. Itu bukan Kak Rion yang dia kenal dulu.


Dia mencengkeram tangannya sambil tertunduk.


Makan malam berlangsung dengan pembicaraan yang ringan-ringan, nyonya ataupun Amerla sesekali tersenyum menimpali. Namun, tidak sepatah kata pun keluar kata-kata dari mulut Amerla. Dia hanya melirik diam-diam Rion yang duduk di depannya.


Kenapa? Kenapa baru sekarang Kakak muncul di hadapanku?


Ternyata kehidupan pernikahan Amerla tidak semanis yang mereka tunjukkan hari ini pada Presdir Andez Corporation. Semua senyum dan keharmonisan ini hanyalah sandiwara yang mereka buat, agar Andalusia Mall, mendapatkan arsitek terbaik milik Andez Corporation dan bisa menyaingi Gardenia Pasifik Mall.


Kakak datang karena aku kan?


Selama makan, Rion bahkan tidak melirik Amerla. Tidak menangkap tatapan yang dipenuhi fantasi gadis itu. Karena yang dipikirkan Rion sekarang adalah "Hadiah apa ya, yang mau aku berikan pada Mei."


Aneh ya, padahal tadi Rion sangat takut saat akan bertemu Amerla, tapi ternyata setelah bertemu rasanya biasa saja.


Bersambung