Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
128. Kau Bukan Bonekaku


Mereka cukup lama mengobrol, sampai cake stroberi yang dibawa Serge menghilang dari piring. Mungkin, kalau tidak diusir Rion lewat sorot mata menusuknya, Serge masih betah mengoceh bersama ibu. Laki-laki itu benar-benar bahagia melihat kesembuhan ibu Mei. Dia bahkan menelepon Brama, dengan Vidio call.


Dan setelah mobil Serge berlalu.


Harven menguap, mengajak ibu untuk tidur, dia pergi ke kamar mandi duluan. Lalu masuk duluan ke kamar, karena ibu mau membereskan sisa piring di depan TV.


Mei dan Rion juga melakukan hal yang sama masuk ke dalam kamar mandi, setelahnya Rion ke dalam kamar duluan. Mei ke dapur sebentar, memastikan ibu sudah selesai. Dia melihat ibu memeriksa pintu sudah terkunci atau belum.


"Mei masuk ke kamar ya Bu, ibu istirahat juga."


"Ia Nak, pergilah."


Mei memeluk ibu, mengusap bahu ibu. Rasanya, kebahagiaan hari ini adalah saat-saat yang paling dinantikan Mei selama ini. Dia ingat, dia sering menangis sesenggukan di kamar sendirian. Berharap, ibu segera sembuh. Berdoa semoga ibu bisa menerima kepergian ayah dengan lapang.


"Terimakasih Bu karena sudah berjuang sembuh, jangan sakit lagi, ibu harus sehat ya. Mei akan sering datang nanti. Kalau Kak Rion izinkan, Mei juga bisa sering menginap. Pokoknya ibu harus sehat ya." Usap-usap bahu. Lalu Mei juga menghapus pelupuk mata ibu.


Wanita itu hanya menggigit bibir sambil menahan Isak. Mencium pipi kanan dan kiri anaknya.


"Sudah sana, suamimu pasti sudah menunggu."


"Ibu juga, segera istirahat."


"Ia, ia, ibu mau ke kamar mandi dulu."


Mei baru masuk ke dalam kamar, setelah ibu ditelan pintu kamar mandi. Dia menghapus airmata di sudut matanya. Karena itu airmata kebahagiaan, bukan kesedihan, dia segera bisa tersenyum ketika membuka pintu kamar.


"Kunci pintunya." Rion langsung menyambut Mei yang baru masuk.


Mei masuk dan melihat Kak Rion sudah duduk di tepi tempat tidur. Dia sudah ganti baju, eh ganti celana. Karena dia kan tidak memakai baju alias bertelanjang dada. Sebenarnya, tidak membawa baju ganti juga tidak masalah.


"Baik Kak."


Mei memutar tubuh lalu mengunci pintu, kemudian berjalan menuju tas baju. Menyisir rambut dan melepaskan ikatan rambutnya lebih dulu sambil baju tidurnya masih dia pegang di tangan kiri. Gadis itu melihat tumpukan buku di atas meja belajar Harven. Deretan catatan kecil yang ditempel Harven di mejanya. Ada hari pindah rumah. Belajar dengan giat untuk ujian kelulusan. Tertulis juga jurusan universitas yang akan dipilih Harven nanti. Bahkan nama Mei, ibu dan ayah dan Kak Brama tertulis di sana.


Adikku, manis sekali. Semoga kau bisa meraih semua mimpi yang kau cita-citakan dek. Kak Mei akan sangat bahagia kalau kau meraih kesuksesanmu sendiri. Mei bergumam dalam doa di hatinya. Sambil membaca satu persatu tulisan tangan Harven.


Sementara itu, tatapan Rion tidak beralih dari punggung yang terlihat kecil itu. Melihat Mei bergumam di depan meja belajar Harven, lalu dia berganti baju tidur dengan membelakangi Rion.


Ah, sial! Apa tadi aku berlebihan ya waktu merebut sendok Harven. Awalnya Rion memang kaget saat dia mencengkeram tangan Harven. Tapi karena sudah kepalang malu, akhirnya dia tetap keras kepala dan bersikap tidak tahu malu. Dan meneruskan tindakannya, sampai Serge bicara begitu tadi.


Lagian Mei itu kan sudah jadi istriku, kau manja-manja sama ibu saja sana. Sampai sini ternyata tetap keras kepala dan tidak mau mengalah. Mungkin kalau tadi Serge yang tidak sengaja memindahkan cake ke piring Mei, sendok terbang pasti sudah mendarat di kepala Serge.


Jadi cemburu ku pada Harven masih normal kan. Ehm, ehm.


Saat Mei menoleh, dia terlihat menutup wajahnya malu. Karena tatapan Rion yang sedang berfikir pasti terlihat menatapnya dengan lekat.


"Kenapa Kak, kenapa melihat begitu? Ada yang aneh? Tidak suka dengan baju yang aku pakai, mau aku ganti dengan warna lain?" Sambil menyapu tubuh dan pakaian yang dia kenakan sekarang dengan kedua tangannya.


Memang ada dua baju tidur di dalam tas, dengan warna yang berbeda. Modelnya si sama, sama-sama kekurangan bahan.


Sudah ku bilang, aku lebih suka kau tidak pakai baju.


Rion menjentikkan jarinya lalu menepuk pangkuannya. Mei menurut, naik ke atas pangkuan suaminya. Duduk dengan menekuk pahanya. Baju tidurnya sudah naik menyibak paha. Mereka saling pandang, dua-duanya sedang mencoba mencari tahu apa yang sedang dipikirkan satu sama lain. Rion meletakkan tangannya di belakang punggung Mei. Menekan punggung Mei supaya mendekat ke arahnya.


Apa yang kau rasakan hari ini Mei? Apa kau senang aku menemanimu dan sampai menginap di rumah ibumu dan adikmu.


Apa? Kenapa dari tadi Kak Rion melihatku begitu si. Diam saja lagi. Apa dia merasa tidak nyaman menginap disini. Gumaman Mei mencoba membaca pikiran Rion.


"Kenapa Kak? Kak Rion mau aku mencium Kakak?" Tidak mau bertanya tentang kenyamanan kamar, karena takut Kak Rion menjawab tidak suka, dan mengajaknya pulang. Jadi Mei lebih memilih sentuhan untuk membuat Kak Rion nyaman.


Ketika keduanya masih terdiam dan hanya saling memandang, Mei berinisiatif bertanya. Sambil mendaratkan kecupan di beberapa bagian wajah Rion. Muah, muah. Kedua mata yang mengerjap. Kening, dan menyapu pipi baik kanan dan kiri.


Dia pintar sekali sekarang meluluhkan hatiku. Kau benar-benar sudah paham apa yang aku inginkan Mei.


"Selamat untuk kesembuhan ibumu Mei? Kau bahagia? Kau senang aku menemanimu di sini" Rion mengusap rambut ikal yang mulai berombak kusut. Kalau sudah malam rambut Mei memang semakin ikal. Tapi Rion selalu menanggap rambut Mei lucu karena mengembang. Bisa dia tepuk-tepuk dengan telapak tangannya.


Mei menyudahi hadiah kecupannya, dengan mencium bibir Rion selama beberapa detik. Dia tersenyum lalu meletakkan tangannya di atas bahu Rion.


"Ini hal yang paling membahagiakan untukku Kak, terimakasih banyak Kak." Karena Kak Rion jugalah, aku bisa mendapatkan kebahagiaan ini. Mei tidak akan pernah melupakan itu. "Aku senang karena Kak Rion mau menginap di sini."


"Kenapa berterimakasih memang aku melakukan apa?"


Dia sudah mau menangis, saking bahagianya kau sampai mau menangis ya. Kau ini, lemah sekali kalau berhubungan dengan keluargamu. Ya, ya, mereka memang kelemahan mu Mei.


"Semuanya Kak, semua yang sudah kakak berikan untuk keluargaku, untuk perawatan ibu. Semuanya, pokoknya semuanya." Mei meraih kepala Rion dan mendekapnya ke dadanya. "Kak Rion sudah hadir dalam hidupku, bagiku Kakak adalah anugrah terindah dari Tuhan."


Deg, dada Rion berdesir senang.


Pintar sekali kau bicara sekarang. Tangan Rion mulai menyentuh paha, mengusapnya searah jarum jam. Setelahnya menarik tali pita baju, baju tidur itu sudah terjatuh ke pangkuan Mei. Dia menciumi bagian tubuh Mei yang ada tepat di depannya. Lalu dia menarik wajahnya. Tangannya sudah bergerak nakal meremas sesuatu.


"Sekarang, katakan padaku. Apa perasaan mu saat tahu Serge dan temanmu mungkin saja bisa berkencan."


Kenapa aku menanyakan ini. Hah! Membuat moodku rusak saja. Tapi, saat mata Rion melihat pemandangan di depan matanya dia segera tersenyum, dan menorehkan kecupan memerah di seputar dada Mei. Dia mengangkat kepala, menggoyangkan dagu Mei yang malah terdiam berfikir.


"Kenapa diam saja? Kau sedih karena Serge punya pacar jadi tidak bisa memperhatikanmu lagi." Ketusnya keluar. "Kakakmu punya wanita lain yang akan dia perhatikan. Kau tidak lagi jadi adik kesayangannya. Cih." Rion melengos, membuang muka. "Kau sedih?"


"Pefff. Haha."


"Habis Kak Rion lucu sekali. Kenapa Kak Ge punya pacar aku harus sedih, Dean dan Kak Ge menurutku sangat serasi. Ah, mereka sangat cocok dan aku akan mendukung mereka berdua. Hehe." Kenapa Kak Rion berfikir aku sedih sih, aneh-aneh saja. Mei sempat tertawa. Tapi deg.. deg. Tiba-tiba tawa dibibirnya lenyap.


"Huh!" Rion masih melengos menunjukkan kalau dia tidak percaya. "Bukannya kau akrab sekali dulu dengan Serge."


Deg.. deg...


Tidak! Tidak mungkin Kak Rion berfikir aku menyukai Kak Serge kan? Tidak! Tidak mungkin dia tahu. Yang bahkan orangnya saja tidak menyadari kalau disukai. Dan itu sudah cerita masa lalu. Pasti Kak Rion hanya berfikir karena aku dan Kak Ge sudah seperti kakak adik, jadi Kak Rion berfikir aku akan kesal karena Kak Ge punya wanita lain yang akan mendapatkan curahan perhatiannya. Haha, pasti begitu, kau jangan berfikir terlalu jauh Merilin!


Mei meraih kedua tangan Rion. Menggenggamnya erat. Menciumi tangan itu. Membuat Rion sedikit tersentak.


"Kak, Aku kan sudah punya Kak Rion sekarang."


"Apa?" Suara Rion agak meninggi karena Rion kaget.


"Eh, maksudku, aku kan boneka Kak Rion sekarang." Mei merasa salah bicara. "Jadi aku kan hanya boleh perduli pada perasaan Kakak."


Gurat kesal langsung muncul di wajah Rion.


"Jangan menyebutmu bonekaku lagi! Jangan pernah mengatakannya lagi!"


Tangan Mei yang menggengam tangan Rion terlepas. Dia bisa merasakan jantungnya langsung berdebar kuat. Dia sedang ketakutan, karena Rion tiba-tiba meninggikan suara dengan marah. Apa! Apa aku salah bicara! Mei mulai merasa suhu kamar meninggi.


"Kau bukan bonekaku lagi!" Rion mencengkeram pergelangan tangan Mei. "Kau dengar itu?"


"Tapi..."


"Apa?"


"Kak Rion kan selalu mengingatkan aku supaya sadar, kalau aku itu boneka Kak Rion yang harus melakukan apa pun yang Kakak inginkan." Mei bicara dengan kepala tertunduk. Tidak berani menatap mata Rion. "Yang tidak boleh melihat laki-laki lain selain Kakak. Kak Ge juga hanya.." Mei menggigit bibir. Mengutuki mulutnya yang bicara sembarangan. "Kak Ge itu sudah seperti Kakak buatku, hanya itu posisi dia sekarang di hatiku Kak. Ah, tidak, bahkan aku sekarang lebih sering berkirim pesan pada Kak Brama daripada Kak Ge. Karena Kak Rion juga tidak suka kan aku berhubungan dengan Kak Ge." Aku ini bicara apa si, malah bicara yang tidak jelas. Mei semakin takut membuat Rion marah. "Jangan marah Kak." Tangan Mei dengan bergetar meraih kedua pipi Rion. "Aku takut dan sedih kalau Kak Rion marah."


Pandangan mata mereka bertemu.


"Kalau kau tidak mau membuatku marah, jangan menyebut kau itu bonekaku lagi. Sekarang, kau bukan boneka ku. Tapi..."


"Tapi apa Kak? Memang aku siapa bagi Kak Rion?" Lirih pertanyaan Mei terucap. Gadis itu juga penasaran, kalau dia bukan lagi dianggap sebagai boneka Kak Rion, lantas dia dianggap apa oleh Kak Rion sekarang.


Rion meraih belakang kepala Mei, mendekatkan kepala Mei ke depan wajahnya.


"Kau istriku, sekarang, kau itu istriku. Kau boleh menyentuhku tanpa meminta izinku. Kau juga boleh mengatakan kau mencintaiku, kau boleh membanggakan ku di depan teman-temanmu. Kau boleh pamer buku nikahmu pada semua orang yang kau inginkan. Sekarang kau istriku. Kau bukan lagi sebatas menjadi istri boneka ku. Merilin, apa kau paham statusmu sekarang? Kau boleh memakai namaku sebagai perisaimu. Kau boleh menyebut kau istriku di depan siapa pun."


Mei yang baru mau membuka mulut bicara, langsung terbungkam saat Rion menyambar bibir Mei. Ciuman dengan posisi duduk berubah saat Rion menjatuhkan tubuh begitu saja ke atas tempat tidur. Mei terjerembab berada di atasnya. Gadis itu terlihat masih shock dengan apa yang dia dengar. Bahkan kepalanya belum sepenuhnya mencerna kalimat yang diucapkan Kak Rion barusan.


Apa? Apa artinya, Kak Rion sudah membuka hatinya padaku? Aaaaaa! Tidak! Benarkah! Apa aku boleh mengatakan perasaanku sekarang. Mei yang mau membuka mulut tersadarkan, karena kecupan keras Rion di lehernya. Tidak Mei, jangan sekarang! Kak Rion memang sudah membuka hatinya, tapi kalau kau minta lebih dari ini bukannya ini serakah.


Mei takut suasana hati Kak Rion akan berubah lagi, kalau sampai dia mengatakan perasaannya yang sebenarnya. Jadi bersabarlah Mei, tunggu setelah wawancara nanti. Saat gairahnya sedang menggebu dan kau malah menyatakan cinta bagaimana kalau moodnya rusak. Tidak! Jangan mengatakannya sekarang.


"Aaahhhh, Kak." Wajah merah yang terlihat pasrah di atas tempat tidur. Menatap Rion dengan pandangan penuh cinta.


Rion tersenyum senang melihat sorot mata Mei yang tertuju untuknya.


"Aku sedang senang sekarang Mei."


Apa? Senang? Bukannya kau barusan marah. Aaaaa! Mei menggeliat geli dengan wajah memerah sambil mencengkeram seprei.


"Karena aku sedang senang, maka aku akan membuatmu senang juga." Tangan Rion menyentuh paha Mei, menggesernya perlahan. "Kau boleh menyuruhku melakukan apa pun yang kau inginkan."


Hah! Apa maksudnya? Mei kebingungan, sambil lagi-lagi mencengkeram seprei.


Karena kau sudah melupakan Serge aku senang sekali Mei. Aku akan menyatakan perasaanku nanti setelah wawancara. Pernyataan cinta yang tidak akan pernah kau lupakan.


Rion mencium kening Mei, peluh dari dahinya menjatuhi kening Mei.


"Kenapa diam? kau mau aku melakukan apa?"


Belum juga menjawab, bibir Mei sudah mangsa lagi. Gadis itu gelagapan.


"Katakan, kau mau aku melakukan apa?"


Aaaaaa! Tidak tahulah Kak, terserah lakukan apa pun yang kau suka. Mei cuma bisa memerah wajahnya ketika serangan demi serangan yang dilakukan Rion semakin merata di sekujur tubuhnya.


"Hei, kau benar tidak mau menyuruhku melakukan apa pun. Mumpung aku sedang senang."


Mei masih terdiam, mulutnya sedikit terbuka, sambil matanya yang terpejam. Dia sedang merasakan tubuhnya dialiri sesuatu yang menyengat sekujur tubuhnya.


"Baiklah, aku akan melakukan sesukaku."


"Aaaaaa! Kak! Sudah."


"Haha, terlambat, salahmu sendiri tidak menjawab tadi."


Malam mereka masih berlanjut. Dengan suara berbisik.


Sementara di kamar lain, ibu terbangun, duduk bersandar di tempat tidur, sambil memeluk foto suaminya dalam dekapannya.


Bersambung