
Kamar hotel.
Katanya demi mewujudkan keinginan istrinya.
Baiklah, malam ini kita bermalam di hotel saja. Dengan nada ogah dan agak terpaksa begitu Rion menjawab. Katanya karena kemauan istrinya, tapi entah kenapa sang suami jauh lebih bersemangat. Bahkan sampai memesan kamar dengan nuansa malam pertama yang serba romantis. Ada taburan bunga dan beberapa lilin yang menyala.
Susu hangat bercampur kurma pun disiapkan di meja, beserta potongan buah segar. Tapi tetap ngakunya, dia cuma merealisasikan keinginan istrinya.
Kelakuan siapa? tentu saja suami yang banyak maunya. Tapi nggak pernah mau mengakui kalau ini kemauannya. CEO Rionald, yang konon katanya angkuh dan selalu bersikap dingin pada perempuan. Katanya, kita memang jangan terlalu percaya, kalau info masih katanya dan katanya ya. Bukti nyatanya ada di sini.
Kamar yang luas, harum dan bersih. View langit malam yang membentang luas bertabur bintang menjadi salah satu pemikat hotel yang mereka pilih. Andez Corporation sedang menjalin kerja sama dengan hotel ini. Jadi, walaupun Rion mendadak memesan kamar, hanya dengan menyodorkan kartu namanya saja, dia sudah bisa mendapat kamar VVIP dengan view terbaik. Presdir hotel bahkan menemuinya langsung tadi. Mereka hanya sekedar basa basi saling menyapa, lalu menundukkan kepala dan mengambil jalan berbeda.
Dan sekarang, Rion sedang menikmati tegukan susu dalam gelasnya.
Mei sedang ada di kamar mandi. Sementara, Rion sudah memakai celana tidur, baju atasannya bahkan tidak dia pakai setelah keluar dari kamar mandi. Dia sedang menghitung waktu karena Mei tidak keluar-keluar juga dari tadi, sambil membuka pesan di hpnya. Tiduran di sofa sambil memiringkan tubuh. Serge mengirimkan banyak pesan, diantaranya laporan mengenai lonjakan klien, sampai sore ini saja CS sudah kewalahan menghadapi pesan dan telepon masuk.
Wahhh, film promo yang kalian buat benar-benar luar biasa, aku jadi menantikan, hadiah apa yang akan ayah berikan pada kalian.
Rasa senang Rion muncul lagi, mengingat kebahagiaan yang Mei tunjukkan saat menerima hadiah rumah milik ayahnya dulu. Sebenarnya tidak mudah mendapatkan rumah itu. Serge bahkan tidak berhasil membujuk keluarga yang sudah membeli dan menempati rumah itu untuk menjualnya. Membuatnya harus turun tangan langsung. Rion tidak akan membicarakan untung dan rugi atau seberapa banyak uang yang dia habiskan untuk membeli rumah itu pada Mei, karena gadis itu pasti akan semakin terkejut dan merasa terbebani.
Aroma sabun dan sampo yang menyeruak, setelah pintu kamar mandi terbuka, langsung membuat Rion tersadar dari lamunan, dia melemparkan hpnya ke atas tempat tidur. Dia sudah menunggu Mei dari tadi. Dan sangat senang, ketika yang dia nantikan terdengar suaranya.
Hadiah mu datang Mei.
Dan saat Mei muncul dari balik pintu, dengan hanya memakai piyama handuk, laki-laki itu sudah tidak bisa menunggu lagi. Dia mendekati Mei, tersenyum dengan lebar, tidak memberi Mei kesempatan, dia lalu mendorong Mei sampai tersudutkan ke tembok. Gadis itu gelagapan pada awalnya, kemudian pasrah, dan mulai mengendurkan tangan. Dan ciuman panjang, melepaskan hasrat yang tertahan sejak di restoran tadi.
Terjadilah, apa yang memang seharusnya terjadi.
Cium lagi, dan lagi. Cium lagi dan terus berciuman. Merubah beberapa posisi, bergeser, semakin merapat ke tembok. Sambil sesekali membiarkan aliran udara masuk ke paru-paru. Mengambil jeda nafas.
"Kak... ahhhh."
Rion tidak membiarkan Mei bicara, dia mengangkat tubuh Mei, saat bibir mereka masih melekat dan saling me******. Rion menjatuhkan Mei ke atas tempat tidur. Mereka berciuman lagi dan lagi. Saling beradu kedua kaki dengan tinggi yang sangat kontras itu. Ciuman Rion menyebar, setelah bibir menuju tempat yang lain. Menyapu bagian tubuh Mei. Aroma sabun dan sampo, seperti berpindah ke Tubuh Rion.
"Aahhhh, Kak..."
Rion mengangkat wajahnya, terlihat puas saat melihat mimik wajah Mei, wajah memerah dan ranum itu, menggodanya lagi. Dia meraih dagu Mei, dan mereka berciuman lagi. Rion membiarkan Mei beristirahat sejenak setelah gadis itu mencengkeram punggungnya.
Haha, wajahnya seperti mau meledak!
Tidak menyadari, kalau wajahnya juga tidak jauh berbeda. Tubuh yang memanas, hasrat yang memuncak. Seiring malam yang semakin naik ke peraduan, begitu pula hasrat keduanya.
Dan ciuman yang entah ke berapa dimulai lagi. Hah, hah, sampai terengah-engah keduanya. Disusul tawa bahagia yang memenuhi ruangan.
Rion menyusuri wajah Mei, tersenyum bahagia. Tiba-tiba dia bicara, sambil menyentuh ujung mata Mei.
"Jangan menangis selain di depanku Mei." Tangan hangat Rion membelai kepala, lalu menyapu kening. Mereka saling bertatapan. "Jangan sampai laki-laki lain melihat mu menangis."
Apa sih kak? Mungkin itu arti sorot mata Mei, kenapa tiba-tiba melarang orang menangis.
Perasaan frustasi Rion adalah karena saat menangis Mei jadi terlihat jauh lebih imut dan menggemaskan, dia jadi ingin menghisap tetesan airmata yang membasahi pipi. Ingin memeluk bahu yang terguncang itu. Ingin menenangkan dan menciumi pipi yang basah itu. Jadi, Rion berfikir, kalau ada laki-laki yang melihat Mei menangis, pikirannya pasti tidak jauh berbeda darinya. Dan dia tidak rela, kalau ada yang berfikir begitu pada Mei.
"Kenapa Kak?" Sementara Mei yang tidak tahu apa-apa, merasa sikap Kak Rion sedikit aneh, sampai melarangnya menangis segala.
"Karena kau istriku, jadi kau hanya boleh menangis di depanku." Jawaban final yang tidak bisa diganggu gugat yang terucap.
"Haha, apa si Kak. Lagi pula sekarang aku jarang bersedih kok, aku menangis karena banyaknya kebahagiaan yang datang padaku. Karena aku punya Kak Rion, aku tidak punya alasan untuk menangis karena bersedih. Aku menangis karena bahagia."
Deg... dada Rion langsung berdebar dengan kuat mendengar jawaban Mei. Dia menunduk, mendekatkan bibir, dan melahap lagi bibir mungil dan merona itu.
"Karena kau menggemaskan, kalau ada yang melihat mu menangis, mereka pasti akan jatuh cinta pada mu." Tidak diucapkan dengan nada bercanda oleh Rion sebenarnya, tapi tentu saja membuat Mei tergelak kecil. Apa sih, alasannya aneh sekali pikir Mei. "Aku serius." Rion menggigit pipi Mei karena gadis yang sedang terperangkap di bawahnya lagi-lagi tertawa. Mei sepertinya tidak percaya, kalau dia memancarkan aura yang menyilaukan mata dan membuat jatuh cinta gumam Rion.
Cuma si bodoh itu saja yang bodoh tidak bisa melihat pesona Mei, tidak, tidak, tetaplah bodoh sana, untung saja sudah punya pacar kau! Entah siapa yang sedang dikatai Rion dalam hati itu. Tapi dia senang, karena si bodoh yang bodoh itulah, dia bisa mendapatkan Mei.
"Selain menangis, kau juga jangan suka senyum-senyum pada orang lain. Nanti mereka jatuh cinta padamu." Muahhhh, hujan kecupan membasahi pipi Mei. Rion sedang meluapkan perasaan gemas di hatinya. "Kau itu bersinar saat tertawa."
Fitnah apa lagi ini pikir Mei! Dia sebenarnya ingin menjerit begitu saking malunya. Siapa yang bersinar? Hah! Aku! Kakak, kalau mau memfitnah, seharunya ada batasannya donk.
"Kakak itu yang menyilaukan mata, yang membuat banyak wanita jatuh cinta dan tergila-gila. Kakak yang harus berhati-hati, jangan menebar senyum sembarangan, karena itu langsung menyerang jantung." Mei memberondong Rion dengan fakta, tapi yang ditembak fakta malah memiringkan kepala heran.
"Aku? Menebar senyuman?"
Seperti langsung tersadar, Mei tertawa. Benar juga ya, Kak Rion menebar senyuman, sejak kapan? popularitasnya di kantor itu adalah CEO dingin yang menggetarkan hati, semakin dia bersikap angkuh dan dingin semakin membuat para karyawan menggila. Sedingin itu saja fansnya tidak terhitung jumlahnya, apalagi kalau sampai dia tersenyum secara random pada karyawan wanita. Bisa-bisa ada gerakan pingsan masal lagi.
"Aku salah Kak," Sadar sudah terperangkap pada kata-katanya sendiri. "Aku akan berhati-hati ke depannya. Aku tidak akan menangis di depan laki-laki lain kecuali Kak Rion. Aku juga tidak akan sembarangan tertawa."
"Aku juga tidak akan membiarkan mu menangis Mei, karena aku akan selalu membuat mu bahagia Mei."
Mei yang rasanya hatinya mau meledak karena perasaan berbunga, merona bahagia. Kata-kata Kak Rion seperti alunan cinta yang merdu dan selalu membuat kecanduan. Setiap hal yang Kak Rion katakan dan ucapkan, selalu menyentuh hati.
"Terimakasih Kak, aku benar-benar sangat berterimakasih. Aku mencintai Kak Rion." Mei membuka lengannya, Rion mendekat, membiarkan Mei memeluknya.
"Aku juga mencintaimu Mei, sangat mencintaimu."
Ujung jari Rion meraih dagu Mei, mengusap bibir yang lembab dan basah itu. Lalu seringai kecil muncul saat Mei sudah memejamkan mata untuk mendapatkan ciuman babak selanjutnya. Dia tergelak saat wajah Mei memerah.
Eh, kenapa tidak terjadi apa-apa. Mei membuka matanya, Rion masih tertawa sambil menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur. Seperti orang yang sudah bersiap menyerahkan diri seutuhnya.
"Kakak!" Gadis itu malu sekali, untung saja dia cuma memejamkan mata dan tidak memotong kan bibirnya.
"Haha, kau menunggu apa? Ciuman dari ku." Tangan Rion terulur, menarik ujung rambut Mei dan menggoyangkannya. "Haha, lucunya."
"Kakak!"
Tangan Mei memukul dada Rion, langsung disergap tangan itu. Dalam sekali tarik, tubuh Mei sudah terjatuh, bibir mereka secara tidak sengaja beradu.
"Nikmatilah hadiah mu sepuasnya Mei." Rion bicara seakan pasrah. Dengan nada dibuat-buat, sambil mengusapkan tangan Mei yang dia pegang di dadanya sendiri.
"Hah?"
"Ini kan yang kau nantikan dari tadi. Hadiah mu, nikmatilah tubuhku sesukamu. Haha! Saking malunya sampai kau mau menangis? Haha."
"Kakak!"
"Buka!"
Saat kata kunci sudah terucap, artinya Mei sudah bisa melakukan apa pun di atas tubuh setengah telanjang yang ada di bawahnya. Dan walaupun sudah sangat terbiasa dan menikmatinya, wajah merona Mei masih terlihat dengan jelas. Saat tangannya bergetar menyentuh celana Rion. Saat kecupan pertama mendarat di dada dan perut Rion.
"Aku mencintai mu Mei, istriku Merilin."
"Aku juga mencintai Kak Rion, suamiku."
Dan Mei mulai aktif menikmati hadiahnya.
"Aaaaahhhh, Mei... lanjutkan."