Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
148. Aku Mencintaimu Mei


Ruang kerja Rion di apartemen.


Mei yang dari mengetuk pintu saja hatinya sudah berdebar-debar, semakin campur aduk perasaannya saat kakinya masuk ke dalam ruangan. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan ruang kerja ini, mirip ruang kerja pada umunya, persis ruang kerja kantor CEO hanya dengan ukuran ruangan yang lebih minimalis. Yang membedakan mungkin hanya lemari.


Dan itulah yang membuat debaran hati Mei semakin menguat, adalah majalah perusahaan yang ada di dalam lemari. Tertata dengan sangat rapi, sesuai urutan bulan terbit. Majalah di mana dia sudah menjadi pimred ada di bagian paling atas. Bahkan ada vas bunga artificial segala di dalam lemari. Menambah keindahan susunan majalah itu.


Mei sedang menatap lemari dengan terhenyak. Jadi, dia tidak bohong saat bilang, dia menyukai tulisanku. Mei percaya ketulusan hati Kak Rion, namun kalau bagian Kak Rion kagum dengan tulisannya, dia pikir itu hanya ditambahkan Kak Rion untuk meyakinkan orangtuanya.


"Kenapa? Kau terharu?"


Dari belakang, Mei merasakan punggung lebar memeluk tubuhnya. Mendekapnya, dan kecupan lembut menghampiri pipi kanannya.


"Aku memang menyukai gaya tulisanmu, sepertinya kau tidak percaya ya, sampai segitu terharunya saat melihat langsung."


Tangan Mei menyentuh tangan yang erat menempel di pinggangnya. Perlahan dia memutar tubuh. Melihat laki-laki yang sedang memeluknya dari belakang.


"Aku masih tidak percaya, kalau ini benar-benar nyata Kak. Aku ada di ruang kerja Kakak, melihat Kakak memperlakukan majalah perusahaan dengan sebaik ini." Padahal di kantor Mei pernah melihat majalah perusahaan dijadikan alas makan mi cup oleh karyawan yang lembur. Hanya yang ada foto CEO yang mereka perlakukan dengan istimewa. Bukan karena artikel yang dia tulis, tapi karena ada CEO tampan idola mereka. "Aku masih tidak percaya, kalau Kakak benar-benar mencintaiku. Orang sepertiku, ah, kenapa aku malah mau menangis si." Lagi-lagi perasaan rendah diri Mei mendominasi.


Saking merasa bahagianya, sampai merasa ini tidak nyata. Itulah yang sedang dirasakan Mei. Dia masih merasa, dia tidak punya apa-apa untuk bisa dia banggakan di depan orang yang dia cintai. Dia punya apa si, untuk membuat Kak Rion jatuh cinta padanya.


"Kak Rion..." Mei meraih tangan Rion, mencium punggung tangan. Menempelkan di pipi kanannya. Tangan Rion merasakan basah air mata Mei yang sepertinya merembes turun walaupun sudah berusaha ditahan gadis itu. "Kakak benar-benar mencintaiku kan?"


Bodohnya aku! Kenapa aku bertanya si, kalau Kak Rion tersinggung bagaimana. Setelah bertanya, Mei merasa menyesal. Namun, senyum Kak Rion mengusir rasa takut, dia tidak marah gumam Mei, dia tidak tersinggung dengan pertanyaanku.


Malah Rion menunduk, mencium bibir Mei.


"Aku mencintaimu Mei, hari ini, aku lebih mencintaimu, jauh lebih banyak dari kemarin dan kemarinnya. Aku mencintaimu istriku Merilin."


"Hiks, memang apa yang membuat Kakak jatuh cinta padaku si." Kan, dia malah menangis saking merasa ini tidak nyata.


"Apa ya?" Rion bergumam nakal. "Entahlah, kau pikir saja sendiri." Mencium bibir Mei dua kali.


Mei yang baru mau terharu merengut, Rion malah tertawa, lalu menariknya, mendekati meja kerja. Dengan kaki dia menarik kursi untuk diduduki. Saat Rion sudah duduk, Mei ikut jatuh dipangkuan.


"Kak..."


"Kau ingat surat kontrak yang kau tanda tangani dulu?"


"Ia Kak."


Aku tidak mungkin melupakannya, hari itu, kakak datang dengan Kak Ge. Dengan angkuh dan sombong melemparkan surat itu sambil mengatakan akan memberiku tiga hal kalau aku bersedia menikah dengan kakak. Ah, situasi menakutkan itu, siapa sangka akan berputar arah seperti sekarang. Aku yang duduk dipangkuan Kakak, bukan sebagai boneka tapi sebagai istri yang Kak Rion cintai. Mei yang tidak bisa menutupi senyum bahagianya. Ya, hatinya sedang dipenuhi bunga sekarang.


Rion menunduk, membuka brangkas di dekat kakinya. Lalu dia meletakan amplop di atas meja.


"Bukalah, kau boleh merobek benda tidak berguna itu."


"Aku yang merobeknya Kak? Boleh?"


"Terserah, atau mau kau bakar, biar kelihatan keren?"


Saat bertanya, tangan Kak Rion sudah menjelajah. Bibirnya juga sudah menciumi bahu dan lengan Mei yang memang sudah terbuka sedari tadi.


Perlahan, amplop terbuka. Lembaran kertas jatuh ke atas meja. Mei mengenali tanda tangan yang pertama kali dia lihat. Tanda tangannya.


Benar, aku boleh merobeknya sekarang? Saat ditanya, Kak Rion hanya membalas dengan gumaman. Karena mulutnya sedang sibuk beraktifitas.


Dan akhirnya, Mei meremas surat kontrak itu. Lalu dia buka lagi, sepertinya dia malu karena salah mengambil tindakan karena kertasnya tidak robek sama sekali. Akhirnya dia robek dengan membaginya menjadi dua. Lalu dia robek lagi dan lagi, sampai menjadi serpihan kecil-kecil yang berserak di atas meja di depannya.


Mei angkat serpihan kecil kertas, dia jatuhkan seperti hujan. Dia kumpulkan lagi karena kertas berserak ke mana-mana. Senyum kebahagiaan tidak mau pergi dari bibirnya. Surat yang dulu menjadi ancaman, rasa takut pada dua tahun pernikahan seperti yang pernah Kak Rion katakan. Sekarang, semua ancaman itu sudah musnah. Dan dia yang merobeknya dengan tangannya.


"Wahh, kau sepertinya bekerja keras ya? sampai jadi serbuk kertas begini." Rion tertarik ketika serpihan kertas jatuh di lengannya yang sedang bermain dengan bagian depan tubuh Mei. "Kau sudah bekerja keras Mei."


"Hehe, maaf Kak, aku membuat meja kerja Kakak berantakan."


"Tidak masalah, tapi, aku harus memberimu hadiah kan, karena kau sudah bekerja keras. Aku saja tidak bisa merobek kertas tidak berguna itu selama ini."


Hah? Kan memang Kakak tidak mau merobeknya selama ini. Ia kan? Buktinya masih Kakak simpan di brangkas.


Sebenarnya Rion mengatakan itu dengan maksud tertentu.


"Mau hadiah apa? Mau aku pijat? Mau aku kecup?" Semua tawaran yang diberikan Kak Rion sepertinya aku sudah sering mendengarnya, Mei merasa Dejavu lagi. "Jawab! Kau mau apa? atau dua-duanya juga boleh.'


Rion menggoyangkan kakinya karena Mei belum menjawab.


Aku pasti sudah gila! Mei mengatakan sesuatu yang memang ingin didengar Rion.


"Haha, kau mau aku? Kau mau aku jadi hadiahmu? Wahh, kau minta hadiah yang sangat besar ya. Kau mau aku?" Sengaja mengulang-ulang pertanyaan untuk membuat Mei semakin malu. "Katakan lagi, kau mau aku jadi hadiahmu."


Menggoyangkan kaki lagi, karena Mei belum bicara.


Mei menjerit akhirnya, sambil mengulang kata-katanya, tapi dengan menutupi wajahnya sekarang. Rion tertawa, lalu bangun, sambil menggendong Mei, dalam pelukannya. Membawa istrinya masuk ke dalam kamar.


Dan yang terjadi di dalam terserahlah, suka-suka Mei menikmati hadiahnya kan.


Masih terdengar hingga larut malam, bisikan cinta dari keduanya.


...🍓🍓🍓...


Pagi menjemput.


Tidak seperti biasanya, Rion sudah bangun. Berbarengan dengan Mei. Bareng dalam arti yang sebenarnya. Barengan turun dari tempat tidur. Mandi berdua juga, sampai keluar dari ruang ganti baju bersamaan juga.


Bibi cuma bisa senyum-senyum melihat kelakuan keduanya. Dia meninggalkan dapur saat pasangan yang sedang dipenuhi bunga-bunga itu makan sarapan. Dia pergi ke ruang kerja untuk membersihkan ruangan. Saat menemukan serpihan kertas di atas meja, tidak lupa dia menfotonya, dan mengirimkan kepada Presdir.


Sementara itu, yang di luar sedang sarapan.


"Mei.."


"Ia Kak, kenapa?" Sambil meneguk jus buah.


"Aku mau bertanya ini, tapi selalu lupa kalau aku sudah menyentuhmu. Kenapa? Kau memikirkan apa Mei, kenapa wajahmu seperti tomat begitu. Haha."


"Kakak! Apa sih."


Dasar Merilin gila! Mei malu karena dia langsung teringat kejadian di kamar mandi dan diruang ganti tadi.


Rion malah tergelak, saat Mei menutup wajahnya dengan roti yang sedang dia makan.


"Haha, kau ini memang lucu sekali Mei, nah, aku jadi teralihkan lagi kan." Rion memasukan potongan roti terakhirnya, lalu menghabiskan jusnya. "Apa yang ayah dan ibuku katakan padamu sampai kau mengaku waktu itu." Rion mengusap bibirnya dengan tisyu.


Deg...


Mulut Mei langsung berhenti mengunyah. Pertanyaan ini kan yang dia hindari. Dia bahkan sangat merasa beruntung karena Kak Rion tidak pernah menyinggungnya. Tapi ternyata karena dia lupa ya.


Aaaaaaa! Bagaimana ini?


Karena kalau menyinggung masalah ini, bisa jadi perkara pil kontrasepsi akan ikut naik ke permukaan.


"Kau belum cerita kan? ayah dan ibuku bicara apa padamu? Sampai akhirnya kau mengaku, ya walaupun akhirnya semua selesai dengan baik. Tapi aku penasaran."


Mei memutar otaknya, berfikir cepat, apa yang harus dia katakan sekarang. Rion melihat jam tangannya, dia sebenarnya ada janji pagi ini, makanya dia bangun awal.


"Mei..."


"Anak! Ayah dan ibu bertanya tentang anak."


Maaf ayah! Maaf Ibu!


"Karena tegang, aku jadi malah mengaku. Maaf Kak."


Rion bangun, menghampiri Mei. Mencium kepala Mei.


"Kenapa kau minta maaf, dasar ayah dan ibu, sudah kubilang jangan membahas masalah anak masih saja."


Maaf ayah, maaf ibu. Mei jadi merasa menumbalkan ayah dan ibu.


"Aku akan bicara dengan mereka nanti, kau jangan memikirkan kata-kata mereka terlalu serius. Ayo berangkat."


"Ia Kak, aku sudah nggak papa Kak, nggak usah dibahas lagi, ayah dan ibu juga cuma bertanya kok."


Rion tersenyum, baiklah kalau kau tidak mau membahasnya. Dia merangkul Mei, keluar rumah bersama. Mereka berangkat ke kantor bersama.


Bersambung