
Selesainya rapat dengan lancar, tentu saja yang paling lega adalah Serge. Semua berjalan sesuai dengan rencana tanpa ada drama sedikit pun. Seperti inilah yang selalu diharapkan Serge.
Rion memang melakukan semua pekerjaannya dengan baik, kecuali sikap bersosialisasinya dengan para karyawan. Tidak tidak pernah menunjukkan basa basi sedikitpun pada orang lain.
Kalau Rion yang biasanya, pasti hanya akan bicara sepatah dua patah kata, lalu menyerahkan semuanya pada Serge. Dia akan duduk diam sambil memancarkan aura mencekam ke seluruh ruangan. Sebenarnya terkadang Rion tidak memikirkan apa pun, namun tatapannya selalu diartikan para bawahannya seperti sedang mengawasi. Mengintai mereka untuk menangkap mereka kalau mereka melakukan kesalahan.
Padahal Rion hanya diam, karena dia malas di dekati oleh orang lain. Dia tidak mau orang mendekat padanya dan mengakrabkan diri dengannya.
Kalau setiap hari seperti ini rasanya aku juga ingin punya pacar, aku bisa kencan di akhir pekan, pergi piknik sambil bersandar di bahunya. Eh, sepertinya ada yang salah. Ah, ia, pacarku yang harusnya bersandar di bahuku ku kan. Serge merevisi khayalannya, karena selama ini tidak punya waktu pacaran, sampai lupa konsep pacaran itu seperti apa. Selama ini dia selalu berfikir, kalau yang bersandar di bahunya ya cuma Merilin yang sudah dia anggap adik sendiri.
Tapi, aku harus mulai dari mana ya untuk mendapatkan pacar!
Tidak punya teman akrab lintas pergaulan selain Rion. Setahun ini, sepertinya semua waktunya memang dia habiskan bersama Rion. Tidak bukan hanya setahun, semua sisa waktunya setelah masuk ke Andez Corporation hanya dia gunakan untuk bekerja bersama Rion. Tidak ada waktu untuk yang lain, lembur seperti jadi makanan sehari-harinya, karena CEO gila yang melampiaskan sakit hatinya hanya dengan bekerja. Yang sakit hati siapa, tapi yang ikut menderita siapa. Ya, ya, aku kan budak kapitalis dunia kerja. Tidak mau menyangkal, karena dia juga mendapatkan uang yang banyak dari kerja bagai kuda yang ia lakukan.
Aku harus mulai dari mana ya untuk punya pacar. Kencan buta? perjodohan? minta ibu menjodohkanku. Halah, malah tambah pusing saja aku jadinya kan.
Belum juga punya pacar sudah kebingungan, apalagi kalau nanti kamu punya pacar Ge. Semangat ya ☺️
Rion berjalan dengan santai, Serge mensejajari langkah sambil melamun tentang keinginan punya pacar. Dalam dekapannya ada beberapa map yang dia pegang. Serge melirik sekilas, wajah Rion yang masih terlihat bersemangat seperti tadi pagi.
Eh, apa itu.
Serge menggelengkan kepala karena merasa matanya salah lihat. Serge melihat leher Rion yang di penuhi tanda merah. Bukankah kalau seperti itu mirip tanda kecup-kecup. Serge menutup mulutnya. Dia memperlambat langkah. Rion melihatnya ikut berhenti.
Tanda Kecup-Kecup kan bisa muncul kalau seorang laki-laki sedang bermesraan berdua sampai tidak bisa mengontrol dirinya, lantas darimana dia mendapatkan semua tanda itu. Pikiran Serge yang sudah agak tenang tadi karena tidak mungkin Rion dan Amerla akan bertemu kembali bergentayangan di kepala Serge.
Tanda kecup-kecup kan seharunya hanya boleh dilakukan oleh orang yang saling mencintai.
"Kenapa?" Rion membusungkan dada. "Aku melakukannya dengan keren kan. Cih, tidak usah ceramah aku juga tahu yang harus kulakukan." Rion mengejek, karena sebelum masuk tadi Serge cerewet sekali memberitahunya untuk melakukan ini dan itu. "Jangan membuat kesalahan, hah, memang aku pernah melakukan kesalahan." Menepuk dada lalu mengusap kepalanya penuh kebanggaan.
Dih, sombong sekali manusia ini. Tidak! Bukan itu! Dari mana tanda Kecup-Kecup dilehermu berasal sialan! Kau membuat kekacauan apa semalam!
Serge masih fokus pada tanda Kecup-Kecup yang terlihat sangat jelas di leher Rion.
Serge sadar dengan pasti, kalau terjadi masalah pada Rion dia pasti yang akan diseret Presdir dan dimintai pertanggung jawaban. Tapi mau menanyakan asal tanda Kecup-Kecup Serge tidak punya keberanian. Entah karena takut dipukul Rion atau karena takut mendengar jawaban yang sebenarnya. Bagaimana kalau memang Amerla tidak tahu malu itu yang melakukannya di leher Rion.
Akhirnya Serge cuma bisa meladeni kesombongan Rion.
"Ah, ia, kau keren sekali. Kau melakukannya dengan sangat baik. CEO kita memang yang terbaik dan membanggakan. Apalagi saat kau memberi semangat untuk para karyawan. Mereka pasti sangat tersentuh."
Walaupun mereka pasti terkejut dengan semua sikap yang kau tunjukkan tadi. Aku saja merinding saat mendengarnya.
"Rion..."
"Hemm, kenapa?"
"Ah tidak, kau keren sekali. Presdir pasti bangga padamu."
Ah, tanda Kecup-Kecup itu dari mana ya. Ahhhhh, pusing aku! Aku tidak berani bertanya lagi.
Rion menghentikan langkah. Serge ikut mengerem kakinya. Melihat Rion mengangkat teleponnya yang bergetar.
Siapa ya, tumben dia langsung mengangkat telepon.
"Hallo Bu."
Pantas saja, nyonya rupanya, makanya suaranya langsung melembut begitu.
Satu-satunya wanita yang disayangi Rion saat ini hanyalah nyonya, itulah yang masih dipercayai Serge. Dari jarak sedekat ini, tanda merah di leher Rion semakin terlihat. Serge semakin penasaran, karena mengkhawatirkan kondisi Merilin ke depannya.
Itu benar tanda kecup bibir kan, darimana dia mendapatkannya. Hah! Semakin dilirik, rasanya Serge semakin kaget. Karena kalau dilihat-lihat seperti ada tanda gigitan juga. Tidak! Tidak mungkin dia melakukan hal tercela dengan Amerla kan! Tidak mungkin. Rion masih memiliki hati dan otak untuk berfikir kan.
Kepala Serge langsung berdenyut semakin keras, saat melihat tanda kecup-kecup di leher Rion dengan seksama. Dan hanya nama Amerla yang muncul di pikirannya.
Semalam Rion bertemu dengan Amerla saat makan malam dengan Presdir dan CEO Andalusia Mall. Lalu mereka terkejut dan saling melirik selama acara makan malam. Rion yang hatinya belum move on berdebar-debar sepanjang waktu makan malam. Mencuri-curi perhatian Amerla juga.
Lalu, ketika semua lengah, baik ayah Rion atau pun yang lain. Rion menarik tangan Amerla, membenturkannya ke pintu, sampai pintu itu tidak sengaja terbuka. Dan terjadilah, semua hal memalukan di luar batas. Karena bercampur antara kebencian, kemarahan, cinta yang terpendam dan kerinduan, akhirnya mereka saling menerkam dan menggigit begitu.
Serge ngos-ngosan sendiri, dengan imajinasi dan karangannya. Tanpa sadar, dia menatap kesal Rion, ingin memukul laki-laki yang sedang bicara di telepon itu.
Lalu bagaimana nasib Merilin sialan! Kenapa kau semudah itu kembali pada Amerla! Kau tidak ingat bagaimana menyedihkannya dirimu saat pernikahan gadis itu. Uang satu koper yang masih sangat disayangkan oleh Serge, hal itu saja masih membayangi pikirannya.
Bisa-bisanya kau semudah itu memaafkan Amerla!
Hah! Terserahlah! Terserah kepalamu Ge, kalau Presdir tahu kau bisa dilempar gelas kaca bodoh. Sadarkan otak Rion yang mulai miring itu. Akal sehatnya menyadarkan Serge.
Dilihatnya Rion masih bicara dengan ibunya, dengan suara hangat.
Bersambung