Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
75. Tetangga Sebelah


Rion menepati janjinya pada Merilin, untuk mengunjungi ibu gadis itu di RS. Di akhir pekan yang cerah ini.


Merilin tertidur jauh lebih lama dari biasanya dia menikmati akhir pekan. Biasanya dia memang malas-malasan di akhir pekan, tapi hari ini lebih parah. Dia tidak mau membuka mata, karena kalau sampai dia tersadar dan membuka mata, laki-laki yang sedang berbaring dan memeluk punggungnya pasti terbangun, entah apa yang akan terjadi di akhir pekan yang tenang ini, kalau dia sampai membangunkan Rion.


Pagi ini Merilin selamat dari serangan Rion, laki-laki itu juga terlelap sampai siang hari. Karena Merilin tidak membuat gerakan apa pun yang mengusiknya.


Dan setelah bersiap, mereka berpamitan pada bibi, hari ini bibi akan membersihkan rumah secara menyeluruh. Termasuk ruang kerja Rion. Bibi mengantar dua majikan mudanya dengan tersenyum sampai di pintu rumah.


Mei dan Rion berjalan menuju lift.


"Kak, kita mampir ke toko buah ya, aku mau membeli anggur untuk ibu." Merilin ingin membelikan ibu buah kesukaannya.


"Terserah kau saja." Rion menjawab acuh. Tapi Merilin tetap tersenyum dengan reaksi yang diberikan Rion.


"Terimakasih ya Kak, sudah mau bertemu dengan ibuku."


Mereka sudah berdiri di depan lift, menunggu pintu terbuka.


Walaupun tahu niat apa yang ada di hati Rion, tapi gadis itu merasa tetap harus berterimakasih dan merasa senang, setidaknya ibu bisa bertemu dengan suaminya.


Rion meraih bahu Merilin tiba-tiba, lalu menundukkan kepala. Gadis itu merinding, saat merasakan lidah menempel di telinganya.


"Kau lupa, alasanku datang menemui ibumu? kalau sampai kau berbohong dan kau tidak mirip dengan ibumu awas kau." Saat Rion merapatkan bibir dan menggigit telinga Mei, pintu lift terbuka. Seorang laki-laki terlihat terperanjat kaget karena kalau dilihat dari sudut pandang laki-laki itu, Rion sedang terlihat mencium pipi Merilin.


Rion dengan acuh melepaskan tangan, dan berdiri dengan tegak. Merilin yang merah padam karena malu, dia menundukkan kepala dan tersenyum sedikit pada laki-laki yang buru-buru keluar dari lift. Laki-laki itu juga tersenyum pada Merilin.


Apa sih, kenapa kau senyum-senyum dengan istri orang sialan! Sampai pintu lift tertutup Rion masih menatap punggung laki-laki itu dengan kesal.


Lift turun.


Rion langsung mencengkeram lengan Merilin, memutar gadis itu sampai melihat ke arahnya.


"Kau kenal dia? kenapa kau senyum-senyum padanya Mei. Kau lupa, aku benci pengkhianatan!"


Apa sih! Dasar orang gila, dia kan tetangga rumahmu!


Pengkhianatan, apa-apa dibilang pengkhianatan, jangan-jangan aku membuat kopi untuk Baim dan Kak Kendra kau sebut pengkhianatan nanti. Kenapa pengertian pengkhianatan untukmu sempit sekali. Belakang tengkuk Merilin rasanya menegang. Berbalas pesan dengan Kak Serge dibilang pengkhianatan.


Apa saking terlukanya kau dengan wanita yang kau cintai itu, kau jadi begini Kak. Aku sekarang, benar-benar penasaran dengan wanita itu.


Merilin tersentak dari lamunan saat Rion bicara lagi.


"Jawab!"


"Dia kan tetangga Kak Rion, aku pernah bertemu sekali dengannya di dalam lift, karena turun di lantai yang sama kami jadi bertegur sapa. Itu saja Kak. Ini pertemuan kami yang kedua kalinya juga. Memang Kak Rion belum pernah bertemu dengan tetangga kakak?"


Bagi orang normal penjelasan itu sudah masuk akal dan akan diterima dengan baik, tapi Rion kan tidak termasuk golongan itu Mei. Dia sendiri tidak kenal tetangganya. Pernah bertemu saja tidak gumamnya. Pernah sebenarnya, Rion sering berpapasan dengan laki-laki itu di lift atau di lorong rumah, tapi dia tidak perduli dan tidak mau perduli. Jangankan bertegur sapa, dia melirik pun tidak. Laki-laki tetangganya itu malah kenal dengan Serge, karena mereka sering bertegur sapa dan bicara saat Serge datang.


"Itu masalahnya, kenapa kau bertegur sapa dan senyum-senyum padanya?" Kan, sudah dibilang jalan pikiran Rion tidak seperti manusia normal lainnya. Karena dia tetap protes, tidak suka melihat senyum Mei dibagi pada laki-laki lain.


Belum selesai Serge, kenapa muncul tetangga menyebalkan gumam Rion semakin kesal.


Itu kan bentuk sopan santun kak! hanya sebatas sopan santun pada tetangga, aku juga dulu kalau berpapasan dengan orang paling tidak kan menundukkan kepala.


Merilin sudah kesal, tapi saat melihat wajah Rion dia menghela nafas. Hah! Memang apa yang kau harapkan dari dia Mei. Dia kan CEO Rionald, manusia yang bahkan tidak menerima sapaan dari karyawannya. Orang yang tidak akan bergeming, walaupun melihat karyawannya jatuh sekalipun.


Dia CEO Rionald Mei, yang kalau tersenyum sudah jadi sejarah di kantor. Begitulah akhirnya gadis itu memaklumi sikap Rion.


"Maaf Kak, aku tidak sengaja bertegur sapa dengannya karena kami satu lift, aku akan lebih berhati-hati nanti."


Dasar pendendam dan pemarah.


Merilin hanya terdiam, lalu pelan-pelan menggerakkan tangannya menyentuh pergelangan tangan Rion. Berharap kalau dia menggengam tangan Rion duluan, laki-laki itu akan mereda rasa kesalnya. Dan benar saja, saat kulit mereka bersentuhan Rion sudah menarik tubuhnya untuk berdiri berdekatan. Wajah kakunya juga sudah memudar. Sentuhan itu efektif melenyapkan amarah.


Deg...deg.


Dasar pengkhianat, gumam Mei pada hatinya sendiri. Dia yang menggengam tangan Rion dia yang berdebar. Kan rasanya jadi menyebalkan.


"Tidak usah menyapanya kalau bertemu, jangan berada dalam satu lift berdua saja dengannya juga." Tiba-tiba memberi perintah aneh. Merilin tidak menjawab, hanya mendengarkan. Dia kan tidak suka dibantah atau dijawab perintahnya, paling aman hanya diam sambil mempererat genggaman tangan. "Bagaimana kalau dia menyerangmu di dalam lift." Mencubit pinggang Mei.


Hiiii, apa sih Kak, menakuti orang saja.


Rion menarik Mei, memojokkan tubuh kecil gadis itu ke dinding lift. Tangan Rion diletakkan di bahu Mei.


Deg... deg.


Merilin memaki hatinya yang berdebar semakin kencang.


Kau mau apa Kak!


"Bagaimana kalau dia menyerangmu di dalam lift, mendorongmu ke tembok, lalu mencium bibirmu begini?"


Begini dan begini.


Nggak usah dipraktekkan juga kali! Kecupan Rion tidak berakhir sekali, tapi beberapa kali, membuat Merilin menggeliat. Apalagi sebentar lagi, lift sampai di lantai bawah.


"Jawab!"


"Baik Kak, aku tidak akan naik lift kalau ada orang di dalamnya."


Apa sih aneh, kenapa kau kepikiran hal mengerikan begitu.


Setelah mendengar Merilin bicara sambil terbata, Rion terlihat puas. Kemudian dia bergumam, apa aku minta ayah dibuatkan lift khusus untukku ya. Gumaman Rion membuat Merilin merinding.


Rion tidak mau Mei berbagi udara di dalam lift dengan orang asing, apalagi kalau sampai dia senyum-senyum pada laki-laki lain. Ide tentang lift khusus sepertinya serius dia pikirkan.


Mereka keluar dari lift, bertemu dengan beberapa orang yang berjalan di loby apartemen. Akhir pekan membuat orang keluar dari rumah mereka. Ada sebuah keluarga kecil, suami istri dan dua orang anak yang anaknya berlarian melewati Merilin. Dia melambai pada anak-anak yang salah satunya tidak sengaja menyenggolnya. Saat melirik Rion, laki-laki itu tetap berjalan dengan tegak, acuh melihat ke depan. Sama sekali tidak tertarik dengan anak-anak itu, sekedar melirik pun tidak. Padahal tingkah laku kedua bocah itu sangat menggemaskan di mata Merilin.


Sepertinya dugaanku benar, dia tidak perduli tentang anak. Keputusanmu sudah tepat Mei, untuk minum pil kontrasepsi. Jadi jangan merasa takut. Begitulah dia meyakinkan diri.


Rion menyetir mobil sendiri, dia ikut turun saat Mei masuk ke toko buah. Gadis itu terkejut, karena berfikir Rion akan menunggu di mobil. Menyambar keranjang buah yang dipegang Merilin tanpa bicara sepatah katapun.


Dan ketika sampai di RS Merilin dibuat terkejut, Kak Brama dan kakak ipar, Harven sedang duduk di dekat tempat tidur ibu. Wanita itu sedang duduk bersandar, sambil tertawa mengusap kepala Harven, sedang makan buah anggur, seperti yang dibawa Kak Rion di keranjang buah.


Hah! Kenapa mereka semua ada disini! Rion tersenyum sambil meraih pinggang Merilin.


"Apa kabar Bu, saya suami Mei." Dia membenturkan kepalanya ke kepala Merilin, sambil tersenyum dengan cerah.


Hah! Dia mulai akting. Merilin ikut tersenyum cerah mengimbangi senyum Rion. Melihat Rion yang tersenyum padanya terlihat tulus padahal tangan Rion yang satunya mencubit pinggangnya. Dia berbisik di telinga Merilin.


"Kenapa semua orang ada di sini Mei?"


Aaaaa, dia pasti salah paham dan berfikir aku yang mengajak semua orang bertemu. Aku juga kaget Kak!


Tapi Mana Rion percaya itu kalau dia mengatakannya.


Bersambung