
Saat sendiri di kamar mandi, pikiran Merilin berlarian kemana-mana. Tentang wanita yang dicintai Kak Rion. Setelah melihat gadis itu sekarang, dia merubah rasa penasarannya pada CEO Andalusia Mall. Seperti apa laki-laki itu, sampai membuat wanita itu berpaling.
Padahal Kak Rion sangat tampan. Harta atau uang, hah! Apalagi yang mau diperdebatkan. Dia punya segalanya. Penampilan tubuh yang sempurna, wajah yang yang tampan. Kenapa ya?
Mei, mei, banyak sekali hal yang membuatmu penasaran.
Tapi memang Mei penasaran, apa CEO Andalusia Mall lebih kaya dan tampan, dia punya PR malam ini untuk mencari tahu. Eh, dia tersadar kalau dia sudah melihat wajah CEO itu kan. Baim kan tadi siang membawa fotonya. Karena Mei bahkan tidak bisa mengingat dengan jelas wajah CEO itu, jadi dia menyimpulkan, kalau dari wajah laki-laki itu masih kalah tampan. Tapi kenapa?
Aaaaaa! Berhentilah memikirkan hal tidak penting Mei!
Bergegas menyelesaikan mandi, sebelum waktunya makan siang datang.
Aroma sampo yang segar membuat pikiran Mei menjadi jernih, terserahlah, bodo amat dengan CEO Andalusia Mall gumamnya, dia keluar menuju ruang tamu pemilik rumah. Staf presdir Dev yang dipanggil Mei senior, bahkan membawa alat pengering rambut juga. Membuat Mei merasa malu dan berterimakasih, karena dia sama sekali tidak mempersiapkan apa pun.
Lagi-lagi seniornya itu menjawab, kalau itu sudah tugasnya, dan tidak usah membuat Mei merasa terbebani.
"Tugas saya untuk membuat Anda nyaman Nona. Jadi kalau ada yang Anda butuhkan lagi, jangan sungkan untuk mengatakannya." Jawaban itu sekaligus menegaskan situasi, bahwa tidak akan pernah terjalin keakraban diantara mereka berdua.
Ya, sudahlah gumam Mei. Di kantor sekalipun, karyawan yang ada di lantai Presdir dan CEO memang ekslusif dan tidak membuka diri dengan pegawai biasa sepertinya. Akhirnya Mei menyerah untuk berusaha akrab. Bahkan seniornya menolak untuk memanggilnya dengan nama. Semakin lebar jarak antara mereka.
Saat Mei sudah selesai mengeringkan rambut, dan menyisir ujung rambutnya, pemilik rumah mengetuk pintu.
"Maaf Nona, ada tamu di luar yang ingin bertemu dengan Nona Merilin." Mei yang mengeryit, siapa yang mau menemuinya, dia kan tidak kenal siapa pun selain ibu di tempat ini. Dia kalah cepat bertanya.
"Siapa?" Staf presdir duluan bertanya. "Siapa yang mau bertemu Nona Merilin?"
Dan setelah mereka keluar ke teras rumah. Seseorang sudah berdiri di depan Mei. Orang yang ingin dia hindari. Yang tidak mau ia sapa secara pribadi, malah mendatanginya seperti ini.
Kau mau apa? Kau mau apa wanita yang dicintai Kak Rion?
Deg...deg...
Berdiri di depannya tanpa jarak selain udara membuat Mei bisa melihat dengan jelas, garis wajah wanita di hadapannya. Walaupun sudah setengah hari, riasannya tidak luntur sama sekali. Entahlah, mungkin dia sudah memolesnya ulang, tapi wanita ini memang cantik sekali.
Pipinya kecil, bibirnya merah dan ranum, bulu matanya sangat lentik, dan rambutnya sangat indah. Bahkan di mata Mei, yang selalu iri melihat rambut Dean dan Jesi, rambut yang dimiliki wanita di depannya ini jauh lebih indah dan membuatnya iri.
Tatap-tatapan sebentar, staf presdir bicara lebih dulu sebelum Mei bertanya. Dev selalu bergerak selangkah lebih dulu dari Mei.
"Maaf Nona Amerla, apa ada yang bisa saya bantu?"
Eh, baik Mei atau Amerla terkejut, karena staf presdir mengenal nama Amerla. Padahal mereka tidak bicara sepanjang acara tadi.
"Senior kenal nona ini?" Mei pura-pura kaget.
Jadi namanya Amerla ya. Amerla, wanita yang dicintai Kak Rion.
"Beliau kan nona muda Andalusia Mall Nona, saya kan harus mengingat semua rekan bisnis Presdir dan CEO, beserta orang-orang yang ditemui nyonya." Sebenarnya jawaban senior Dev itu biasa saja, tapi membuat Mei merinding. Ternyata kemampuan seorang staf presdir berbeda levelnya dengan karyawan rendahan sepertinya ya.
Saat Mei masih berfikir, Amerla tertawa untuk mencairkan susana dan kecanggungan, karena ternyata dia dikenali, dia menutup mulutnya, lalu tersenyum dengan anggun. Dia mengulurkan tangannya di depan Mei.
"Saya hanya ingin akrab dengan nona muda Menantu Andez Corporation. Saya ingin menyapa dan berkenalan dengan Anda, saya Amerla." Dengan anggun dan penuh percaya diri Amerla menyebutkan namanya. "Saya istri CEO Andalusia Mall. Suami kita kan sedang bekerja sama, jadi saya hanya ingin mengakrabkan diri."
Dia cantik, tentu dia percaya diri. Dia wanita yang dicintai Kak Rion, tentu dia tidak akan kalah, dari istri yang bahkan tidak dikenalkan kepada publik. Begitulah isi hati Amerla, yang terpancar dari senyumannya.
Mei ragu menerima uluran tangan itu selama beberapa detik, tapi tak kalah palsunya dia tersenyum juga. Kalau hanya senyum bisnis aku melakukannya setiap hari. Jadi jangan gentar Mei. Begitu gadis itu meyakinkan diri dan hatinya. Jangan kalah walaupun kau memang sudah tumbang lebih awal. Ya, dia wanita yang dicintai Kak Rion, dari semua sisi kau sudah kalah.
Nyut, sakitnya mengakui hal itu, rasanya seperti dulu saat dia dipanggil boneka oleh Kak Rion.
"Merilin, Anda bisa memanggil saya senyaman Anda." Orang yang tidak akrab dengan Mei biasanya tetap memanggil nama lengkapnya.
Mereka memilih duduk di taman rumah penduduk yang dipakai Mei untuk mandi. Ada kolam ikan yang memberi kesejukan. Sepertinya rumah ini dipilih karena rumah yang paling bagus di desa.
Staf presdir dan pemilik rumah meninggalkan mereka berdua, karena Mei meminta dibawakan dua gelas kopi. Sebenarnya Mei sengaja, supaya seniornya itu tidak mendengar apa pun yang akan dibicarakan Amerla padanya. Hanya untuk jaga-jaga. Mei masih berharap, pembicaraan siang ini hanyalah obrolan perkenalan biasa.
Ah, sial! Dia memang cantik sekali. Dan dia cukup ramah. Sepertinya benar, dia hanya ingin bicara padaku. Hati Mei masih dipenuhi perasaan berbaik sangka.
Selama pembicaraan basa basi memang Amerla membuka obrolan dengan bicara hangat dan ramah, hingga tidak ada kecurigaan sama sekali di hati Mei maksud wanita di depannya apa. Dia bahkan belum siaga satu, masih tertawa kecil menanggapi pembicaraan Amerla tentang lomba tadi. Bagaimana bersemangatnya Mei dan anak-anak. Tapi, tawa dan senyum Mei langsung lenyap, saat Amerla menyebut nama Rion.
Amerla memanggil Rion dengan sapaan akrab secara tiba-tiba.
"Apa Kak Rion baik-baik saja?"
Mei bahkan kaget dengan serangan mendadak ini. Dia yang tadinya sudah duduk santai, kembali duduk dengan tegak.
Dasar tidak tahu malu! Mei langsung mengeram kesal tanpa sadar. Ketimbang sapaan formal seperti CEO atau Tuan Rionald, Mei yakin, Amerla sengaja memakai kata panggilan akrab itu untuk menunjukkan kedekatannya dengan Kak Rion. Entah apa namanya, Mei juga tidak tahu, ada yang memercik dihatinya. Perasaan tidak terima, Amerla memanggil Rion dengan panggilan kakak.
"Oh, Anda kenal dengan suami saya!" Dengan nada terkejut Mei menjawab, dia bahkan menutup mulut dengan mata membelalak kaget. Aktingnya sempurna sekali. "Apa Anda pernah bertemu suami saya, oh mungkin saat suami saya meeting dengan pihak Andalusia Mall ya?"
Sikap bodohnya Mei, membuat Amerla di depannya puas dan berasa di atas angin. Menyedihkan gumam Amerla. Kau tidak tahu siapa aku, aku itu wanita yang dicintai suamimu. Kalau aku mengatakannya sekarang, apa kau masih bisa tersenyum dengan polosnya seperti itu. Dasar kekanakan, dan lagi, bagaimana kau bisa tidak tahu malunya dan tidak menjaga harga diri di depan semua orang. Bagi Amerla semua tindakan yang dilakukan Merilin selama acara sungguh tidak mencerminkan seorang istri pengusaha terhormat. Kau benar-benar bukan tipe Kak Rion.
Bukan itu saja, Amerla merasa kesal, dia marah dan sakit hati, karena Rion menikah dengan wanita kekanakan dan jelek begitu. Dia merasa harga dirinya terluka. (Dih 😒)
"Haha, saya penasaran bagaimana Merilin bisa menikah dengan Kak Rion, karena aku sedikit tahu tipe Kak Rion itu seperti apa." Amerla bicara dengan suara riang sebenarnya, tapi tetap saja membuat kesal.
Hah! Dia malu bilang apa si! Mau bilang, kalau kau itu tipe idealnya Kak Rion? Hah! Iya! Sampai Mei rasanya kehilangan pilihan kata untuk meluapkan rasa kesalnya.
"Anda sepertinya akrab sekali ya dengan suami saya. Hoho."
Sebenarnya, tanpa sadar, dua wanita itu sedang menunjukkan kecemburuan dengan caranya masing-masing.
Bersambung