
Di waktu yang bersamaan dengan kejadian di dalam mobil.
Beraninya dia bertingkah dengan sombongnya!
Cukup lama gadis cantik itu jatuh terduduk, setelah melihat tubuh Merilin yang menghilang di balik pagar. Tangannya terkepal penuh kegeraman, memukul kursi taman yang dia duduki. Dia meringis kesakitan sendiri sambil memaki.
Setelahnya luapan emosinya mereda, dengan mengingat kembali hari-hari manis yang dilaluinya bersama Kak Rion.
Bagi Amerla kemunculan Kak Rion adalah secercah cahaya yang bisa mengeluarkannya dari neraka pernikahannya. Dia yang sudah kecewa pada pernikahannya, akan membuang Andalusia Mall.
Ketimbang wanita jelek itu, Kak Rion pasti akan lebih memilihku. Aku cantik dan penuh pesona. Aku wanita yang sangat dicintainya. Amerla mengusap rambutnya. Lalu tersenyum. Dia berhasil menaikkan kembali harga dirinya yang sudah tercerai berai di hadapan Merilin tadi. Bernafas pelan, setel senyuman, dia sudah menjelma menjadi gadis elegan dan berkelas seperti biasanya.
Dan dia kembali bergabung, bersama wanita yang lain di tempat acara.
Amerla sudah kembali dari mengambil makan siangnya. Matanya berkeliling, memperhatikan satu persatu orang, mencari keberadaan Merilin. Gadis yang menurutnya angkuh dan sombong itu tidak terlihat. Bahkan disamping ibu Kak Rion sekalipun. Amerla ingin duduk dan menyapa ibu Rion dari dekat. Tapi tidak ada kesempatan baginya, karena dari tadi ada banyak yang bicara dan mengelilinginya. Wanita itu memang pusat pergaulan kelas atas.
Setelah mendapat tempat duduk yang jauh dari ibu Rion duduk.
Sial! Kenapa aku teringat kejadian tadi! Gerakan Merilin geliat geliut di depannya memamerkan tanda kecupan, menari-nari lagi di kepala Amerla.
Tangan Amerla gemetar memegang sendok ditangannya. Berusaha menelan makanan yang sama sekali tidak enak di lidahnya. Padahal semua orang terlihat menikmati makanan dengan lahap.
Istri yang tidak diperkenalkan pada publik saja sombong begitu. Eh, apa jangan-jangan sekarang dia sedang menangis. Haha. Kau hanya berlagak keren kan tadi di depanku, padahal sekarang kau sedang menangisi nasibmu.
Amerla menggigit sendoknya, kembali melihat dengan seksama ke sekelilingnya, baik diantara para istri pengusaha atau pun anak dan menantu mereka. Benar, tidak ada keberadaannya gumamnya sambil tertawa. Padahal wanita yang tadi dilihatnya menempel di samping Merilin ada di samping ibunya Rion.
Wajah kesal yang sedari tadi berusaha disembunyikan Amerla tiba-tiba hilang begitu saja. Ibunya bahkan tidak perduli menantunya menghilang, mungkin itulah alasannya tidak diperkenalkan publik. Haha, dasar wanita sombong, kau termakan omongan dan kesombonganmu sendiri.
Laki-laki akan menerkam siapa pun yang ada disampingnya, karena dia bukti nyatanya. Walaupun tidak tersisa cinta diantara dia dan suaminya, dia masih bisa bercinta dengan suaminya. Walaupun Amerla tidak pernah memiliki tanda kecupan sebanyak itu di tubuhnya.
Cih, menyebalkan.
Dia akan mendekati ibu Rion terlebih dahulu, itulah rencananya. Mencari perhatiannya, dan membuatnya disukai. Setelah berhasil merebut hati ibu, dia akan berlutut sambil memohon di depan Rion. Membanjiri wajahnya yang tanpa make up dengan airmata kesedihan. Dia akan menangis tersedu-sedu sambil membongkar kenangan manis yang terjadi antara mereka di masa lalu.
Kalau aku menangis tersedu-sedu sambil bicara dengan imut, dia pasti akan luluh.
Setelah Kak Rion mengulurkan tangan meraihnya, dia akan mengajukan gugatan cerai dan meninggalkan Andalusia Mall. Orangtuanya tidak akan protes kalau dia membawa Kak Rion, yang seorang CEO sekaligus penerus Andez Corporation.
Seperti itulah kira-kira rencana yang ia susun.
Ditengah Amerla tenggelam dalam lamunannya, para wanita yang ada di sekitarnya mengobrol.
"Saya tidak melihat Nona Merilin? dimana ya setelah lomba tadi?" Salah seorang bicara. Sambil matanya berkeliling mencari. Dari tadi dia sudah bertanya-tanya.
"Benar, Nyonya Yurika juga terlihat tidak mencarinya." Asal bicara saja menyahuti.
"Apa sebenarnya dia menantu yang tidak dianggap? Soalnya aneh sekali sampai Andez Corporation tidak memperkenalkan menantu mereka." Si paling tahu dan sok tahu mulai menerka-nerka.
"Benar, kalau tidak memperkenalkan ke publik masih bisa dimaklumilah, tapi kalau sampai tidak mengadakan pesta pernikahan, itu kan aneh sekali."
Semua argumen yang mereka utarakan memang terasa masuk akal. Amerla mengunyah makanannya sambil senyum-senyum sendiri.
"Bahkan teman-teman beliau juga baru tahu hari ini tadi saat Nyonya Yurika menyampaikan kabar, bukankah itu aneh."
Amerla kembali tersenyum, merayakan kemenangan, dia meneguk minumannya, semua yang dia pikirkan, sama persis dengan apa yang sedang dibicarakan para wanita muda di sampingnya ini.
"Saya sudah dua kali melihat CEO Rionald, dia tampan sekali." Gadis yang bicara memegang kedua pipinya yang memerah. "Kira-kira dari keluarga mana wanita itu ya, saya tidak pernah melihatnya dipergaulan kelas atas."
Hah! Kalian sedang memuji siapa ya? Kalau kalian tahu, aku ini wanita yang dicintai Kak Rion, kalian pasti bisa pingsan. Hehe. Tipe Kak Rion itu sepertiku. Amerla mengibaskan rambutnya. Sedang menikmati fantasinya sendiri.
"Waktu dia datang, saya kira tadi dia staf Nyonya Yurika. Apalagi waktu dia mengambil foto bukannya duduk di samping Nyonya Yurika."
"Pokoknya aneh sekali, dimana ya sekarang dia?"
Dan entah apalagi yang mereka bicarakan, semuanya bermuatan negatif kalau mengarah kepada Merilin, menantu yang tidak diperkenalkan kepada publik. Tapi, suasana tiba-tiba langsung ceria saat membicarakan CEO Rionald yang tampan.
"Nona Amerla.." Salah satu wanita melirik Amerla yang dengan tenangnya makan, tidak mengomentari yang mereka bicarakan.
"Ini pertama kalinya Anda datang kan, sama seperti Nona Merilin, apa kalian saling mengenal?" Gadis yang bertanya mengulum senyum malu. "Kami ingin akrab dan menyapa Nona Merilin." Maksudnya mereka ingin Amerla menjadi perantara.
Untuk apa kalian menyapa istri yang bahkan tidak dikenalkan kepada publik itu. Hanya buang-buang waktu.
"Saya juga baru bertemu dengannya hari ini, sama seperti kalian kok." Masih menjawab dengan elegan sambil menepuk bibirnya dengan tisyu. Dia sudah selesai makan.
"Ah sayang sekali." Sudah tidak ada harapan. Tapi, saat melihat sosok Amerla yang cantik dari penampilan, sikapnya yang berkelas, sayang kalau tidak akrab dengannya juga pikir mereka. Belum bisa akrab dengan Merilin, dengan Nona Amerla pun jadi. "Ehm, Nona Amerla, apa Anda mau berteman dengan kami, selain acara seperti ini ayo berkumpul dan bersenang-senang dengan kami."
Acara semacam ini mereka datangi karena perintah dari ayah mereka. Bersikap manis dan menjaga nama baik perusahaan. Menyetel wajah dengan senyum bisnis menjadi semacam topeng yang mereka tunjukkan kepada publik. Amerla juga tahu itu, karena dia juga memakainya. Topeng kepalsuan karena perintah ayah mertua dan suaminya.
Ternyata, kalian juga memakai topeng yang sama denganku. Haha. Memang menyebalkan.
Amerla menyambut dengan senyuman, lalu menyimpan nomor pribadi gadis yang bicara dengannya. Dan tidak lama setelah itu mereka kembali membicarakan Nona Merilin yang menghilang ditengah acara. Ternyata mereka cukup satu frekuensi. Memang orang akan berkumpul dan nyaman dengan orang-orang yang satu pemikiran.
Di mana si wanita itu, sepertinya benar dugaanku, dia menangisi nasibnya dipojokan karena malu. Hah! Seharusnya aku tampar wajahnya tadi saat menghinaku.
...🍓🍓🍓...
Setelah makan siang bersama selesai, para panitia membereskan meja prasmanan. Kesibukan juga kembali terlihat di arah panggung acara. Sebentar lagi akan dilakukan acara penutupan.
Ada beberapa agenda di antaranya adalah, pentas dari anak-anak, penyampaian ucapan terimakasih dari wakil desa yang akan dilakukan oleh kepala desa lalu dilanjutkan doa penutup dari pemuka agama.
Satu persatu acara berlangsung dengan lancar, tepuk tangan memenuhi lapangan. Para orangtua bersorak bangga setelah anak-anak mereka tampil. Kepala desa maju ke atas podium untuk menyampaikan kata terimakasih.
Semua pihak yang ikut ambil bagian dalam acara dia sebutkan satu persatu. Tidak ada yang terlewat. Nama Yurika sebagai ketua yayasan dan nama Andez Corporation disebut berulang-ulang. Tepuk tangan dari semua penjuru memenuhi langit siang itu.
Semua kebahagiaan warna desa seperti melangit dalam doa. Berterimakasih dengan tulus dalam untaian doa penutup. Semoga para dermawan mendapatkan kebahagiaan dan keberkahan dari Tuhan. Bantuan yang mereka dapatkan hari ini akan menjadi saksi kebaikan para dermawan di akhirat kelak.
Tepuk tangan dan tetesan airmata keharuan, saat mereka berjabat tangan satu sama lain.
Sampai acara selesai, mata Amerla yang berkeliling tidak menemukan sosok Merilin. Dia semakin merasa besar kepala. Saat ibu mertua menarik tangannya untuk menyapa ibu Kak Rion hati Amerla menjadi berbunga. Ada celah untuk menunjukkan pesonanya pada calon ibu mertuanya.
"Ini menantu Anda? Cantik sekali, apa kabar Nona Amerla, ibu mertua Anda sangat membanggakan Anda."
Pujian itu seakan menerbangkan Amerla ke atas langit, wajahnya bersemu-semu merah.
"Terimakasih Nyonya, Anda juga sangat luar biasa. Acara ini sukses berkat Anda."
"Bukan hanya aku, semua juga berkontribusi. Termasuk suami kita semua kan." Yurika tertawa. Sumbangan uang sosial perusahaan jauh lebih besar dari uang pribadi mereka. "Sering-seringlah datang, aku akan mengirim undangan pada kalian."
"Terimakasih Nyonya. Ehm," Amerla pura-pura menoleh ke kanan dan kekiri. "Saya tidak melihat Nona Merilin Nyonya, dimana dia ya?"
"Oh Mei."
"Ia, tadi kami sudah saling menyapa, dan berjanji untuk berteman." Senyum kepalsuan Amerla muncul.
Ibu Rion menepuk bahu Amerla dan mengusapnya lembut.
"Yang akrab ya kedepannya dengan Mei. Senang rasanya Mei sudah mendapat teman. Oh ya dia sekarang...." Ibu mengangkat tangannya belum melanjutkan karena Dev meminta izin untuk bicara padanya.
Hah! Anda juga ternyata memakai topeng penuh kepalsuan ya, Anda terlihat sangat menyayangi menantu Anda, padahal sebenarnya, Anda tidak perduli dia ada di mana sekarang. Haha, kasihan sekali kau Merilin.
Dev membisikkan sesuatu di telinga Yurika, membuat senyum Yurika langsung terkembang.
Yurika melihat ke arah Amerla lalu tersenyum.
"Baru saja kau tanyakan, itu dia. haha, anakku menyusul karena katanya merindukan istrinya."
Semua mata langsung tertuju pada dua orang yang ditunjuk Yurika, yang berjalan dari area parkir.
Amerla hampir jatuh terduduk karena kakinya lemas, saat melihat Merilin dan Kak Rion berjalan bergandengan tangan menuju ke arahnya.
Bersambung